
"Ul, tunggu!" Roy menghadang Ulfa untuk masuk ke dalam mobil bersama Altan.
"Mau apa lagi, loe!" penuh emosi Altan melepaskan Ulfa dan langsung mengangkat kerah pada baju Roy.
"Altan, stop ... Oke? Please!" Ulfa memohon kepada suaminya agar tidak membuat keributan lagi di depan kampus, karena pada saat ini semua mahasiswa sudah berkumpul untuk melihat adegan selanjutnya.
Tidak mau nama baik Ulfa tercemar, Altan melepaskan Roy dari cengramannya dan memperlihatkan jari tanganya bersama Ulfa untuk menunjukan kepada Roy bahwa Ulfa sudah menjadi milik Altan seutuhnya.
Melihat ekspresi wajah Roy yang begitu kecewa, kini senyuman kemenangan terlukis di wajah Altan, merangkul Ulfa dalam dekapannya lalu mencium pucuk kening istrinya di hadapan Roy.
Ulfa hanya bisa terdiam dengan pandangan yang terus menatap nanar wajah Roy saat suaminya menunjukan kemesraan mereka berdua.
Setelah puas memamerkan kemesraan kepada Roy, Altan mendorong tubuh Roy untuk menyingkir dari jalan dan menuntun Ulfa untuk masuk ke dalam mobil.
Altan pun menyusul istrinya masuk kedalam mobil, tapi sebelum Altan menutup pintu mobil. Altan menjulurkan jari tengahnya ke arah Roy yang masih menatap ke arah mereka berdua lalu segera menutup pintu mobil dan melajukan kendaraanya.
"Akkgghh! Shyit!" umpat Roy mengeluarkan segala amarah yang ada di relung hati.
Tanpa berpikir panjang, Roy menancapkan pedal gasnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan di Ibu kota yang begitu senggang.
Roy menghentikan mobilnya sejenak di pinggir jalan, melampiaskan rasa sakit yang begitu dalam dengan berteriak dan membenturkan kepalanya ke arah stir mobil.
Rasa lelah yang tidak di rasakan oleh dirinya, membating tulang untuk mengais rezeki dan bekerja mati-matian hanya demi sang pujaan hatinya.
Semaksimal mungkin Roy berusaha untuk memantaskan dirinya, agar bisa membahagiakan orang yang di cintainya, tapi hanya sebuah angan belaka.
"Aakkgghh!" Roy memukul setir yang ada di hadapannya terus-menerus di iringi oleh derai air matanya.
Cukup lama Roy berdiam diri dalam mobilnya, hingga akhirnya dia melajukan mobil menuju sebuah club malam.
Entah setan apa yang merasukin di diri Roy saat ini, sehingga dia nekat masuk ke dalam tempat yang seharusnya tidak akan pernah dia kunjungi.
Satu gelas yang berisi minuman haram sudah tandas habis tak tersisa di teguk oleh seorang yang sudah remuk hatinya berkeping-keping tak tersisa.
"Ulfa ...." ucap seorang pemabuk pemula.
"Will you ...." ucapnya dengan kesadaran yang sudah lima persen.
"You ... mee ...." rancaun Roy sudah tidak karauan.
"li ... meeee ...." Roy langsung ambruk tidak sadarkan diri di atas meja bar nya.
------
Di sisi lain.
"Aduh ... Mas, udah!" protes Aini ketika tangan Ammar masih suka rela mengeluarkan Asi untuk di minum oleh kedua anaknya.
"Ya ... kan, Mas, cuma mau bantu, biar asi nya keluar, sayang! Oh, iya ... honey, Mas mau coba gendong, dong! Boleh?" Ammar ingin menggendong bayi satu nya dari tangan Aini.
"Biar aku panggil Sarah dulu, Mas!" ucap Aini yang sulit menggendong kedua bayinya karena ini kali pertama bagi Aini.
"Sarah!" teriak Aini memanggil Sarah yang sibuk mengutak atik ponselnya di balkon kamar inap Aini.
"Iya, Non!" jawab Sarah menghampiri Aini.
"Bantu aku untuk kasih ke Mas Ammar," ucap Aini meminta tolong.
__ADS_1
"Baik, Non." Sarah mengambil bayi jagoan dari tangan sebelah kiri Aini.
"Bismillah, aduh gantengnya." Bukannya memberi kepada Ammar, Sarah malah sibuk mengajak bicara bayi jagoan Aini.
"Sar!" Protes Ammar saat dirinya menunggu lama ketika Sarah tak kunjung menyerahkan jagoan kecilnya.
"Maaf, Tuan ... lupa." jawab Sarah dengan wajah merasa tidak berdosa.
"Aduh, ganteng sama Abi dulu ya, nanti kita main lagi!" dengan berat hati, Sarah menyerahkan jagoan kecil kepada sang Ayah.
"Terimakasih ya, Sar," ucap Aini sambil tersenyum.
"Sama-sama, Non." Sarah melangkahkan kakinya kembali menuju balkon.
"Assalamualaikum, jagoan Abi? Ma sya allah ... gantengnya anak, Abi." Ammar sangat terharu ketika dirinya bisa menggendong bayi mungil yang sudah di tunggu-tunggu.
"Ya dong, Abi ... kalau yang ini baru si cantik." Aini memegang tangan kecil mungil yang ada di dekapannya.
Ammar terus menciumi putra kecilnya, kebahagian tersirat di raut wajah Ammar yang begitu bahagia mengendong si kecil, ealaupun keadaanya terbilang sulit menggendong dengan tangan kirinya.
"Mas?" panggil Aini saat melihat suaminya masih sibuk mengajak main jagoannya.
"Apa, sayang?" uca Ammar yang masih terfokus ke putranya.
"Mas, sudah ada nama untuk kedua anak kita?" tanya Aini yang ikut merasakan kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah sang suami.
"Sudah." jawab Ammar yang kini melihat ke arah Aini dengan senyuman.
"Namanya?"
"Artinya?" tanya Aini yang merasa kagum saat suaminya menyebut
"Seorang pemimpin yang bijaksana dan cerdas untuk Khan," ucap Ammar yang menjelaskan arti untuk Khan.
"Dan, seorang perempuan yang memiliki sifat sopan, ramah serta cerdas," ucap Ammar menjelaskan kepada istrinya mengenai arti nama dari Khansa.
"Gimana?" tanya Ammar kepada Aini.
"Bagus, aku suka." Aini tersenyum membelai putri cantiknya.
"Assalamualaikum, Khansa," ucap Aini memberi salam kepada putri kecilnya.
Beberapa saat kemudian di sela canda tawa Ammar dan juga Aini yang bersama kedua bayi kembarnya, Robbet datang bersama keluarga.
"Assalamualaikum," ucap salam Dinda.
"Waalaikumussalam," jawab salam Aini kepada Dinda.
"Alhamdulillah, ponakan tante sudah siuman, gimana keadaan kamu sekarang?" Dinda menghampiri Aini lalu mencium kedua pipi Aini secara bergantian.
"Alhamdulillah, sudah baikan Tante, walaupun ... masih terasa sakit di bagian kepala dan sekitar perut." keluh Aini saat Dinda menanyakan ke adaannya.
"Wajar, sayang!" Timpal Robbet yang mencium kening Aini.
"Ihh, ya ampun ... lucu banget! Boleh tante, gendong?" tanya Dinda di sela kedekatan seorang Ayah kepada anaknya.
"Boleh, tante." Aini menyerahkan putri kecilnya kepada Dinda.
__ADS_1
"Hai, gimana lukanya?" tanya Andi menghampiri Ammar yang masih duduk di kursi roda.
"Alhamdulillah, masih tahap pemulihan," ucap Ammar.
"Aduh ... cucu Grandpa, gantengnya." Robbet langsung mengambil cucunya dari dekapan Ammar yang masih asik berada di dekapan Ammar.
Semua mata tertuju oleh sikap Robbet yang tanpa permisi mengambil cucunya dari tangan Ammar.
"Girl or Boy?" tanya Robbet kepada Aini.
"Boy, Ayah!" Ammar langsung menjawab pertanyaan dari sang mertua.
"Hai, Johanes ... cucu grandpa yang ganteng." Robbet mencium cucunya terus menerus tanpa mengetahui orang lain sedang memperhatikan tingkanya.
"Namanya, Khan ... Ayah! Bukan Johanes. " protes Ammar ketika sang mertua memanggil anaknya dengan sebutan lain.
"Aduh, cucu grandma si ganteng, kamu sudah kasih nama Aini untuk kedua anak, kamu?" tanya Robbet yang mengacuhkan menantu laki-lakinya.
"Sudah, Ayah! Nama nya Khan dan Khansa." Aini hanya tersenyum melihat suami dan Ayahnya terdapat perselisihan.
"Khan? Tapi, Ayah suka sama Johanes, gimana kalau yang lelaki, Ayah kasih nama Johanes?" ucap Robbet keberatan dengan nama pemberian Ammar.
"Ayah!" Protes Aini kepada Ayahnya saat melihat raut wajah Ammar mulai masam.
"Serah, Ayah!" Ammar langsung melajukan kursi rodanya menuju pintu untuk keluar.
Semua keluarga yang melihat tingkah Tom and Jerry antara Mertua dan Menantu hanya menahan tawa.
"Ampun dah, kemarin berantem masalah mirip-miripan wajah. Gak lama kemudian akur bercanda, nah ... sekarang berdebat masalah nama." Dinda yang pusing melihat tingkah Ayah mertua dan menantu hanya menepuk jidatnya sendiri.
Taman rumah sakit.
"Ya, Hallo?" Ammar mengangkat panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal.
[...]
"Apa! Di mana sekarang? Oke, tolong jaga dia sebentar! Saya akan menyuruh orang untuk mengambilnya." Ammar begitu terkejut saat mendengar info tentang asistennya.
[...]
"Terima kasih atas Infonya!" begitu mendengar informasi, Ammar langsung menghubungi orang kepercayaannya untuk menjemput si pemabuk pemula.
"Astagfirullah ... Roy, Roy!" Kesal Ammar mengetahui tingkah buruk asistennya.
Bersambung...
Hallo readers gimana kabarnya?
Maaf lama up nya.... 😢
Di dunia nyata kerjaan numpuk, jadi baru sempat Up. maaf bila part ini feelnya kurang memuaskan, Author akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyenangkan hati readers yang setia dengan kisah Aini.
Author punya kabar baik nih, Episode berikutnya Author akan mengumumkan hadiah untuk sang juara ya, jadi jangan lupa trus ikuti kisah Aini dan Ammar.
Terima kasih 😘😘.
__ADS_1