Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 110. Fakta Ulfa part 1


__ADS_3

Rumah sakit bersalin.


Dua hari kemudian. Semenjak pasca operasi selesai. Aini masih terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur rumah sakit, hal hasil membuat Robbet begitu cemas tentang keselamatan putrinya.


Robbet terus menerus menanyai kabar tentang kondisi putrinya kepada sang Dokter, sang Dokter hanya menjelaskan bahwa operasi ceasar pada Aini berbeda dengan operasi ceasar pada lainya.


Apalagi Aini juga menjalankan Operasi pada bagian kepala, sehingga memang membutuhkan waktu lama untuk pasien kembali sadar.


"Roy, di mana Ammar?" tanya Robbet yang tidak melihat Ammar menunggu Aini.


"Bos sedang mengangkat telepon dari beberapa klien, Pak." Roy berhenti dari aktivitas kerjanya dan menjawab pertanyaan dari Robbet.


Selama Ammar belum terjun sepenuhnya untuk mengurus perusahaan. Roy sebagai asisten kepercayaan Bosnya terus bekerja dengan giat dimana pun dia berada.


Kepintaran, keahlian dan ketekunan Roy dalam bekerja, membuahkan hasil di luar dugaan. Itu semua Roy lakukan untuk mengejar dan mendapat kan sang pujaan hatinya yang bernama Ulfa.


"Ya sudah kalau begitu, kabari saya bila Aini sudah sadar!" Robbet yang tergesa-gesa ingin bertemu dengan beberapa rekan bisnis kerjannya hanya menitip amanah kepada Roy. Lalu pergi keluar ruangan.


"Jaga dia!" Perintah Robbet kepada Sarah, Sarah hanya menunduk untuk memberikan rasa hormatnya.


Di sisi lain.


"Bang? Bagaimana keadaan Aini sekarang?" tanya Nabila lewat seberang telepon Ammar saat mengetahui Aini sudah melahirkan bayi kembarnya.


"Keadaannya masih belum sadar, tapi Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar." Ammar yang berbicara lewat ponselnya di taman rumah sakit.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Maaf, Nabila belum bisa menjenguk Aini di rumah sakit!" Nabila menahan tangisannya agar tidak di dengar oleh Ammar.


"Iya, gak apa-apa. Gimana keadaan Papih?" Ammar mulai menyadari nada bicara Nabila yang menahan tangisannya.


"Alhamdulillah, baik! Hmm ... Abang sudah , tanda tangan?" tanya Nabila ragu.


"Iya!" jawab tegas Ammar.


"Terima kasih ya, Bang, dan juga ... selamat atas kelahiran putra-putrinya!" Nabila menahan rasa sesak saat mendengar Ammar sudah menandatangani surat perceraiannya.


"Terima kasih ya, Nabila," ucap Ammar yang senang mendapatkan ucapan selamat untuk Aini dan dirinya.


"Bos," panggil Roy yang menghampiri Ammar di taman rumah sakit.


"Nabila, maaf ya ... Abang tutup dulu, assalamualaikum." Belum sempat Nabila membalas salam Ammar. Ammar langsung mematikan sambungan teleponnya kepada Nabila.


"Maaf, Bos! Nyonyah sudah sadar," ucap Roy memberi kabar kepada Ammar.


Ammar segera menjalankan kursi rodanya menuju ruangan rawat inap Aini yang di dampingi oleh Roy, begitu sampai di kamar rawat inap istrinya, Ammar melihat Dokter sedang memeriksakan keadaan istrinya dengan telaten.


"Gimana ke adaan Istri saya, Dok?" Ammar menghampiri sang Dokter.


"Alhamdulillah, semua sudah mulai membaik. Tinggal menunggu pemulihannya saja," ucap sang Dokter yang menjelaskan kepada keluarga pasien.


"Alhamdulillah, terima kasih, Dok." Ammar sangat senang mendengar penuturan dari Dokter atas kondisi Aini.

__ADS_1


"Sama-sama." Sang Dokter memberikan senyuman tulusnya dan melangkahkan kaki nya ke luar dari ruangan.


"Assalamualaikum." Salam Ammar yang mencium kening istrinya.


"Waalaikumussalam," ucap Aini masih suara pelannya.


"Maaf ya, kamu bangun. Mas tidak ada di samping kamu." Ammar mencium tangan Aini dengan lembut.


"Gak apa-apa, Mas." Aini tersenyum untuk menghilangkan rasa kekawatiran yang Ammar rasakan.


Melihat suami dari atasnya sudah datang, Sarah melangkahkan kakinya ke luar untuk memberi ruang waktu untuk pasangam suami tersebut, tanpa menoleh ke arah Roy.


Tanpa rasa kepeduliannya lagi terhadap orang yang sempat mampir di hatinya. Sarah selalu mengacuhkan sapaan dan teguran dari Roy, membuat Roy merasa penasaran dengan ucapan yang di lontarkan oleh istri bosnya.


"Sar, Sarah tunggu!" Roy mengejar Sarah yang berjalan begitu cepat.


"Sar. kamu kenapa si?" Roy menghadang Sarah dengan tubuhnya.


"Apa sih?" Sarah mulai kesal karena Roy memaksanya untuk berbicara.


"Kenapa kamu jadi seperti ini?" Roy mengungkapkan rasa gundahnya.


"Pikir aja sendiri!" Sarah begitu kesal dengan sikap Roy yang tidak begitu peka terhadap dirinya.


"Kita harus bicara!" Roy menarik tangan Sarah dan membawanya ke sebuah taman area rumah sakit.


"Ngapain si ngajak aku kesini?" Sarah menghempaskan cekalan tangan dari Roy setelah sampai di sebuah taman.


"Kesalahpahaman apa?" tanya Sarah ketus.


"Ya, seperti ini! Aku gak mau terus-terusan bertengkar sama kamu apalagi menjaga jarak."


"Loh, kenapa emangnya?" tanya Sarah dengan wajah yang dingin.


"Ya karena ...."


"Karena apa?" bentak Sarah penasaran dan mengharapkan sesuatu yang lebih dari Roy.


"Karena kamu sudah aku anggap sebagai adik aku sendiri! Aku gak mau di antara kita ada kesalah pahaman." Roy mengeluarkan isi hatinya yang mengganjal.


Deg.


Bagai ombak yang menghantam batu karang yang besar, rasa sakit yang Sarah rasakan tidak bisa bisa ditutupi lagi. Dirinya mencintai seorang yang ada di hadapanya, namun dirinya hanya di anggap sebagai adik oleh pria yang dicintainya.


Sarah teringat dengan madu atasannya, dirinya tidak mau menjadi seperti Nabila, Sarah hanya ingin menerima takdir dan keadaannya. Mencoba ikhlas dan tersenyum ke arah Roy menerima kenyataan yang begitu pahit.


-------


Ke esokan harinya.


"Bos?"

__ADS_1


"Apa? Minta tambahan bonus lagi?" tebak Ammar saat Roy mendekat ke arahnya dengan penuh maksud.


"Bukan, Bos. Maksud saya ... saya mau minta izin untuk libur sehari aja, Bos." Roy memberikan sebuah minuman hangat untuk atasannya yang sibuk memeriksa hasil laporan di atas meja.


"Oke! " jawab Ammar singkat.


"Bener, Bos?" tanya Roy untuk memastikan keputusan Bosnya.


"Gak percaya? Ya sudah, gak jadi!" Ammar melontarkan gurauan kepada Roy.


"Eh, percaya, percaya, Bos! Gitu aja ngambek! Terima kasih ya, Bos" ucap Roy tersenyum senang.


"Emang cukup libur sehari? Persiapan untuk lamaran kan gak secepat itu? Emang sudah siap semuanya?" tebakan Ammar tepat sasaran.


"Tahu aja si Bos, kalau saya mau melamar, belum Bos. Saya baru mau bertemu Ulfa, rencananya setelah bertemu Ulfa saya baru mempersiapkan acara lamaran dan bertemu dengan orang tuanya." Roy meminum air putih hangat Ammar tanpa sadar.


"Habiskan aja, Roy!" sindir Ammar yang melihat Roy meminum gelasnya.


"Astagfirullah, maaf Bos, saya lupa." Roy baru sadar dirinya meminum buatan dirinya sendiri untuk atasannya.


Aini yang mendengar percakapan antara Bos dan asistennya hanya tersenyum di atas tempat tidur rumah sakit sambil mengutak atik ponselnya.


"Ya sudah, Bos kalau gitu saya pamit pergi dulu, Bos. Mau bertemu Ulfa!" Roy berpamitan kepada Ammar dan juga Aini.


"Ya sudah, ada ongkos gak buat jemput Ulfa?" tanya Ammar.


"Alhamdulillah, banyak bos!" Roy berteriak saat dirinya sudah berada di luar pintu.


Setelah Riy sudah keluar dari ruangan, Ammar baru berani mendekat ke arah Aini yang terus mengutak atik ponselnya di atas tempat tidur rumah sakit. Ammar langsung merebut ponsel dari tangan istrinya secara mendadak


"Ihh, Mas apaan si?" Aini terkejut saat Ponselnya di ambil oleh Ammar.


"Istirahat! Main ponsel terus." Ammar melihat isi ponsel Aini yang ternyata sedang chattingan dengan para sahabatnya.


"Mas?"


"Hmm?" Jawab Ammar yang terfokus dengan Chattingan group Aini yang terdapat anggota yang bernama Shandy.


"Si Roy beneran mau lamar Ulfa?" tanya Aini untuk memastikan dengan benar.


"Iya, emang kenapa?"


"Ulfa ...." Aini yang bingung menjelaskannya kepada Ammar.


"Kenapa?" Ammar melihat semua isi Chat istrinya dengan para sahabatnya termasuk Shandy.


"Ulfa sudah menikah!" Jawab Aini menatap Ammar yang tengah asik membaca isi pesan di ponsel istrinya.


"Ya bagus dong," ucap Ammar tanpa sadar.


Aini yang melihat ekspresi Ammar biasa saja, hanya memutarkan bola matanya ke arah samping.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2