Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 118. Cewek Loe Gue Tikung


__ADS_3

Apartment Roy.


Pukul 16 : 00, Roy masih setia menunggu mainan barunya pulang ke apartment miliknya. Perasaan yang sudah tidak sabaran untuk menghukum Gadis yang masih berusia Sweet seventeen dalam gengamannya.


Merasa sangat lama menunggu mangsanya pulang dari sekolah. Roy memutuskan untuk turun kebawah membeli beberapa cemilan.


Setelah keluar dari apartment, Roy melihat gadis yang di tunggu-tunggu pulang bersama teman sekolahnya yang sama saat menjemput Gabriel.


"Thanks, ya!" Gabriel turun dari motor kekasihnya dan melepaskan pelindung kepala.


"Ya udah, ngapain masih disini?" tanya Gabriel yang melihat kekasihnya belum menyalahkan mesinnya.


"Jadi ngusir nih, ceritanya? Gak suruh masuk?" tanya kekasih Gabriel yang bernama Nico.


"Gak!" jawab Gabriel sambil tertawa.


"Ya udah." Nico memakai helmnya dan memasang raut wajah yang masam.


"Eh, jangan marah donk! Bukannya, gak boleh! Takut kesorean kamu pulangnya." bujuk Gabriel memegang tangan kekasihnya.


"Ya, udah kalau gitu. Salam buat Om kamu ya?" Nico mencium kening Gabriel membuat seseorang yang sedang memperhatikan mereka terbakar api cemburu.


"Ya, Hati-hati, ya!" Gabriel melambaikan tanganya dan tersenyum manis.


Setelah kekasihnya sudah pergi menjauh, barulah Gabriel masuk ke dalam sebuah aparment dan menunggu pintu Lift terbuka.


"Siapa?" tanya Roy tiba-tiba muncul dari belakang Gabriel.


"Astaga! Ngagetin aja, si Om." Gabriel langsung pindah posisi akibat terkejut oleh Roy dari belakang.


Ting, pintu Lift terbuka, Roy masuk terlebih dahulu yang disusul oleh Gabriel saat Roy ingin memencat tombol pada lift.


"Sudah berapa lama?" tanya Roy saat pintu lift tertutup.


"Hmm ... privasi, Om." jawab Gabriel yang menunduk.


"Ck!" Roy mengepalkan tanganya.


"Dia tahu, kamu anak seorang mafia? Dia tahu kamu mau di jodohin dengan Panji lelaki tua bangka?" tanya Roy dengan nada yang cukup dingin.


"Tahu!" jawab Gabriel singkat.


"Dia tahu kamu sedang hamil anak saya?" tanya Roy tapi Gabriel tidak menjawabnya.


"Gabriel?" Roy menarik pundak gadis belia tersebut lalu mengukungnya hingga ke dinding lift.


"Gak! Nico hanya tau kalau aku hamil anak orang lain, bukan anak, Om. Karena yang Nico tahu ... Om itu, ya Om benerannya, aku!" Gabriel melihat sorot mata Roy yang sudah terbakar api cemburu.


"Heu! Om?" Roy melepaskan pundak Gabriel dengan kasar lalu tertawa membelakangi gadis remaja itu.


"Salah, emangnya?" ucap Gabriel yang aneh melihat tingkah Roy.

__ADS_1


"Salah! Karena aku bukan Om, kamu!" Roy memukul dinding lift yang berada di samping Gabriel, membuat Gabriel takut akan sikap Roy.


Ting, pintu lift terbuka, Roy meninggalkan Gabriel yang masih ketakutan di dalam lift.


"Siapkan makanan, saya lapar! Buruan gak pake lama!" teriak Roy yang sudah berada di luar Lift, mendengar perintah dari Roy. Gabriel langsung menyusul Roy.


Malam semakin larut, tapi Roy masih terus menyuruh Gabriel untuk mengambulkan segala permintaanya, mulai dari memasak makanan, mengobati lukanya, hingga menyiapkan air hangat untuknya.


Semua Gabriel lakukan dengan tulus tanpa mengeluh, sehingga membuat Roy mengubah cara pandangya terhadap Gabriel, mungkin kemarin Roy masih ragu akan dirinya yang mudah jatuh cinta terhadap wanita yang masih remaja.


'Gak mungkin, gue jatuh cinta secepat ini sama anak yang masih bau kencur. Masa iya ... semudah itu gue geser posisi Ulfa di hati gue?' batin Roy yang begitu gelisa membuat dirinya susah untuk tidur.


Roy keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum. Namun, saat matanya melihat ke arah ruang televisi, Roy melihat Gabriel tertidur menyandarkan kepala di atas meja yang beralas buku pelajarannya.


Roy tersenyum sejenak saat melihat pemandangan yang indah di depan mata, melihat Gabriel memakai kemejanya yang kebesaran, menambah kesan seksi pada tubuhnya yang bagaikan gitar spanyol.


Roy melangkahkan kakinya berniat untuk memindahkan Gabriel ke dalam kamar, tapi pada saat Roy mendekat ke arah gadis yang tertidur pulas itu, Roy melihat ponsel Gabriel masih terhubung dengan Nico dengan sambungan video call.


Terpampang jelas wajah Nico yang tertidur pulas beralas buku pelajaran, membuat Roy merasa cemburu dengan keromantisan mereka berdua.


"Sorry, Boy! Gue tikung cewek loe!" Roy mematikan sambungan video callnya lalu membawa gadis itu kedalam kamar Gabriel.


Roy meletakan Gabriel dengan sangat perlahan agar sang gadis tidak terbangun, saat Roy ingin melepaskan tanganya, Roy justru di rangkul oleh Gabriel hingga bibir mereka bertemu.


Melihat sang gadis masih terpejam tidak menujukan reaksi penolakan. Roy melanjutkan aksi ciuman yang tidak sengaja itu dengan menambah filter agar semakin menarik.


Roy terus melumatti bibir seksi milik sang gadis tanpa henti, hingga tanpa sadar tangannya sudah meremas apa yang seharusnya dia remas, perlahan dengan lembut agar sang gadis tidak terbangun oleh aksi pelesehan yang dia lakukan.


Entah setan apa yang merasuki diri Roy saat ini, hingga Roy tidak menghentikan permainanya, justru semakin nekat melanjutkan aksi berikutnya dengan membuka semua kancing baju Gabriel.


Terlihatlah pemandangan sebuah gunung kembar cap loreng yang sudah di lukis oleh Roy menggunakan liidah dan bibirnya.


Putih, mulus bersih yang Roy liat saat ini, ketika melihat gitar spayol milik Gabriel begitu dekat dengan mata Roy.


Tanpa menyia-nyiakan waktu, Roy membuka resleting sangkarnya untuk mengeluarkan benda pusaka agar bisa menghirup udara segar.


'Roy! Istigfar!' bayangan Ammar membuat Roy terkejut.


'Lanjut, Roy! Sayang ... mangsa ada di depan mata. Dah sikat abis, Roy!'


Roy membuka celananya saat mendengar ucapan kedua dari alam bawah sadarnya, dan membuka celana sang gadis.


'Sekali lagi kamu salah melangkah, saya kutuk kamu jadi Mon and Yet!' teriak Ammar begitu keras di telinga Roy sehingga berhasil membuat Roy tersadar dari sisi bejadnya.


"Astagfirullah!" Roy memasukan kembali benda pusaka miliknya ke dalam sarungnya, begitu juga dengan sang gadis, Roy menutup semua kancing baju dan menyelimuti Gabriel hingga keleher.


Roy termenung sejenak, saat kekhilafan menyerang dirinya untuk ke sekian kalinya, Rdenganoy menyadari mungkin dia tidak berjodoh Ulfa karena Ulfa terlalu sempurna untuk dia miliki.


Ke esokan paginya.


"Aakkkkhhh!" Teriakan Gabriel saat melihat kaca yang berada di kamar mandi.

__ADS_1


Mendengar teriakan dari arah kamar mandi, Roy langsung menghampiri Gabriel dan membuka pintu kamar mandi, saat pintu sudah terbuka. Roy langsung membalikan badanya karena melihat sang Gadis hanya mengenakan handuk yang minim dengan rambut yang masih basah.


"Dasar Om Omesssss!" Gabriel melempar gayung ke arah pintu.


Dua puluh menit berlalu. Gabriel masih saja menangis di dalam kamar mandi tampa keluar, berbagai cara Roy membujuk dan meminta maaf kepada Gabriel. Namun, tetap saja Gabriel tidak membukakan pintu kamar mandinya.


Ponsel Gabriel pun berdering, panggilan masuk dari sang kekasih tertera di layar ponselnya, mendengar Roy yang berbicara dengan sang kekasih. Gabriel langsung membuka pintu lalu merampas ponselnya dari tangan Roy.


"Hallo? Tunggu lima menit, aku pakai baju dulu," ucap Gabriel yang mengusap air matanya di pipi.


"Jangan di matiin," ucap Nico berada di sebrang telepon yang masih terdengar oleh Roy.


"Ehhmm." jawab singkat Gabriel yang ingin Menutup pintu kamarnya.


Terkejut saat Gabriel merebut ponsel dari tanganya dan menyetujui permintaan Nico untuk tidak memutuskan sambungan telepon saat Gabriel ingin memakai baju.


Roy langsung menghadang pintu Gabriel, agar tidak tertutup. Gabriel pun di buat terkejut dengan sikap Roy yang menahan pintu kamarnya.


Tanpa ragu, Roy langsung mendobrak paksa pintu Gabriel hingga sang gadis ketakutan dan mundur kebelakang secara perlahan.


"Hallo? Gab?" suara Nico masih terdengar jelas di telinga Gabriel dan juga Roy.


"Hal ...." Belum sempat Gabriel menjawab sempurna panggilan Nico. Roy langsung melahap bibir Gabriel dengan lembut tapi penuh penekanan.


Tangan Gabriel terus berusaha mendorong kuat untuk melepaskan serangan dari Roy, tapi Roy menahan tangannya dan mempererat pelukannya, sehingga mereka terjatuh ke atas kasur.


"Hallo? Gab? Sudah belum? Cepetan nanti telat nih!" Suara Nico masih tersambung, saat Gabriel berusaha melepaskan ciuman dari bibir Roy.


"Hallo? Sayang! Kamu lagi ngapain sih?" ucap Nico penasaran mendengar grasak-grusuk dari arah Gabriel.


Gabriel berusaha untuk mendekatkan ponselnya. Namun, tanganya di cengram kuat oleh Roy, sehingga ponselnya berhasil di ambil ahli oleh Roy.


Roy pun mematikan sambungan telepon Nico saat dirinya masih terus melumatti bibir sang Gadis dengan jurus memabukan.


Gabriel tidak bisa berkutik saat Pria yang lebih tua delapan tahun darinya, terus memberikan ciuman yang belum Gabriel rasakan oleh Nico, tanpa di sadari, Gabriel membalas setiap serangan yang diberikan liidah Roy di dalam mulutnya.


Roy sangat senang saat ciumannya tidak bertepuk sebelah tangan. Roy memperdalam ciumannya saat tangan Gabriel mengusap dan meremas rambutnya dengan nafsyu.


Kini tangan Roy mulai meremas gundukan di balik handuk yang minim.


"Aahmmm ...." Gabriel mulai kehilangan akal sehatnya saat batinya menolak tapi tubuhnya menikmati setiap sentuhan Roy.


Roy mulai menggila saat desaahan lolos dari bibir sang gadis, tanganya mulai meluncur kebagian bawah dengan perlahan masuk ke dalam handuk dan menelusuri pahha Gabriel dengan lembut sampai pada titik privasi sang gadis.


"Aaahmmm," Desaahan yang sulit di tahan oleh Gariel saat dirinya mendapat sengatan magic dari tangan Roy yang mengelus area yang selama ini belum terjamak oleh siapapun.


"Akkh! Sakit, Om!" keluhan terlontar dari bibir Gabriel saat Roy memasukan satu jari ke dalam lubang semut.


Roy tersenyum puas saat dirinya melihat ekspersi wajah sang gadis menahan sakit akibat ulahnya.


"Pakai baju, Mu ... Biar aku yang antar." Roy mengecup bibir Gabriel sekilas lalu berdiri dari atas tubuh Gabriel.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2