Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 61 Roti sobek


__ADS_3

" Trus yang tadi salah target dong? hahaha niatnya buat Aini malah Nabila yang dapet," Ledek Shindy.


" Tau lah mba, gara gara Roy noh... kacauu!!" kecewa Ammar pada kerja Roy kali ini.


" Kacau Kacau enak." Ledek Shindy sambil mengambil berkas baru dari Ammar.


" Dah mba ledeknya, dah sono kerja lagi,, nih bonus buat mba" sambil memberikan tugas lagi ke Shindy.


" Ini mah gak bisa cuti kalau di tambah mulu," Cemburut Shindy.


" Justru mumpung belum cuti mba, biar beres saat mba cuti nanti. lagian ada Siska yang bantuin, mba kerjaannya cuma nyuruh doang. " ujar Ammar.


" Iya, yang penting trima beres, Btw udah di cek belum positif negatifnya? " ucap Shindy.


" Positif negatif apa si mba? " heran Ammar.


" Ini kaya mba, " Shindy menunjukan perut yang sedikit buncit.


" Aamiin mba, mohon doa nya aja, biar cepat nular sama istri Ammar, " ucap Ammar yang tau maksud Shindy.


" Istri yang mana nih? Aini atau....? " ucap Shindy ngambil ancang ancang kabur.


" Ya Aini lah mba.... siapa la.....gi, " Ammar tersadar saat Shindy menjelaskannya kalau istrinya bukan Aini saja.


" Astagfirullah,,, Shindy!!! " teriak Ammar yang sudah melihat Shindy menutup pintu ruanganya.


Beberapa jam kemudian, Aini terbangun dari tidurnya yang terlelap, melihat sekeliling Aini baru sadar dirinya masih di ruangan privasih Ammar. Matanya mulai mencari pemilik kamar tapi tidak ada, hanya ada selimut yang menutupi dirinya.


" Mas? " Aini menghampiri Ammar.


" Hai sayang, sudah bangun? " ucap Ammar yang masih mengetik di laptopnya.


" Kok gak bangunin aku sih mas? " rengek Aini yang duduk di sofa sambil membuka kotak makanan dari Nabila untuk Ammar.


" Maaf, mas gak tega bangunin, laper? " tawar Ammar yang menghampiri Aini.


" Laper,, tapi Aini mau sholat dulu, mas sudah sholat? udah makan? " tanya Aini.


" Sudah, makan belum, nungguin kamu bangun biar makan bareng, yah sudah sholat dulu sana, mau mandi dulu gak? " ledek Ammar.


" Ngapain mandi dulu,, orang gak terangsang kok wleee" belas lendek dan langsung berdiri.


" Kamar mandi nya di mana mas? "


" Hayo mas antar, " langsung gandeng istrinya.


" Bisa sendiri kok mas, nanti yang ada panjang ceritanya kalau mas yang anter. " Aini berjalan ke kamar mandi yang di tunjuk Ammar.


Setelah sholat Ammar pun memesankan makanan untuk dirinya dan juga Aini.


" Loh, banyak amat mas pesannya, dari mba Nabila kan juga banyak. " Duduk di samping Ammar.


" Dah makan aja, nih aaaaaa..... " Ucap ammar menyodorkan ke Aini sendok berisi makanan kedalam mulut istrinya.


" Bismillah,,, "


" Gimana enak? " tanya Ammar.


" Ehmmm enak mas, " ucap Aini mengambil mangkuk dari tangan Ammar.


Ammar melihat makan Aini yang begitu lahap dan banyak merasa kenyang duluan, tanpa elfil melihat Aini makan begitu rakusnya, justru malah tertawa dan senang melihatnya.


" Pelan pelan, gak ada yang ngerebut kok" Elus Ammar ke kepala Aini.


Setelah mereka makan, Aini minta izin untuk pulang ke rumah nenek, tapi tidak di izinkan oleh Ammar, Aini disuruh menunggu hingga pulang kerja selesai.


Aini mondar mandir melihat sekeliling ruang kantor Ammar, sambil menemani suaminya bekerja, Aini merasa heran dengan ruang kerjanya Ammar yang terdapat kamar privasi di dalamnya.


Setelah jam kantor pulang, Ammar dan Aini keluar dari ruangan kerja Ammar sambil di ikuti oleh Roy asissten Ammar.


" Sore Pak, " ucap Karyawan tiga orang saat Ammar melewati nya, karena mereka bertiga mendapat jadwal lembur.


Saat sampai di Lobby semua karyawan yang belum pulang atau yang lembur melihat bosnya yang mengandeng tangan seorang wanita dengan mesra sambil membawakan tasnya.

__ADS_1


Aini melihat aneh ke semua karyawan Ammar, Aini langsung menebak nya kemungkinan karena Ammar mengandeng tangannya dengan mesra.


Di dalam mobil,


"Roy, ke Jakarta Utara, sadar, perumahan Elit xxxx"


" Baik bos, " Roy menancapkan gasnya dan berbaur dengan kendaraan lainnya.


" Loh, kita gak pulang?" Heran Aini.


" Katanya mau nginep? ya udah,,"


" Tapi mas gak izin dulu sama mba Nabila? "


" Tadi udah sayang... di kantor. "


" Oh," balas Aini sambil melihat ke arah kaca mobil.


" Kok oh doang sih" ucap Ammar menarik wajah Aini agar menghadap ke arahnya.


Aini menepis tangan Ammar dan kembali melihat ke arah kaca, Ammar paham Aini pasti cemburu soal tadi saat Nabila membawa bunga mawar.


Ammar pun langsung menarik tangan Aini hingga terjatuh kedalam pelukan Ammar. Aini mau bangun tapi Ammar menyandarkan kepala Aini di samping pundak kanannya sambil mengenggam tangan Aini


" Maaf, " ucap Ammar yang mencium tangan Aini.


" Apakah ada orang lain selain Aini yang pernah tidur disana? "


" Gak ada, bahkan Nabila juga gak tau, walaupun dia pernah bekerja di kantor mas, cuma kita berdua, the first"


" Kita berdua? "


" Ya, karena mas juga belum pernah tidur di sana, baru tadi sama kamu,, mangkanya mas pernah ngajak kamu untuk ke kantor mas, karena mas juga mau coba tidur disitu bareng kamu, hahaha" canda Ammar yang beneran serius.


" Ih mas, bercanda"


" Loh beneran, semasa mas single fisabililah, mas gak pernah tidur disitu, mau lembur juga mas pasti pulang, kasian ibu di rumah, jadi palingan juga yang bersihin setiap hari karyawan mas di situ bagian bersih bersih. " ucap Ammar yang menarik hidung Aini.


" Ih sakit mas ih.... " ngambek Aini.


" Ada ada aja mas, dasar me... " ucap Aini terpotong saat Ammar mengecup bibir Aini.


" Ehheemmm,,,, macet macet huuuuffhhsss... haredanngg eeuuyyyy..... " deheman Roy ketika macet melanda.


" Butuh kipas sate Roy? " tawar Ammar


" Gak bos, ac nya cukup mendinginkan bos" elak Roy yang melihat Aini teryawa.


" Kondisikan mata mu Roy, kalau mau dompet masih aman"


" Maaf bos,, heheh"


Mobil terparkir sempurna di halaman rumah nenek Aini. Ammar turun bersama Aini dan di sambut oleh Kenzo dan juga Sarah.


" Bunda... " Kenzo berlari dan memeluk Aini.


" Aduhh pinternya adik bunda, nakal gak sama kakak Sarah? " tanya Aini yang menggendong Kenzo dan membawa masuk kedalam bersama Ammar.


" Gaa,, bunda bunda, bunda bobo ini kan ama Enzo? " Bawel Enzo


" Iya, Ayah Ammar juga bobo di sini kok sama Kenzo. " ucapan Ammar membuat Aini terkejut karena setaunya Ammar cuma mengantar saja.


" Asik.... hollee......... " girang Kenzo.


" Aduh girangnya yang ketemu sama kak Aini" ucap Nenek.


" Assalamualaikum nek, "


"walaikumusalam,, pulang sore? "


" Ya, tadi mampir dulu ke kantor mas Ammar jadinya pulang bareng" ucap Aini yang melirik Ammr.


" Ya sudah masuk, trus mandi biar seger" suruh nenek ke Aini dan Ammar seperti anak kecil.

__ADS_1


Aini masuk ke kamar bersama Ammar, siap siap untuk pergi ke kamar mandi meninggalkan Ammar yang asik dengan ponselnya.


Ting pesan masuk ke ponsel Aini.


Ting, ting, ting ting, begitu banyak notifikasih pesan yang masuk ke Aini, dengan penasaran Ammar membuka ponsel Aini yang belum terkunci. Ammar melihat banyak pesan masuk dari teman teman satu kampus Aini. termasuk pesan dari nomor yang tidak di kenal.


Semua isi pesan dari nomor yang tidak di kenal


" Assalamualaikum ukthi? "


" Assalamualaikum ukthi, jangan lupa makan"


" Assalamualaikum ukti, salam kenal dari akhi.


" Assalamualaikum ukthi, jangan lupa sholat"


" Assalamualaikum ukti, boleh tau nama ayah nya siapa? mau coba menghafal buat nanti ijab kabul"


Sambil emosi baca pesan dari nomor asing, Ammar menghapus semua pesan yang masuk. sedangkan saat mau menghapus Ammar membuka pesan dengan nomor yang sama beurutan,


" Assalamualaikum Nur? gimana kabar kamu?"


" Maaf kakak belum bisa jemput kamu sama Kenzo, "


" Nur? in sya allah jum'at malam, orang tua kakak ke rumah nenek, kakak harap kamu ada di rumah nenek"


" Oh iya, kakak punya kado buat kamu, kakak tititpin sama nenek tadi siang, semoga kamu suka ya sama kado kaka,"


"Ini nomor kaka, save ya. nanti kakk kabarin lagi, assalamualaikum, "


Perasaan yang kesal setelah membaca pesan dari musuhnya, Ammar langsung memblokir nomornya dan menghapus pesanya.


Ceklek, pintu kamar mandi terbuka. Aini melangkah ke lemari pakaiannya dan mengambil baju tidur. Tiba tiba dari belakang Ammar memeluk Aini melihat dada Aini yang begitu banyak tanda milik Ammar akibat ulahnya tadi siang.


" Mas Aini mau pakai baju dulu, mas mandi sana, bau kringet "


" Mandiin," manja Ammar.


" Manja banget sih, udah nanti keburu dingin."


Mau tidak mau Ammar masuk ke kamar mandi, setelah selesai, Ammar keluar hanya melilitkan handuknya sebatas pinggang dengan rambut yang masih basah, Ammar berjalan mendekat ke arah Aini yang tertawa pada ponselnya.


" Astagfirullah, mas kagetin aja" Kaget Aini saat air tetesan dari rambut Ammar membasahi ponselnya terutama melihat roti sobek yang menggiurkan.


" Ketawain apa si? dari tadi asik banget sama ponselnya" ambil ponsel Aini dengan cepat.


"Mas, itu dari temen temen Aini di kampus, nanyain soal ke Bali bulan depan. gitu doang"


Ammar melihat postingan Aini di dunia maya nya, melihat foto foto Aini yang terpajang dengan anggunnya.


" Ih mas, ngapain? jangan di hapus huuuhuu" rengek Aini.


" Trus mau ngapain naro foto di medsos? hapus aja, mas gak suka, bahaya!!"


" Tapikan Aini gak joget joget cuman diem dan gak banyak gaya"


" Gak banyak gaya gimana!? orang centil begini gayanya," protes Ammar.


Aini cemberut, saat Ammar menghapus semua foto fotonya di medsos. Padahal Ammar memindahkanya ke E-mail Ammar.


" Mas gak mau kamu kena penyakit Ain Sayang. "


" Mas gak mau kamu kena penyakit Ain sayang, dasar pilih kasih" cemberut Aini sambil menirukan ucapan Ammar.


" Kata siapa mas pilih kasih? " Mendengar sura pelan Aini, Ammar mendekatkan kepalanya dan kepala Aini, sehingga kening mereka menepel.


" Pake baju dulu sana mas, " Panas Aini saat melihat roti sobek milik Ammar yang begitu dekat.


" Mau pegang? atau mau langsung nyobain? " tawar Ammar yang paham arah mata Aini.


" Mas ihhh mesummm" teriak Aini yang menutup wajahnya dengan bantal.


" Hahahaha" tawa Ammar lepas saat melihat istrinya mengemaskan menurut Ammar.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2