Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 84. Istri atau Simpanan?


__ADS_3

Mittelbergheim.


Rasa sedih ketika Aini mengingat Ammar yang selalu ada untuk Nabila, bersamaan dengan perasaan rindu yang ia rasakan untuk suaminya. Aini tidak bisa menampiknya ketika hasrat rindu itu datang.


Sambil mengelus perutnya, Aini meneteskan air mata dan bersinandung sholawat agar hatinya tidak merasa gusar.


"Aini? Sudah, jangan menangis ... Kasian anak anak mu di dalam perut, mereka akan merasakan hal yang sama." Omah membawakan segelas susu untuk Aini.


"Gak kok, Grandma. Aini hanya merasa senang, karena ada Grandma dan juga ayah yang selalu ada di saat Aini butuhkan." Aini duduk dan meminum susu buatan Omah.


"Jangan bohong! Grandma tau, anak-anakmu sangat merindukan ayahnya. Begitu juga dengan kamu, iya kan!" tebakan Omah membuat Aini tidak bisa menampiknya.


"Ya, sudah. Sekarang keputusan ada di tangan kamu, apa kamu akan kembali di sisi Ammar dan menjalankan hidup rumah tangga mu bersama madu mu. atau ... kamu lebih memilih yang lain." sambil mengelus tangan Aini dengan lembut


Grandma tidak tega melihat cucunya terus-terusan dalam kesedihan, melihat dari raut wajah cucunya yang sedih, hati Omah juga merasakan sedih.


Grandma tahu Robbet sudah memberi keputusan yang berat untuk Aini, karena biar bagaimanapun Ayah dan suami dua hal yang tidak bisa harus di pilih salah satu.


"Aini akan melepaskan Mas Ammar, Grandmah! Karena Aini sadar, Aini lah yang sudah ada di antara mereka berdua. Aini sudah masuk di dalam ke hidupan mereka berdua." mengarahkan tangan Omah ke pipi Aini, seakan menandakan Aini baik baik saja karena ada Omah .


Aini sudah mengambil keputusan untuk mengalah memberikan Ammar ke Nabila, karena dengan begitu, Aini punya alesan yang pas untuk bisa memilih Ayahnya ke timbang suamnya. Alesan itu pula yang sangat tepat agar Nadzar Aini bisa terbayar, Walaupun dirinya lah yang akhirnya akan terluka.


"Kamu yakin, sayang?" mengusap pipi Aini dengan lembut.


Aini meneteskan air mata serta mengangguk tanda dia yakin dengan keputusannya. Grandma langsung memeluknya agar Aini bisa tegar dengan keputusannya.


__________


Sore hari, Mittelbergheim.


"Grandma? Apakah grandma mau ke kebun?" Aini sudah tidak sabar ingin memetik buah anggurnya.


"Yah, apakah kamu mau ikut?" Omah sudah rapih dengan penampilanya.


"Ya, bolehkah Aini memetik lagi yang banyak?"


"Bukankah kamu sudah memetiknya kemarin dengan sangat banyak?"


"Kemarin sudah habis Aini makan, sekarang Aini mau membuat slai anggur Grandma, boleh kan?"


"Boleh, tapi harus pakai kursi rodanya!"


"Omah, Aini masih bisa jalan Grandma. Aini sehat!" kesal Aini yang harus memakai kursi roda agar tidak membuatnya kelelahan.


"Aini, kamu memang sehat. Tapi Grandma tidak mau kalau sampai terjadi apa apa sama kedua calon cicit Grandma." Omah menyentil kening Aini pelan. Aini tersenyum dan memegang keningnya.


Saat di perkebunan anggur, Omah sibuk mengurus kebun Anggur dengan karyawan karyawannya. sedangkan Aini sibuk memetik buah sendirian.


"Aini!" panggil Liana.

__ADS_1


"Oh, Hai kak?" balas Aini.


"Nih, ponsel kamu." memberikan ke hadapan Aini.


"Oh, buang saja. sudah rusak ini kok." Aini meneruskan mengambil buah Anggur.


"Rusak?" Heran Liana.


"Ya, aku sudah ada yang baru soalnya." berjalan otomastis mengunakan roda.


"Owhh, ok!" ucap Liana.


"Mau aku temeni?"


"Boleh," ucap Aini.


Mereka berdua bagaikan kakak dan adik, sangat cepat bergaul. Liana sangat pandai mengambil hati Aini, membuat Aini merasa nyaman berteman dan berbicang dengannya.


Tanpa Aini tahu ada sosok lelaki tua yang sedang melihatnya penuh kerinduan. Lelaki itu terus memandang Aini tanpa berkedip. Dia berdiri di depan mobil nya dan terus memperhatikan.


Aini yang terus bersendau gurau dengan Liana tanpa memperdulikan orang yang melihat ke arahnya yang begitu dalam.


"Aduh udah, ah! Kamu buat aku tertawa terus!" Aini tertawa mendengar cerita Liana.


"Ok, ok ... hahah." Liana yang ikut tertawa meliat Aini juga tertawa mendengar ceritanya.


"Aku ambil minum dulu di dalam." karena tertawanya membuat Aini haus. Aini segera pergi ke dalam rumah tempat penyimpanan Anggur yang sudah di kelolah untuk mengambil air putih di dalam.


Tiba tiba Liana meninggalkan Aini di dalam tempat pengelolahan buah anggur yang di mana tidak ada orang di dalam sana, karena Omah memanggilnya untuk di minta bantuan.


"Jaga di luar!" printah lelaki tua itu ke cewe cantik. Lelaki itu langsung masuk ke dalam setelah Liana pergi.


Ceklek. Suara pintu di tutup oleh lelaki tua itu.


"Kak Liana, kok di tutup pintunya? Kakak mau minum juga? Biar Aini ambilin kalau mau." Aini yang tidak pakai kursi roda, sedang sibuk mondar mandir membuat teh hangat untuknya.


"Kak Liana mau teh atau sirup?" Aini masih terus mengira kalau yang ada di belakangnya adalah Liana.


"Kak?" ucap Aini kembali bertanya saat tidak ada jawaban dari orang yang di sebutnya.


Aini penasaran langsung membalikan tubuhnya dan melihat orang yang ada di belakangnya sudah menariknya dalam pelukan.


"Akkhh ... hupp! " teriakan Aini di sekap oleh lelaki tua itu, dan di bawa ke sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Sssttt!" perintah lelaki tua itu yang meletakan jari telunjuk ke arah bibirnya, mengisyaratkan bahwa Aini tidak boleh berisik saat lelaki itu melepaskan dekapannya. Aini langsung menggung sebagai tanda paham.


Saat tangan lelaki itu perlahan melepaskan dari mulut Aini. Aini langsung mengigit tangannya dan menendang aset paling berharga miliknya lalu menendangnya sekuat tenaga.


"Aaakkkggghh ....!" teriak lelaki tua itu sambil memegang asetnya.

__ADS_1


Aini yang melihat lelaki tua kesakitan tersungkur di bawah, langsung berlari ke arah pintu. Namun pintunya terkunci dan kuncinya berada di saku celana orang tersebut.


"Si al!" Aini berlari lagi mengambil kunci di dalam saku celana itu.


Melihat lelaki itu masih kesakitan memegang asetnya, Aini langsung merogoh saku celananya dengan cepat. Tapi, saat tangan Aini mau keluar dari saku celana orang itu, tangan Aini dicekal sangat kuat. Aini berusaha memberontak namun tenaganya jauh lebih besar dari Aini sehingga Aini kalah kuat untuk lolos.


Lelaki tua itu memaksa Aini hingga duduk di sofa dengan kedua tangan Aini di angkat ke atas mengunakan satu tangannya dan yang satunya lagi memegang pipi Aini sambil mengusapnya dengan lembut mengunakan jempolnya. Kini kedua mata mereka saling bertemu, mereka saling tatap satu sama lain, lama mereka saling memandang dan setetes buliran air mata keluar dari sudut mata lelaki tua itu.


lalu lelaki tua itu memajukan wajahnya ke Aini dan mencium keningnya penuh dengan hasrat rindu. Aini berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman lelaki tua itu, tapi tetap saja tidak bisa.


Kini tangan yang satunya membuka cadar Aini dan melihat bibir Aini yang ranum berwana merah muda yang dia bayangkan setiap hari, mendekatkan wajahnya dan ingin mencium bibir Aini, tapi Aini justru memalingkan wajahnya ke kiri.


Lelaki itu terus berusaha untuk mencium bibir merah ranum milik Aini tapi Aini terus menghindarinya.


"Pulang lah Mas, istri mu pasti sangat kawatir terhadap mu," ucap Aini yang ternyata tahu bahwa lelaki tua yang ada di hadapannya adalah Ammar, suaminya.


"Bagaimana aku bisa pulang kalau kamu saja sudah menendang aset ku paling berharga, aku harus minta pertanggungjawaban dari kamu." Ammar mulai memaksa mencium Aini.


"Mas, jangan! Ah ...."Aini terus berusaha untuk menghindar dari ciuman Ammar.


"Aku sangat merindukanmu Aini, Aku tidak bisa tanpa mu dan calon anak anak kita." bisik Ammar ketelinga Aini.


"Maafkan atas segala ketidak adilan Mas, Aini. Mas tahu, Mas salah! Please pulang lah bersama mas. Mas akan memperbaiki semuanya." Ammar menangis di pelukan Aini.


"Maaf mas, Aini gak bisa! Mba Nabila lebih membutuhkan Mas Ammar dari pada Aini, Mas tenang saja, di sini Aini ada Grandma dan juga Ayah yang selalu ada buat Aini." Aini tidak membalas pelukan Ammar.


"Bagaimana dengan ibu? Ibu sangat kawatir tentang kamu Aini!"


"Bilang sama ibu, tidak perlu kawatir. Aini di sini baik baik saja kok Mas."


"Tapi ibu mau dekat sama kamu, Ibu mau kamu tinggal bersama ibu." pinta Ammar maksa.


"Maaf mas, Aini gak bisa!"


"Ya, tapi kenapa gak bisa? Kamu istri Mas ... sudah sepantasnya kamu tinggal sama Mas! Kamu tangungjawab Mas!"


"Istri? Aku atau Nabila yang Istri Mas? Aku rasa lebih tepatnya Nabila yang benar-benar menjadi istri mas dari pada aku? Karena semua keperluan Mas Ammar mba Nabila yang siapkan, begitu juga dengan waktu. Mas Ammar lebih punya banyak waktu untuk Nabila dari aku ...!" rasa kekesalan Aini meluap.


"Mas Ammar gak sadar kan, kalau Mas Ammar datang ke Aku cuma kebutuhan biologis mas Ammar saja! bener kan?" Aini mencoba memberitahu Ammar.


"Aku ini istri mas! Butuh perhatian, butuh Mas Ammar ada di samping aku! bukan cuma hanya di kasih duit oleh Mas Ammar dan harus memenuhi kebutuhan biologis Mas Ammar! Aku itu sebenarnya ISTRI atau SIMPANAN Mas Ammar, hah!" emosinya kini meledak tak tertahankan.


Deg.


Perasaan Ammar begitu sakit ketika mendapat sindiran dari istri pertamanya. Ammar tidak menyangka bahwa kata kata Aini begitu menyakitkan hatinya.


"Aku itu istri pertama Mas Ammar, tapi seakan akan aku yang menjadi istri kedua Mas Ammar! Mungkin memang benar selama ini aku yang sudah masuk kedalam kehidupan Mas dan juga Nabila. Mangka dari itu Lebih baik Aku mengalah mas! Aku gak mau menjadi istri simpanan Mas Ammar!" Aini mencoba membuka kunci pintunya dan keluar dari rumah pengelolahan Anggur.


Tapi Ammar langsung mengendongnya dengan ala bridal style dan di masukannya Aini kedalam mobil.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2