
Deru napas Aini begitu teratur, saat Ammar baru saja keluar dari kamar mandinya setelah pulang dari Sport Center Shooting, dia mencium kening istrinya yang sudah tertidur lelap bersama kedua buah hatinya.
Rambut hitam yang panjang berkilau, kulit putih mulus, bibir merah merona. pipi yang chubby menambah kesan cantik di istrinya. Ammar merasa beruntung bila dialah yang menjadi pendamping Aini. Di saat luaran sana banyak yang ingin menjadi pendampingnya.
"Ana uhibbuki fillah." Ammar mencium pipi Aini lalu masuk ke dalam selimut dan perlahan menyusul sang istri ke dalam arus mimpi.
***
"Apakah Ammar mau menerima hadiah dari kamu?" tanya Ismi kepada Izul.
"Iya," jawab Izul dengan singkat.
"Apakah kalau kita sudah memberikan dia hadiah, Ammar jadi berhenti mencari informasi tentang kita?" tanya Ismi yang begitu khawatir akan rahasia keluarganya.
"Tenang saja, kamu gak usah terlalu khawatir. Aku sudah menutupnya rapat-rapat, jadi ... tidak akan ada yang tahu tentang keluarga kita." Izul memeluk tubuh istrinya saat mereka berada di tempat tidur.
Mendengar ucapan dari sang suami, Ismi merasa lega walaupun hatinya masih sedikit khawatir. Dia mematikan lampu tidur dan memeluk suaminya, mereka pun terpejam.
Di sisi lain.
Reyzal yang masih berada di lobby utama berencana untuk menemui anak buahnya. Dia berencana untuk tinggal beberapa hari lagi sebelum proyek yang dibangun perusahaan Ayahnya berhasil 75 persen.
Lembaran tiap lembaran, Rey baca dengan teliti, bibirnya tersenyum ketika hasil laporan anak buahnya sangat memuaskan. Rey pun menandatangi beberapa dokumen untuk meminta persetujuan dari dia.
Usai menandatangani surat, Rey melihat ke arah wanita cantik yang masih mudah berjalan dengan seorang pria paru baya, bisa ditebak usia pria itu memasuki kepala lima. Mereka tertawa begitu mesra, tanpa Rey sadari bibirnya tersenyum melihat senyuman dari wanita remaja itu yang begitu cantik dengan balutan busana yang tidak terlalu terbuka.
"Bos, bos? Bos!" teriak anak buahnya yang membuyarkan kesadaran Rey.
"Astagfirullah!" Rey tersadar dari apa yang barusan dia lihat.
"Kalau gitu, saya permisi dulu, Bos," pamit anak buah Rey.
Rey tersenyum dan berjabat tangan dengan anak buahnya, dia berdiri dan mulai berjalan kembali ke arah kamarnya. Namun, pada saat ingin menaiki lift. Dia bertemu dengan wanita yang dia lihat saat chek in bersama pria tua tersebut.
__ADS_1
Rey menjadi ragu saat dia ingin masuk ke dalam satu lift tersebut, tapi wanita itu membuka kembali pintu yang hampir tertutup. Rey pun tersenyum dan memutuskan untuk naik satu lift dengan pria paru baya itu dengan sang wanita.
Sesaat suasana di dalam lift menjadi canggung bagi Rey, tapi tidak dengan perempuan itu yang dengan santainya melihat ponsel sembari membaca Al-quran. Ada sedikit ras bingung di hati Rey saat pikiranya sudah bisa menebak profesi wanita itu.
Selang beberapa menit, pintu lift terbuka, pria paru baya turun bersama wanita cantik itu. Langkah kaki Rey tanpa sadar mengikutinya sampai disebuah kamar hotel. Hatinya langsung kecewa saat melihat wanti tersebut masuk bersama pria hidung belang.
"Astagfirullah! Kenapa gue, ikutin. Gak ada urusannya juga, sama gue." Rey segera kembali ke kamar hotelnya, dia merebahkan tubuhnya setelah selesai mandi.
Keesokan paginya, pukul 04 : 50. Rey berniat untuk ke kamar orang tuanya yang akan berangkat pagi ini, tapi pada saat Rey membuka pintu keluar. Dia melihat seorang wanita yang semalam sedang berbicara kepada teman wanitanya.
"Ok, thanks, beb." Wanita cantik itu memeluk temannya yang berpenampilan lebih terbuka dan lebih menggoda.
Rey pun bersembunyi dibalik pintunya saat wanita cantik itu berjalan melewati dia yang ada dibalik pintu, saat dikira Rey wanita itu sudah menjauh, Rey membuka pintunya kembali dan keluar dari dalam kamar hotelnya. Namun ternyata wanita itu berdeham tepat dibelakang Rey.
"Astagfirullah allazim," ucap Rey terkejut saat melihat wanita itu sudah berdiri dihadapannya.
"Kenapa? Mau booking, saya?" Wanita itu berjalan mendekat ke arah Rey secara perlahan.
Otomatis kaki Rey pun mundur secara perlahan hingga mentok ke dinding, tangan wanita itu menepuk tembok dekat telinga Rey. Matanya melihat mata Rey yang sedang melihat ke arah lain, agar kedua mata mereka tidak saling bertemu.
Merasa dirinya direndahkan, Rey tersenyum sinis sembari mengucapkan kata istighfar dalam hatinya. Dia pun mencoba menggertak wanita itu dengan memajukan bibirnya seperti ingin mencium tetapi wanita itu menghindar dan membuka jalan untuk Rey agar bisa keluar dari kungkungannya.
"Tepos!" ledek Rey yang berjalan menjauh dari wanita tersebut.
Wanita itu kesal dan mengepalkan kedua tangannya, dia berniat menyusul lelaki itu. Namun dia tersadar, bahwa sesuatu tertinggal di dalam kamar.
Wanita itu kembali masuk dan mengambil uang tips tambahan atas pelayanan dia semalam, karena sudah memuaskan lelaki tua bangka tersebut hingga terkulai lemas.
"Bye ... tua bandoot." Wanita cantik itu keluar dari kamar dan berlari menuju lift yang ingin tertutup. Namun dengan cepat, wanita itu bisa masuk ke dalam lift dengan cara merampingkan tubuhnya.
"Hampir, aja," ucap wanita itu, tanpa dia sadari ternyata Rey berdiri tepat di belakangnya.
Nada dering pada ponsel wanita cantik itu berbunyi, ia membuka tasnya dan mengeluarkan ponsel lalu menjawab panggilan tersebut, dalam perbincangan yang dibicarakan oleh wanita tersebut. Telinga Rey mendengar bahwa seorang memanggil wanita itu dengan sebutan Bu guru.
__ADS_1
Rey juga mendengar jawaban dari wanita yang memiliki wajah paras cantik itu berkata untuk membaca surah-surah pendek terlebih dahulu sebelum ia datang ke lokasi, hati Rey semakin penasaran dengan sosok wanita yang berada didepannya tersebut.
Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka, langkah kaki Rey tiba-tiba mengikuti kemana perginya wanita itu. Dia melihat perempuan cantik itu tergesa-gesa berlari ke arah toilet wanita, dengan sabar Rey menunggu wanita itu keluar dari dalam sana.
Setelah keluar, kini wanita cantik itu merubah penampilannya dengan menggunakan pakaian syar'i, di mana hati Rey tambah heran ketika perempuan itu keluar dengan penampilan yang berbeda. Rey terus mengikuti kemana ia pergi, hingga perempuan itu memanggil sopir taksi, dan Rey mengikuti kemana wanita itu pergi.
Sampai akhirnya, mobil Rey terpakir di sebuah kos-kosan kecil, lagi-lagi perempuan itu keluar dengan mengenakan mukena dan berjalan menuju Masjid, sesampainya di Masjid. Perempuan itu di sambut hangat oleh para murid yang berusia sekitar 12 sampai 16 tahun.
"Assalamualaikum," ucap wanita itu.
"Waalaikumussalam, Bu guru Jasmine." Serempak semua anak murid menjawab salam dan mencium tangan sang guru.
Setelah mencium tangan, perempuan itu yang bernama Jasmine menyuruh semua anak muridnya siap-siap untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah, karena azan shubuh sudah berkumandang. Rey pun memutuskan untuk ikut melaksanakan sholat shubuh berjamaah di Masjid itu, dia maju merapihkan baris Saf nya di samping Ustad tersebut yang memasuki usia 60 tahun.
Ustad itu merentangkan tanganya dan mempersilahkan anak muda yang ada di sampingnya untuk maju ke depan sebagai Imam, Rey terkejut dan melihat sekitarnya yang melihat ke arahnya untuk menjadi Imam, karena yang mengumandangkan azan adalah Sang ustad.
'pantesan, kaga ada yang mau berdiri di samping Ustad tadi,' batin Rey berucap.
Rey tersenyum dan akhirnya maju satu langkah untuk menerima menjadi Imam masjid tersebut, dan kemudian mereka melaksanakan sholat shubuh berjamaah.
Usai melaksanakan ibadah shalat subuh berjamaah, Rey mengintip anak-anak yang sedang mengaji dengan Jasmine. Pak ustad yang melihat Rey sedang memantau anak-anak mengaji langsung menegurnya.
"Cari siapa?" tanya ustad tersebut.
"Ah, tidak pak. Saya cuma mau bertanya, yang mengajar mengaji siapa ya, pak ustad?" tanya Rey.
"Adek ini siapa? dan dari mana?" Ustad tersebut justru berbalik bertanya pada Rey.
Rey terdiam sejenak dan menjawab pertanyaan dari Pak ustad itu dengan jujur, dia pun mendapat jawaban dari ustad tersebut dengan detail. Namun, dia tidak menemukan jawaban yang aneh atau curiga tentang Jasmine.
Bersambung...
Hai sobat readers ... Terima kasih ya sudah baca kisah Aini. Jangan lupa juga mampir di karya keduaku ya, Uda rielis nih 🤠cuuss dikepoin ya .. menceritakan tentang perebutan Tahta, Harta dan Cinta. jangan lupa tinggalkan jejak ya.. author tunggu loh 🥰😘
__ADS_1