
Pengunjung restoran terlihat ramai karena sudah waktunya jam makan siang, dari berbagai kalangan semua pun singgah di restoran tersebut, tempat yang strategis dan harga bersahabat membuat tempat tersebut banyak dikunjungi.
"Mbak Aini sering ya, makan di sini sama almarhum?" tanya Susi.
"Iya, karena Mas Ammar—"
"Almarhum!" tukas Rahman yang membenarkan ucapan Aini.
Aini terdiam sejenak ingin rasanya membalas ucapan Rahman tetapi dia tahan, dia pun kembali berbicara pada Susi. "Beliau suka banget yang namanya gulai ikan kakap! Apalagi cumi saus Padang, itu makanan favoritnya banget!"
"Wah, dari cerita Mbak Aini, pasti Mas Ammar beruntung banget ya, semua kesukaan almarhum pasti Mbak ini tahu," ucap Susi.
"Ya, kamu tahu! Kalau ba—"
"Aini, makan dulu! Nggak baik membicarakan orang yang sudah meninggal!" tegur Rahman, walaupun perkataan Rahman itu benar tapi sejujurnya dia lebih dominan tidak ingin mendengar bila wanita incarannya terus membicarakan lelaki lain di depannya.
Sejak itu mereka pun hanya makan dalam keheningan tidak ada satu kata yang terucap dari ketiganya, hanya suara gemuruh dari pengunjung lainnya yang tengah berbincang-bincang dengan senang.
Usai selesai makan siang, Rahman pun berinisiatif untuk membayar semua pesanan yang dimakan oleh Aini dan juga Susi karena terlihat jelas bila Aini menggandeng tangan karyawannya itu untuk keluar dari restoran terlebih dahulu.
Begitu Aini dan Susi berada di luar restoran tiba-tiba ponsel Aini berdering terlihat jelas oleh kedua mata ini ketika melihat isi pesan tersebut dan ternyata pemberitahuan bila si kembar tengah diculik. Aini pun panik dia langsung menelepon orang rumah dan tidak ada jawaban sama sekali, dia menelpon Ainun dan juga baby sister secara bergantian tetapi hasilnya juga nihil.
Susi mencoba untuk menenangkan perasaan Aini, tetapi itu sama sekali tidak berguna bagi perasaan seorang ibu ketika mengetahui anaknya tengah dalam bahaya, terlihat jelas kepanikan yang memuncak di relung hati ini. Wanita itu terus menghubungi seseorang yang ada di seberang telepon tetapi wanita bercadar itu yang menjadi bosnya saat ini tidak mendapatkan hasil kabar baik.
"Susi, kamu bisa kan nemuin clien kita sendiri, nanti kalau masalah aku udah selesai aku akan hubungi kamu!" Aini langsung berlari mencari taksi.
"Bos, tunggu! Bos!" panggil Susi.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Rahman ketika dia baru saja keluar dan melihat Aini sudah berlari.
"I–itu si kembar diculik!" ucap Susi yang terbatah.
"Apa!" Rahman langsung mengejar Aini, dia menghadang Aini agar masuk ke dalam taksi.
"Mas, kamu apa- apaan sih? Minggir!" Bentak Aini kepada Rahman yang menghalanginya masuk ke dalam taksi.
"Masuk ke dalam mobil aku!" Perintah Rahman lalu melihat ke arah sopir taksi. "Maaf Pak nggak jadi!"
Aini pun mau tidak mau masuk ke dalam mobil Rahman, air matanya tervus mengalir seiring dengan perasaan cemas dan was-was yang saling berpacu mengkhawatirkan kondisi anaknya.
"Coba Mas lihat pesannya!" Rahman mengulurkan tangannya meminta ponsel Aini.
Aini memberikannya tanpa ragu kepada Rahman, dia juga langsung menangis saat itu juga tanpa memperdulikan bagaimana pendapat Rahman tentang dirinya yang menangis bagaikan seorang anak kecil kehilangan seorang ibunya.
"Aini bersabarlah! Si kembar bakalan baik-baik saja, percayalah sama aku!" Rahman melirik sekilas ke arah ini seraya masih fokus menyetir saat tangannya juga memegang ponsel Aini.
"Bagaimana aku bisa sabar sedangkan anakku dalam bahaya! Dan aku nggak tahu di mana posisinya sekarang!" Aini terus menangis, meluapkan emosi amarah kepada pria yang ada di sampingnya.
"Berdoalah! Yakinlah bila si kembar baik-baik saja! Aku akan membantumu untuk menemukan si kembar dengan selamat! Aku pastikan itu untukmu!"ucap Rahman.
Aini pun hanya bisa terdiam dengan ucapan Rahman dia masih sibuk dengan pikirannya yang memikirkan siapa yang telah berani menculik anaknya.
Begitu sampai di depan rumah, Ainii pun langsung turu dari mobil Rahman, dia berlari masuk ke dalam rumah dan ternyata Ainun dan baby sister sudah terikat menjadi satu di ruangan tengah.
"Astaghfirullahaladzim ibu!" Aini langsung membuka ikatan itu yang dibantu oleh Rohman.
__ADS_1
"Aini! Si kembar, Aini ... si kembar!" Ainun langsung menangis dalam pelukan Aini.
"Si kembar di mana? Bagaimana bisa terjadi kayak gini? Yang lain mana? Satpam mana? Mang Ojak ke mana?" tanya Aini kepada baby sister dan sang ibu.
"Ibu tidak tahu mereka di mana, Ibu sedang membuatkan susu untuk si kembar tapi tiba-tiba mereka datang langsung membawa si kembar begitu saja setelah mengikat Ibu." Ainun mencoba menceritakan sejujurnya kepada Aini.
"Di mana ruangan cctv-nya?" tanya Rahman dan diberitahu oleh baby sister tersebut.
Mereka melihat bagaimana kelima penjahat itu dengan wajah yang ditutupi dengan topeng menghajar satpam dan yang lain hingga tidak tidak sadarkan diri. Mereka membawa si kembar masuk ke dalam mobil Jeep berlalu ke arah utara.
Bekal modal hanya dengan CCTV dan juga bantuan dari kepolisian Aini nekat bersama Rahman mengejar mobil penjahat itu, selama perjalanan berkali-kali Aini menghubungi nomor penjahat itu tetapi tidak terhubung sama sekali.
Rahman berpikir bila yang menculik si kembar adalah orang yang tidak menyukai Aini, karena bila penculik yang sebenarnya akan meminta tebusan kepada Aini sedangkan ini jelas-jelas hanya mengacam dengan susunan kata yang tidak suka. Siapa sebenarnya orang yang menculik anak Aini?
Selama seharian Aini terus mencari si kembar, kini pukul 00 : 00. Namun, nyatanya nihil si kembar sama sekali belum ditemukan oleh dirinya ataupun polisi. Dia sangat frustasi, tubuhnya lemas pikirannya bercabang, entah harus bagaimana lagi agar bisa bertemu dengan si kembar.
"Mas Ammar! Anak kita, Mas ... hilang! Mas bantu aku menemukannya, Mas! Aku nggak mau kehilangan si kembar, cukup kamu yang menjauh dari aku! Aku nggak mau sampai harus menjauh dan kehilangan si kembar!" Aini menangis saat melihat boneka Khansa dan ternyata berada tidak jauh dari rumahnya.
Rahman pun mengeraskan rahang dan mengepal tangannya, merasakan rasa emosi yang dicampur rasa sedih ketika melihat Aini menangis tetapi selalu menyebut nama laki-laki itu.
"Aini, sebaiknya kita pulang sekarang! Besok lagi kita mencarinya! Aku janji sama kamu akapn menemukan si kembar!" ucap Rahman yang ingin sekali memeluk wanita itu.
"Aku nggak mau pulang sebelum si kembar ketemu Mas! Mas Rahman pulang aja, biar aku sendiri yang mencari anak aku!" Ucap Aini dengan tegas dan lantang.
"Oke, kalau gitu aku pun ikut menemani kamu sampai berhasil menemukan si kembar!" balas Rahman kepada Aini.
Bersambung..
__ADS_1