Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 100


__ADS_3

Sedangkan disisi lain, Tristan yang baru sampai di rumah sakit pun ia berlari menuju ke ruang UGD dan bertepatan dengan dirinya sampai di depan pintu UGD, salah satu dokter yang menangani Heila keluar dengan raut wajah panik.


"Dokter Tristan," ucap Dokter perempuan itu tampak terkejut dengan kehadiran Tristan di depannya.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Tristan khawatir.


"Ini gawat dok. Pasien yang ada didalam tengah kritis sekarang. Kepalanya mengalami gagar otak ringan dan kita secepatnya harus mendapatkan golongan darah AB- sedangkan di rumah sakit ini golongan darah itu tidak ada stoknya," ujar dokter tersebut tampak bingung harus mencari golongan darah langka itu dimana.


Tristan yang mendengar penjelasan kondisi dari Heila pun ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kamu kembali kedalam. Tangani pasien itu dan pastikan dia tetap selamat. Untuk golongan darah itu biar saya yang carikan," ucap Tristan yang diangguki oleh dokter perempuan itu lalu setelahnya dokter tersebut segara kembali masuk kedalam ruang UGD.


Sedangkan Tristan, ia mulai menghubungi pihak rumah sakit yang berkerjasama dengan rumah sakit milik Adam itu. Namun sayang beberapa rumah sakit yang telah ia hubungi itu juga tidak memiliki stok darah yang sama dengan golongan darah Heila itu.


"Ya Tuhan. Kenapa semua rumah sakit tidak memiliki stok darah itu, sialan," umpatnya.


"Aku harus bagaimana ini? Harus minta bantuan ke siapa lagi?" tanyanya dengan terus memutar otaknya, berpikir dimana ia harus mencari golongan darah itu.


"Adam. Aku harus meminta bantuan ke dia karena aku yakin dia pasti memiliki banyak teman dokter yang tersebar di berbagai rumah sakit selain rumah sakit yang bekerjasama dengan rumah sakit ini," ujar Tristan dan kemudian tangannya kini bergerak untuk menghubungi Adam.


Dan baru juga satu kali sambungan telepon itu terhubung, Adam sudah mengangkat telepon darinya.


📞 : "Halo, Kenapa?" tanya Adam dari sebrang.


"Dam, aku butuh bantuanmu."


📞 : "Bantuan apa?"

__ADS_1


"Aku sekarang lagi butuh darah dengan golongan AB- stok di rumah sakit ini sudah habis dan aku tadi juga sudah mencari di rumah sakit lain yang bekerja sama dengan rumah sakit ini tapi mereka juga tidak memiliki stok darah itu. Jadi aku mohon, kamu bantu aku mencari golongan darah itu sekarang," ujar Tristan.


📞 : "Baiklah, aku akan bantu kamu mencarikan golongan darah itu. Tunggu sebentar. Dan kalau aku sudah mendapatkannya, aku akan mengubungimu nanti," ucap Adam.


"Oke, thanks ya Dam. Aku tunggu kabar baiknya," kata Tristan sebelum sambungan telepon itu terputus.


Dan saat Adam mulai mencari, Tristan pun juga masih berusaha untuk menghubungi semua kenalannya yang sekiranya memiliki anggota keluarga atau sahabat yang bergolongan darah sama dengan Heila.


Di tengah-tengah dirinya terus mencari dan mencari, dokter perempuan itu keluar kembali.


"Dokter sudah mendapatkan darah itu?" tanya dokter tersebut yang di jawab gelengan kepala oleh Tristan.


"Ya Tuhan. Kita harus bagaimana ini Dok, kondisi pasien semakin lemah," gusar dokter itu yang membuat Tristan kini memijit pangkal hidungnya.


"Kita berdoa semoga pasien masih bisa bertahan sampai kita mendapatkan golongan darah itu," ucap Tristan yang juga tidak bisa bertindak apapun dengan kondisi Heila itu. Dan satu-satunya penolong Heila adalah doa dari mereka semua.


Dan saat Tristan benar-benar sangat gusar, dering teleponnya berbunyi dan membuat dirinya langsung mengangkat telepon tersebut yang ternyata dari Adam.


"Gimana, apa kamu sudah mendapatkannya?" tanya Tristan to the point.


📞 : "Alhamdulillah aku mendapatkan golongan darah itu. Dan pihak rumah sakit sekarang lagi menuju ke sana. Tunggu sebentar mungkin sekitar 10 menit mereka akan sampai," ujar Adam. Tapi baru saja suara Adam itu terdengar, pihak rumah sakit pemilik golongan darah yang mereka butuhkan telah sampai dengan dua box yang berisi beberapa kantong darah itu.


Tristan yang melihat hal tersebut pun ia kini menghela nafas lega. Sedangkan dokter perempuan itu langsung menggiring dua orang yang membawa box itu masuk kedalam ruang UGD.


"Orang-orang itu sudah sampai, Dam. Terimakasih atas bantuanmu itu dan maaf sudah menggangu waktu istirahatmu," ucap Tristan.


📞 : "Tidak perlu sungkan. Kalau aku bisa membantu maka aku tidak akan segan-segan ringan tangan untuk membantumu. Toh itu juga untuk pasien di rumah sakit kita. Jadi aku juga bertanggungjawab atas pasien itu. Tapi tunggu sebentar, bukannya hari ini bukan jadwalmu jaga malam? Tapi kenapa kamu masih disana? Apa jangan-jangan pasien yang membutuhkan transfusi darah itu salah satu keluargamu lagi?" tanya Adam penasaran.

__ADS_1


"Keluargaku tidak ada yang memiliki darah langka seperti itu. Kalau pun anggota keluargaku, aku tidak akan bingung-bingung cari stok darah karena pasti salah satu dari keluargaku yang lain memiliki golongan darah yang sama dengan pasien itu."


Adam yang ada di sebrang sana ia mengangguk-anggukkan kepalanya walaupun Tristan tak akan melihat anggukannya itu.


"Jadi pasien itu bukan salah satu anggota keluargaku tapi seseorang kenalan bahkan orang terdekat dari mantan kamu," sambung Tristan yang membuat Adam yang berada di kamarnya mengerutkan keningnya.


📞 : "Orang terdekat mantanku yang berarti orang terdekat Kenza? Siapa?" tanya Adam.


"Heila. Kamu kenal kan perempuan itu?"


📞 : "Astaga Heila. Ya Tuhan kenapa dia?" tanya Adam terkejut.


"Dia dianiaya oleh mantan gilamu itu," tutur Tristan dengan mengepalkan tangannya. Entah kenapa saat dirinya melihat aksi yang di lakukan oleh Kenza kepada Heila tadi dan bayang-bayang Heila yang berlumuran darah, membuat dirinya sangat emosi dan ingin sekali membalas perbuatan Kenza itu.


📞 : "Sialan perempuan gila itu. Terus bagaimana keadaan Heila sekarang?" tanya Adam khawatir karena saat dirinya dulu masih dengan Kenza, ia sudah mengenal Heila yang waktu itu menjadi teman kampus Kenza sekaligus orang yang di perintahkan orangtua Kenza untuk mengawasi perempuan itu. Heila dulu juga sempat memberitahu dia tentang perselingkuhan yang dilakukan oleh Kenza namun Adam waktu itu tidak perduli dan malah menganggap Heila berniat untuk membuat dirinya dan Kenza ribut yang akan berakhir putus nantinya. Dan ia baru menyesali dirinya sudah berburuk sangka dengan Heila setelah semuanya terungkap di depan mata kepalanya sendiri.


"Dia mengalami gagar otak ringan. Dan akibat dari banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya, ia kehilangan banyak darah dan membuat kondisinya menurun dan kritis," jelas Tristan.


📞 : "Ya Tuhan. Terus bagaimana dengan perempuan gila itu? Kamu tidak melepaskannya begitu saja kan?"


"Tentu saja tidak. Aku sudah menyerahkan perempuan gila itu ke pihak berwajib. Aku mau dia di hukum seberat-beratnya karena ini bukan kali pertama dia membahayakan nyawa seseorang. Dulu kamu dan sekarang Heila. Tapi kita juga tidak tau orang lain di luar sana yang sudah dia sakiti berapa banyak," ujar Tristan.


📞 : "Keputusan yang tepat. Tapi bagaimana dengan kuasa hukum Heila? Kamu sudah mendapatkan kuasa hukum itu atau belum jika belum biar aku suruh Uncle Husein yang menangani kasus Heila ini."


"Tidak perlu. Aku sudah menunjuk kuasa hukumku untuk membantu Heila untuk menjerumuskan Kenza ke penjara."


📞 : "Ya sudah kalau begitu. Tetap kasih tau kabar tentang perkembangan Heila ke aku. Dan aku akan kesana besok untuk melihatnya secara langsung," kata Adam.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Sekali lagi terimakasih atas bantuannya," ucap Tristan dan setelah mendapat jawaban ya sama-sama dari Adam, ia langsung menutup sambungan teleponnya itu.


__ADS_2