
Kenza yang tak kunjung bisa membuka pintu kamar mandi itu, ia tak kehabisan akal hingga dengan langkah lebar ia berjalan mendekati kursi besi yang berada di balkon kamar Heila itu.
"Aku akan pastikan kamu mati di tanganku, Heila. Karena orang miskin tak tahu malu seperti kamu itu memang sepantasnya harus di singkirkan," gumam Kenza dengan kabut amarah yang semakin menyelimuti dirinya.
Dan dengan membawa kursi besi itu, ia berlari menuju ke pintu kamar mandi itu. Hingga...
Brakkk! Brakkk! Brakkk!
Kenza mencoba mendongkrak dan merusak pintu kamar mandi tersebut menggunakan kursi besi tadi. Ia terus melakukan hal tersebut berulang kali hingga akhirnya pintu itu rusak juga dan berhasil ia buka.
"Mati kau, Heila," gumam Kenza dengan senyum miringnya sebelum dirinya masuk kedalam kamar mandi tersebut tanpa menaruh kursi itu.
Sedangkan Heila yang melihat jika pintu kamar mandi sudah terbuka lebar, ia semakin panik di buatnya.
"Pintunya sudah dia buka. Tolong segera kesini," ucap Heila benar-benar meminta tolong dengan orang di sebrang telepon itu sebelum Kenza menemukannya dan tanpa hitungan menit, saat perempuan gila itu menemukan Heila, kursi yang ia bawa tadi ia lemparkan yang berhasil mendarat di tubuh Heila yang meringkuk di dalam bathub.
"Arkhhhh," erang Heila dan lagi-lagi karena lemparan itu, kepalanya semakin pusing di buatnya belum lagi tangannya terasa kebas setelah ia gunakan untuk melindungi kepalanya agar tak terluka parah.
"Kamu benar-benar meremehkan saya, Heila. Dan apa yang saya katakan sebelumnya akan terjadi sekarang juga. Saya tidak akan melepaskanmu sampai nyawa kamu hilang dari ragamu. Camkan itu," ucap Kenza dengan tangannya yang kini bergerak lalu menjambak rambut Heila agar perempuan itu menatap dirinya.
"Gila. Kamu adalah perempuan tergila yang pernah aku temui di dunia ini, Kenza. Tidak salah jika tuan Adam meninggalkan kamu karena kamu memang tidak pantas dengan laki-laki manapun. Kamu gila, kamu egois, kamu wanita murahan, kamu wanita yang hamil di luar nikah, kamu juga wanita jahat yang tidak mengakui anak kandungmu sendiri. Kamu benar-benar wanita jahat yang tak pantas di dunia ini," tutur Heila benar-benar meluapkan semua yang selama ini ia pendam di hatinya. Jika memang hari ini adalah hari terakhir dia didunia ini, ia akan sedikit lega karena telah mencemooh dan meluapkan semuanya kepada Kenza.
__ADS_1
"Dan satu lagi, saya tidak takut dengan kamu. Kamu mau bunuh saya, maka saya juga bisa membunuhmu," sambungnya yang membuat Kenza menggertakkan giginya dan semakin mengencangkan jambakannya itu.
"Tutup mulut busukmu itu, Heila. Dan mari kita buktikan siapa yang akan mati terlebih dahulu, saya atau kamu!" Tangan Kenza yang menjambak rambut Heila tadi bergerak untuk membenturkan kepala Heila ke tembok kamar mandi tersebut berkali-kali hingga membuat kepala Heila mengeluarkan darah segar yang begitu banyak.
Heila yang sedari tadi berusaha memberontak pun ia sudah tidak memiliki tenaga lagi dan berakhir dirinya pasrah akan hidupnya yang entah akan berakhir saat ini atau tidak.
Kenza yang sudah puas membenturkan kepala Heila di tembok pun ia menjambak lagi rambut tersebut dengan cukup keras sampai membuat tubuh Heila kini jatuh telentang di dalam bathub tersebut.
"Sepetinya menguliti kamu di dalam air seru juga," ujar Kenza yang membuat Heila melebarkan matanya. Sudah bisa di bayangkan bukan, betapa perih dan sakitnya jika sampai Kenza melakukan hal itu. Dan karena hal tersebut, dengan tenaga yang tersisa, Heila bangkit dari posisi jatuhnya tadi lalu ia memukul pipi Kenza menggunakan ponselnya yang membuat wanita itu terjatuh kesamping.
Dan saat Heila berniat berlari menjauh dari Kenza, tangan Kenza terulur memegang kaki Heila sampai membuat Heila terjatuh.
"Shitt," umpat Heila dengan menolehkan kepalanya kearah Kenza yang kini tengah tersenyum miring kerahnya dengan tangan yang membawa pisau mengarah ke telapak kakinya.
"Tidak. Aku tidak boleh menyerah. Aku harus melawan dia. Ayo Heila, kamu pasti bisa," batin Heila disela-sela jeritannya itu.
Sedangkan seseorang yang tengah menuju ke lokasi Heila, ia memejamkan matanya kala mendengar jeritan itu dari dalam earphone.
📞 : "Heila, bertahan. Lawan dia!" ucap orang tersebut untuk menyemangati Heila. Ia pun juga sebal karena jalanan yang sangat ramai yang membuat dirinya tidak bisa melajukan mobilnya dengan cepat.
Heila yang mendengar remang-remang suara orang dari teleponnya itu pun rasanya tenaganya kembali lagi. Dan setelah menguatkan dirinya sendiri dan mendapatkan dukungan dari seseorang dari balik telepon tersebut, ia mengayunkan satu kakinya yang tak di lukai oleh Kenza untuk menendang wajah wanita gila tersebut. Hingga genggaman tangan Kenza menjauh dari kaki Heila.
__ADS_1
Heila yang sudah tak memperdulikan darah yang terus menetes di telapak kakinya, kepala hingga hidungnya itu ia berlari keluar dari kamar mandi tersebut. Dan tujuannya saat ini adalah ke dapur untuk mengambil pisau yang sekiranya bisa ia gunakan untuk melawan Kenza tadi.
Sedangkan Kenza yang mendapat tendangan yang cukup keras itu, membuat dirinya mengumpat sebelum dirinya berdiri dan menyusul perginya Heila tadi.
"Jangan mendekat!" ucap Heila kala Kenza sudah berada di hadapannya.
Tapi bukannya Kenza takut, ia justru terkekeh mendengar ucapan dari Heila tadi.
"Pisau yang kamu bawa itu tidak akan bisa melukai tubuh saya, Heila. Jadi daripada kamu mengulur waktumu untuk mati, lebih baik kamu menyerahkan diri kamu sekarang juga ke saya." Heila menggelengkan kepalanya.
"Dalam mimpi kamu, wanita sialan," balas Heila.
"Baiklah kalau begitu, saya yang kesana." Dengan langkah yang mantap, Kenza mendekati Heila.
Heila yang melihat hal itu pun ia berjalan mundur dengan tangan yang terus ia goyangkan, berusaha untuk melukai Kenza. Namun sayang ayunan tangannya itu tak ada yang mengenai kulit Kenza karena Kenza terus menghindari ayunan tangannya itu.
Heila berdecak kala tubuhnya membentur tembok dapur tersebut sedangkan Kenza terus mendekat kearahnya.
"Sudah saya katakan, jangan mendekat! Menjauh lah wanita gila!" teriak Heila masih berusaha untuk melawan Kenza.
"Iya, saya akan menjauh setelah saya memastikan jika nyawa kamu sudah tidak ada di raga kamu," ucap Kenza dengan menepis tangan Heila yang membawa pisau tadi hingga pisau tersebut terlepas dari tangan Heila dan jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Sudah saya katakan bukan jika pisau itu tidak akan pernah melukai tubuh saya. Dan bersiaplah karena pisau ini yang akan mencabut nyawamu," ujar Kenza yang sudah mengikis jarak antara dirinya dengan Heila.
"Say goodbye to the world, Heila," ucap Kenza saat pisau yang ada di tangannya berancang-ancang untuk menusuk dada Heila.