
"Kak," panggil Yola sembari menundukkan kepalanya menatap wajah Adam yang tengah terbaring di atas pahanya itu.
"Hmmm?" balas Adam dengan mata yang terus fokus kearah acara televisi di sampingnya itu.
"Ini udah jam 2 lho. Kakak gak mau kembali ke rumah sakit gitu?" tanya Yola. Ya, setelah menyelesaikan kesalahpahaman tadi Yola dan Adam lanjut makan siang di dalam apartemen baru milik perempuan itu dengan order makanan. Walaupun sebenarnya Adam kemarin berpesan kepada pemilik apartemen sebelumnya untuk membelanjakan bahan-bahan makanan tapi Adam tidak mengizinkan Yola untuk masak dengan alasan perempuan itu masih sakit. Padahal Yola sudah baik-baik sekarang sejak Adam membuatkannya teh manis hangat tadi. Tapi berhubung Adam itu orang yang keras kepala, mau Yola bilang dia baik-baik saja. Kalau dari awal Adam tidak mengizinkan maka mau Yola membujuk laki-laki itu dengan seribu cara pun tak akan pernah mempan.
Maka dari itu Yola memilih untuk mengalah saja. Dan setelah makan siang tadi, Adam justru tidak mau pergi dari apartemen itu hingga saat ini.
"Tidak," ucap Adam.
"Kenapa?"
"Karena disini juga ada seorang pasien yang harus aku jaga," ujar Adam yang membuat Yola menghela nafas panjang.
"Tapi aku kan sudah sembuh Kak. Jadi gak perlu di jaga pun juga tidak apa-apa. Dan kalau Kakak mau disini terus, gimana dengan pasien Kakak yang ada di rumah sakit? Mereka kan juga butuh jasa kakak," ujar Yola yang membuat Adam kini menatap wajahnya. Sebelum tangan laki-laki itu menodong tepat di hadapan wajah Yola.
"Pinjam ponsel kamu," ucap Adam yang membuat Yola mengerutkan keningnya namun tak urung tangannya kini bergerak untuk mengambil ponselnya dan menaruh ponsel itu di tangan Adam.
"Mau buat apa sih Kak?" tanya Yola penasaran dengan mengintip apa yang ingin Adam lakukan ke ponselnya itu.
__ADS_1
"Sandinya apa?" tanya Adam kala tak bisa mengakses ponsel milik Yola itu.
Yola yang di tanya pun ia kini menggigit bibir bawahnya. Ia malu mengatakan sandi di ponselnya itu.
"Kok diam. Sandinya apa Yola?" ulang Adam.
"Hmmmm sandinya. Anu tanggal ulang tahun Kakak," cicit Yola dengan suara lirih yang masih di dengar oleh Adam.
Adam yang sudah mendapat jawaban itu pun ia segara memasukkan angka yang merupakan tanggal ulang tahunnya itu dan benar saja setelah ia memasukkan angka-angka itu, ponsel yang tadinya terkunci itu pun terbuka yang membuat Adam kini menatap Yola yang tengah menatap kearah lain.
Adam tersenyum kala melihat ada raut wajah ketakutan di diri Yola. Hingga tangannya kini bergerak untuk mencubit gemas pipi Yola itu.
"Kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan marah tapi aku malah senang jika kamu menggunakan tanggal ulang tahunku sebagai sandi ponsel kamu yang artinya kamu akan terus meningkat aku dimanapun kamu berada," ujar Adam yang membuat Yola kini menatapnya kembali.
"Untuk apa aku marah? Tapi aku hanya mau jangan ganti sandi ponselmu itu. Dan terus pakai tanggal lahirku oke," ucap Adam yang diangguki oleh Yola tak ketinggalan senyum manis yang tercetak di bibirnya Yola yang membuat Adam juga tersenyum kearahnya sebelum tatapan matanya kini kembali kearah layar ponsel tersebut.
"Ini ada pulsanya kan?" tanya Adam.
"Ada. Memangnya untuk apa?" tanya Yola yang pertanyaannya tadi tak dijawab oleh Adam.
__ADS_1
"Aku minta pulsa kamu. Nanti akan aku ganti. Aku mau telepon Tristan," ujar Adam yang dibalas oh saja oleh Yola.
Tangan Adam kini memasukan nomor ponsel Tristan dan saat dirinya sudah memencet ikon telepon, di layar itu justru sudah tertera nama Dokter Tristan yang membuat Adam menatap kearah Yola.
Dan hal itu membuat Yola mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" tanyanya.
"Kamu simpan nomor Tristan?" tanya Adam yang diangguki oleh Yola dan hal tersebut justru membuat Adam berdecak sebal sebelum dirinya mendekatkan ponsel tadi ke telinganya kala terlihat Tristan sudah mengangkat teleponnya itu.
📞 : "Halo Yola. Ada apa?" Terdengar suara Tristan dari sebrang telepon yang membuat Adam tiba-tiba tak suka dengan suara temannya itu.
"Aku bukan Yola tapi Adam. Aku minta tolong sama kamu untuk menangani pasienku. Karena aku sekarang tidak bisa kembali ke rumah sakit. Sudah hanya itu saja yang akan aku sampaikan. Bye," ucap Adam to the point. Dan setelah mengatakan hal tersebut tanpa basa-basi lagi, ia langsung menutup sambungan telepon tersebut.
Dan hal itu membuat Tristan yang kini baru keluar dari salah satu ruang inap pasiennya pun menghela nafas kasar.
"Ini orang emang suka banget main matiin telepon orang gitu aja. Tapi tunggu, kenapa dia telepon aku dengan nomor Yola. Apa dia sekarang tengah bersama Yola? Dan kemana ponsel dia? Apa ponselnya tengah hilang? Jika memang begitu pantas saja aku coba menghubungi dia berkali-kali tak di angkat. Kalau dia sama Yola sekarang, apa aku harus menghubungi dia, memberitahu dia kalau Kenza disini? Ahhhh tidak-tidak jika Adam tau kalau Kenza ada disini yang ada dia langsung kesini nanti dan mereka akan saling bertemu. Tidak, aku tidak mau hal itu terjadi. Dan biarkan saja Adam tetap di tempatnya saat ini. Dan biarkan perempuan itu jenuh menunggu dan berakhir akan pergi sendiri dari sini," gumam Tristan.
"Huh, sepetinya Dewi keberuntungan tengah berpihak kepadaku. Saat aku tidak bisa mencegah Adam agar tidak datang ke rumah sakit, dia justru memutuskan sendiri kalau tidak akan ke sini. Huftttt terimakasih ya Allah. Setidaknya untuk hari ini mereka tidak akan bertemu. Dan jika suatu hari nanti mereka memang harus bertemu aku berharap, perasaan Adam untuk Kenza sudah hilang. Dan berakhir dia tidak perlu mengulang kisah cintanya itu," ucap Tristan yang sekarang bisa menghela nafas lega. Terus terang saja, ia tak akan sanggup jika melihat Adam kembali lagi dengan Kenza. Ia takut jika sahabat dari SMA-nya itu akan mengalami hal yang sama di masa lalunya yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasakan seberapa besar sakit yang dirasakan Adam saat itu. Maka dari itu siapapun orangnya yang sudah melihat keterpurukan Adam di masa lalu, mereka tidak akan pernah merelakan Adam untuk kembali ke perempuan masa lalunya itu yang tak lain adalah Kenza.
__ADS_1
Dan salah satu orang yang melihat keterpurukan Adam itu adalah Tristan. Maka tidak perlu heran jika Tristan sangat menentang Adam bersama kembali dengan Kenza ataupun hanya sekedar bertemu pun Tristan sangat-sangat tak rela melihatnya.
Tapi walaupun begitu Tristan sangat sadar betul jika keputusan untuk terbesar berada di tangan sahabatnya itu. Walaupun dia dan orang lain mencegah Adam untuk tidak kembali ke Kenza, jika Adam sendiri kekeuh untuk kembali maka Tristan dan yang lainnnya tak bisa berbuat apapun. Hanya bisa berharap yang terbaik saja untuk Adam kedepannya.