Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 56


__ADS_3

Tristan terus berusaha untuk menghubungi Adam namun sayangnya sedari tadi teleponnya itu tak diangkat-angkat juga oleh sahabatnya itu.


"Arkhhhh. Sial! Kemana sih nih anak? Di hubungi saja sampai sulit seperti ini," geram Tristan. Ia masih berusaha untuk menghubungi Adam dengan sesekali mengintip kearah Kenza.


Sedangkan disisi lain tepatnya di salah satu universitas di ibukota yang merupakan kampus tempat Yola belajar, Adam sedari tadi sudah menunggu didepan gerbang kampus itu sedari jam 10 tadi. Padahal Yola tadi sudah bilang jika ia akan menghubungi Adam saat dirinya sudah selesai kuliah tapi berhubung Adam tak sabaran, sebelum Yola mengubunginya terlebih dahulu, ia berinisiatif untuk datang lebih awal dan berakhir lah dirinya kini sudah menunggu disana selama hampir dua jam.


Dan karena dirinya sangat excited untuk menjemput Yola, ia sampai lupa membawa ponselnya yang kebetulan ia taruh di ruang kerjanya dalam keadaan ia diamkan. Dan inilah alasannya kenapa puluhan telepon dari Tristan tak Adam angkat.


"Apakah kelas dia masih lama?" gumam Adam yang sepertinya sudah bosan menunggu kedatangan Yola itu.


"Tapi dia tadi bilang kalau dia selesai kelas di jam 11:45 yang berarti sudah 5 menit yang lalu dia harusnya keluar. Tapi kenapa dari tadi aku tidak melihatnya. Apa jangan-jangan dia menungguku didalam lagi? Sepetinya aku harus masuk kedalam untuk menjemputnya karena kasihan juga dia kalau harus menungguku dan aku yakin dia sekarang tengah meneleponku berkali-kali. Haishhhh lagian ponsel kok bisa ketinggalan sih Adam, ribet begini kan jadinya kalau tidak bawa ponsel," gerutu Adam sebelum dirinya keluar dari mobil miliknya.


Dan keluarnya dia dari dalam mobil itu langsung membuat beberapa mahasiswi yang kebetulan berada di luar area kampus memekik tertahan, mengagumi ketampanan yang Adam miliki.


Adam yang menjadi pusat perhatian orang-orang itu sebenarnya ia sangat risih sekali dan ingin sekali ia kembali masuk kedalam mobilnya. Tapi kala ia mengingat Yola, ia urungkan niatnya tadi dan ia memilih untuk mencoba mengabaikan orang-orang yang tengah menatapnya sembari mengagumi ketampanannya itu. Adam kini melangkahkan kakinya masuk kedalam kampus tersebut dan lagi-lagi ia menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di dalam area kampus tersebut. Bahkan tak sedikit mahasiswi yang tadi berada diluar kini kembali masuk hanya untuk memandangi wajah Adam.


Dan dari puluhan pasang mata memandang, dua pasang diantara puluhan itu adalah mata milik kedua sahabat Yola yaitu Amel dan Keni.


"Astaga astaga astaga. Apa aku tidak salah lihat saat ini? Itu, itu dokter yang diincar Yola kan?" ucap Keni sembari memukul punggung Amel berulang kali hingga membuat Amel meringis kesakitan.


"Hey hey hey. Stop! Aku tau kamu sekarang tengah tidak percaya dengan apa yang kamu lihat didepan itu tapi mbok ya jangan menyiksa aku juga kali. Emang kamu pikir tubuhku ini tidak merasakan sakit saat kamu pukul tadi hah?" omel Amel yang membuat Keni kini meringis, menampilkan deretan gigi rapinya itu.

__ADS_1


"Maaf maaf. Aku refleks tadi. Lagian aku benar-benar tidak percaya jika melihat Dokter itu sekarang berada di hadapan kita. Tapi apa yang sedang dia lakukan disini?" tanya Keni penasaran.


"Kamu sih tadi telat masuknya jadi kamu tidak tau cerita dari Yola kan tentang perkembangan dia mendekati dokter itu. Nah kata Yola tadi, dia pulangnya hari ini akan dijemput sama dokter tampan itu. Jadinya ya dia kesini untuk menjemput Yola lah memangnya mau apa lagi?" ucap Amel.


"Wahhhhh begitu ya. Berarti itu tandanya usaha Yola akan membuahkan hasil dong." Amel mengangguk kepalanya dengan tersenyum. Ia akan turut bahagia jika memang usaha Yola itu tidak sia-sia seperti sebelum-sebelumnya.


"Waahhh Daebak. Kalau seperti ini aku jadi tidak sabar melihat mereka benar-benar pacaran. Pasti mereka berdua akan terlihat sangat serasi dan yang pastinya akan sangat romantis," ucap Keni membayangkan wajah bahagia Yola saat menyandang status sebagai kekasih dokter incarannya itu.


Sedangkan Adam, laki-laki itu mengedarkan pandangannya namun orang yang ia cari tak kunjung ia temukan.


"Kemana sih dia? Kenapa gak kelihatan batang hidungnya?" batin Adam.


Ia terus berjalan dengan mata yang aktif melihat ke sekelilingnya hingga tak sengaja ia melihat seseorang yang sepertinya pernah ia lihat dulu.


Adam yang tak ingin membuang waktu dan tak ingin menahan rasa rindunya lebih lama lagi pun ia segera menghampiri kedua sahabat Yola tersebut.


Dan langkah Adam yang mendekati Amel serta Keni itu membuat kedua gadis tersebut jadi gugup sendiri.


"Astaga dia kesini Mel," bisik Keni dengan menyenggol lengan Amel.


"Sttttt jangan berisik. Walaupun sebenarnya kita juga tidak bisa menolak pesona dari dokter tampan itu tapi kita harus ingat jika dokter itu sekarang milik Yola walaupun belum ada ikatan resminya. Ingat kata-kata Yola, jangan sampai kita jadi pelakor. Dan walaupun hati kita sekarang tengah cenat-cenut tapi kita harus tetap stay cool," balas Amel dengan bisikan juga dengan mata yang menatap kearah Adam yang semakin lama semakin dekat dengan mereka berdua.

__ADS_1


"Permisi, maaf apa benar kalian teman dari Yola?" ucap Adam dengan begitu sopan saat dirinya sudah sampai didepan Amel dan Keni.


"Iy---iya benar. Ki---kita teman Yola," ucap Amel dengan gagap.


"Kalau begitu apakah kalian tau Yola sekarang dimana?" tanya Adam yang diangguki oleh Amel maupun Keni.


"Bolehkah kalian katakan tempatnya?!" ucap Adam yang sepertinya harus bersabar saat bertanya dengan dua sahabat dari Yola itu.


"It---itu. Yo---Yola ada di--- Huftttt." Amel menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya itu yang selalu saja gagap jika berhadapan dengan laki-laki tampan seperti Adam ini.


"Ya? Ada di?" ucap Adam.


"Di ruang dosen Caka. Ya dia sekarang ada disana," ucap Amel yang akhirnya ia bisa berbicara normal kembali. Dan ucapan dari Amel tadi justru membuat Adam kini mengerutkan keningnya.


"Dosen Caka?" Beo Adam yang diangguki oleh Amel.


"Dosen itu laki-laki?" Lagi-lagi ucapan dari Adam itu di tanggapi dengan anggukan kepala oleh Amel kembali.


Adam yang melihat anggukkan kepala itu pun, keduanya tangannya kini terkepal erat hingga urat-urat ditangannya itu terlihat.


"Dimana lokasi ruangan dosen Caka itu?" tanya Adam dengan suara rendahnya, menandakan jika dirinya sekarang tengah marah.

__ADS_1


"Anu Kakak hmmmm dokter ikuti saja lobi ini terus nanti kalau udah sampai di ujung lobi, belok kiri lurus terus sampai mentok dan belok kanan nah di sana ada ruangan para dosen," ucap Amel yang diangguki oleh Adam.


"Thanks," ucap Adam sebelum dirinya melangkahkan kakinya menuju ke ruangan yang katanya ada Yola disana.


__ADS_2