
"Lepaskan sialan! Aku harus membunuh Papa. Aku harus membunuh dia!" teriak Kenza memberontak dari cekalan dua polisi tersebut dengan sekuat tenaga dan pemberontakannya itu berhasil membuat cekalan dari kedua polisi tadi terlepas.
Setelah cekalan itu terlepas, Kenza langsung berlari mencari pintu keluar kantor polisi itu untuk mengejar perginya sang Papa.
Pihak kepolisian yang berada di sana pun tak tinggal diam, mereka turut berlari mengejar Kenza.
"Kepung dia. Jangan biarkan dia mendekati laki-laki itu," ucap ketua kepolisian yang ikut mengejar Kenza kepada rekan kerjanya itu. Dan perintahnya itu diangguki oleh beberapa polisi disana sebelum mereka berpencar untuk mengepung Kenza.
Sedangkan Kenza yang sudah berada di ambang pintu keluar kantor polisi itu. Matanya tak sengaja melihat sebuah pistol yang tergeletak di dalam sebuah lemari kaca. Kenza tak menunggu waktu lama lagi, ia langsung membelokkan kakinya menuju ke lemari tadi dan dengan ia memukul lemari kaca itu menggunakan kursi disana yang berakhir lemari kaca itu pecah.
Kenza mengambil pistol tersebut dan saat dirinya ingin kembali mengejar perginya sang Papa, seluruh polisi di kantor itu sekarang sudah mengepungnya dengan pistol di tangan mereka masing-masing.
"Anda kalah jumlah Nona. Jika anda bisa melukai salah satu dari kita maka peluru yang berada di pistol yang kita bawa dengan serempak akan menembus kulit anda dan saya pastikan saat itu juga nyawa anda akan melayang. Jadi lebih baik menyerahlah sebelum kita semua bertindak," ujar ketua kepolisian itu yang justru membuat senyum miring di bibir Kenza terlihat. Bahkan tangannya yang tadi masih berada disamping tubuhnya kini bergerak membalas todongan pistol dari polisi di hadapannya itu.
"Lakukan saja jika kalian bisa," ujar Kenza dengan menarik pelatuk pistol yang berada ditangannya dan seperkian detik setelahnya suara tembakan terdengar. Dimana peluru itu berhasil menembus lengan salah satu polisi disana yang membuat polisi itu meringis kesakitan sebelum dia mundur dari pengepungan tadi dan memilih untuk langsung menuju ke klinik di kantor polisi tersebut yang tentunya sudah mendapatkan izin dari atasannya.
Namun sesaat setelahnya terdengar suara tembakan kembali. Bukan, bukan dari Kenza namun dari ketua kepolisian disana yang berhasil mengenai telapak tangan Kenza yang membuat tangan perempuan itu melepaskan pistolnya dengan erangan kesakitan.
"Arkhhhh!" Kenza memegang tangannya yang terasa hancur itu.
__ADS_1
Sedangkan ketua kepolisian disana langsung mengkode kepada rekan kerjanya untuk segara mengamankan Kenza dengan terpaksa memborgol tanya Kenza yang masih sakit itu.
"Arkhhhh sakit sialan!" teriak Kenza saat lukanya tersenggol oleh borgol di tangannya itu.
"Masukkan dia ke ruangan khusus. Setelah sampai disana borgol kakinya juga," perintah ketua kepolisian tersebut yang diangguki oleh dua polisi lainnya sebelum keduanya kini menggiring Kenza ke sel tahanan khusus.
"Aku tidak mau masuk kesana sialan! Masukkan aku ke sel tahanan yang tadi saja!" teriakan-teriakan dari Kenza terus terdengar memenuhi kantor polisi tersebut yang membuat beberapa polisi disana hanya bisa menghela nafas panjang.
Dan atensi mereka semua kembali tertuju ke kepala kepolisian saat laki-laki tersebut bersuara.
"Saya minta tolong ke salah satu dari kalian untuk memanggil dokter kesini untuk mengobati perempuan itu tadi," perintahnya.
Dan setelah kepergian salah satu polisi disana, ketua kepolisian itu menatap kondisi yang sangat-sangat memprihatikan di kantor polisi itu. Pecahan kaca dimana-mana, kuris sudah tidak berada di tempatnya semua dan kertas laporan juga berhamburan. Benar-benar sangat kacau didalam kantor polisi tersebut. Yang membuat dirinya hanya bisa menggelengkan kepalanya, tak menyangka dengan apa yang baru ia alami tadi.
Dan baru kali ini ia menemukan narapidana sebrutal dan seberani Kenza itu. Dimana tindakannya itu sudah sangat-sangat jelas jika Kenza pantas mendapatkan hukuman seumur hidup.
Sedangkan disisi lain, tepatnya di rumah sakit, Adam dan Tristan yang berjalan bersama untuk keluar dari rumah sakit karena kebetulan Adam ingin pulang dan Tristan yang ingin membeli makanan untuk dirinya sendiri pun langkah mereka terhenti kala ada sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti di depan mereka berdua.
"Apakah tidak ada tempat lain untuk mobil ini berhenti? Kalaupun mobil ini membawa pasien darurat, mobil ini bisa berhenti agak belakang lagi kan juga bisa. Haishhhh," geram Tristan. Maklum saja orang yang lagi lapar apapun yang dia lihat dan tidak mengenakan di penglihatannya pasti tidak luput mendapat omelan dari Tristan.
__ADS_1
Dan ucapan dari Tristan itu membuat Adam menggelengkan kepalanya. Adam sudah tidak heran dengan kelakuan sahabatnya yang satu ini. Tapi sesaat setelahnya saat pintu mobil di sebelah penumpang terbuka, tubuh dua laki-laki tampan itu langsung membeku di tempatnya. Apa lagi saat mereka melihat orang dengan wajah yang bersimbah darah yang tengah berusaha di keluarkan dari dalam mobil itu dibantu oleh pihak kepolisian.
"Dokter, tolong selamatkan tuan ini," ucap salah satu polisi itu kepada Tristan karena dia lupa melepas jas dokternya.
Tristan yang tadi masih terbengong, memproses apa yang baru saja ia lihat pun ia kini tersadar lalu setelahnya ia berlari mengambil brankar hingga ia kembali lagi ke samping mobil tersebut bersama dengan beberapa suster yang membantunya.
Dan setibanya dia bersama dengan brankar itu, pihak kepolisian langsung meletakkan tubuh orang yang bersimbah darah itu diatas brankar. Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun Tristan serta beberapa suster langsung mendorong brankar yang berisi Om Harun itu ke UGD. Ya, orang yang wajahnya bersimbah darah itu adalah Om Harun, Papa Kenza.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Om Harun?" tanya Adam yang baru tersadar dari keterkejutannya itu. Dimana para pihak kepolisian sudah pergi dari hadapannya dan hanya ada sopir pribadi Om Harun saja disana.
Dan pertanyaannya itu membuat sopir pribadi Om Harun menghela nafas.
"Ceritanya panjang tuan. Yang pasti tuan besar bisa seperti ini dikarenakan ulah Putrinya sendiri," ujar sopir tersebut yang melihat secara langsung kejadian tadi walaupun dari kejauhan.
"Maksud kamu yang terjadi dengan Om Harun itu karena ulah Kenza?" Sopir tersebut menganggukkan kepalanya yang semakin membuat Adam terkejut dan tidak habis pikir jika Kenza melakukan hal kejam itu kepada ayah kandungnya sendiri.
"Gila, Kenza benar-benar gila," ucap Adam sebelum dirinya melangkahkan kakinya menuju ke ruang UGD di ikuti oleh sopir pribadi Om Harun tadi.
Adam yang tadi berniat untuk pulang ke rumah pun niatannya itu ia urungkan. Ia harus memastikan terlebih dahulu keadaan Om Harun. Karena sebenci-bencinya dia dengan Kenza, dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia tak pernah membenci ayah dari mantan kekasihnya itu yang sebenarnya sangat menyebalkan sama seperti Kenza tapi masih memiliki sisi lembut di dirinya.
__ADS_1