
"Yola, hey kenapa?" tanya Tristan sembari menepuk bahu Yola yang membuat gadis itu langsung menolehkan kepalanya kearah Tristan.
"Yola bingung dok," ucap Yola sembari mendudukkan tubuhnya kembali ke tempat semula disusul oleh Tristan yang duduk di hadapannya.
"Bingung kenapa?" tanyanya.
"Tadi Yola sudah ketemu sama dokter Adam." Tristan mengangguk kepalanya.
"Terus? Kalau sudah ketemu sama Adam kenapa lunch bag ini masih disini?" tanya Tristan sembari melirik kearah lunch bag tersebut.
"Lha itu yang jadi masalahnya dok. Tadi saya tuh ketemu dokter Adam nah saat saya kasih lunch bag ini, dokter Adam malah bilang kalau dia gak mau nerima lunch bag ini karena dia menganggap jika makanan ini bukan untuk dia melainkan untuk orang lain. Padahal ini memang untuk dia tapi kenapa dia malah bilang seperti itu," ujar Yola lesu.
"Apa dia menolak makanan ini dengan cara lembut ya dok," sambung Yola.
Tristan mengerutkan keningnya.
"Dia bilang seperti itu?" Yola menganggukkan kepalanya.
"Sebentar, apa dia tau jika kamu kesini dengan saya?" tanya Tristan yang di jawab dengan gedikkan bahu oleh Yola.
"Saya tidak tau pastinya dia disini sejak kapan Dokter Tristan. Karena dia tiba-tiba sudah berdiri gitu saja di sini tadi," ucap Yola dengan menunjuk kearah tempat dimana Adam berdiri tadi.
"Terus yang ngomong duluan kamu atau dia?" tanya Tristan penasaran.
__ADS_1
"Dokter Adam, kan Yola tau keberadaan dia gara-gara dia berdiri dan tiba-tiba langsung bersuara gitu," ujar Yola.
"Kata pertama yang dia ucapkan saat dia nyamperin kamu tadi apa?" Yola tampak berpikir sesaat, untuk mengingat-ingat perkataan Adam tadi.
"Ahhhh saya tau, dia tadi bilang gini, setelah saya dan Tristan, siapa lagi yang akan kamu goda? begitu Dok kira-kira," ujar Yola yang justru membuat Tristan kini tersenyum. Ia sepertinya tau kenapa Adam tadi bisa berbicara jika makanan yang Yola bawa itu bukan miliknya. Mungkin laki-laki itu menganggap jika makanan yang dibawa Yola tadi untuk Tristan.
"Ehhhh sebentar, kalau dokter Adam bicara seperti itu berarti dia tau kalau saya sedang bersama dokter Tristan dong." Tristan menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu apakah dokter Adam salah paham tentang makanan ini. Mungkin dia kira kalau makanan ini untuk dokter Tristan bukan untuk dokter Adam?" Lagi-lagi Tristan menganggukkan kepalanya sembari tangannya memasukkan makan siangnya.
"Mungkin memang begitu," timpal Tristan.
"Kalau memang begitu, saya harus gimana dong dok?" tanya Yola bingung sendiri.
"Begitu ya dok?" Tristan menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah deh kalau begitu saya ke Dokter Adam dulu. Mau ngasih ini sama jelasin," ujar Yola sembari berdiri dari duduknya.
"Ehhhh tunggu, makanan kamu gimana ini?" ucap Tristan membuat Yola mengurungkan niatnya yang akan melangkahkan kakinya tadi.
"Hmmmm gimana ya. Ck, saya bawa aja deh Dok. Saya nanti bisa makan dimana saja. Karena yang terpenting sekarang lunch bag ini harus segara sampai di tangan dokter Adam. Btw makasih ya dok tadi sudah mau ngambilin Yola makanan. Bye dok sampai ketemu nanti atau malah besok," ujar Yola sebelum dirinya mulai melangkahkan kakinya dengan membawa satu piring makanan yang di ambilkan oleh Tristan tadi dan satu tangannya membawa lunch bag untuk Adam.
Sedangkan Tristan, laki-laki itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Namun ia juga senang saat dirinya tadi mendengar ucapan Adam yang menandakan jika laki-laki itu mungkin sedang cemburu karena kedekatan dirinya dengan Yola. Karena jujur saja selama Tristan berteman dengan Adam dan sering sekali laki-laki itu mendapat perhatian dari perempuan lain sama dengan yang dilakukan oleh Yola, laki-laki itu masih saja tak peduli bahkan tak menegur mereka saat Tristan mengajak perempuan itu jalan bersama tak seperti yang laki-laki itu lakukan kepada Yola tadi. Dan itu bisa Tristan anggap jika Adam sudah mulai tertarik kepada Yola. Jika memang benar, Tristan akan mendukung mereka berdua. Dan mungkin jika Adam tak kunjung sadar akan perasaan itu, Tristan akan membuat laki-laki itu cemburu lagi seperti saat ini agar Adam bisa sadar akan perasaannya sendiri atau sadar akan perjuangan Yola mendapatkan hati laki-laki tersebut.
__ADS_1
Sedangkan disisi lain, Adam masih saja menggerutu tak jelas hingga ia telah kembali masuk kedalam ruang kerjanya itu.
Ia bahkan sempat berpikir jika Yola akan mengejarnya tadi. Tapi sayang, saat dirinya tadi sengaja berhenti di belokan dan menolehkan kepalanya kearah Yola, yang ia lihat bukan tubuh Yola yang berjalan mendekatinya melainkan ia melihat Yola tengah berbincang-bincang dengan Tristan tanpa menolehkan kepalanya kearahnya lagi. Dan hal itu benar-benar membuat dirinya sebal setengah mati.
Nana yang melihat Adam tengah mencak-mencak dengan sesekali mengacak-acak rambutnya sendiri, perempuan itu bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa dengan laki-laki itu yang tampak frustasi? Apakah ada masalah di rumah sakit ini hingga membuat kerugian besar? Atau dia sedang ada masalah keluarga? Atau bahkan dia sedang ada masalah dengan pasiennya? Ahhhh entahlah, Nana sendiri juga tidak tau dan dia sendiri juga kepo tenang alasan yang membuat Adam seperti saat ini. Ingin sekali ia bertanya dan menenangkan laki-laki itu tapi ia takut Adam akan melampiaskan kemarahannya kepadanya nanti. Dan hal tersebut membuat dirinya memilih untuk tetap duduk di tempatnya dengan sesekali memperhatikan gerak-gerik dari Adam itu.
"Sialan. Kenapa perasaanku jadi seperti ini sih? Kenapa aku tidak tenang melihat dia dekat dengan Tristan? Harusnya aku senang karena dengan begitu dia tidak akan pernah menggangguku lagi? Tapi ini, kenapa bisa seperti ini? Kenapa aku bisa marah tadi? Arkhhhh astaga Adam, kamu ini kenapa?" gumam Adam dengan menjambak rambutnya sendiri.
Sebelum ketukan dan suara seseorang yang sangat familiar di telinganya masuk kedalam indra pendengarannya.
Tok tok tok!
"Permisi! Bolehkah saya masuk?" teriak orang yang ada di luar ruangan itu dan tak lain dan tak bukan orang itu adalah Yola.
Nana melirik kearah Adam yang sudah menghentikan apa yang ia lakukan tadi bahkan laki-laki itu kini merapikan kembali rambutnya yang berantakan tadi.
Adam yang sadar jika dirinya sekarang tengah diperhatikan oleh Nana pun ia kini menolehkan kepalanya kearah suster sekaligus asisten pribadinya itu.
"Apa?" tanya Adam dengan suara datarnya yang membuat Nana gelagapan sendiri dibuatnya.
"Ahhhh tidak dok. Hmmm itu anu, apa saya boleh membuka pintunya? Atau jika dokter terganggu saya juga bisa mengusir dia dari sini?" tanya Nana.
"Tidak perlu. Lanjutkan pekerjaanmu itu dan pintu itu biar saya sendiri yang membukanya," ujar Adam sembari berdiri dari duduknya lagi lalu setelahnya ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke pintu ruangan tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Nana, perempuan itu memilih untuk menuruti apa yang dikatakan oleh Adam tadi, sebelum dirinya nanti terkena omelan dari laki-laki yang ia sukai itu.