Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 23


__ADS_3

Dengan langkah riang, Yola kini memasuki area lobi rumah sakit dengan tangan yang membawa satu kantong plastik yang berisi makan siang yang nantinya akan ia berikan kepada dokter Adam.


Ia sesekali menyapa dokter ataupun suster yang sempat berpapasan dengannya dengan senyum lebar tentunya. Hingga tak terasa langkah kakinya telah sampai didepan ruang kerja Adam.


Yola berdehem sesaat dengan sesekali ia menghela nafas untuk menenangkan kegugupan yang tiba-tiba melanda dirinya.


"Ya ampun, aku gugup banget mau ketemu calon ayang. Duhhhh gak boleh gak boleh, aku gak boleh gugup. Ayo Yola tenang. Ambil nafas, hembuskan," gumam Yola mengintruksikan dirinya sendiri.


Untuk beberapa saat Yola terus melakukan hal tersebut hingga kegugupan yang ia rasakan sedikit berkurang. Dan hal tersebut membuat dirinya kini memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruang kerja Adam.


Tok tok tok!


"Permisi," ucap Yola setelah dirinya mengetuk pintu tersebut.


Dan tak berselang lama, pintu yang ia ketuk tadi terbuka, membuat Yola kini semakin melebarkan senyumnya. Namun senyuman itu hilang saat ia melihat jika yang membuka pintu ruangan itu bukan Adam melainkan Nana, suster menyebalkan yang merupakan saingan Yola untuk mendapatkan hati Adam.


Nana menatap permusuhan kepada perempuan yang berdiri hadapannya itu. Namun ia harus tetap menahan emosinya karena didalam ruangan itu bukan hanya ada dirinya sendiri melainkan ada Adam juga.


"Siapa Sus?" suara bariton dari dalam membuat kedua perempuan yang saling melemparkan tatapan permusuhan tadi tersadar. Kemudian mereka dengan setempak menolehkan kepalanya kearah Adam yang tengah duduk di singgasana namun matanya menatap kearah mereka berdua.


"Ada mantan pasien, Dok," jawab Nana ketus.


Adam mengernyitkan keningnya. Mantan pasien yang mana lagi yang harus ia hadapi hari ini?


"Siapa?"


"Saya Dok. Si Yola, gadis cantik luar, dalam," ujar Yola sembari menyembulkan kepalanya kedalam yang membuat badan Nana otomatis tergeser kesamping.

__ADS_1


Yola yang melihat ada celah untuknya masuk pun ia segera melangkahkan kakinya begitu saja tanpa disuruh terlebih dahulu.


Adam yang melihat kehadiran Yola pun ia menghela nafas. Ia baru saja menghirup udara segar karena baru saja terbebas dari berita yang tak mengenakan itu. Kenapa sekarang dirinya harus menghadapi sosok perempuan yang sudah berani-beraninya masuk kedalam rumah kedua orangtuanya? Ahhhh mengingat hal itu, sepertinya Adam harus membicarakan dan memberikan peringatan kepada perempuan itu berhubungan perempuan itu datang sendiri kepadanya yang artinya ia tak perlu repot-repot untuk mencarinya.


Sedangkan Nana yang melihat Yola menerobos masuk itu pun dengan cepat ia mencekal lengan rivalnya itu.


"Mau apa kamu? Jangan asal masuk kedalam ruangan seseorang jika pemilik ruangan itu belum mengizinkan kamu untuk masuk. Jadilah seseorang yang memiliki sopan santun," ujar Nana.


Yola yang merasa tak terima dengan ucapan Nana yang membawa perkara kesopan santunan, ia ingin membalas ucapan perempuan itu namun baru saja bibirnya terbuka, suara Adam menghentikan niatannya tadi.


"Saya sudah memberikan izin kepada dia, Sus," ucap Adam yang membuat Yola mengeluarkan senyum miringnya.


"Kamu dengar sendiri kan kalau si pemilik ruangan ini sudah memberikan izin kepadaku. Jadi lepaskan tanganmu ini dariku," ujar Yola dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Nana dan dirinya saja.


Diam-diam Nana mengepalkan tangannya, namun tak urung satu tangannya yang ia gunakan untuk mencekal lengan Yola tadi, ia jauhkan dari lengan tersebut.


"Selamat siang dokter Adam," sapa Yola saat dirinya sudah berada di hadapan Adam. Jangan lupakan senyuman manisnya.


Adam membalas sapaan itu hanya dengan anggukan saja. Lalu pandangan yang sedari tadi enggan untuk menatap Yola, ia alihkan untuk menatap kearah Nana yang ingin kembali ke mejanya.


"Sus," panggil Adam yang membuat Nana mengentikan langkahnya.


"Iya dok?" tanya Nana dengan tersenyum.


"Saya perlu waktu untuk bicara dengan nona ini. Jadi suster bisa keluar sebentar?" ucap Adam.


"Tapi--- ehhhh baiklah. Saya akan keluar, permisi Dok," ujar Nana yang tadi berniat untuk menolak perintah Adam karena ia tak rela jika membiarkan Adam berduaan dengan rivalnya itu. Namun setelah melihat tatapan tajam dari Adam membuat nyalinya menciut terlebih dahulu sebelum melakukan niatnya tadi. Dan setelah mengucapkan hal tersebut Nana segara keluar dari ruangan tersebut tak lupa sebelum pintu ruangan itu tertutup, ia memberikan tatapan tajam kearah Yola yang dibalas dengan juluran lidah oleh Yola. Dan hal tersebut membuat Nana memelototkan matanya tak terima, ingin sekali ia menjambak dan memotong lidah kurang ajar dari Yola tadi. Tapi lagi-lagi saat ia melihat wajah datar nan dingin Adam membuat dirinya harus menahan emosinya itu. Dan daripada dirinya nanti kelepasan, ia segara menutup pintu tersebut dengan perasaan yang tak rela sedikitpun.

__ADS_1


Sedangkan Yola, ia kini terkekeh melihat ekspresi garang dari Nana tadi.


"Ekspresinya lucu," gumam Yola yang masih bisa didengar oleh Adam. Hingga membuat laki-laki itu kini menatap kearahnya.


"Ehemmm." Deheman Adam membuat Yola menghentikan kekehannya tadi.


"Hehehe maaf Dok. Kelepasan habisnya dia lucu banget kalau marah. Oh ya dok. Aku bawa makan siang spesial untuk dokter Adam," ucap Yola sembari meletakkan satu kantong plastik tadi kemudian dengan cekatan ia mengeluarkan makanan yang ada didalam plastik tersebut lalu ia letakkan di hadapan Adam.


"Ehhh tapi tunggu sebentar. Ini sudah waktunya untuk dokter makan siang kan?" tanya Yola sembari melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ahhhh baru jam 11 rupanya. Tapi tak apa makanan ini disimpan dulu dok untuk makan siang dokter nanti," ucap Yola dengan cengiran di bibirnya.


Adam melirik sekilas box makanan pemberian dari Yola tadi sebelum dirinya menggeser makanan tersebut.


"Duduk!" perintah Adam dengan ekspresi seriusnya.


Yola mengangguk kemudian ia mendudukkan tubuhnya di kursi tepat di hadapan Adam.


"Saya ingin bicara serius dengan Anda," ucap Adam.


"Bicara serius? Waahhh padahal saya baru mau mulai PDKT sama dokter lho ini. Ehhh tau-tau sudah diajak serius saja. Tapi memang sepertinya lebih cepat, lebih baik. Saya juga sangat setuju kok, Dok kalau kita langsung menikah saja. Jadi kapan kita akan melangsungkan pernikahan itu, Dok?" ucap Yola excited.


"Omong kosong apa yang sedang anda katakan itu Nona. Disini saya tidak akan membahas pernikahan diantara kita berdua yang sampai kapanpun tak akan pernah terjadi." Yola yang mendengar perkataan dari Adam itu, hatinya terasa sangat perih. Namun tak apa mungkin Adam masih meragukan dirinya tentang seberapa besarnya ia mencintai laki-laki dihadapannya itu.


"Saya hanya ingin membicarakan tentang perilaku anda yang sudah kelewat batas Nona. Saya tau tentang anda yang mengikuti saya kemanapun saya pergi. Saya tau anda membeli satu apartemen dilantai yang sama dengan apartemen saya. Dan saya tau jika anda datang ke kediaman orangtua saya. Selama ini saya diam, tapi untuk kali ini saya tidak akan diam lagi setelah saya tau jika anda kemarin bertamu di kediaman orangtua saya. Dan dengan lancangnya anda mengorek semua informasi pribadi saya melalui ibu saya. Apa dengan anda melakukan itu semua dan mencoba mendekati ibu saya, saya juga akan takluk dengan anda? Anda salah besar Nona. Karena dengan beberapa aksi anda itu membuat saya justru muak dengan anda. Jadi dari sini dan mulai sekarang, hentikan semua aksi anda itu. Karena sampai kapanpun saya tak akan pernah suka dengan Anda," ucap Adam dengan tegas.


Yola yang mendengar jika Adam tau semua yang telah ia lakukan beberapa hari belakangan ini, ia tampak terkejut sekaligus tak menyangka jika aksinya itu bisa diketahui secepat ini oleh Adam.

__ADS_1


"Tapi jika anda masih melakukan hal menjijikan itu. Saya tidak akan segan-segan lagi untuk memberikan anda pelajaran," sambung Adam yang berhasil membuat mata Yola terbuka lebar. Pelajaran? Pelajaran apa yang dimaksud oleh laki-laki itu? batin Yola bertanya-tanya.


__ADS_2