
"Jadi apa boleh dokter Adam ketawa lagi?" ucap Yola membuat Adam kini mengerjabkan matanya.
"Tidak," jawab Adam singkat dengan mengalihkan pandangannya kearah dokumen di depannya itu.
"Ishhh kenapa gak mau sih Dok? Padahal---"
"Jangan banyak bicara. Katakan apa tujuan kamu kesini?" ucap Adam memutus ucapan Yola tadi.
Yola yang baru sadar tujuannya ke rumah sakit itu pun ia kini menepuk keningnya sendiri.
"Ya ampun sampai lupa. Ini semua gara-gara dokter Adam sih," ucap Yola yang membuat Adam mengerutkan keningnya.
"Orang kamu yang lupa, kenapa malah nyalahin saya?" timpal Adam.
"Ya karena dokter Adam tadi pakai ketawa segala jadinya saya lupa tujuan saya kesini itu buat apa."
"Kamu masih terus nyalahin saya?" Yola menganggukkan kepala.
"Jika kamu masih menyalahkan saya. Pintu keluar ada disana dan silahkan kamu pergi dari sini sekarang juga!" ucap Adam.
"Lho kok gitu. Gak mau dok, nanti dulu lah keluarnya. Saya masih mau disini. Iya deh iya saya yang salah bukan Dokter. Saya tadi yang terlena dengan tawa dokter Adam. Jadi biarkan saya tetap disini ya Dok. Gak lama kok cuma sebentar." Adam terdiam, tak menjawab ucapan dari Yola tadi dan matanya terus menatap berkas didepannya itu. Dan hal tersebut membuat Yola mengerucutkan bibirnya.
"Dokter Adam marah sama saya?" tanya Yola sembari menarik-narik kecil jas dokter yang tengah Adam kenakan saat ini. Namun sesaat setelahnya tangannya di tepuk kecil oleh Adam yang membuat Yola langsung menjauhkan tangannya dari jas dokter tersebut.
"Dokter beneran marah sama saya?" Diam, Adam masih enggan membuka bibirnya. Dan hal tersebut semakin membuat Yola mengerucutkan bibirnya.
"Dokter Adam, maafin saya," ucap Yola dengan membungkukkan tubuhnya agar ia bisa menatap wajah Adam yang tertunduk itu.
"Dokter ihhhh maafin saya. Gak lagi-lagi deh bikin dokter Adam marah," ujar Yola yang sebal karena merasa di kacangi oleh Adam.
Adam menghela nafas panjang sebelum dirinya menolehkan kepalanya kearah Yola.
__ADS_1
"Bisa diam tidak. Kamu benar-benar sangat mengganggu saya. Jika ada yang ingin kamu sampaikan kepada saya, cepat katakan. Jika tidak keluarlah!" ucap Adam pada akhirnya.
"Baiklah saya akan menyampaikan apa maksud saya kesini. Tapi dokter Adam jangan marah lagi sama saya ya, please," mohon Yola dengan menangkupkan kedua tangannya tak lupa ia mengeluarkan jurus puppy eyes-nya yang membuat siapapun gemas dengannya tak terkecuali dengan Adam sekalipun. Laki-laki itu mati-matian menahan dirinya agar tak mencubit pipi Yola dan mendekap tubuh gadis itu kedalam pelukannya.
"Tahan Adam tahan. Ingat kamu harus tetap stay cool didepan Yola. Arkhhhh tapi lihatlah tatapan dia sangat-sangat menggemaskan. Ya Tuhan kenapa engkau menciptakan makhluk seimut dia. Pengen cubit, pengen peluk, pengen cium, pengen gigit, pengen aku makan sekalian dia. Astaga kuatkan iman hamba ya Tuhan," jerit Adam didalam hatinya.
Bahkan untuk menahan dirinya sendiri untuk tidak menyentuh Yola, ia kini mengepalkan kedua tangannya.
"Dokter, please. Dokter maafin saya ya," ucap Yola. Yang membuat Adam semakin kelimpungan sendiri dan dengan cepat laki-laki itu mengalihkan pandangannya dari Yola dengan menghela nafas berkali-kali. Dan setelah dirasa debaran di jantungnya itu berdetak normal kembali, ia kini bersuara tanpa menatap wajah Yola yang ia yakini masih sangat menggemaskan itu.
"Baiklah saya akan memaafkan kamu. Jadi cepat katakan apa yang ingin kamu sampaikan," ujar Adam.
Yola tersenyum kala sudah mendapat kata maaf dari Adam itu.
"Sebenarnya saya kesini tadi tuh mau tanya sama dokter. Dokter sudah makan siang?" tanya Yola.
"Kamu tanya tentang makan siang sedangkan waktu sekarang sudah menunjukkan pukul setengah 2 siang," ucap Adam.
"Saya tadi sebenarnya juga sudah menebak jika tidak mungkin dokter Adam belum makan siang di jam segini. Tadinya saya mau mengantar makan siang seperti biasanya, tapi tiba-tiba ban mobil saya bocor di tengah jalan alhasil saya tidak sempat membelikan makan siang untuk dokter dan mengantarkannya kesini. Dan berhubungan saya tidak bisa tenang jika belum memastikan dengan sendiri jika dokter Adam sudah makan siang, alhasil saya kesini tadi. Saya pikir jika Dokter Adam belum makan siang, saya bisa menawarkan jasa saya sebagai koki dadakan untuk dokter Adam dengan menu pilihan dari dokter Adam sendiri. Tapi berhubung dokter ternyata sudah makan siang, ya sudah tak apa. Mungkin lain kali saya akan memasakkan menu pilihan dokter Adam sendiri," ucap Yola sedikit kecewa. Tapi disisi lain ada kelegaan di hatinya saat mengetahui Adam tak melewatkan makan siangnya.
"Kamu mau masak?" tanya Adam dengan menolehkan kepalanya kearah Yola. Dan pertanyaan itu langsung diangguki oleh gadis tersebut.
"Iya. Tadinya sekalian mau masakin dokter Adam kalau dokter belum makan siang. Tapi berhubung---"
"Saya belum makan siang," ucap Adam memutus ucapan dari Yola tadi.
"Ehhhh dokter Adam belum makan siang. Tapi tadi---"
"Belum. Saya tadi hanya memberitahu jam makan siang sudah lewat, bukan berarti saya juga sudah makan siang. Kamu paham?" Yola mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya saya paham Dok. Jadi?" Bingung Yola.
__ADS_1
"Ck, kata kamu tadi kamu mau masakin saya makan siang kan?" Dengan polosnya Yola menganggukkan kepalanya.
"Jadi tunggu apa lagi. Masakin saya sekarang!" perintah Adam yang membuat Yola mengerjabkan matanya.
"Ehhh dokter Adam mau dimasakin saya?" beo Yola yang masih tak menyangka jika Adam ingin memakan masakannya. Yola tidak tau saja jika 5 potong steak pemberiannya kemarin ludes dilahap Adam sendiri sampai tak tersisa sedikitpun.
"Ck, Yola!" geram Adam.
"Ehh baiklah-baiklah saya masakin dokter Adam dulu. Tapi tunggu, dokter Adam mau saya masakin apa?" tanya Yola.
"Terserah yang penting enak," ujar Adam yang diangguki oleh Yola.
"Terserah ya? Hmmmm baiklah saya akan memikirkan menu yang sekiranya dokter Adam sukai. Tapi tunggu sebentar ya, saya pulang dulu. Nanti kalau---"
"Kamu mau masak di rumah kamu?" tanya Adam yang lagi-lagi memutus ucapan Yola.
"Iya Dok," jawab Yola.
"Kamu pikir saya mau menunggunya?" Yola menggigit bibir bawahnya. Benar juga, dokter Adam tidak mungkin mau menunggu makanan itu dengan waktu yang lumayan lama. Apalagi melihat wajah pucat dari Adam itu, yang jika menunggu terlalu lama lagi makanan sampai bisa-bisa laki-laki itu pingsan karena kelaparan. Padahal wajah pucat Adam itu bukan karena dirinya telat makan melainkan karena habis begadang.
"Masak di dapur rumah sakit ini!" perintah dari Adam itu membuat Yola mengerjabkan matanya.
"Memangnya boleh Dok?" tanya Yola.
"Saya akan antar kamu ke dapur itu dan saya akan bantu kamu minta izin kepada kepala koki di rumah sakit ini," ujar Adam sembari berdiri dan duduknya. Lalu setelahnya ia segara melangkahkan kakinya ingin keluar dari ruang kerjanya namun suara Yola menghentikan langkahnya.
"Tunggu sebentar Dok." Adam menghela nafas sebelum dirinya menolehkan kepalanya kearah Yola.
"Apa lagi?" tanyanya.
"Bahan masakannya gimana?"
__ADS_1
"Bahan makanan di dapur ada banyak. Jika nanti ada bahan yang tidak kamu temukan beli saja di mini market disebelah rumah sakit ini," ucap Adam yang diangguki oleh Yola. Dan setelah ia melihat anggukkan kepala dari gadis tersebut, ia melanjutkan langkahnya diikuti oleh Yola di belakangnya yang kini tengah tersenyum penuh kebahagiaan saat Adam mau makan masakannya terlebih lagi laki-laki itu tadi berbicara kepadanya dengan kata-kata yang cukup panjang. Dan lagi-lagi hal itu adalah hal langka yang Adam lakukan di depan seorang Yola yang biasanya hanya diabaikan saja oleh seorang Adam, dokter dingin penuh dengan pesona itu.