
Adam kini bisa menghela nafas lega kala melihat Kenza telah pergi dari depan ruangannya dibalik jendela di ruang kerja Tristan.
Ya, setelah dirinya keluar dari ruangannya, lengannya langsung ditarik oleh Tristan yang membawanya ke ruang sahabatnya itu. Bahkan karena tarikkan itu ia sampai tak sadar jika sambungan teleponnya dengan Yola sudah terputus.
"Bagaimana?" suara Tristan membuat Adam kini menolehkan kepalanya kearah sahabatnya itu kemudian ia berjalan menuju kearah Tristan yang sedari tadi memperhatikan dirinya dari kuris kerjanya.
"Bagaimana apanya?" tanya Adam yang sudah duduk di kursi depan Tristan.
"Perasaan kamu bagaimana setelah bertemu dengan dia lagi? Apa rasa itu masih ada? Jika masih ada akan aku sebut kamu bodoh," ucap Tristan yang langsung mendapat pelototan oleh Adam sebelum laki-laki itu kini menghela nafas panjang.
"Jika kamu tanya tentang perasaanku maka akan aku jawab perasaanku kepada dia sudah tidak ada. Rasa sayang yang selama ini selalu mengendap di hatiku sekarang sudah sepenuhnya hilang. Dan sekarang hanya ada rasa benci untuk dia," jawab Adam.
Tristan yang mendengar pengakuan dari Adam itu ia tampak terkejut.
"Kamu yakin sudah tidak memiliki perasaan kepada dia?" tanya Tristan untuk memastikan.
"Ya, aku sangat yakin karena rasa sayangku yang dulu aku berikan kepada dia yang berakhir dia khianati sekarang sudah berpindah ke seseorang yang dulu sempat aku sia-siakan," ujar Adam dengan menatap lurus ke depan tepat di mata Tristan. Seakan-akan matanya itu mengisyaratkan jika Tristan tidak ia izinkan untuk mendekati orang yang ia maksud itu.
"Apa orang itu Yola?" Dengan mantap Adam menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya, dia adalah Yola. Perempuan yang dulu sempat aku sia-siakan. Jadi setelah ini kamu harus jaga jarak dengan dia," ujar Adam memperingati.
Dan hal tersebut membuat Tristan mencebikkan bibirnya.
"Baiklah aku akan jarak dengan dia mulai saat ini tapi jika aku tau kamu melukai hati Yola sampai buat dia menangis aku tidak akan segan-segan buat ambil dia dari kamu," ucap Tristan.
"Kamu tenang saja karena aku tidak akan pernah membuat dia meneteskan air mata selain air mata bahagia," balas Adam yang membuat Tristan kini tersenyum. Ia awalnya tidak percaya jika Adam sudah dapat Yola taklukan. Tapi setelah melihat pancaran mata Adam yang berbeda saat mereka membahas Yola, Tristan menjadi sangat yakin dan sedikit tenang setidaknya sahabatnya itu sudah bisa melupakan Kenza dan ia yakin Adam tidak akan pernah kembali lagi dengan perempuan di masa lalunya itu.
Tapi senyumannya itu tiba-tiba hilang begitu saja kala ia mengingat seberapa gilanya Kenza yang akan melakukan segala cara agar apa yang ia mau bisa ia dapatkan.
"Dam," panggil Tristan yang membuat Adam kini menatap kearahnya setelah ia membalas pesan dari Yola itu.
"Jaga Yola baik-baik. Aku takut kejadian yang menimpa Edrea dulu akan terulang lagi," ujar Tristan.
"Kamu tau sendirikan seberapa gilanya dia yang dengan beraninya mencelakai Edrea hanya karena sebuah kesalahpahaman saja. Dia mengira kamu selingkuh dengan Edrea sebelum dia tau kalau Edrea itu adik kamu. Dan karena dia mendorong Edrea dari atas eskalator di salah satu mall membuat Edrea harus mengalami gagar otak ringan dan patah tulang di bagian tangan kirinya. Aku tidak mau kejadian itu terulang ke Yola," sambung Tristan yang membuat Adam diam-diam mengepalkan tangannya. Ia hampir melupakan satu fakta itu bahkan dirinya dulu juga mengalami seberapa bringas dan gilanya Kenza saat dirinya memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka.
"Kamu tenang saja. Aku akan melindungi Yola dari perempuan gila itu. Aku tidak akan membiarkan dia menyentuh Yola seujung kuku pun," ujar Adam tanpa ragu.
"Aku percayakan Yola ke kamu. Karena perlu kamu tau saja, aku tidak memiliki rasa apapun ke Yola selain rasa seorang Kakak kepada adiknya. Aku sudah menganggap dia sebagai adik. Aku tau perjuangan dia untuk meluluhkan hati kamu itu. Makanya aku tidak akan pernah rela jika dia disakiti lagi oleh kamu ataupun orang dia masa lalumu itu. Jika suatu saat nanti yang kita khawatirkan ini terjadi maka izinkan aku untuk membalas perbuatan perempuan gila itu. Kamu setuju kan?" Adam menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan jika memang hal itu terjadi. Tapi ingat kamu harus tau batasan karena orangtua dia bukan orang sembarangan," ujar Adam.
"Kamu tenang saja. Aku hanya akan membalasnya seperti yang dia lakukan ke Yola saja. Toh jika aku kelewat batas kan ada Daddy Aiden yang akan membantuku nanti," ucap Tristan dengan menaik turunkan alisnya itu.
Dan hal tersebut membuat Adam berdecak dengan memutar bola matanya malas.
"Terserah kamu lah. Yang terpenting aku sudah mengingatkanmu," ujar Adam kemudian ia mulai membuka laptopnya untuk memulai pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
Dan hal tersebut membuat Tristan mengerutkan keningnya.
"Bukankah perempuan itu sudah pergi dari ruanganmu? Tapi kenapa kamu masih tetap disini bukannya kembali keruanganmu?"
"Untuk sementara waktu, ruanganmu adalah ruanganku juga. Atau kalau kamu mau, kita tukeran ruang kerja saja karena aku tidak mau bertemu dengan dia lagi jika dia nanti kembali lagi ke sini," ujar Adam.
"Tidak tidak. Terimakasih atas tawaran untuk bertukar ruangan kerja. Tapi sayangnya aku tidak akan mengambil tawaran itu karena jujur saja selain kamu yang tidak mau bertemu dengan perempuan itu, aku pun juga tidak mau. Aku sudah cukup muak melihat wajah dia yang sangat-sangat tebal itu. Benar-benar tidak tau malu dengan perilakunya dulu. Dan aku masih penasaran kenapa kamu dulu sangat bucin banget sama dia? Padahal kamu tau sendiri jika dia itu gila sampai-sampai kamu tidak mendengarkan nasihat keluarga dan teman-teman kamu untuk menjauhi dia. Bahkan saat kamu tau fakta dia selingkuh dan memiliki anak, kamu masih saja selalu memikirkan dia dan aku rasa itu berlangsung sampai beberapa bulan belakangan ini sebelum kamu luluh sama Yola. Benar bukan?" Adam terdiam karena apa yang dikatakan oleh Tristan tadi memang benar, ia baru bisa melupakan Kenza sepenuhnya setelah dirinya mengenal Yola.
"Sudahlah jangan bahas dia lagi. Biarkan hal itu menjadi masa laluku yang tidak perlu aku, kamu atau orang lain ingat kembali. Biarkan itu menjadi cerita perjalanan hidupku yang memberikan aku pelajaran yang cukup besar. Jadi cukup, jangan dibahas lagi. Karena masa lalu akan tetap menjadi masa lalu tidak akan pernah menjadi masa depan. Dan daripada kamu membahas hal itu lebih baik kamu segara pergi mengecek kondisi pasien kamu sana dan jangan ganggu aku untuk melakukan pekerjaanku," ujar Adam yang membuat Tristan kini mencebikkan bibirnya.
"Ini ruanganku tapi tetap saja aku yang di usir. Mentang-mentang dia pemilik rumah sakit ini jadi dia bersikap semaunya saja. Huh, untung sahabat sendiri kalau tidak udah aku jitak tuh kepala," gumam Tristan yang kini melangkahkan kakinya menuju pintu.
__ADS_1
Adam yang sebenarnya mendengar gumaman dari Tristan itu ia hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memilih untuk memfokuskan dirinya ke laptop serta berkas-berkas yang ada di hadapannya saat ini, membiarkan Tristan terus ngedumel tidak jelas sampai laki-laki itu benar-benar keluar dari ruang kerjanya sendiri.