
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam dan di jam itu juga Adam masih terjaga. Ia sekarang tengah membaca buku bacaan, tapi sebenarnya bukan hal itu yang membuat dirinya begadang namun ia tengah menunggu pesan Yola yang tak kunjung memberikan rentetan chat yang selalu perempuan itu lakukan di hari-hari sebelumnya.
Adam menutup buku bacaannya itu dengan kasar lalu tangannya bergerak mengambil ponselnya.
"Ck, kenapa dia tidak menerorku lagi seperti biasanya?" geram Adam saat ia tak menemukan satu notifikasi pun didalam ponselnya dari media sosial Yola.
"Bahkan lihatlah dia sekarang masih online tapi sama sekali dia tidak memberikan kabar sedikitpun kepadaku. Sialan," umpat Adam saat melihat sebuah aplikasi WhatsApp dimana di dalam sana ia bisa melihat jika Yola kini tengah aktif di media sosial itu.
Sedangkan disisi lain, perempuan yang tengah di tunggu-tunggu kabarnya dari Adam, ia tengah mengerjakan tugas kuliahnya yang benar-benar menumpuk dan membuat kepalanya cukup pusing. Bagaimana tidak pusing coba jika sedari dia pulang dari rumah sakit sampai tengah malam begini tugas itu belum juga terselesaikan. Bahkan karena mati-matian Yola mengerjakan tugas itu, ia sampai lupa mandi tapi untungnya perempuan itu tak lupa makan.
"Astaga sampai kapan ini tugas selesai?" ucap Yola dengan mengacak-acak rambutnya sendiri yang membuat penampilannya semakin terlihat seperti orang gila.
π : "Makanya kalau ada tugas dari dosen itu langsung di kerjain. Jangan nunggu numpuk dan waktunya pengumpul sudah mepet baru dikerjain. Tau rasa kan kamu sekarang," ucap seseorang dari sebrang telepon.
"Ck, kamu diam aja bisa gak sih Kak. Tugas kamu itu hanya nemenin aku doang bukan untuk ngomel-ngomel terus dari tadi," balas Yola dengan menatap layar ponselnya yang tengah memperlihatkan wajah Joi disana.
__ADS_1
π : "Ohhh tentu saja tidak bisa. Siapa suruh kamu minta aku buat nemenin kamu ngerjain tugas kamu itu, mana aku juga yang harus ikut mikir lagi. Ck, untung saja disini masih jam 5 sore," ucap Joi. Ya, sepasang kakak-beradik itu sekarang tengah menjalani yang namanya LDR antara Jakarta dengan Paris dimana Kakaknya itu tengah mendapat projects pemotretan sebuah brand ternama di negara itu.
"Ya karena disana masih jam segitu aku telepon Kakak buat nemenin aku ngerjain tugas dan berhubungan otak kamu itu lumayan encer nih, gak ada salahnya kan kalau bantuin adikmu ini ngerjain tugas. Dan lebih baik Kakak bantuin aku lagi biar nih tugas-tugas segera selesai," ujar Yola dengan mata yang kembali fokus kearah buku-buku di hadapannya itu tanpa memperdulikan Joi yang tengah menghela nafas berat.
Yola terus mengerjakan tugas-tugas tersebut dengan sesekali dibantu oleh Joi. Hingga pada pukul 1 dini hari semua tugas itu akhirnya selesai juga.
Yola kini meregangkan otot ditubuhnya yang seakan kaku karena hampir 12 jam dirinya duduk ditemani oleh buku-buku itu yang membuat tulang belakangnya terasa seperti ingin patah saja.
"Ya ampun rasanya badan mau remuk semua," keluh Yola dengan menyandarkan kepalanya di atas meja belajarnya. Dan hal tersebut membuat Joi yang ada di sebrang menggelengkan kepalanya.
π : "Daripada kamu ngeluh mending kamu cuci muka kamu yang kusut itu dan segera tidur. Disana sudah pukul 1 malam kan?" Yola melirik kearah jam dinding di dalam kamarnya untuk memastikan jika ucapan dari Joi tadi benar.
π : "Ya, Waalaikumsalam," balas Joi sebelum akhirnya sambungan telepon tersebut terputus. Dan dengan cepat Yola kini berlari kecil kearah lemari pakaiannya untuk mengambil baju tidurnya. Ponselnya yang tadi ia genggam pun ia lempar kearah ranjangnya. Lalu setelahnya ia baru masuk kedalam kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan gosok gigi saja.
Tak membutuhkan waktu lama, Yola kini sudah keluar dari kamar mandi dengan balutan baju tidur bermotif Pororo.
__ADS_1
"Huwaaaaa akhirnya bisa rebahan juga," ucap Yola saat tubuhnya sudah ia rebahkan di ranjangnya.
"Tugas semua sudah selesai dan waktunya sekarang untuk tidur." Yola meraih ponselnya yang ternyata berada di bawah tubuhnya. Dan saat dirinya ingin menaruh ponsel tersebut keatas nakas, ia baru ingat sesuatu dan dengan cepat ia membuka kembali aplikasi WhatsApp-nya. Dan setelah aplikasi itu terbuka, tangannya bergerak menuju ke nomor WhatsApp milik Adam dimana nama Adam selalu berada di paling atas.
Ia mengerutkan keningnya saat ia melihat jika Adam terakhir aktif 15 menit yang lalu.
"Tumben-tumbenan nih si calom imam terakhir aktif dijam segini. Biasanya dia terakhir aktif jam 7 malam. Apa dia sekarang masih di rumah sakit, jaga malam gitu ya? Atau mungkin ada pasien dia yang drop dan mengharuskan dia kembali kerumah sakit untuk memastikan keadaan pasiennya itu? Hmmm sepertinya memang 15 menit sebelumnya dia mendapat pesan atau malah telepon dari salah satu keluarga pasiennya, jadi mau tidak mau dia harus terbangun dari tidurnya dan membuka aplikasi WhatsApp ini," tebak Yola yang benar-benar salah. Karena bukan hal itu yang membuat Adam tak bisa tidur dan sering memantau aplikasi yang sangat jarang ia buka itu. Melainkan Adam justru tengah menunggu kabar darinya.
"Haishhhh sudahlah kenapa aku malah menebak-nebak begini jika aku saja tau profesi dia yang menuntut dia untuk selalu siap 24 jam jika ada seseorang yang membutuhkan jasanya. Dan daripada aku menebak-nebak gini. Lebih baik aku kasih semangat untuk dia saja," gumam Yola dengan senyumannya. Dan tangannya kini dengan lentik menari-nari di atas layar ponselnya, mengetik kata demi kata sebelum akhirnya ia mengirimkan susunan kata itu ke nomor WhatsApp Adam.
Adam yang hampir saja terlelap dalam tidurnya, ia terbangun kembali saat mendengar nada dering ponselnya dan merasakan adanya getaran di tangannya.
Dan dengan mata sayu, Adam mengangkat ponselnya, mendekatkan layar ponsel itu kedepan wajahnya. Dan saat dia melihat nomor Yola lah yang terpampang di layar ponselnya itu, mata Adam refleks terbuka lebar bahkan laki-laki itu sekarang dengan cepat mendudukkan tubuhnya sebelum tangannya kini bergetak membuka pesan dari seseorang yang telah ia tunggu-tunggu sedari tadi. Dan setelah pesan itu ia buka, dengan binar mata Adam mulai membacanya.
π¨ : 082*********
__ADS_1
"Hayyy calon imam. Aku tidak tau apa yang sedang kamu kerjakan di tengah malam seperti ini. Mungkin kamu tengah sibuk mengurus pasien-pasienmu itu sekarang. Aku tau mungkin kamu merasa capek dan pengen istirahat tanpa ada yang menganggu istirahatmu. Tapi karena kamu mau memberikan yang terbaik buat pasien-pasienmu, kamu menangkis rasa cepak itu dan karena aku juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu perkejaanmu itu, aku hanya mau mengirimmu kata semangat. Semangat dokter Adam, dokter kebanggaan Yola. Jika dokter benar-benar lelah, istirahat dulu sebentar, aku yakin pasien-pasienmu itu akan mengerti. Tapi kalau pasienmu itu sudah dalam bahaya, jangan istirahat dulu dan lebih baik tangani dia, takut kalau kamu istirahat paseinmu itu sudah keburu dipanggil sang maha pencipta hehehe. Tetap semangat ya calon imam dan selamat malamβ€οΈ"
Adam tak henti-hentinya tersenyum dari awal dirinya membaca sampai akhir. Bahkan ia tak sadar jika tubuhnya sekarang sudah terkapar diatas ranjang, tubuhnya terasa tak memiliki tulang lagi gara-gara pesan dari Yola itu.