Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 121


__ADS_3

Setelah urusan mereka berdua selesai di kantor polisi, keduanya kini telah kembali ke ruang sakit milik Adam itu. Dimana saat Adam dan Juwita berada di jarak beberapa meter dari kamar inap Om Harun, kening Adam mengkerut saat melihat salah satu dokter di rumah sakit tersebut berlari menuju ke kamar inap ayah Kenza itu.


"Ada apa ini? Kenapa suster dan dokter berlarian menuju ke arah kamar inap suamiku?" tanya Juwita.


"Adam juga tidak tau Tante. Lebih baik kita kesana sekarang," ujar Adam sebelum mereka berdua kini berlari menuju ke kamar inap itu. Dimana saat mereka telah sampai di ambang pintu kamar tersebut, kondisi kamar itu benar-benar sangat berantakan. Bantal, selimut, pecahan gelas dan vas berserakan dimana-mana.


"Astaga apa yang terjadi?" tanya Adam kepada orang-orang yang ada didalam kamar inap itu.


Dimana salah satu dokter yang sempat ia lihat tadi kini mendekati Adam dan Juwita yang tampak kebingungan itu.


"Pasien yang menempati kamar ini tadi sempat mengamuk sejadi-jadinya. Beliau melempar benda-benda yang ada di sekitarnya. Dan beliau baru tenang saat saya suntikkan bius penenang tadi," jelas dokter tersebut yang membuat Juwita menghela nafas sepertinya ia tau alasan suaminya mengamuk seperti ini.


"Dan berhubung pasien sudah tenang, saya pamit undur diri. Mari dokter Adam, mari Bu." Adam dan Juwita menganggukkan kepala mereka untuk menimpali ucapan dari dokter tadi.


"Tolong salah satu dari kalian panggilkan tukang kebersihan untuk membersihkan kekacauan ini!" perintah Adam yang ia tujukan kesalah satu suster yang ingin beranjak juga dari kamar inap Om Harun itu.


"Baik Dok," jawab mereka sebelum mereka menjauh dari Adam dan Juwita.


Dan kepergian dari suster serta dokter tadi membuat Adam kini mengalihkan pandangannya kearah Juwita yang tengah menundukkan kepalanya lesu.


"Tante, Tante kenapa?" tanya Adam benar-benar sangat perhatian kepada wanita paruh baya itu. Dan pertanyaan dari Adam tersebut membuat Juwita menengadahkan kepalanya dengan senyum palsunya.

__ADS_1


"Tidak. Tante tidak kenapa-kenapa kok Dam. Tante hanya merasa capek saja mau istirahat," ujar Juwita.


"Ahhhhh Tante mau istirahat ya. Kalau begitu silahkan istirahat Tante, dan Adam permisi pergi dulu. Nanti kalau ada apa-apa atau Tante butuh bantuan bisa minta tolong ke salah satu pekerja di rumah sakit ini," tutur Adam.


"Iya, Dam nanti kalau Tante ada sesuatu yang butuh pertolongan, Tante akan meminta bantuan ke mereka. Dan Tante mau berterimakasih ke kamu karena sudah membantu Tante mengurus masalah Kenza tadi. Makasih banyak ya Dam. Kalau tidak ada kamu, Tante pasti akan bingung mau berbuat apa untuk kebaikan Kenza."


"Sama-sama Tante. Jika Adam masih bisa membantu orang-orang yang memang membutuhkan bantuan Adam, Adam akan membantunya sebisa Adam," ujar Adam.


"Kalau begitu Adam pergi dulu ya Tante. Selamat beristirahat," sambung Adam yang diangguki oleh Juwita tak tertinggal senyuman manis dari wanita paruh baya tersebut juga ikut ia perlihatkan.


Adam yang melihat anggukan tersebut pun ia mulai melangkahkan kakimu menuju ke kamar inap Heila, meninggalkan Juwita yang langsung meluruhkan tubuhnya, terduduk lemas di atas lantai dingin kamar tersebut dengan tangisannya.


Sedangkan disisi lain, Adam kini mengetuk pintu kamar inap Heila kala dirinya telah sampai didepan kamar tersebut.


Tok tok tok!


Tiga kali ketokan ia berikan dan tanpa menunggu seseorang membuka pintu kamar itu, Adam lebih dulu masuk kedalam kamar itu dimana keberadaan langsung menjadi pusat perhatian ketiga orang yang ada di dalam kamar tersebut. Namun Adam tidak mempedulikan tatapan ketiga orang itu, ia memilih untuk menuju ke sofa di ruangan tersebut untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lelah itu.


Sedangkan Yola, ia langsung beranjak dari tempatnya tadi untuk mendekati Adam.


"Bagaimana perkembangan tentang Kenza?" tanya Yola benar-benar penasaran sembari mendaratkan bokongnya disamping Adam yang langsung membuat laki-laki itu memeluk tubuhnya dari samping. Dan hal tersebut membuat Tristan dan Heila berdecak sebal.

__ADS_1


"Dia sudah dipindahkan ke rumah sakit jiwa." Ucapan dari Adam itu membuat Tristan dan Heila tampak terkejut.


"Ehhhh jadi dia gila beneran?" tanya Heila masih tak percaya yang dijawab gedikkan bahu oleh Adam.


"Mungkin. Tapi kata psikiater yang menangani dia tadi malam, katanya dia hanya tidak bisa mengontrol emosinya saja. Dan terlalu terobsesi untuk menghancurkan orang-orang yang sekiranya mengganggu dirinya dan juga membuat dirinya marah," jelas Adam.


"Ck, itu mah sama saja dia gila. Terus bagaimana dengan tuntutan kita berdua?" tanya Tristan kepada Adam. Karena walaupun Kenza gila, ia tetap tidak mau mencabut laporannya itu.


"Pihak kepolisian mungkin akan mulai memproses kasus dia yang kita laporkan itu setelah dia sembuh dan keluar dari rumah sakit jiwa. Tapi kamu tenang saja walaupun dia sekarang di pindah ke rumah sakit jiwa, dia tetap berada di pantauan pihak kepolisian," jelas Adam yang diangguki oleh Tristan. Setidaknya laki-laki itu kini bisa menghela nafas lega, tak perlu khawatir jika Kenza akan kabur dari rumah sakit jiwa itu.


Sedangkan Yola dan Heila mereka saling pandang, sebelum Yola angkat suara.


"Tunggu sebentar, kalian tidak memiliki rencana untuk mencabut tuntutan kalian itu?" tanya Yola.


"Tidak," jawab Adam dan Tristan dengan kompak.


"Astaga, apakah kalian tidak memiliki rasa kasihan kepada dia? Toh jika dipikir-pikir yang merasa di rugikan disini karena ulah Kenza itu aku dan Yola. Tapi kenapa kalian masih kekeuh untuk mempertahankan tuntutan kalian padahal kita berdua saja sudah memaafkan perbuatan Kenza itu," timpal Heila yang diangguki oleh Yola.


"Aku tidak peduli siapa disini yang di rugikan karena ulah Kenza itu. Aku tetap akan terus memproses tuntutan hukum itu. Biar dia ingat apa yang sudah dia lakukan sewaktu dia sakit jiwa," ujar Adam.


"Setuju. Biar dia juga tidak mengulangi ulahnya ini saat dia sembuh nanti. Lagian kan tidak ada yang tau niatan seseorang. Bisa jadi kan saat dia sudah sembuh dan kita sudah mencabut tuntutan kita itu, dia masih memiliki niat jahat ke kita terutama ke kalian berdua. Jadi untuk mengantisipasi hal itu terjadi lebih baik kita tetap ingin memproses masalah Kenza ini ke pihak berwajib," tutur Tristan yang membuat Yola dan Heila hanya bisa menghela nafas saja. Mereka juga tidak bisa mencabut tuntutan itu karena bukan diri mereka sendiri yang melaporkan Kenza jadi mereka hanya bisa pasrah saja dengan keputusan para laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2