
Tubuh Amel sudah tak terlihat lagi dari pandangan Yola dan Keni. Dimana hal tersebut membuat Keni langsung terduduk lemas.
Yola yang tau akan permasalahan yang terjadi diantara kedua sahabatnya itu pun ia mengelus punggung Keni.
"Yang sabar ya. Amel hanya butuh waktu untuk menerima semuanya," ucap Yola. Ia pun juga tidak tau harus berbuat apa untuk kedua sahabatnya agar kembali akrab seperti semula. Ia pernah mempertemukan keduanya di satu ruangan dimana didalam ruangan itu hanya ada Keni dan Amel saja. Berharap saat dirinya mempertemukan kedua sahabatnya itu, mereka bisa berbicara dengan kepala dingin dan akan saling memaafkan kembali. Namun tak ia sangka ternyata dengan ia menyatukan mereka, justru membuat Amel semakin murka yang berakhir permasalahan yang terjadi diantara dua sahabat Yola itu bukannya terselesaikan justru semakin memanas saja. Dan dari situlah Yola tak berani ikut campur dalam urusan keduanya karena ia tak mau dianggap membela salah satu belah pihak dari kedua sahabatnya itu. Walaupun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin sekali masalah itu cepat selesai namun ia tak ingin membuat suasana akan semakin memanas kembali.
Sedangkan Keni yang mendengar ucapan dari Yola itu, ia tampak menghela nafas panjang sebelum dirinya berkata, "Butuh waktu sampai kapan La? Ini sudah satu tahun lamanya permasalahan diantara kita berdua tidak juga selesai. Dan jika waktu bisa diulang kembali, aku tidak akan menerima perjodohan ini agar aku tidak kehilangan sahabatku. Atau aku sekarang minta cerai saja ya, La?"
Yola yang mendengar ucapan dan Keni tadi ia tampak membelalakkan matanya.
"Jangan gila kamu, Ken. Kalau kamu minta cerai, yang ada kamu akan membuat semua orang kecewa dengan kamu, bukan hanya suamimu tapi kedua orangtuamu. Dan kamu tau perceraian itu sangat di benci sama Allah," ujar Yola tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
"Tapi aku harus bagaimana lagi Yola biar Amel seperti dulu lagi. Aku benar-benar tidak betah jika harus selalu diam-diaman seperti ini dengan dia," ucap Keni yang tampak frustasi itu bahkan terlihat jelas jika mata Keni saat ini tengah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku memang tidak bisa membantu kamu untuk memecahkan masalah diantara kalian berdua. Tapi yakinlah semua permasalahan itu tidak ada yang tidak memiliki solusi. Jadi kamu tenang dulu ya. Berharap saja sama Allah meminta agar hati Amel terketuk dan mau memaafkan kamu," kata Yola yang hanya bisa diangguki oleh Keni dengan kepala yang kini menunduk.
Dimana hal tersebut membuat Yola menghela nafas panjang sebelum dirinya mengalihkan pandangannya kearah samping kanannya, dimana Alesya tadi berada.
Namun saat dirinya menatap ke tempat Alesya tadi berada, ia tak menemukan anak perempuannya itu.
"Lho kemana Alesya?" ucap Yola dengan panik.
Keni yang mendengar ucapan dari sang sahabat itu, ia menegakkan kepalanya kembali.
"Iya tadi ada di samping aku. Tapi sekarang entah kemana itu anak. Ya Tuhan."
"Mungkin sama dokter Adam kali," ucap Keni yang membuat Yola langsung berdiri dari duduknya agar dirinya bisa melihat posisi duduk suaminya itu. Namun sayangnya saat ia sudah melihat ke belakang, ia tidak menemukan keberadaan Alesya di sisi suaminya.
__ADS_1
"Gak ada Ken. Duhhhh kemana sih. Mana di ruangan ini banyak banget lagi orangnya. Ya Tuhan, kalau sampai tuh bocil hilang, mati sudah diriku ini karena Daddanya si bocil pasti akan gantung aku di pohon cabai," ujar Yola sebelum dirinya melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan Alesya yang entah hilang kemana meninggalkan Keni yang kini tampak memutar bola matanya malas.
"Orang yang digantung di pohon cabai gak akan mati kali, La. Ada-ada saja," gumam Keni sebelum dirinya kini berdiri dari duduknya dan ikut untuk mencari Alesya.
Mereka berdua sudah mencari keberadaan Alesya selama hampir 10 menit. Namun Alesya tak juga bisa mereka temukan padahal sebentar lagi acara akan segara di mulai.
"Si bocil kemana sih?" ucap Yola.
"Aku juga gak tau, La. Coba kita cari ke bagian pojok depan sana. Disana kan banyak cogan, siapa tau dia nyelip diantara para cogan itu secara dia kan memiliki sifat sama seperti kamu yang genit kalau lihat laki-laki yang ganteng," ujar Keni yang membuat Yola kini berdecak.
"Itu dulu. Kalau sekarang udah gak berani. Takut mataku di congkel nanti dan di ganti mata boneka sama suami. Dan sepertinya apa yang kamu katakan itu benar kalau si bocil genit ada diantara laki-laki itu kerena kalau di lihat-lihat mereka berkumpul disana dengan sesekali tertawa," ucap Yola yang mulai curiga jika anaknya itu memang sedang tebar pesona dengan para cogan di kampus ini.
"Ya sudah kalau begitu tunggu apa lagi. Kita kesana sekarang." Yola menganggukkan kepalanya sebelum dirinya dan Keni melangkahkan kakinya mendekati gerombolan para mahasiswa di kampus tersebut.
__ADS_1
Dimana saat mereka berdua telah sampai, Yola dan Keni dengan kompak menghela nafas lega kala tebakan Keni tadi benar adanya jika Alesya kini berada di tengah-tengah para cogan yang tengah bercanda dengan dirinya.
"Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Benar-benar persis sekali dengan emaknya tapi bedanya kalau emaknya dulu sering di tolak tapi anaknya menjadi primadona," ucap Keni dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Mau heran dengan tingkah Alesya tapi ia sadar jika Alesya itu keturunan Yola.