
Saat di rumah sakit jiwa itu terjadi kekacauan, berbeda dengan di tempat acara pertunangan itu dilaksanakan. Semua yang datang kini di persilahkan untuk menikmati hidangannya. Sedangkan Adam, ia membawa Yola menghampiri keluarga besarnya.
Dimana kehadiran mereka langsung di sambut hangat oleh keluarga Adam.
"Bang Adam selamat," ucap Edrea dengan memberikan perlukan ke Kakak pertamanya itu yang dibalas pelukan juga oleh Adam.
"Terimakasih emak-emak dua anak," balas Adam yang membuat Edrea berdecak sembari ia kini melepaskan pelukannya tadi.
"Oh ya Abang mau ngenalin calon Kakak ipar kamu secara langsung. Yola, dia Edrea, adikku yang paling terakhir tapi dia yang paling garcep soal bikin baby. Buktinya dia sekarang sudah punya dua buntut," ujar Adam yang langsung mendapat pelototan dari Edrea.
"Bukan masalah garcepnya bang tapi emang udah di kasih kepercayaan saja sama Allah. Jadi ya Rea gak mau nolak lah. Mana anak Rea lucu-lucu semua sih, mubasir kalau di tolak," timpal Edrea sebelum dia mengalihkan pandangannya kearah perempuan yang berdiri disamping abangnya itu.
Namun saat dirinya melihat secara teliti wajah Yola, ia tampak terkejut. Begitu juga dengan Yola yang sama-sama terkejut melihat Edrea.
"Tunggu sebentar. Sepertinya kita pernah bertemu," ucap Edrea dengan memutar memory kejadian yang ada di otaknya itu.
"Sepertinya memang kita pernah bertemu di Skotlandia saat aku tidak sengaja menabrakmu di supermarket disana waktu itu," ujar Yola yang membuat Edrea kini menjentikkan jarinya. Ia juga mengingat akan hal tersebut.
"Ya benar sekali. Kita pernah gak sengaja bertemu. Ya ampun aku tidak menyangka kita akan di pertemukan lagi disini dengan status kamu yang menjadi calon Kakak iparku," ucap Edrea dengan senyumannya yang dibalas senyuman pula oleh Yola.
Sedangkan Adam yang sedari tadi menyimak obrolan dari dua perempuan itu, ia kini mengerutkan keningnya sebelum dirinya angkat suara.
"Sebentar, jadi kalian pernah bertemu saat di supermarket di Skotlandia? Dimana saat itu juga kamu tengah menelepon Abang, Rea?" Edrea menetap kearah Adam kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Benar sekali."
"Berarti tebakanku waktu itu benar dong. Kalau orang yang bertabrakan denganmu itu adalah Yola?"
"Jadi Kak Yola ini perempuan yang Abang cari waktu itu?" Adam menganggukkan kepalanya.
"Ya ampun jika aku tau dan sudah lihat wajah calon kakak ipar ini jauh-jauh hari saat kita berdua tidak sengaja bertemu itu, aku waktu itu tidak akan membiarkan Kakak ipar pergi. Mana aku sempat lari-larian mengejar Kakak ipar lagi," ucap Edrea dengan cebikkan di bibirnya.
__ADS_1
Dan ucapan dari Edrea tadi membuat Yola mengerutkan keningnya.
"Jadi waktu itu kamu mengejarku?" Edrea menganggukkan kepalanya.
"Ya, dan itu di suruh sama bang Adam."
"Ehhhh maaf ya, aku tidak tau kalau kamu sempat mengejarku waktu itu," ucap Yola yang benar-benar tak enak hati.
"Sudah tidak apa-apa Kakak ipar. Tapi aku penasaran kenapa Kakak ipar main kabur-kaburan dari bang Adam?" tanya Edrea kepo.
"Kamu ini kenapa sangat kepo sekali. Biarlah itu menjadi rahasia mereka. Dan sudah cukup kamu berkenalan dengannya karena masih banyak adik bang Adam yang belum diperkenalkan secara langsung dengan Kakak ipar," timpal Zico yang langsung mendapat tatapan sinis dari Edrea. Tapi tak urung ia kini menyingkir dari hadapan Adam dan Yola.
Dan hal tersebut membuat Adam hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebelum dirinya melanjutkan untuk memperkenalkan adik-adiknya kepada Yola.
"Sayang, kenalin laki-laki yang ada disebelah Edrea yang sekarang tengah menjaga dua baby didalam stroller itu namanya Leon, suami Edrea. Dan laki-laki disebelahnya itu adalah Azlan kembaran Edrea dan Erland. Disampingnya, si bumil itu istri Azlan, Zea namanya. Dan satu orang yang berdiri dihadapan kita berdua saat ini adalah Zico anak ketiga Mommy sama Daddy," ucap Adam memperkenalkan satu persatu adik-adik itu. Dimana Yola kini tersenyum kearah mereka dengan tangan yang terulur untuk menyalami calon adik iparnya itu.
"Salam kenal," ucap Yola setelah dirinya selesai menjabat tangan semua adik Adam itu tak terkecuali dengan Vivian juga Erland.
Sedangkan Yola yang di terima dengan hangat oleh keluarga calon suaminya itu, ia kini tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih," ucap Yola. Dimana ucapannya itu dibalas dengan pelukan yang di lakukan oleh Vivian, Edrea juga Zea untuk sesaat sebelum pelukan itu mereka lepaskan.
"Udah kan kenalannya sama calon istri Abang? Kalau sudah Abang mau bawa dia buat menyapa dan memperkenalkan dia dengan anggota keluarga kita yang lain," sela Adam yang diangguki oleh semua adiknya itu.
"Ayo sayang. Kita ke keluargaku yang lain," ajak Adam dengan melingkarkan tangannya di pinggang Yola yang membuat adik-adiknya langsung bersiul.
Namun hal itu hanya di hiraukan oleh Adam sedangkan Yola, gadis itu kini menundukkan kepalanya menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
Adam yang tau jika kekasihnya itu tengah malu-malu kucing pun ia mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Yola, kemudian ia mulai membisikkan sesuatu kepada perempuan itu.
"Jangan hiraukan mereka. Jadi lebih baik angkat kepalamu sekarang juga karena calon nyonya Adam tidak boleh berjalan dengan menundukkan kepalanya," bisik Adam yang justru semakin membuat Yola malu.
__ADS_1
Dan saking malunya Yola, ia mencubit gemas perut Adam saat mereka mulai menjauh dari para adik Adam itu.
Dan cubitan itu membuat Adam merintih kesakitan.
"Sayang apa yang kamu lakukan? Cubitan kamu sakit sekali tau," protes Adam.
"Rasain, siapa suruh kamu bikin aku tambah malu." Adam mengerutkan keningnya.
"Lho aku bikin kamu tambah malu bagaimana?" tanya Adam tak paham.
"Ck, dengan kamu mengatakan kalau aku ini calon nyonya Adam. Hal itu membuatku tambah malu sekarang," jawab Yola.
"Ya ampun sayang yang aku ucapkan itu kan memang kenyataannya jika kamu ini adalah calon nyonya Adam," ujar Adam.
"Ishhhh hentikan. Jangan mengatakannya lagi. Wajahku rasanya semakin panas. Pasti sekarang wajahku ini sudah memerah semua." Adam yang gemas akan kelakuan kekasihnya itu pun ia membungkukkan tubuhnya untuk melihat wajah Yola yang memang terlihat memerah itu. Dan hal tersebut membuat Adam tersenyum sebelum tangannya kini bergerak untuk mencubit pelan hidung Yola.
"Wajah kamu yang memerah itu benar-benar membuatku gemas dan bikin aku ingin memakanmu saat ini juga," ucap Adam.
"Hentikan. Jangan berbicara apapun kepadaku," tutur Yola.
"Tapi kamu memang---" belum sempat Adam melanjutkan perkataannya, tangan Yola lebih dulu bergerak dan mencubit kembali perut Adam itu. Yang lagi-lagi membuat Adam meringis kesakitan.
"Ampun sayang ampun. Gak lagi-lagi goda kamu," ucap Adam dengan berusaha untuk melepaskan cubitan dari Yola itu.
"Beneran gak mau goda aku lagi?" tanya Yola dengan menatap kearah Adam.
"Iya, aku janji." Yola kini melepaskan cubitannya tadi.
"Jika kamu masih menggodaku lagi, aku tidak akan segan-segan memberikanmu cubitan seperti tadi. Awas saja," ancam Yola.
Adam yang tengah mengelus perutnya yang nampaknya memerah itu pun ia hanya bisa menganggukkan kepalanya. Setuju saja dengan ucapan dari Yola tadi daripada dirinya nanti akan mendapat amukan yang lebih parah lagi dari kekasihnya itu.
__ADS_1