Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 129


__ADS_3

Yola terus mencari dress yang sesuai dengan tipenya itu.


"Ya ampun. Ini semua sih tipe aku banget. Jadi bingung aku harus memilih yang mana," gumam Yola bingung.


Dan tanpa disadari oleh Yola jika keterbingungannya tadi tak lepas dari perhatian Adam dan Vivian.


"Sepertinya, dia sekarang tengah membutuhkan bantuanku. Aku samperin calon Kakak ipar dulu bang," ujar Vivian sembari berdiri dari duduknya itu.


"Ya, bantu dia. Kalau bisa pilihkan dress yang tidak memperlihatkan bahu dia dan jangan pilihkan yang memperlihatkan belahan dada dia," pesan Adam kepada Adiknya itu yang mendapat respon acungan jari jempol oleh Vivian. Sebelum akhirnya perempuan itu kini berjalan mendekati Yola yang masih sibuk memilih banyaknya dress itu.


"Mau aku bantu," ucap Vivian kala dirinya telah sampai disamping Yola.


Dan ucapan dari Vivian itu membuat Yola kini menolehkan kepalanya kearah Vivian dengan kerutan di keningnya.


"Tunggu dulu. Sepertinya aku pernah melihatmu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Vivian tampak tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


"Benar, kita pernah bertemu di rumah keluarga Abhivandya," ucap Vivian.


Yola tampak mengingat-ingat sebelum matanya kini terbuka lebar saat dirinya baru ingat jika orang yang ada disampingnya itu adalah salah satu adik dari Adam.


"Ya Tuhan. Kamu adik pertama Kak Adam kan?"


Vivian menjentikkan jarinya sembari berkata, "Tepat sekali."


"Astaga, maafkan aku karena tidak mengingatmu," ujar Yola yang benar-benar tak enak dengan Vivian.


"Ahhhh tidak apa-apa. Santai saja. Toh kita juga baru bertemu satu kali, jadi maklum kalau kamu tidak mengingat wajahku ini," ujar Vivian yang membuat Yola hanya bisa menampilkan cengiran di bibirnya.


"Dan daripada kita membahas hal yang tidak terlalu penting ini lebih baik kita cari dress buat kamu saja. Aku akan membantumu," sambung Vivian.


"Apa aku tidak merepotkanmu? Dan kenapa kamu bisa ada disini? Jangan bilang kamu disuruh sama Kak Adam kesini hanya untuk membantuku? Astaga, Kak Adam benar-benar ya," ucap Yola yang bersiap untuk memarahi Adam jika memang benar Vivian datang ke butik ini hanya disuruh untuk menemani dirinya memilih baju untuknya.


"Tidak. Tidak. Kamu tenang saja. Bang Adam gak nyuruh aku untuk datang kesini kok. Karena kebetulan butik ini adalah butik milikku, jadi sudah seharusnya aku membantu pelangganku," ujar Vivian.


"Hah? Ini butik milikmu?" Vivian menganggukkan kepalanya.


"Ya Tuhan. Aku tidak menyangka bisa masuk kedalam butik milikmu ini. Oh ya, siapa yang mendesain semua pakaian yang ada di butik ini? Apa desainer itu kamu sendiri?" tanya Yola yang benar-benar penasaran.


"Iya. Semua pakaian yang ada didalam butik ini hasil dari coretanku alias desainku," jawab Vivian yang membuat Yola tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa bertepuk tangan, memberikan apresiasi untuk calon adik iparnya itu. Bahkan dengan sesekali ia mengacungkan jari jempolnya.


Hingga tingkah dari Yola itu membuat Vivian tertawa.


"Ya ampun, aku gak nyangka banget kalau mau punya Kakak ipar selucu Yola ini. Duhhhh Kak Adam bisa-bisanya nemu orang seperti Yola ini," batin Vivian yang merasa gemas dengan calon kakak iparnya itu.


"Sudah-sudah jangan bertepuk tangan seperti ini terus. Dan ayo kamu ikut aku, aku punya satu dress yang sepertinya akan cocok denganmu," ujar Vivian dengan menarik tangan Yola menuju ke lantai dua di butik tersebut dimana di lantai itu terdapat ruang kerja Vivian berada.


Adam yang melihat kepergian dua perempuan yang sedari tadi tak lepas dari pandangannya itu pun ia menghela nafas. Ingin sekali dia mengikuti kepergian mereka berdua, tapi rasa malasnya lebih dominan. Jadi ia memutuskan untuk tetap duduk di ruang tunggu saja dengan bermain game di ponselnya.


Sedangkan Yola dan Vivian, mereka berdua kini telah berada di lantai atas butik tersebut.


"Ini ruang kerjaku. Kita masuk kedalam karena dress yang akan aku perlihatkan ke kamu ada didalam ruangan ini," ujar Vivian dan tanpa menunggu persetujuan dari Yola terlebih dahulu, ia membuka pintu ruang kerjanya itu. Dan lagi-lagi ia menarik pelan tangan Yola, mengajak perempuan itu untuk masuk kedalam.

__ADS_1


Dimana didalam ruang kerja Vivian itu masih terdapat beberapa dress yang terpasang di manekin. Dan lagi-lagi hal itu membuat Yola kini berdecak kagum.


Tapi dari beberapa dress dan gaun yang terpampang jelas di hadapannya itu, ada satu dress yang benar-benar langsung mengalihkan perhatiannya. Satu dress yang cukup simpel namun elegan.


"Nah, dress ini yang akan aku tunjukkan ke kamu," ujar Vivian sembari menunjuk dress yang sama dengan dress yang membuat Yola jatuh hati saat pertama kali melihat dress tersebut.


"Ini dress untukku?" tanya Yola yang diangguki oleh Vivian.


"Ya, apa kamu suka?"


"Semua perempuan yang melihat dress ini aku rasa mereka akan suka begitupun denganku." Vivian yang mendengar ucapan dari Yola itu, ia kini tersenyum bahagia saat dress yang memang ia rancang khusus untuk Yola itu ternyata sangat disukai oleh calon Kakak iparnya itu.


"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Apa kamu mau mencobanya?" tanya Vivian yang diangguki oleh Yola.


Vivian yang melihat anggukan dari Yola pun ia segera mengambil dress tersebut dan segera memberikannya kepada Yola.


"Cobalah, kamu bisa mencoba dress ini di kamar itu." Vivian menujuk satu ruangan didalam ruang kerjanya itu. Dimana arah tujuknya itu langsung diikuti oleh Yola.


"Dan kalau kamu sudah selesai memakainya, jangan lupa nanti perlihatkan ke bang Adam" ujar Vivian yang lagi-lagi mendapat respon anggukkan saja oleh Yola. Sebelum calon Kakak ipar Vivian itu melangkahkan kakinya menuju ke kamar Vivian.


Dimana saat Yola sudah masuk kedalam kamar itu, Vivian memilih menunggu di kursi kerjanya itu dengan memeriksa perkejaannya.


Tak berselang lama, Yola kini telah keluar dari dalam kamar tersebut dengan balutan dress yang dipilihkan oleh Vivian tadi.


Dan suara dari pintu yang terbuka itu membuat Vivian yang sedari tadi fokus dengan kertas-kertas di hadapannya itu, ia menolehkan kepalanya kearah kamarnya berada. Dimana saat dirinya menolehkan kepalanya, sudah ada Yola yang tengah berjalan kearahnya yang otomatis membuat Vivian kini tersenyum kala melihat Yola memakai baju hasil rancangannya itu. Dan ia tak menyangka jika dress itu benar-benar sangat cocok dan sangat pas di tubuh Yola. Padahal ia pikir dress itu akan kebesaran atau malah kekecilan di tubuh Yola. Tapi ternyata semuanya itu salah, dress itu benar-benar sangat pas di tubuh mungil Yola itu.


"Bagaimana? Apa dress ini cocok untukku?" tanya Yola kala dirinya sudah berdiri didepan Vivian. Dan pertanyaannya itu dijawab dengan acungan jempol oleh Vivian.


"Kalau begitu tunggu apa lagi. Kita perlihatkan dress ini ke bang Adam." Yola menggelengkan kepalanya untuk menolak ajakan dari Vivian itu.


"Tidak. Aku tidak mau memperlihatkan dress ini kepada-nya. Karena aku ingin melihat respon darinya saat aku besok memakainya," ujar Yola.


"Baiklah. Kalau begitu. Kamu tinggal masukkan dress itu ke dalam paper bag ini nanti. Dan jangan sampai ketahuan oleh bang Adam. Dan jika besok kamu sudah memakainya, jangan lupa kirim fotonya ke aku ya. Untuk nomor teleponku sudah ada di kartu nama yang sudah aku taruh didalam paper bag ini," pinta Vivian dengan memberikan satu paper bag tadi kearah Yola yang langsung diterima oleh perempuan itu.


"Beres kalau itu mah. Aku akan tujukan ke kamu penampilanku besok menggunakan dress ini." Vivian menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah aku lepas dress ini dulu," ucap Yola dan setelahnya ia bergegas masuk kembali kedalam kamar Vivian.


Dan tak berselang lama, Yola kembali lagi dengan pakaian yang ia kenakan tadi.


"Aku sudah selesai."


"Ya sudah kalau gitu kita kebawah saja. Aku yakin bang Adam sekarang pasti sudah sangat jenuh menunggu kita," ucap Vivian sembari berdiri dari posisi duduknya itu.


"Ya udah yuk," balas Yola dan setelahnya kedua perempuan itu berjalan beriringan menuju ke lantai satu butik tersebut.


Dan disela perjalanan mereka, Vivian kembali bersuara.


"Untuk dress itu, gratis untukmu sebagai pelanggan pertamaku." Yola yang mendengar perkataan dari Vivian, ia melebarkan matanya, tak percaya jika ia akan mendapatkan dress sebagus tadi secara cuma-cuma saja.


"Kamu yakin?" tanya Yola.

__ADS_1


"Tentu saja," jawab Vivian dengan senyumannya.


"Ya ampun terimakasih banyak," ucap Yola yang diangguki oleh Vivian.


Dan setelah percakapan yang terjadi itu, mereka berdua kembali melangkahkan kakinya menuju kearah Adam yang masih sibuk dengan game di ponselnya. Hingga kehadiran kedua perempuan itu membuat Adam langsung menghentikan aktivitasnya tadi.


Tapi saat dirinya menatap Yola, ia mengerutkan keningnya.


"Kamu belum menemukan dress atau gaun untukmu?" tanya Adam penasaran.


"Sudah. Aku sudah menemukan dress sesuai dengan keinginanku," jawab Yola sembari menolehkan kepalanya kearah Vivian dengan senyum di bibirnya. Dimana senyum itu dibalas senyuman pula oleh Vivian.


"Sudah menemukannya?" Yola menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu sudah mencobanya?" Lagi-lagi pertanyaan dari Adam itu, diangguki oleh Yola.


"Lahhhhh sudah? Kamu sudah mencobanya tapi tidak menunjukkan penampilanmu saat mengenakan dress itu di hadapanku. Kamu juga tidak membutuhkan penilaianku tentang dress yang kamu pilih itu bagus atau tidak untukmu," ucap Adam yang kini mendapat gelengan oleh Yola.


"Tenang saja, tanpa aku meminta penilaian darimu. Aku yakin kamu akan suka. Dan kamu bisa melihat penampilanku menggunakan dress itu besok saat kita akan menghadiri acara itu," ujar Yola.


"Tapi aku mau melihatnya sekarang. Siapa tau dress itu benar-benar tidak cocok untukmu kan kita bisa menukarnya dengan yang lebih bagus lagi. Pumpung masih ada disini," ucap Adam yang masih kekeuh ingin melihat dress yang dipilih oleh Yola itu. Ia takut kekasihnya itu memilih dress yang memperlihatkan salah satu aset berharga perempuan itu. Karena terus terang saja, Adam tidak akan rela jika aset berharga milik kekasihnya itu yang sebentar lagi akan menjadi miliknya juga, di perlihatkan untuk orang lain walaupun sedikit saja.


"Kamu tenang saja bang. Dress yang di pilih oleh Yola benar-benar sudah sangat cocok di badan dia. Dan dress-nya juga aman kok. Jadi Abang tenang saja. Dan ini tuxedo untuk Abang." Vivian menyerahkan satu paper bag ke hadapan Adam yang sempat dilirik oleh laki-laki itu sebelum tangan Adam terulur untuk mengambilnya.


"Tapi aku benar-benar penasaran dengan tampilan dress itu," kekeuh Adam yang ingin melihat penampilan Yola saat ini juga karena biar nanti malam ia bisa membayangkan anggunnya Yola diacara pertunangan mereka nanti.


"Maaf, tapi aku tidak mau menunjukkannya sekarang karena ini akan menjadi kejutan untukmu nanti," ujar Yola yang benar-benar tak mau menuruti permintaan Adam itu.


"Ck, ya sudah lah. Tapi jika dress itu tidak bagus. Kamu siap-siap saja akan aku bawa kesini lagi untuk mengganti dress pilihanmu itu. Aku tidak perduli jika butik ini besok malam tutup, akan aku dobrak buat bisa masuk dan mengganti dress kamu itu," ucap Adam yang membuat Yola dan juga Vivian memutar bola mata mereka dengan malas.


"Terserah kamu lah. Tapi aku yakin kamu pasti akan sangat suka dengan dress ini," ujar Yola.


"Kita lihat saja besok malam bagaimana," balas Adam yang membuat Yola menghela nafas kemudian ia menganggukkan kepalanya. Ia yakin jika dirinya membalas perkataan dari kekasihnya itu yang ada mereka akan terus bertengkar gara-gara dress ini nantinya. Dan untuk menghindari hal itu terjadi, Yola memilih untuk meng-iya-kan ucapan dari Adam itu daripada urusannya nanti akan semakin panjang saja.


Adam yang melihat anggukan dari kekasihnya itu, tatapan matanya kini beralih ke arah Vivian.


"Berapa ini semua Vi?" tanya Adam. Walaupun mereka bersaudara, tidak berarti Adam dengan seenaknya meminta gratisan kepada adiknya itu. Apalagi ini merupakan bisnis milik Vivian yang pastinya akan rugi jika ia meminta gratisan kepada adiknya itu.


"Tidak usah bang. Dress dan tuxedo itu gratis untuk kalian berdua," ucap Vivian.


Dan saat Adam ingin protes kepadanya, Vivian kembali angkat suara.


"Eitssss dilarang protes. Vivi tidak akan rugi hanya karena memberikan satu dress dan satu tuxedo secara gratis untuk kalian," ujar Vivian yang seakan-akan tau yang ada dipikiran Adam itu.


Karena ia sering mendengar perkataan yang seakan-akan dia rugi besar jika dirinya memberikan satu atau dua pakaian hasil rancangannya yang tentunya ia dengar dari Mommy Della. Jadi untuk mengantisipasi Adam berkata seperti yang dikatakan oleh Mommy Della, Vivian lebih dulu mengatakan hal seperti tadi.


"Kamu yakin memberikan dua pakaian ini secara gratis?" tanya Adam untuk memastikan dan pertanyaan itu dijawab dengan anggukan kepala oleh Vivian. Dimana hal tersebut membuat Adam kini menghela nafasnya.


"Ya sudah kalau begitu. Terimakasih ya Vi. Dan berhubung Abang dan Yola sudah mendapatkan pakaian untuk acara besok, kita berdua pamit dulu," ucap Adam sembari berdiri dari duduknya.


"Baiklah. Kalian hati-hati dijalan. Dan semoga acaranya untuk besok malam berjalan dengan lancar," ucap Vivian yang diangguki oleh keduanya. Walaupun Yola sempat curiga, namun Yola langsung menyangkal kecurigaannya itu.

__ADS_1


Dan setelah berpamitan kepada Vivian, Adam dan Yola kini bergegas menuju ke mobil milik Adam, meninggalkan Vivian yang mengantar kepergian mereka berdua dari depan butik tersebut hingga mobil yang ditumpangi oleh Adam dan Yola pergi menjauh dari depan butik itu.


__ADS_2