Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 95


__ADS_3

"Tutup mulutmu itu sialan!" teriak Kenza dengan memberikan jambakan pada rambut Heila hingga membuat kepala tangan kanannya itu mendongak.


"Saya tidak pernah egois seperti yang kamu ucapkan tadi. Karena apa yang saya perintahkan itu memang tugas kalian. Dan harusnya kamu yang berkaca diri, Heila. Kamu selama kerja dengan saya tidak pernah membuat saya puas akan pekejaanmu. Saya tau kamu memang di masukkan ke perusahaan atas perintah Papa tapi tetap saja setelah kamu masuk dan bergabung dengan perusahaan saya, harusnya kamu menuruti semua perintah saya tapi nyatanya kamu sering sekali membatah dan menolak perintah saya. Dan apakah itu sopan bagi seorang karyawan rendahan seperti kamu ini hah? Kamu harusnya tau diri Heila, jika bukan Papa dan saya yang bayar kamu, tidak mungkin hidup kamu akan berkecukupan seperti ini. Tapi memang dasarnya sifat orang miskin, setelah derajatnya sedikit naik saja sudah tidak tau diri. Dan itu sangat menjijikkan. Dasar sialan, orang miskin tak tau diri." Kenza melepaskan jambakannya tadi dengan memberikan dorongan kencang hingga membuat tubuh Heila jatuh dan wajahnya menghantam cukup keras lantai keramik tersebut.


Dan karena hal itu membuat hidungnya mengeluarkan darah segar.


Namun sayang, hal tersebut tak membuat Kenza menghentikan aksinya untuk meluapkan semua amarahnya kepada Heila. Dan kini satu tendangan di tubuh Heila, Kenza berikan yang membuat Heila yang tadi sedikit bangkit dari posisi tersungkurnya, ia lagi-lagi harus tersungkur kembali.


"Dan daripada kamu mendapatkan luka yang lebih dari ini, lebih baik kamu segara hubungi Papa dan lakukan apa yang saya katakan tadi," ucap Kenza dengan bersedekap dada menatap kearah Heila yang terduduk di lantai sembari mengusap darah yang semakin deras keluar dari hidungnya itu sebelum perempuan itu menengadahkan kepalanya kearah Kenza dengan tatapan penuh benci yang ia pancarkan.


"Jangan menatap saya seperti itu. Karena saya membenci tatapanmu itu. Dan daripada saya cungkil mata kamu itu lebih baik kamu segara menghubungi Papa!" perintah Kenza kembali.


Heila kini bangkit dari posisi duduknya itu dengan senyum miring di bibirnya.


"Gak akan!" ucap Heila yang membuat Kenza semakin murka dan hanya seperkian detik saja tangan Kenza kini sudah mencekik leher Heila dan memepetkan tubuh perempuan itu ke pintu kamar Heila yang tadi sempat tertutup itu.


Heila yang mendapat cekikan itu pun ia berusaha untuk melepaskan cekikan itu namun sayangnya ia tak bisa, Kenza jika sudah murka maka tenaga wanita itu sebanding dengan tenaga seorang pria.


"Tidak. Aku tidak boleh diam saja seperti ini terus jika aku masih mau hidup di dunia ini. Aku harus melawan dia," batin Heila yang sudah tidak tahan mendapat kekerasan dari atasnya itu.


Hingga kini tatapan matanya tertuju kearah perut Kenza sebelum ia memberikan tendangan disana yang membuat cekikan di lehernya tadi terlepas. Heila yang tak mau membuang waktunya agar tak terkana amukan dari Kenza lagi, dengan gerakan cepat ia membuka pintu kamarnya dan ia langsung menguncinya dari dalam.


Sedangkan Kenza, ia mendesis merasakan sakit di perutnya itu.

__ADS_1


"Sialan. Saya akan membalas apa yang telah kamu lakukan kepada saya, Heila sialan!" teriak Kenza.


Heila yang mendengar teriakkan itu yang berarti jika nyawanya saat ini terancam pun ia mulai panik.


"Aku tidak mau mati konyol di tangan perempuan gila itu. Ya Tuhan, tapi aku tidak tau harus keluar dari apartemen ini dan meminta bantuan ke orang lain dengan cara apa? Apartemen ini berada di lantai 10, tidak mungkin juga aku lompat dari sini ke bawah. Tapi jika aku tidak segara keluar, cepat atau lambat Kenza akan masuk kedalam kamar ini dan menghabisiku karena dia memiliki kunci cadangannya," ucap Heila.


"Ayolah Heila berpikirlah," sambungnya dengan memukul-mukul kecil kepalanya yang sudah terasa pusing karena sempat terbentur lantai tadi. Hingga ia mendapatkan sebuah ide yang membuat Heila kini berlari menuju ke arah nakas dimana ponselnya berada.


Dan saat dirinya baru memegang ponselnya itu, suara gedoran kencang di pintu kamarnya itu terdengar.


"Buka sialan!" teriak Kenza dengan terus menggedor pintu itu dengan sesekali ia menancapkan pisau yang sudah berada di tangannya itu di pintu kamar tersebut.


"Ya Tuhan, tolong lindungi hamba dari satu makhluk mengerikanmu itu," ucap Heila dengan tangan yang bergerak cepat mencari nomor random seseorang yang bisa ia mintai bantuan.


"Tolong, angkat!" gumam Heila dengan cemas karena teleponnya yang pertama itu tak dijawab oleh seseorang yang ia tak tau siapa yang tengah ia hubungi saat ini karena ia tak memperdulikan namanya yang terpenting ia bisa menghubunginya.


Gedoran, teriakan, suara kenop pintu yang mencoba untuk di buka serta decitan sebuah pisau yang menggores pintu kamar itu semakin lama semakin menjadi. Dan hal tersebut membuat suasana di apartemen itu tampak horor. Hingga beberapa saat semua suara itu tiba-tiba hilang begitu saja. Dan suasana yang tadi sempat mencekam menjadi sangat sunyi.


"Apakah dia sudah pergi?" gumam Heila.


"Tidak. Aku yakin dia tidak akan pergi sebelum dia menghabisiku," sambung Heila dengan terus berusaha menghubungi seseorang.


Dan benar kata Heila tadi jika beberapa menit setelahnya, suara kunci pintu yang akan sedang dibuka membuat Heila semakin panik dan dengan cepat ia berlari menuju ke arah kamar mandinya itu.

__ADS_1


Dan bertepatan dengan masuknya ia kedalam kamar mandi serta mengunci pintu kamar mandi itu, Kenza masuk kedalam kamarnya dan saat itu pula sambungan telepon itu terhubung.


📞 : "Halo," sapa seseorang di sebrang sana.


"Tolong. Nyawa saya sedang dalam bahaya," ucap Heila dengan suara yang sebisa mungkin ia buat lirih agar Kenza yang tengah mencarinya tak mengetahui keberadaannya itu.


"Heila!" teriakan itu membuat Heila memejamkan matanya.


📞 : "Hah? Apa yang sedang kamu katakan? Saya tidak mendengarnya."


Brakkk brakkk brakkk!


"Heila! kamu pasti sedang didalam sini kan? Keluar sekarang sebelum saya mendobrak pintu ini!"


📞 : "Heila, apa sedang terjadi sebenarnya?"


"Tolong saya, segera. Nyawa saya sedang terancam. Saya mohon karena saya masih mau hidup di dunia ini," ucap Heila dengan suara yang sedikit ia keraskan yang syukurnya ucapannya kali ini bisa didengar dengan baik oleh seseorang di sebrang sana.


📞 : "Astaga. Baiklah saya akan ke tempat kamu sekarang. Dan apapun yang terjadi, kamu tetaplah bertahan. Lawan dia dengan semampu kamu. Dan jangan matikan sambungan telepon ini," ucap orang tersebut yang terlihat panik.


Heila yang mendapat perintah itupun ia menganggukkan kepalanya walaupun tak bisa di lihat oleh orang tersebut dengan seluruh badannya yang bergetar ketakutan.


Apalagi mendengar gedoran dan teriakan Kenza yang semakin kencang itu.

__ADS_1


"Heila sialan! Jangan harap kamu bisa bebas dari tangan saya jika saya nanti bisa menangkapmu! Karena setelah saya menangkapmu, saya akan memastikan jika nyawa kamu melayang di tanganku!" teriak Kenza yang membuat Heila menutup keduanya telinganya dengan menggelengkan kepalanya.


__ADS_2