
Vivian turun dari lantai dua rumah tersebut dengan wajah lesunya. Dan sesampainya dia di lantai satu, ia langsung dihadang oleh Mommy Della, Daddy Aiden serta Erland.
"Gimana? Abang kamu sudah mau makan?" tanya Mommy Della yang dijawab gelengan kepala dari Vivian.
"Makanan yang tadi siang sengaja Vivian taruh di depan pintunya, sama sekali tidak dia sentuh," ucap Vivian sembari memperlihatkan sepiring makanan yang tadi siang ia berikan ke Adam masih utuh tak berkurang sedikitpun.
"Ya Tuhan. Ini sudah terhitung satu hari dia tidak makan. Bagaimana kalau nanti dia sakit coba?" ujar Mommy Della benar-benar khawatir dengan kondisi putranya itu.
"Biar Mommy yang coba untuk bujuk dia makan," sambungnya yang kini mulai melangkahkan kakinya naik ke anak tangga menuju ke kamar Adam.
Dan hal tersebut diikuti oleh tiga orang lainnya.
Saat Mommy Della sampai di depan pintu kamar putra pertamanya itu, ia menghela nafas panjang kala melihat makan yang diantar Vivian masih terletak diatas meja kecil yang sengaja Vivian taruh di depan pintu tersebut.
Sebelum tangan Mommy Della kini bergerak, mengetuk pintu itu.
Tok tok tok!
"Adam, ini Mommy nak. Mommy boleh masuk kedalam kamar Adam?!" teriak Mommy Della.
"Maaf Mom. Adam saat ini lagi kerja. Besok saja ya!" suara Adam yang memberi jawaban itu membuat mereka berempat saling pandang. Sebelum Mommy Della kembali bersuara.
"Kamu yakin sedang bekerja sayang?"
__ADS_1
"Iya Mom."
"Ya sudah kalau kamu lagi bekerja dan Mommy gak boleh masuk. Tapi Mommy mohon kamu makan dulu ya. Kasihan perut kamu kalau tidak terisi makanan sedikitpun," ujar Mommy Della benar-benar khawatir.
"Adam nanti pasti makan kok, jadi Mommy tenang saja," jawab Adam.
"Baiklah. Kalau begitu. Makanan kamu sudah ada di depan pintu ya. Kamu tinggal ambil saja oke."
"Iya Mom. Terimakasih," ujar Adam.
"Sama-sama sayang!" ucap Mommy Della dan setelahnya tak ada balasan suara lagi dari Adam yang membuat keempat orang tersebut lagi-lagi hanya bisa menghela nafas mereka.
"Apa kalian percaya kalau Adam tengah bekerja sekarang?" tanya Mommy Della curiga.
"Tapi Mommy juga harus tetap memastikan jika dia makan Erland. Mommy akan kembali satu jam lagi untuk melihat apa makanan itu diambil oleh Adam atau tidak. Jika tidak entah dengan cara apa kita harus bisa membobol pintu kamar dia ini," ujar Mommy Della yang diangguki setuju oleh ketiga orang tersebut sebelum mereka kini melangkahkan kaki mereka menuju ke ruang keluarga untuk memantau perkembangan orang-orang yang mereka kerahkan untuk mencari Yola itu.
Sedangkan Adam yang sebenarnya mendengar percakapan dari keluarganya itu, dengan langkah sempoyongan bahkan dengan tampilan yang begitu acak-acakan ia menuju kearah pintu kamarnya, membuka kunci lalu segara membuka pintu tersebut.
Dan saat pintu itu terbuka lebar hal pertama yang ia lihat adalah makanan favoritnya. Tangannya kini terulur untuk mengambil makanan tersebut sebelum ia menutup serta mengunci kembali pintu tersebut.
Ia terus menatap steak tersebut sampai ia sudah terduduk di atas ranjangnya. Dan entah kenapa hanya memandangi steak itu membuat air matanya kembali menetes dengan pikirannya yang terus-menerus tertuju kearah Yola.
"Ya Tuhan!" erang Adam frustasi. Ia tak ingin menjadi lemah seperti ini. Ia juga tak ingin kembali ke masa dimana dia down karena seorang perempuan. Namun sayang hatinya tak bisa berbohong ia akan selalu kalah dengan rasa cinta, sayang dan penyesalan kepada Yola yang membuat dirinya harus merasakan rasa sakit yang teramat dalam.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara Kenza. Jika dia tidak datang kembali. Yola tidak mungkin akan pergi menjauh dariku dan hubunganku dengan Yola akan baik-baik saja. Aku tidak bisa terus berdiam diri seperti ini. Jika aku tidak bisa bertemu dengan Yola untuk saat ini maka waktunya aku untuk memberikan Kenza pelajaran," ucap Adam dengan amarahnya bahkan saking marahnya, genggaman di tangannya semakin menguat sebelum dirinya disadarkan dengan piring yang ada di genggaman itu lepas dari tangannya dan berakhir jatuh dan pecah.
Adam hanya menatap sesaat pecahan piring tersebut sebelum tangannya kini bergerak mengambil ponselnya dan segera mencari nomor seseorang yang akan membantunya.
"Halo," ucap Adam kala sambungan telepon yang ia lakukan tadi terhubung dengan seseorang di sebrang sana.
📞 : "Halo tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya orang tersebut.
"Uncle Husein, saya butuh bantuan Uncle untuk menjadi pengacara saya," tutur Adam.
📞 : "Memangnya tuan ada kasus apa?" tanya pengacara Husein sempat terkejut kala mendengar anak kliennya yang terlihat begitu adem ayem sekarang justru tengah meminta bantuan darinya.
"Ada seseorang yang sudah mencemarkan nama baik saya, Uncle. Dan saya mau orang itu mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya," ujar Adam dengan keputusannya yang sudah bulat.
📞 : "Baiklah kalau begitu Uncle akan melakukan yang terbaik atas kasus kamu ini. Dan biar pelaku juga jera dan tidak mengulangi perbuatannya lagi. Dan apa kita besok langsung bertemu di kantor kepolisian saja? Atau Uncle perlu ke rumahmu?"
"Kita langsung bertemu di kantor polisi saja, Uncle. Dan saya ucapkan terimakasih karena Uncle sudah mau membantu saya untuk menyelesaikan permasalah saya ini. Dan maaf saya sempat menggangu waktu istirahat Uncle. Sekali lagi terimakasih dan Adam tutup dulu teleponnya."
📞 : "Baiklah. Besok jangan lupa bawa bukti juga sekalian," ujar pengacara Husein meningkatkan.
"Baik Uncle. Terimakasih dan selamat malam," ujar Adam menutup percakapan yang terjadi diantara dirinya dan pengacara keluarganya itu.
"Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku Kenza. Jika aku tadi siang mengucapkan untuk melaporkan aksimu yang berhasil membuat Yola pergi maka aku tidak akan merubah ucapanku itu dan aku pastikan kamu akan segara masuk kedalam penjara. Kamu pantas di penjara Kenza, kamu pantas mendapatkan balasan atas apa yang kamu lakukan," gumam Adam dengan menatap nyalang lurus kedepan.
__ADS_1
Ia berjanji kepada dirinya sendiri jika ia tak akan pernah memberikan maaf sekalipun kepada Kenza jika perempuan itu memang dinyatakan bersalah dan di penjara nantinya. Ia juga tak akan mencabut tuntutannya itu walaupun Kenza harus mencium kakinya sekalipun atau keluarga Kenza memohon-mohon kepadanya dengan tangis darah sekalipun untuk melepaskan Kenza, ia tak akan pernah memperdulikannya dan ia akan tetap melanjutkan proses hukum yang memang berlaku di negara kelahirannya itu.