Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 73


__ADS_3

Yola mengendarai mobilnya cukup kencang membelah jalanan yang lumayan ramai karena pada saat itu sudah waktunya makan siang. Namun Yola mana peduli dengan situasi ramai itu, seolah-olah kejadian tentang kecelakaan yang menimpa dirinya beberapa bulan yang lalu tidak membuat ia kapok. Hingga akhirnya mobil yang ia kendarai kini sampai disalah satu taman.


Setelah memarkirkan mobilnya, Yola segera keluar dari mobilnya dan segara masuk kedalam taman tersebut yang lumayan ramai dengan adanya beberapa anak kecil yang bermain bersama orangtuanya dan beberapa anak sekolah menengah yang tengah berpacaran atau hanya sekedar nongkrong saja.


Dengan mata yang memerah dengan air mata yang tak kunjung berhenti, Yola kini mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi yang menghadap ke sebuah kolam kecil dengan air mancur yang akan menyamarkan isak tangisnya nanti.


"Aku bukan pelakor hiks. Aku bukan pelakor," gumam Yola terus menerus saat sebutan yang diberikan oleh orang-orang di kampusnya tadi terngiang-ngiang di telinganya.


"Kenapa aku bisa terjerumus dalam pesona seorang laki-laki yang beristri? Kenapa Kak Adam tidak memberitahuku dari awal kalau dia sudah berkeluarga? Kenapa Mommy Della seolah-olah menutupi pernikahan Kak Adam dan perempuan tadi dengan mengatakan jika Kak Adam belum menikah? Kenapa semua orang seolah-olah tengah mempermainkanku? Kenapa? Hiks," ucap Yola. Ia benar-benar ingin sekali berteriak saat ini juga untuk melupakan rasa kesal, marah, dan emosi yang tengah ia rasakan saat ini. Namun ia tak bisa melakukannya, mengingat ia sekarang tengah berada di tempat umum bukan hutan.


Dan karena hal itu membuat dirinya harus memendam semua rasa di hatinya itu dengan sesekali memukul-mukul dadanya yang begitu sesak. Hingga dirinya terdiam kala suara Mommy Della saat pertama kali mereka bertemu kembali terngiang di pikirannya.


"Ya sudah kalau gitu Mommy akan beritahu kamu kalau sebenarnya Adam itu memang sudah memiliki tambatan hati. Bukan lagi seorang pacar melainkan seorang istri."


"Apa kata-kata Mommy waktu itu sebuah kode kalau memang Kak Adam sudah memiliki seorang istri? Astaga kenapa aku waktu itu tidak memikirkan perkataan Mommy Della itu. Ya Tuhan, aku harus apa sekarang. Aku sudah benar-benar jatuh cinta dengan dia, tapi setelah aku tau jika dia memiliki istri dan anak dengan bukti-bukti yang sudah aku lihat sendiri dengan mata kepalaku, aku tidak mungkin melanjutkan untuk mendekati dia. Aku tidak mau di cap sebagai seorang pelakor dan perempuan murahan oleh orang-orang disekitar ku. Tapi Tuhan jika memang aku harus menjauhi dia, seharusnya engkau tidak membuat hatiku sakit seperti ini. Hiks sakit banget rasanya. Baru kali ini aku merasakan rasa sakit yang luar biasa seperti ini. Aku merasa di permainkan, aku merasa dibohongi tapi aku tidak bisa menyalahkan siapapun karena aku adalah orang yang memulai duluan tanpa mencari tahu secara dalam mengenai kehidupan laki-laki yang tengah aku incar itu. Aku hanya mencari tahu dari satu sumber saja bukan dari beberapa sumber. Aku benar-benar menyesal tuhan dan aku tidak bermaksud untuk menyakiti perempuan lain. Maafkan aku tuhan, maafkan aku yang sudah membuat kekacauan di hubungan rumah tangga orang," gumam Yola menyesali kenapa dia dulu tidak mencari tahu lebih dalam lagi mengenai kehidupan Adam. Dan karena kesalahannya itu ia menganggap dirinya menjadi benalu di hubungan orang lain.


Saat Yola tengah meratapi nasibnya di taman, disisi lain, tepatnya di rumah sakit, Adam tengah risau karena sedari tadi teleponnya tak mendapat jawaban dari seseorang yang tengah ia hubungi itu.


"Astaga Yola. Kamu kemana sih? Kenapa tidak mengangkat teleponku?" gumam Adam kala lagi-lagi sambung teleponnya itu tak mendapat jawaban dari Yola.

__ADS_1


"Tidak mungkin kan kalau dia ada kelas dadakan? Tidak mungkin juga dia memasak sampai berjam-jam lamanya. Tapi kenapa dia tidak segara muncul disini juga? Ini sudah 2 jam setelah terakhir kali dia mengirimku pesan," ujar Adam kala ia melihat waktu yang berada di layar ponselnya itu tengah memperlihatkan angka 13:00.


Adam berdecak sebelum ia mulai menghubungi Yola kembali.


"Yola, angkat teleponku. Jangan membuatku khawatir seperti ini," gumam Adam penuh dengan rasa risau dan takut jika perempuan yang sudah berhasil merebut hatinya itu tengah mengalami sesuatu yang menyangkut nyawa perempuan tersebut.


Namun sayang teleponnya itu tak kunjung juga di angkat oleh Yola yang membuat dirinya kini berdecak sebal.


"Aku tidak bisa disini terus. Aku harus memastikan jika Yola baik-baik saja. Aku harus mencari dia di kampusnya sekarang juga," ucap Adam yang kini menanggalkan jas dokternya sebelum dirinya keluar dari ruang kerja milik Tristan tersebut.


Ia terus berjalan sampai ia tak menyadari jika Tristan sempat ia lewati.


"Iya itu Adam. Tapi mau kemana dia?" tanya Tristan. Namun sesaat setelahnya ia menggedikkan bahunya, "Haishhhhh sudahlah bukan urusanku juga," ucapnya sebelum ia kini melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerjanya. Daripada memikirkan Adam yang entah mau kemana lebih baik ia menyelesaikan pekerjaannya.


Saat Adam tengah menuju ke kampus Yola, disisi lain, Erland yang baru keluar dari kelasnya pun dengan berlari kecil ia menuju ke tempat dimana ia melihat Kenza tadi. Dan di tempat itu juga 5 mahasiswa yang ia suruh tadi berada.


Dengan nafas yang cukup tersengal-sengal Erland telah sampai di hadapan kelima mahasiswa tadi.


"Gimana hasilnya? Perempuan itu bertemu dengan siapa?" tanya Erland dengan mengatur nafasnya itu.

__ADS_1


"Perempuan itu bertemu dengan Yola," jawab salah satu dari kelimanya.


Dan ucapannya itu membuat Erland kini mengerutkan keningnya.


"Yola?" beo Erland yang diangguki oleh kelima laki-laki tersebut.


"Kenza menemui Yola setelah sekian lama dia menghilang? Untuk apa dia menemui Yola? Ada hubungan apa mereka berdua? Apa mereka berdua saling mengenal? Atau jangan-jangan ada sesuatu yang tengah mereka rencanakan secara Yola kan beberapa bulan ini tengah gencar-gencarnya mendekati Kak Adam," batin Erland dengan otaknya yang tak bisa ia ajak berpikir positif itu.


"Ahhhh tidak-tidak, tidak mungkin Yola bekerja sama dengan Kenza. Aku yakin itu. Tapi apa yang Kenza lakukan disini dan bertemu dengan Yola?" sambungnya masih dengan suara hati.


Kelima mahasiswa yang melihat keterbengongan dari Erland pun mereka tampak saling pandang satu sama lain sebelum salah satu dari mereka tangannya bergerak, melambai tepat di depan wajah Erland. Hingga membuat laki-laki itu tersadar dari lamunannya tadi.


Erland yang sudah tersadar pun ia berdehem sebelum dirinya kini mulai angkat suara kembali.


"Ehemmm apa kalian tau topik pembicaraan perempuan tadi dengan Yola?" tanya Erland.


"Tau. Dan aku punya rekamannya. Jadi Kak Erland lihat saja sendiri apa yang perempuan itu dan Yola lakukan serta bicarakan," ujar salah satu laki-laki yang memiliki perawakan tinggi itu sembari menyerahkan ponselnya di hadapan Erland.


Erland yang sudah benar-benar penasaran apa yang tengah terjadi dengan kedua perempuan itu pun tanpa basa-basi lagi ia mengambil ponsel tersebut yang di layarnya menampilkan sebuah video. Erland memincingkan alisnya saat melihat tubuh Kenza dan Yola saling berhadapan sebelum tangannya kini bergerak untuk memutar rekaman video tersebut.

__ADS_1


__ADS_2