
Suasana didalam ruang CCTV itu sepi saat pemutaran rekaman CCTV itu hingga beberapa menit telah berlalu akhirnya mereka bisa melihat jika didalam rekaman itu menunjukkan ada salah satu Suster yang diam-diam masuk kedalam dapur tersebut.
Mata Yola terbuka lebar saat ia melihat apa yang dilakukan oleh suster tersebut ke masakannya.
Tak hanya Yola saja yang terkejut akan aksi suster itu melainkan Adam pun sama. Tangan laki-laki itu terkepal erat.
"Berhenti," ucap Adam tiba-tiba yang membuat Yola menolehkan kepalanya. Sedangkan penjaga ruang CCTV itu langsung menghentikan rekaman tersebut.
Dan sebelum Yola bertanya, kenapa laki-laki yang berdiri di belakangnya itu menghentikan rekaman tersebut, Adam lebih dulu berucap, "Zoom wajah suster itu!"
Penjaga CCTV itu menganggukkan kepalanya lalu ia melakukan apa yang di perintahkan oleh Adam tadi. Dan saat penjaga CCTV itu telah memperbesar gambar yang tampil di layar monitor, saat itu juga Yola menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tak percaya dengan apa yang ia lihat itu. Sedangkan Adam, laki-laki memejamkan matanya sesaat.
Dan tanpa berpamitan kepada orang-orang yang ada di ruangan tersebut atau sekedar untuk mengucapakan terimakasih, Adam justru langsung keluar dari sana dengan amarah yang memuncak.
Yola yang mengetahui jika Adam sudah keluar pun ia kini berdiri dari duduknya dan sebelum dirinya mengikuti langkah Adam, ia menatap kedua penjaga CCTV itu.
"Pak, saya keluar dulu ya. Terimakasih karena saya dan Dokter Adam sudah di perbolehkan untuk melihat rekaman CCTV tadi. Kalau begitu saya permisi, mari Pak," pamit Yola yang diangguki oleh dua penjaga tadi. Dan setelahnya, Yola berlari keluar dari ruangan tersebut dan ia akan langsung menuju ke ruang kerja Adam karena ia yakin laki-laki itu tengah berada disana untuk memarahi Nana, mungkin.
"Dokter Adam!" panggil Yola nyaring saat laki-laki itu ingin masuk kedalam ruangannya. Namun sayangnya, panggilan itu hanya diabaikan oleh laki-laki tersebut. Dan kini laki-laki itu justru masuk kedalam ruangannya bahkan ia sampai membanting pintu ruangan tersebut hingga membuat Yola yang sedang menuju ke sana pun terkejut.
Tak hanya Yola saja yang terkejut, melainkan Nana yang ada di dalam ruangannya itu juga merasakannya.
Adam menatap tajam Nana sembari ia mendekati perempuan itu.
__ADS_1
Nana yang melihat Adam tengah mendekat kearahnya pun ia kini berdiri dari duduknya. Dan dengan senyuman termanisnya ia keluar dari balik meja kerjanya lalu ia juga berjalan mendekati Adam.
"Dokter Adam dari mana saja sih? Sebentar lagi kita harus memeriksa pasien lho," ucap Nana saat mereka sudah saling berhadapan. Jangan lupakan suara Nana kini dibuat menjadi sangat lembut. Hingga membuat Adam ingin muntah saat itu juga.
"Mulai sekarang saya sudah tidak membutuhkan bantuan anda lagi," ujar Adam yang membuat Nana mengerutkan keningnya.
"Maksud dokter Adam?" tanyanya tak paham.
"Anda saya pecat menjadi suster pribadi yang membantu saya menangani pasien, sekaligus saya pecat anda menjadi suster di rumah sakit ini. Surat pemecatan anda akan saya serahkan 15 menit setelah ini. Dan lebih baik anda sekarang mengemasi barang-barang anda. Karena jika surat pemecatan itu sudah keluar dan anda masih berada di ruangan saya maka saya tidak akan segan-segan memanggil satpam untuk menyeret anda keluar dari sini," ucap Adam dan setelah mengucapkan hal tersebut, ia memutar tubuhnya menuju ke arah meja kerjanya. Meninggalkan Nana yang tampak terbengong, memproses ucapan Adam tadi. Namun sesaat setelahnya, ia tersadar dengan mata yang terbuka lebar sebelum dirinya berjalan mendekati Adam.
"Sebentar. Apa saya tadi tidak salah dengar? Saya dipecat?" tanya Nana memastikan saat dirinya telah sampai di meja kerja Adam.
Adam menatap Nana dengan malas sebelum matanya kembali menatap kearah layar laptopnya itu.
"Semua ucapan saya tadi sudah cukup jelas. Jadi saya tidak perlu mengulanginya lagi," balas Adam.
Adam tak memperdulikan ucapan dari Nana itu, ia masih fokus membuat surat pemecatan Nana.
"Dokter Adam! Beri saya alasan yang jelas kenapa saya di pecat!" geram Nana. Ia benar-benar penasaran kenapa Adam bisa memecatnya secara tiba-tiba seperti ini.
Namun lagi-lagi ucapannya itu hanya dianggap angin lalu oleh Adam. Hingga membuat Nana terpancing emosi dan...
BRAKKK!
__ADS_1
Nana menggebrak meja kerja Adam hingga membuat laki-laki tersebut menatapnya dengan tajam.
"Katakan alasan kenapa saya di pecat," ucap Nana yang membuat Adam kini berdiri dari duduknya dengan tangan yang sibuk melipat kertas yang sudah selesai ia print tadi lalu ia masukkan kedalam sebuah amplop. Dan setelah kertas itu sudah masuk kedalam amplop, Adam membalas gebrakan Nana tadi.
"Saya tanya Anda. Apa anda tadi masuk kedalam dapur?" tanya Adam yang mati-matian menahan amarahnya.
Nana yang mendengar pertanyaan itu pun ia tampak tertegun. Kenapa Adam tiba-tiba tanya masalah itu?
"Jawab!" bentak Adam.
"Ti---tidak saya tidak masuk kedalam dapur tadi. Bukannya dapur itu tidak boleh dimasuki oleh sembarangan orang? Toh untuk apa juga saya masuk kedalam dapur itu?" ucap Nana mencoba untuk menyangkal.
"Anda bertanya untuk apa anda masuk kedalam dapur itu? Akan saya jawab, jika kamu masuk ke dapur untuk merusak cita rasa masakan Yola. Benar bukan?" Nana tampak terdiam setelah mendengar ucapan dari Adam tersebut.
"Dan jika anda tanya darimana saya tau semua itu. Apa anda lupa, jika di setiap sudut rumah sakit ini terdapat CCTV yang akan merekam apapun yang tertangkap oleh benda itu. Jadi semuanya sudah jelas dan saya tidak mau mendengar alasan klasik dari anda. Dan lebih baik anda segera membereskan barang-barang anda sebelum saya panggil satpam kesini dan menyeret anda untuk keluar," ujar Adam dengan suara yang sangat santai namun di dalam hatinya rasanya ia ingin memukul Nana. Tapi ia sadar jika Nana adalah seorang perempuan yang pantang untuk ia lukai.
Sedangkan Nana, perempuan itu menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah keluar.
"Dok, saya mohon jangan pecat saya. Saya tahu saya salah, saya akui jika memang saya yang melakukan hal yang seperti dokter tadi lihat di rekaman CCTV. Tapi saya ada alasan sendiri kenapa saya melakukan hal itu," ujar Nana.
"Sudah saya bilang bukan jika saya tidak butuh alasan dari Anda. Jadi cepat kemasi barang-barang anda!" Nana menggelengkan kepalanya lagi.
"Tidak Dok. Saya---"
__ADS_1
"Baiklah sepertinya anda mau di seret oleh satpam untuk langsung keluar dari sini," ujar Adam memutus ucapan dari Nana tadi. Dan saat tangannya ingin meraih sebuah telepon yang ada di meja Adam, suara Nana menghentikannya.
"Stop dok. Jangan panggil satpam. Saya akan keluar sendiri dari sini," ujar Nana dengan menundukkan kepalanya. Ia lebih baik keluar sendiri daripada di seret oleh satpam yang justru akan menimbulkan pertanyaan semua orang yang melihatnya nanti. Dan ia juga tidak mau gara-gara ia diseret oleh satpam, semua orang tau kecerobohan yang telah ia buat hingga membuat dirinya di pecat seperti ini. Ia menyesal? Tentu saja. Bahkan jika waktu bisa di putar kembali ia tak akan melakukan yang membuat dirinya puas untuk sementara namun mampu membuat dirinya menyesal seumur hidup.