
Saat Yola menunggu hari keberangkatannya menuju ke negara Skotlandia karena dirinya tidak akan mungkin kuat jika harus menghadapi cemoohan orang-orang di sekitarnya terutama di area kampus. Disisi lain 5 orang tengah gencar-gencarnya mencari keberadaan Yola. Terutama Kenza yang sudah menggila dengan mengerahkan semua anak buahnya yang ia punya di negara kelahirannya itu agar dirinya segara menemukan Yola.
Sedangkan Tristan dan Heila, setiap di dalam perjalanan mereka mencari Yola, tak henti-hentinya Heila mencoba menghubungi Adam sampai ratusan kali. Namun tak kunjung juga di jawab oleh laki-laki tersebut.
"Bagaimana? Belum juga di angkat oleh Adam?" tanya Tristan dengan melirik kearah Heila sesaat sebelum pandangannya kembali tertuju ke jalanan didepan.
"Belum Dok," jawab Heila penuh dengan kekhawatiran. Bukan karena khawatir dengan Kenza melainkan ia justru khawatir dengan Yola.
"Sial," umpat Tristan geram sembari memukul stir mobilnya.
"Jika Adam benar-benar tidak bisa di hubungi. Kamu cari nomor Yola. Kita coba hubungi dia," ujar Tristan penuh dengan harapan semoga Yola mengangkat teleponnya itu.
Heila yang mendapatkan perintah itupun ia menganggukkan kepalanya dengan tangan yang kini bergerak mencari nomor Yola di ponsel milik Tristan. Dan saat dirinya sudah menemukan nomor tersebut ia segara menghubunginya.
Yola yang tengah melamun di dalam kamarnya itu, tatapan matanya kini beralih kearah ponselnya yang ia geletakkan di samping tubuhnya. Ia meriah ponsel tersebut dan saat dirinya melihat nama Tristan ia menghela nafas panjang.
"Maaf Kak, aku hari ini tidak bisa mengangkat telepon dari kamu. Aku takut telepon ini bukan dari Kak Tristan namun dari Kak Adam," ucap Yola sembari menolak telepon tersebut yang membuat Heila di tempat lain berdecak sebal.
"Ditolak Dok," ujar Heila yang lagi-lagi membuat Tristan menggeram.
"Coba kamu buka aplikasi WhatsApp, biarkan saya mencoba untuk voice note dia," ucap Tristan sembari meminggirkan mobilnya.
Dan setelah mobil itu berhenti, bertepatan dengan itu, Heila sudah masuk kedalam aplikasi chat itu dan segara menyerahkan ponsel Tristan ke sang pemilik.
__ADS_1
Tristan dengan buru-buru mengambil ponselnya itu dan segara melakukan voice note yang akan ia kirimkan ke Yola.
Yola yang terus terdiam di dalam kamar hotel itu lagi-lagi kepalanya menoleh kala ponselnya kembali berbunyi namun sekarang ia mendapatkan notifikasi sebuah pesan. Ia kira jika pesan itu dari sang Mama, memberitahukan jika wanita paruh baya itu sudah sampai di hotel tempatnya menginap saat ini. Namun ternyata bukan pesan dari orang yang ia sayangi itu melainkan pesan dari Tristan.
Namun karena Yola penasaran, ia akhirnya membuka pesan tersebut yang berisi sebuah pesan suara yang membuat kening Yola berkerut sebelum ia memutar pesan suara tersebut.
"Yola. Jika kamu tidak mau mengangkat telepon dariku setidaknya kamu kasih tau dimana kamu berada. Kamu tenang saja aku sedang tidak bersama Adam saat ini. Jadi kamu kasih tau dimana kamu sekarang berada ya. Kakak mohon! Karena ada sesuatu yang perlu Kakak bicarakan denganmu dan ini menyangkut nyawa kamu."
Yola yang mendengar rekaman suara dari Tristan itu ia sempat terkejut saat laki-laki itu berucap jika ia ingin membicarakan sesuatu yang menyangkut nyawanya?
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa Kak Tristan membahas tentang nyawaku segala? Apa ada masalah lain yang lebih berbahaya dari yang aku hadapi tadi siang? Ya Tuhan, kenapa banyak sekali cobaan yang engkau berikan kepadaku saat ini," ucap Yola dengan menjambak rambutnya frustasi.
Tapi tak urung setelahnya ia mengetik sebuah pesan balasan yang akan ia kirimkan ke Tristan.
📨 To : Kak Tristan
^^^Send...^^^
Tristan yang mendapat notifikasi pesan balasan dari Yola pun ia kini menghela nafas lega.
"Yola sudah membalas pesan saya. Dia juga sudah memberitahu posisi dia sekarang ada dimana," ujar Tristan sembari mengantongi ponselnya tadi.
"Beneran dok?" tanya Heila.
__ADS_1
"Ya. Dan sekarang kita langsung ke tempat Yola saja," ucap Tristan yang membuat Heila tak kalah menghela nafas lega sebelum dirinya kini menganggukkan kepalanya.
Dan setelahnya Tristan kini mulai menjalankan mobilnya menuju ke tempat yang di katakan oleh Yola di pesan tadi.
Dan berhubung lokasi Tristan tadi tak jauh dari lokasi hotel itu, hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit saja kini mobil Tristan telah sampai di hotel tersebut. Dan tanpa menunggu waktu lama, dirinya dan Heila keluar dari dalam mobil tersebut.
Dengan berlari kecil keduanya kini mendekati tempat resepsionis untuk menanyakan dimana kamar Yola berada.
"Permisi Mbak. Mau tanya kamar atas nama Fayyola Mafaza," ucap Tristan to the point.
"Apa tuan bernama Tristan?" Tristan menganggukkan kepalanya. Ia pikir Yola sudah memberitahukan kepada resepsionis jika dirinya akan berkunjung ke kamar Yola.
"Baik, Nona Yola berada di lantai 5 kamar nomor 79," ucap resepsionis tadi.
"Terimakasih atas informasinya, permisi," ujar Tristan sebelum dirinya dan Heila berlari menuju ke salah satu lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai dan kamar Yola berada.
Lagi-lagi saat pintu lift itu terbuka dua orang itu kembali berlari menelusuri lorong-lorong yang terdapat banyak kamar itu dengan mata yang aktif melihat nomor yang tertera di pintu kamar tersebut. Hingga akhirnya kamar yang mereka cari ketemu juga. Tristan yang tak ingin membuang waktu pun ia segera mengetuk pintu kamar tersebut.
Dan tak menunggu waktu lama, pintu itu terbuka dan menampilkan sosok perempuan yang sedari tadi ia cari dengan penampilan yang benar-benar sangat berantakan dengan mata yang memerah dan sembab.
"Yola, apa yang sebenarnya terjadi denganmu?" tanya Tritan yang sangat-sangat terkejut dengan penampilan Yola saat ini. Bahkan bukan hanya Tristan saja yang terkejut melainkan Heila pun tak kala terkejutnya daripada Tristan itu.
Yola yang ditanyakan seperti itu pun, ia sudah bersiap ingin menangis lagi.
__ADS_1
Tristan yang melihat hal tersebut pun ia langsung menarik tubuh Yola kedalam pelukannya. Dan bukannya Yola mengurungkan niatnya untuk menangis, tangis perempuan itu justru pecah kala tubuhnya di dekap oleh Tristan dengan begitu erat.
"Kalau mau nangis, nangis saja. Keluarkan semuanya yang membuat hatimu dongkol dan sedih. Tapi setelah ini Kakak mohon cerita semua ke Kakak tentang apa yang membuat kamu menjadi seperti ini. Kakak akan mendengar semua cerita kamu itu. Kakak ada di sini Yola. Kamu bisa melupakan semua keluh-kesahmu ke Kakak," ujar Tristan dengan mengusap kepala Yola dengan lembut. Berharap usapan dan pelukannya itu bisa membuat Yola menjadi tenang kembali.