
Setelah makan siang mereka selesai, Adam dan Yola tengah menikmati waktu kebersamaan mereka berdua di ruang tamu apartemen milik Yola itu dengan Adam yang terus saja memeluk erat tubuh Yola dari samping.
Yola yang mendapat pelukan dari sang kekasih pun hanya bisa pasrah sebelum dirinya ingat akan pesan yang di kirimkan oleh Tristan beberapa hari yang lalu mengenai kecelakaan Adam hingga membuat dirinya kini menolehkan kepalanya kearah sang kekasih.
"Kak," panggil Yola saat dirinya tidak bisa melihat secara jelas wajah Adam yang tengah bersandar di bahunya itu.
"Hmmm?"
"Coba lihat sini sebentar," pinta Yola dan tanpa bertanya untuk apa Yola menyuruhnya untuk menatap perempuan itu, Adam langsung saja menatap wajah Yola dengan salah satu alisnya ia angkat, seolah-olah bertanya ada apa?
Yola menatap lekat wajah sang kekasih yang masih terlihat ada sedikit luka memar di berbagai titik di wajah tampannya itu. Namun ada satu luka yang membuat matanya terus terfokus ke luka itu sebelum tangan Yola bergerak untuk menyentuh luka yang berada di pelipis Adam.
"Apa ini sakit?" tanya Yola yang membuat Adam yang tadinya memejamkan matanya, kini mata itu terbuka kembali dengan gelengan di kepalanya.
"Bohong. Ini pasti sakit. Maaf," ucap Yola dengan tertunduk lesu.
"Tidak, ini tidak sakit sayang. Mungkin saat diawal aku mendapatkan luka ini, memang sakit. Tapi kalau sekarang sudah tidak sakit lagi. Dan kenapa kamu malah minta maaf? Kamu tidak salah sayang," ujar Adam dengan menggenggam tangan Yola dengan erat.
__ADS_1
"Tapi luka ini kamu dapatkan saat kamu kecelakaan kan? Dan kecelakaan itu gara-gara aku. Karena kamu kelelahan setelah mencari keberadaanku. Iya kan?" Adam lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
"Kamu ngomong apa sih sayang. Siapa yang kecelakaan? Luka ini aku dapatkan saat kepalaku tidak sengaja terbentur lemari di dalam kamar mandi," alasan Adam.
"Jangan bohong. Aku tau semuanya Kak. Aku tau jika kamu beberapa hari yang lalu kecelakaan. Aku tau semua itu dari Kak Tristan. Kak Tristan yang memberitahuku dan dia juga yang bilang jika kamu kecelakaan gara-gara memikirkanku." Adam terdiam. Ia tak bisa mengelak lagi setelah Yola mengatakan jika Tristan yang memberitahunya. Dan tolong ingatkan Adam jika dia harus memberikan pelajaran kepada sahabatnya itu yang ikut terlibat dalam menyembunyikan keberadaan Yola darinya.
"Kak." Panggilan dari Yola membuat Adam menatapnya kembali dengan helaan nafas panjang.
"Baiklah Kakak mengaku sekarang jika luka ini Kakak dapatkan saat kecelakaan beberapa waktu yang lalu tapi bukan gara-gara kamu penyebabnya. Kakak saja yang memang teledor saat menyopir mobil hari itu jadinya Kakak tidak tau kalau ada anak kecil yang menyeberang dan berakhir Kakak banting setir yang langsung di tabrak sama pengendara lain di jalur yang berlawanan. Kecelakaan itu sudah menjadi bagian dari takdir Kakak yang berarti kamu bukan alasan dari kecelakaan itu. Walaupun saat itu kamu masih bersama Kakak, kalau kecelakaan itu akan terjadi ya terjadi saja. Semua itu tidak ada yang tau sayang. Jadi stop menyalahkan diri kamu sendiri atas kecelakaan yang menimpa Kakak. Ingat karena semua ini sudah takdir. Kamu mengerti sayang?" tutur Adam dengan mengelus kepala Yola.
"Tapi---"
Dan ya, Yola tadi memang mengajak Adam untuk menjenguk Heila. Tapi laki-laki itu mengajaknya untuk menjenguk Heila nanti saja dengan alasan jam besuk belum di buka. Dan Yola hanya bisa mengangguk saja.
"Ayo sayang," ucap Adam kala dirinya telah berdiri dengan tangan yang ia ulurkan tepat didepan Yola.
Yola menghela nafas sebelum tangannya membalas uluran tangan Adam tadi, kemudian ia ikut berdiri. Lalu mereka berdua kini berjalan beriringan keluar dari apartemen menuju ke rumah sakit.
__ADS_1
Dan sesampainya mereka berdua di rumah sakit, Yola menundukkan kepala tak berani menatap orang-orang disekitarnya, rasa trauma waktu itu masih ia rasakan hingga saat ini.
Adam yang berjalan disampingnya pun ia semakin mengeratkan genggaman tangannya tersebut saat ia tau kekasihnya itu masih trauma akan orang-orang di sekitarnya.
"Aku tidak suka melihatmu menundukkan kepala. Karena aku tidak mau mahkotamu jatuh begitu saja. Jadi tegakkan kepalamu, lawan rasa takutmu itu," bisik Adam tepat di samping telinga Yola.
Yola yang mendengar bisikkan itu, ia merasa tenang dengan rasa ketakutan yang sedikit berkurang dan dengan perlahan ia menegakkan kepalanya penuh dengan kewaspadaan.
Adam yang melihat hal tersebut pun ia tersenyum kearah Yola yang menatap lurus kedepan. Hingga akhirnya mereka berdua kini telah sampai di depan kamar inap Heila. Dimana saat mereka telah sampai, tanpa mengetuk terlebih dahulu, Adam dengan lancangnya langsung membuka pintu kamar inap Heila tersebut. Dimana saat pintu itu terbuka lebar, Adam dan Yola berdiri mematung di ambang pintu itu saat melihat pemandangan didalam kamar inap itu.
Pemandangan yang benar-benar terlihat romantis di mata keduanya.
"Sepertinya aku mencium bau-bau bakal ada yang cinlok ini," bisik Yola kepada Adam.
"Sepetinya memang begitu. Dan kamu tau sayang, Tristan itu anaknya tidak pernah perduli dengan siapapun yang baru ia kenal. Tapi beda banget kalau sama Heila. Dia kalau sama Heila itu kayak sudah kenal lama, bahkan kayak orang yang sedang berpacaran. Tristan yang bisanya jika di minta pertolongan oleh seseorang, dia pasti akan menolong orang itu tapi setelahnya dia tidak akan ikut campur lagi. Tapi kalau sama Heila, dia menolongnya, membawa Heila kerumah sakit, melaporkan Kenza ke kantor polisi, bahkan yang sempat buat aku terkejut, dia yang memutuskan jika Heila mengundurkan diri dari pekerjaannya dengan menjamin Heila akan bekerja di perusahaan Ayah dia. Dan lebih mencengangkan lagi perusahaan ayah dia itu sangat-sangat pemilih soal karyawan mereka tapi Heila langsung diterima begitu saja tanpa melalui tes apapun," ucap Adam menceritakan tentang perbuatan yang dilakukan oleh Tristan kepada Heila.
"Wow, kalau seperti itu sih udah fiks Kak Tristan menaruh hati kepada Heila. Apalagi dilihat dia yang saat ini lagi menyuapi Heila, benar-benar terlihat perhatian banget padahal aku yakin dia banyak pekerjaan yang harus dia urus tapi dia menyempatkan waktu dia untuk mengurus Heila." Adam menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan dari kekasihnya itu.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu kita jangan masuk dulu. Biarkan mereka menghabiskan waktu berdua dulu," ucap Yola sembari tangannya kini bergerak untuk menutup pintu kamar inap itu. Dan dua orang itu memilih untuk menunggu Tristan dan Heila selesai berduaan di kursi tunggu tepat di depan kamar inap Heila.