Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 43


__ADS_3

Saat Nana diam-diam tersenyum dengan pikiran yang membayangkan betapa sakit hatinya Yola saat ini.


Tanpa Nana duga, Adam justru kini tengah berdiri dari duduknya lalu dengan langkah lebarnya laki-laki tersebut bergegas menuju pintu ruangan tersebut.


Nana yang sadar dengan pergerakan Adam pun ia kini angkat suara sebelum Adam benar-benar keluar dari ruangan tersebut.


"Tunggu! Dokter Adam mau kemana? Mau periksa pasien ya? Tapi jam segini tidak ada jadwal dokter Adam memeriksa kondisi pasien," ujar Nana.


"Berhentilah berbicara Sus. Dan saya mau kemana saja, bukan urusan kamu," ujar Adam sesaat sebelum dirinya benar-benar keluar dari ruang kerjanya itu meninggalkan Nana yang menatapnya dengan tatapan tak sukanya. Ia tak suka akan ucapan Adam tadi.


"Untuk sekarang memang kamu bukan urusanku. Tapi untuk suatu saat nanti kamu akan menjadi urusanku, dokter Adam. Apa yang kamu lakukan, mau kemana kamu pergi dan semua rahasiamu harus aku ketahui. Karena suatu saat nanti aku akan menjadi istrimu yang harus tau semuanya tentang urusanmu," gumam Nana diakhiri dengan senyum miringnya. Lalu setelahnya ia memilih untuk kembali duduk di meja kerjanya dengan senyum yang terus saja mengembang.


Sedangkan Adam, laki-laki itu sedikit berlari kecil menuju ke lobi rumah sakit tersebut untuk menyusul perginya Yola yang entah tak tau sekarang dimana.


Lari Adam berhenti saat laki-laki itu telah berdiri disamping salah satu satpam yang berdiri di samping pintu masuk lobi tersebut.


"Dokter Adam kenapa lari-lari?" tanya satpam tersebut heran.


"Pak, bapak tadi lihat Yola keluar dari sini tidak?" bukannya menjawab Adam justru bertanya balik.


"Ehhhh Nona Yola ya? Hmmm saya tidak melihatnya keluar dari rumah sakit ini dok. Memangnya kenapa?" Adam menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Tidak ada apa-apa kok Pak. Ya sudah kalau gitu saya masuk lagi. Terimakasih atas infonya," ujar Adam sembari menepuk pundak satpam tersebut sebelum dirinya masuk lagi kedalam lobi rumah sakit tersebut.


"Jika Pak Suryadi tidak melihat Yola keluar dari sini berarti dia masih berada di sekitar rumah sakit ini," gumam Adam.


"Tapi kemana dia sekarang berada?" sambungnya dengan terus melangkahkan kakinya menelusuri rumah sakit tersebut.

__ADS_1


Selang beberapa menit setelah ia menelusuri setiap sudut rumah sakit itu, tiba saatnya Adam sampai di taman rumah sakit tersebut dari kejauhan ia bisa melihat seseorang yang dari tadi ia cari tengah duduk termenung di salah satu kursi taman tersebut.


Adam menghela nafas sebelum kakinya kini melangkah mendekati Yola. Dan setelah ia sampai, ia langsung duduk disampingnya Yola yang membuat Yola menolehkan kepalanya kearah Adam berada.


"Saya percaya kamu tidak melakukan apa yang di tuduhkan oleh suster Nana tadi," ucap Adam sembari menatap wajah Yola.


Yola yang tadinya sudah berhenti menangis, kini air matanya malah menetes kembali setelah mendengar perkataan Adam tadi.


"Hiks kenapa dokter Adam mau percaya sama saya. Hiks pa---padahal dokter Adam tidak tau kejadian yang sebenarnya. Siapa tau saya yang bohong dan ucapan dari suster Nana tadi benar," timpal Yola yang membuat Adam menggedikkan bahunya.


"Cuma feeling saya mengatakan jika kamu tidak melakukannya. Ditambah kamu tadi mengucapakan jika kamu melihat ada bayangan seseorang yang baru keluar dari dapur setelah kamu kembali dari berpamitan kepada para koki di sini," ucap Adam sembari mengalihkan pandangannya kearah depan.


Sedangkan Yola, ia menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih karena dokter Adam sudah mau mempercayai saya. Tapi apa yang saya katakan tadi benar dok, saya tidak sedang mengerjai suster Nana. Untuk apa juga saya melakukan hal itu. Saya menang tidak suka dengan suster Nana sejak kita bertemu untuk pertama kali karena suster Nana adalah suster yang benar-benar sombong saat dulu merawat saya di rumah sakit ini. Terlebih lagi saya tidak suka dengan suster Nana karena dia suka dengan dokter Adam," ucap Yola dengan suara lirih di akhir kalimat sembari menundukkan kepalanya.


Sedangkan Adam, laki-laki itu justru diam-diam tengah menyunggingkan senyumannya bahkan sampai ia menolehkan kepalanya kearah lain agar senyumannya itu tak dilihat oleh Yola sebelum dirinya berdehem untuk menetralkan ekspresi wajahnya.


"Memangnya boleh Dok?" tanya Yola yang diangguki oleh Adam.


"Kalau memang boleh saya mau melihat rekaman CCTV itu. Saya juga penasaran dengan orang yang bayangannya tadi saya lihat."


"Baiklah kita akan segara ke ruang CCTV untuk melihat rekaman itu, tapi dengan satu syarat." Yola mengerutkan keningnya.


"Syarat?" Adam menganggukkan kepalanya.


"Ya, dan syaratnya kamu harus berhenti menangis dan hapus air matamu itu," ucap Adam sembari mengulurkan sebuah sapu tangan ke Yola.

__ADS_1


Yola menatap sapu tangan itu sebelum tangannya bergerak untuk menerimanya.


"Terimakasih," ucap Yola sembari tersenyum. Kemudian tangannya itu kini bergerak untuk menghapus air matanya itu.


"Sudah?" tanya Adam yang diangguki oleh Yola.


"Kalau begitu tunggu apa lagi kita ke ruang CCTV sekarang," ujar Adam sembari berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Yola. Hingga kini keduanya berjalan beriringan menuju ke tempat tujuan mereka berdua.


Saat dua orang itu telah masuk kedalam ruangan tersebut, dua orang penjaga CCTV itu dengan hormat membungkukkan tubuhnya.


"Bisakah kalian putar ulang rekaman CCTV di area dapur sekitar setengah jam yang lalu?" tanya Adam.


"Tentu saja bisa Dok. Dokter silahkan duduk di sini," ucap salah satu penjaga ruang CCTV itu.


Bukannya Adam langsung bergerak dan duduk di tempat yang di tunjuk oleh salah satu penjaga tersebut, ia justru menolehkan kepalanya kearah Yola.


"Duduk," ucap Adam.


"Hah? Gimana dok?" tanya Yola tak paham.


"Kamu duduk Yola dan biarkan saya yang berdiri," ucapannya.


"Tapi dok---"


"Jangan tapi-tapian lagi Yola. Jangan membuang-buang waktu hanya untuk berdebat dengan saya mengenai sesuatu yang tidak penting. Jadi cepatlah duduk sekarang," ucap Adam tak mau di bantah lagi.


Dan karena Yola tak ingin membuat Adam marah, ia bergegas menuruti perintah dari laki-laki itu untuk duduk di kursi yang harusnya di gunakan laki-laki tersebut.

__ADS_1


Dan setelah memastikan jika Yola sudah benar-benar duduk dengan baik, Adam yang berdiri di belakang Yola kini kembali bersuara.


"Putar sekarang," ucap Adam yang diangguki patuh oleh penjaga CCTV tersebut lalu kemudian penjaga tadi langsung memutar rekaman CCTV yang memperlihatkan area dapur rumah sakit tersebut.


__ADS_2