
Adam yang melihat sahabatnya sudah berada di posisi seperti sebelumnya pun ia kembali membisikkan penjelasan mengenai perkataannya sebelumnya itu.
"Yang aku maksud tembak Heila itu. Melamar, paham kan. Aku menyuruh kamu untuk melamar dia entah untuk sebagai calon istri atau kekasih saja. Bukan untuk membunuh dia, bodoh. Dan kamu tidak bisa berbohong kepadaku Tristan jika kamu saat ini sudah jatuh cinta dengan Heila," bisik Adam yang langsung membuat Tristan menolehkan kepalanya kearah sahabatnya itu. Sebelum ia membalas perkataan dari Adam tadi.
"Heyyy kata siapa aku suka sama dia. Kamu jangan sok tau ya," balas Tristan dengan suara yang sangat lirih agar Heila tidak bisa mendengar ucapannya itu.
Adam yang mendengar Tristan menangkis ucapannya tadi ia memutar bola matanya malas.
"Aku bukan sok tau, tapi aku memang tau kalau kamu sekarang tengah menaruh hati kepada Heila. Terlihat jelas dari caramu melihat Heila, gerak-gerikmu jika bersama dia, perhatianmu bahkan saking perhatiannya kamu ke Heila. Kamu sampai rela terus menginap di rumah sakit ini padahal kamu tidak ada jadwal untuk jaga malam disini. Dan belum pernah kamu menginjakkan kakimu ke rumahmu sendiri atau apartemenmu setelah Heila di rawat di sini. Dan masih banyak lagi hal yang benar-benar sangat jelas jika kamu memang suka dengan Heila. Jadi jangan mengelak lagi Tristan!" ucap Adam masih dengan berbisik ke Tristan.
"Tapi jika aku memang suka sama dia. Kenapa aku tidak merasakan debaran di jantungku. Katanya kalau orang jatuh cinta itu, jantungnya akan berdebar."
"Orang yang tidak jatuh cinta saja jantung mereka berdebar. Bayi yang baru lahir pun jantungnya berdebar juga. Jika kamu tidak merasakan jantungmu tidak berdebar, berarti kamu sudah mati," balas Adam yang membuat Tristan kini mencebikkan bibirnya.
"Ck maksudku bukan begitu. Begini lho kata orang-orang yang sudah jatuh cinta, mereka akan merasa debaran yang berbeda di dadanya. Tapi aku belum merasakannya," ujar Tristan.
"Ucapanmu itu belum tentu juga. Karena orang lapar atau orang yang habis lari maraton mereka juga akan merasakan debaran yang berbeda di dadanya. Intinya kalau kamu tengah jatuh cinta ke dia, kamu akan merasa nyaman jika bersama dengan dia, kamu akan menjadi lebih tenang dan tidak khawatir berlebihan akan kondisi dia. Dan aku yakin kamu merasa hal itu semua. Salah satunya sudah terbukti saat acaraku kemarin. Jika kamu tidak khawatir berlebihan kepada Heila, kamu pasti akan datang ke acara itu. Tapi berhubung kamu sangat-sangat khawatir dengan dia, kamu jadi tidak bisa meninggalkan dia. Jika kamu membawa dirinya ikut pergi, kamu juga merasa takut jika Heila akan kenapa-napa nantinya," jelas Adam.
Tristan yang mendengar ucapan dari sahabatnya itu ia tampak terdiam, memikirkan apa yang sudah Adam katakan tadi.
Sedangkan Adam yang melihat keterdiaman sahabatnya itu, ia kembali berbisik.
"Pikirkan baik-baik apa yang aku katakan tadi untuk segera melamar Heila. Takutnya saat kamu baru menyadari jika kamu memang tengah menaruh hati dengan dia, dia justru telah di lamar oleh orang lain. Dan aku yakin saat itu terjadi, kamu akan menjadi orang yang sangat-sangat menyesal," ujar Adam dengan menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.
"Karena jujur saja. Aku menyadari jika aku jatuh cinta kepada Yola bukan dari debaran di dadaku seperti ucapanmu tadi tapi dengan kekhawatiran yang berlebih dan rasa nyaman jika bersama dia. Dan sekali lagi aku ingatkan ke kamu untuk memikirkannya baik-baik. Jangan salah ambil keputusan. Aku sudah mengingatkanmu, jangan sampai kamu menyesal," sambung Adam lalu setelahnya ia menjauhkan wajahnya dari samping wajah Tristan.
Sedangkan Tristan, ia mulai menegakkan tubuhnya kembali masih dengan mulut yang terkunci rapat. Ia masih memikirkan apa memang benar dirinya itu sekarang tengah menaruh hati dengan Heila?
__ADS_1
Heila yang sedari tadi hanya melihat kedua laki-laki dihadapannya pun ia tampak kepo dan akhirnya ia kini angkat suara.
"Kalian kenapa bisik-bisik sih. Kan aku juga mau tau hukuman apa yang harus Tristan jalankan," ucap Heila.
Adam yang tadi menatap kearah sahabatnya yang masih mematung di sampingnya itu kini tatapan matanya beralih kearah Heila.
"Kamu tidak perlu tau hukuman itu sekarang. Dan lebih baik kamu tunggu saja waktu hukuman itu akan terlaksana," ujar Adam.
"Memangnya kapan hukuman itu akan Tristan lakukan?" tanya Heila kembali yang benar-benar kepo setengah mati.
Dan pertanyaannya itu dibalas dengan gedikkan bahu oleh Adam. Namun laki-laki itu berkata, "Jangan tanya padaku. Karena yang mau menjalankan tugas yang aku berikan ini bukan diriku sendiri tapi Tristan. Dan lebih baik kamu tanya sama dia saja."
Heila kini menatap kearah Tristan yang tampak terbengong itu.
"Tristan. Kapan kamu akan menjalankan hukuman yang diberikan Adam kepadamu?" tanya Heila.
Heila menunggu beberapa saat tapi Tristan tak segera membuka mulutnya yang membuat dirinya kini kembali angkat suara.
Heila yang kesal pun ia menatap kearah Adam yang tengah sibuk dengan ponselnya itu.
"Adam," panggil Heila yang dibalas dengan deheman saja oleh calon suami Yola itu.
"Aku boleh minta tolong kepadamu?"
"Minta tolong apa?" tanya Adam tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya yang menampilkan room chat dirinya dan Yola tersebut.
"Tolong pukul Tristan. Dia ngalamun terus dari tadi." Adam melirik sekilas kearah Tristan dan benar saja apa yang dikatakan oleh Heila tadi jika sahabatnya itu kini tengah melamun. Dan dengan menganggukkan kepalanya untuk mensetujui permintaan tolong Heila tadi, Adam kini meregangkan otot tangannya itu sebelum tangan kanannya kini bergerak. Hingga tangannya itu berhenti saat ia sudah berhasil menonjok perut sahabatnya tersebut.
__ADS_1
Dan tonjokkan yang diberikan oleh Adam itu membuat Tristan tersadar dari lamunannya dan meringis merasakan sakit di perutnya.
Sedangkan Heila yang melihat hal itu ia tampak terkejut. Ia mengira Adam akan memukul kecil lengan Tristan tapi ternyata tebakkannya itu salah. Adam justru memberikan pukulan mautnya itu ke Tristan yang membuat dirinya ikut meringis seakan-akan merasakan rasa sakit yang Tristan rasakan.
"Sialan. Apa yang kamu lakukan?" geram Tristan yang dengan santainya dibalas dengan gedikkan bahu oleh Adam.
"Aku hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh Heila saja. Dia memintaku untuk memukulmu," ucap Adam.
Tristan yang mendengar hal itu pun ia kini menatap kearah Heila yang kini tengah memperlihatkan cengiran di bibirnya.
"Heila!" geram Tristan.
"Maaf Tristan, aku terpaksa menyuruh Adam memukulmu karena kamu sedari tadi hanya melamun saja saat aku bertanya," ujar Heila dengan takut-takut. Dan hal tersebut membuat Tristan menghela nafasnya, ia tak tega jika harus memarahi perempuan itu. Jadi ia harus banyak-banyak bersabar saja.
Dan dengan melangkahkan kakinya mendekati Heila, ia berucap.
"Memangnya kamu mau tanya apa?"
"Aku mau tanya kapan kamu akan menjalankan hukumanmu itu karena aku tadi tanya Adam hukuman apa yang dia berikan untukmu, dia tidak menjawabnya dan disuruh menunggu saat kamu menjalankan hukuman itu. Jadi kapan? Aku benar-benar penasaran tentang hukuman yang kamu terima dari Adam tadi?" tanya Heila yang membuat Tristan kini menghela nafasnya.
"Entahlah aku juga belum tau kapan aku akan menjalankan hukuman itu. Sudahlah jangan membahas hukuman dari Adam lagi. Karena sekarang sudah waktunya untukmu kembali ke kamar kamu," ujar Tristan sembari mendorong kursi roda Heila.
"Lho ehhhh tapi kan aku baru saja keluar dari kamar beberapa menit yang lalu masa disuruh kembali lagi. Cepat sekali biasanya juga sampai satu jam lebih," ucap Heila.
"Sekarang sudah tidak karena istirahatmu lebih penting," balas Tristan.
"Tapi kan---"
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian," ucap Tristan tanpa menghentikan langkahnya itu sampai mereka keluar dari ruang kerja Adam.
Dan kepergian dari dua orang tadi tak luput dari pandangan Adam yang kini tengah menggelengkan kepalanya sebelum ia fokus kembali ke ponselnya, melihat-lihat hasil foto pertunangan dirinya dan Yola itu. Sebelum dirinya memilih beberapa foto pertunangan itu untuk ia upload ke sosial medianya agar semua orang tau jika dirinya sudah memiliki tambatan hati yang akan menemani dirinya seumur hidup nanti. Dan agar semua kaum hawa yang masih berharap dengannya matanya terbuka dan tidak lagi mengharapkan dirinya karenanya mau dengan cara apapun mereka merayu dirinya, cinta Adam tidak akan pernah goyah, Adam yakin akan hal itu.