Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 139


__ADS_3

Sedangkan disisi lain, tepatnya di rumah sakit, Adam gak henti-hentinya mendapatkan ucapan dan doa dari rekan-rekan kerjanya itu tak terkecuali dengan Tristan yang kemarin saat acara pertunangan Adam dan Yola tidak bisa datang karena harus menjaga Heila yang masih di rawat di rumah sakit tersebut. Dan kini laki-laki itu dengan mendorong Heila di kursi roda, mereka langsung memasuki ruang kerja Adam tanpa mengucapakan kata permisi terlebih dahulu. Dimana kedatangan keduanya itu membuat Adam yang tadinya fokus ke lembaran kertas di tangannya itu mengalihkan pandangannya kearah Tristan dan Heila dengan helaan nafasnya.


"Ada apa?" tanya Adam kala dua orang itu semakin mendekati dirinya.


"Ya elah belum apa-apa udah ngegas aja si calon suaminya Yola," ucap Tristan.


"Iya ih padahal kita kesini hanya untuk memberikan ucapan selamat lho," timpal Heila.


"Terimakasih. Udah aku jawab jadi kalian bisa pergi sekarang juga," ujar Adam dengan menatap kearah lembaran kertasnya lagi.


Dan ucapan dari Adam itu membuat Heila dan Tristan melongo tak percaya.


"Adam, kamu ngusir kita?" tanya Tristan.


"Ya."


Jawaban Adam yang super-super santai itu membuat Tristan kesal setengah mati. Dan bukannya dia menuruti apa yang dikatakan oleh Adam agar segera pergi dari ruangan laki-laki itu, Tristan justru kini langsung duduk di kursi tepat dihadapan Adam yang membuat Adam kini melirik kearahnya.


"Ngapain malah duduk disitu?" tanya Adam dengan wajah datarnya itu.


"Ya mau duduk aja masa gak boleh?"


"Emang gak boleh. Jadi keluar sekarang. Aku lagi sibuk dan gak bisa di ganggu," ucap Adam.

__ADS_1


"Kamu beneran ngusir aku, Dam?" tanya Tristan tak percaya.


"Memangnya ucapanku tadi kurang jelas?" Tristan menggelengkan kepalanya.


"Kalau kurang jelas aku akan menuntunmu untuk keluar dari ruangan ini," sambung Adam.


"Ck, kenapa kamu tega banget sih ngusir sahabat sendiri?" Adam memutar bola matanya malas.


"Karena sahabatku laknat. Udah di undang tapi tidak hadir," jawab Adam yang membuat Tristan mengerti kenapa sahabatnya itu memperlihatkan tatapan mata permusuhan kepadanya itu.


Dan dengan senyuman menggodanya, Tristan kini angkat suara.


"Ohhh jadi kamu ngambek sama aku ceritanya nih?" Adam hanya diam saja dan memilih untuk kembali memeriksa berkas rumah sakit yang berada di tangannya itu daripada menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu yang ia yakini dia sudah tau jawabannya.


Adam tau jika Tristan tidak bisa hadir karena harus menjaga Heila, tapi apakah Tristan tidak memiliki inisiatif untuk mengajak Heila ke pesta pertunangan dirinya dan Yola waktu itu. Padahal keadaan Heila juga sudah membaik dan sudah sangat-sangat bisa di bawa pulang sebenarnya jika Tristan tidak selalu mencegah kepulangan Heila itu dengan alibi harus menunggu luka Heila kering semua.


Adam yang mendengar ucapan dari sahabatnya itu, ia menaruh kertas ditangannya tadi dengan cukup keras. Sebelum ia menatap sepenuhnya kearah Tristan dan ia mulai angkat suara.


"Kamu bisa bawa Heila kesana. Kondisi Heila juga sudah baik. Kamunya saja memang yang tidak niat untuk pergi ke sana," ujar Adam.


"Aku waktu itu juga sudah bilang kalau dia mau berangkat ke pesta pertunangan kamu dan Yola, aku tidak masalah. Aku juga tidak takut di rumah sakit sendirian. Aku juga tidak takut jika kedua orangtua Kenza datang menemuiku karena kondisiku sekarang sudah baik-baik saja. Dimana saat mereka ingin macam-macam denganku, aku masih bisa melawan mereka. Tapi saat aku suruh Tristan hadir dengan berbagai cara, dia tetap kekeuh untuk menjagaku. Dan mungkin alasan itu alibi untuk menutupi rasa malas dia untuk datang ke pestamu itu," timpal Heila sekaligus untuk mengerjai Tristan.


Tapi benar apa yang dikatakan oleh Heila tadi jika di waktu itu dia sudah membujuk Tristan dengan berbagai cara agar laki-laki itu mau datang ke acara pertunangan Adam. Bahkan ide yang sempat Adam katakan tadi untuk mengajak dia ke pesta itu, Tristan tetap saja menolaknya dengan alasan ini lah itu lah. Dan berakhir Heila menyerah untuk membujuk Tristan saat itu.

__ADS_1


Adam yang mendengar penjelasan dari Heila tadi, ia semakin menajamkan pandangannya kearah Tristan.


Sedangkan Tristan, ia memelototkan matanya kearah Heila. Sebenarnya ia tidak malas untuk datang ke pesta sahabatnya itu. Tapi entah kenapa dia sekarang menjadi orang yang parno jika berhubungan dengan Heila. Ia memutuskan untuk tidak datang itupun juga dengan pertimbangan yang lama.


"Sepertinya benar apa katamu tadi, Heila. Jika dia tidak datang karena dia malas saja dan menjadikanmu sebagai tameng agar aku tidak memukulnya," ujar Adam yang diangguki oleh Heila.


"Ehhhh apaan, tidak ya. Aku tidak seperti itu. Aku bukannya malas untuk datang ke sana malam itu. Tapi banyak pertimbangan yang akhirnya aku memutuskan untuk tidak pergi. Baiklah begini saja, aku minta maaf sebesar-besarnya kepadamu, Adam karena aku tidak bisa pergi ke pestamu malam itu. Jadi tolong maafkan kesalahanku ini. Dan aku akan melakukan apapun yang kamu mau agar kamu bisa memanfaatkanku," tutur Tristan.


"Yakin, kamu mau melakukan apapun yang aku mau?" Tanpa ragu Tristan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah aku akan memberikanmu hukuman. Jadi kesini, aku akan membisikkan kamu tentang hukuman itu," ucap Adam. Dimana ucapannya itu langsung membuat Tristan kini beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju ke samping Adam. Dimana saat dirinya telah sampai di samping sahabatnya itu, ia langsung membungkukkan tubuhnya agar Adam bisa membisikkan sesuatu ke dirinya.


"Bisikin sekarang," ucap Tristan yang membuat Adam menganggukkan kepalanya. Lalu setelahnya laki-laki itu mencondongkan tubuhnya hingga berada di depan telinga Tristan sebelum ia mulai membisikkan hukuman yang akan dia berikan kepada sahabatnya itu.


"Hukuman yang harus kamu lakukan agar aku memaafkanmu adalah tembak Heila."


Tristan yang mendengar ucapan dari sahabatnya itu ia langsung memelototkan matanya bahkan ia sekarang sudah menjauhkan tubuhnya dari Adam.


"Gila kamu. Gak, aku gak mau jadi pembunuh. Sialan," ucap Tristan yang sepertinya salah paham dengan apa yang Adam katakan itu.


"Arti yang ada di otak kamu tentang perkataanku tadi berbeda dengan maksudku, sialan."


"Lho ehhhh jadi artinya beda ya? Kalau begitu arti yang kamu maksud itu apa dong?" tanya Tristan entah pura-pura tidak tau atau memang tidak tau beneran.

__ADS_1


"Astagfirullah. Bungkuk lagi, akan aku jelaskan sedetail-detailnya biar kamu paham apa yang aku maksud. Tapi jangan memotong perkataanku jika kamu tidak mau aku suntik mati," ujar Adam dengan ancamannya dan hal itu membuat Tristan berdecak sebal. Apa sahabatnya itu pikir hanya dia saja yang bisa menyuntik mati seseorang, padahal Tristan juga bisa melakukannya.


Tapi tak urung Tristan melakukan apa yang di perintahkan oleh sahabatnya itu untuk membungkukkan badannya kembali.


__ADS_2