Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 134


__ADS_3

Sesuai dengan kesepakatan yang terjadi antara Yola dan Adam kemarin jika saat ini Yola harus kembali masuk ke kampusnya dan mengikuti pelajaran sebagai offline seperti sebelum-sebelumnya.


Sudah sedari 30 menit yang lalu Adam menunggu Yola di apartemen calon istrinya itu, tapi Yola yang ia tunggu tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Dan hal tersebut membuat Adam yang sudah melakukan berbagai cara untuk menghalau ke gabutannya itu, tak kunjung membuahkan hasil. Ia masih saja gabut. Dan dengan menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Adam berucap.


"Si kesayangan kenapa belum keluar juga dari dalam kamarnya sih? Padahal 30 menit lagi dia harus sudah sampai di kampus. Apa jangan-jangan dia pingsan lagi didalam kamarnya?" Adam yang sudah berpikir negatif pun ia kini bergerak menuju kearah kamar Yola berada.


Dimana didalam sana Yola tengah gugup setengah mati dengan mondar-mandir tak jelas di dalam kamarnya itu.


"Sumpah demi apapun aku lebih gugup hari ini dibandingkan dengan waktu aku di lamar oleh Kak Adam di malam pertunangan kita itu," gumam Yola dengan menggigit kuku jarinya.


"Bagaimana kalau aku datang ke kampus, mereka justru akan lebih mencemoohku lagi. Aku memang yakin mereka pasti melihat tayangan tentang pertunanganku dan Kak Adam dimalam itu. Tapi aku tidak yakin hal itu membuat mereka menghilangkan rasa benci mereka kepadaku. Karena orang yang sudah benci dengan kita, mereka akan tetap menjadi pembenci walaupun kita mempertaruhkan nyawa kita ke pembenci itu. Huh, kalau begini lebih baik aku tidak jadi ke kampus saja deh. Aku takut mereka akan melempariku dengan telur, tepung dan masih banyak lagi seperti di film-film pembullyan yang pernah aku tonton dulu. Hih, takut," gumam Yola yang berubah pikiran untuk tidak masuk ke kampus kembali. Ia memilih untuk tetap melanjutkan pelajarannya lewat online saja.


Dimana saat ia sudah memutuskan hal tersebut, pintu kamarnya terdengar di ketuk oleh seseorang dari luar yang membuat ia kini menghentikan acara mondar-mandir tak jelasnya tadi sebelum ia melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamarnya tersebut.

__ADS_1


Dan saat pintu itu terbuka, ia bisa melihat Adam yang tengah berdiri dihadapannya.


Adam menatap penampilan Yola dari atas sampai bawah. Ia melihat calon istrinya itu sepertinya sudah siap untuk berangkat sekarang juga. Tapi untuk memastikannya, Adam memilih untuk bertanya dulu kepada Yola.


"Sudah siapkan?" tanya Adam yang dengan cepat dijawab gelengan kepala oleh Yola.


"Ehhhh belum siap? Tapi aku lihat-lihat kamu sudah sangat cantik dengan celana jeans panjangmu ini dan baju putih yang kamu masukkan kedalam celana jeansmu itu. Riasan wajahmu juga sudah sangat sempurna, tidak menor tapi natural. Tatanan rambut kamu yang kamu ikat kuda ini juga sepertinya sudah sangat pas dengan ootd kamu hari ini. Jadi dimana kamu belum siapnya? Di bagian alas kaki kamu? Ya ampun sayang kalau cuma tinggal ganti sendal kamu menjadi sepatu tidak akan menghabiskan waktu setengah jam kan? Jadi aku rasa kamu sudah siap untuk berangkat sekarang juga," ucap Adam dengan menilai penampilan Yola yang benar-benar simpel dan jauh dari kata anggun tapi masih terlihat sangat cantik.


"Ck, kalau penampilan sih memang sudah siap semua tapi hati yang belum siap. Aku tidak jika hatiku nanti akan sakit kembali kalau aku masuk ke kampus dan mendengar cemoohan itu. Dan sumpah demi apapun, aku takut di celakai oleh mereka. Jadi lebih baik kita tunda dulu lah ya untuk memberikan klarifikasi kepada orang-orang yang ada di kampus. Aku benar-benar belum siap sayang," ucap Yola dengan wajah penuh permohonan agar Adam mau menuruti permintaannya itu.


"Kalau kita menunda lagi untuk klarifikasi kesalahpaham itu yang ada masalah kamu di kampus tidak akan selesai-selesai dan kamu tidak akan pergi ke kampus lagi sampai kamu selesai menempuh pendidikan kamu itu," ucap Adam.


"Ya tidak apa-apa kalau memang aku tidak akan menginjakkan kakiku lagi di kampus sampai aku lulus. Toh yang penting aku lulus dan wisuda kan." Adam memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Kamu tidak akan ikut wisuda karena saat acara itu di laksanakan, bukan hanya kamu saja yang hadir disana tapi orang-orang seangkatan kamu juga akan hadir. Dimana saat itu juga kamu justru akan semakin di cemooh sama mereka," ujar Adam yang membuat Yola kini menggigit bibir bawahnya. Ia membenarkan apa yang dikatakan oleh calon suaminya itu.


"Aku juga kan sudah mengatakan berkali-kali jika mereka tidak akan mencemoohmu karena ada aku disampingmu. Dan setelah semuanya sudah terklarifikasi, mereka justru akan meminta maaf kepadamu bukan lagi untuk mencemoohmu. Dan mulai saat itu kamu akan melewati hari-harimu di kampus dengan tenang seperti dulu. Tapi jika kamu masih ngotot tidak mau mengklarifikasi, berarti mereka akan menganggap jika fitnah yang dilakukan oleh Kenza waktu itu benar adanya. Dimana hal itu akan menjadi boom waktu untukmu sendiri," sambung Adam diakhiri dengan ia menghela nafas. Ia benar-benar gemas, segemas-gemasnya kepada calon istrinya itu yang bandelnya minta ampun. Padahal ini semua dilakukan untuk kebaikan Yola sendiri, tapi perempuan itu terus saja mengundur waktu untuk tidak mengklarifikasinya. Dan hal itu benar-benar menguji kesabaran Adam.


"Tapi---"


"Masih ada tapi lagi. Ya Tuhan sayang." Adam mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ya sudah begini saja jika kamu tidak mau ikut aku untuk pergi dan klarifikasi di kampus kamu. Biar aku sendiri yang melakukannya," ujar Adam yang lebih memilih untuk mengalah dan menyelesaikan permasalah yang memang awalnya berasal dari dirinya itu sendiri tanpa di dampingi oleh calon istrinya yang menjadi korban itu.


"Aku berangkat dulu," pamit Adam.


Yola yang melihat Adam sudah melangkahkan kakinya menjauh darinya, lagi-lagi ia mengigit kukunya untuk mengalihkan kegundahan di hatinya itu.

__ADS_1


"Ck, apa yang harus aku lakukan? Ishhhh kenapa dia juga tidak mau memberiku waktu untuk menyiapkan mentalku sih. Haishhh kalau begini kan aku jadi bingung sendiri. Arkkhhhhhhh aku harus bagaimana?" bingung Yola dengan menimbang-nimbang apakah dia akan mengikuti Adam yang sudah keluar dari dalam apartemennya itu atau tidak.


"Apa aku harus ikut dengan dia? Tidak, tidak aku masih takut. Tapi kalau aku tidak ikut, aku kasihan dengan dia yang klarifikasi akan masalahku itu. Terlebih aku takut dia akan menjadi incaran para mahasiswi ganjen di kampus nanti. Haishhh sudahlah lebih baik aku ikut dengan dia saja. Urusan aku yang akan mendapatkan cemooh lagi dari mahasiswa dan mahasiswi di kampus, itu urusan belakangan. Karena yang lebih penting sekarang aku harus mengawal calon suami, takut dia berpindah hati kan beda lagi urusannya malah akan tambah pusing aku nantinya. Duh amit-amit deh jangan sampai," gumam Yola. Dan setelah itu, ia berlari masuk kembali kedalam kamarnya untuk mengambil tas kuliahnya itu. Kemudian ia kembali berlari untuk mengambil sepatunya sebelum ia berlari lagi untuk keluar dari apartemennya menuju ke baseman dengan berharap jika Adam belum pergi dari gedung apartemen tersebut.


__ADS_2