Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 09


__ADS_3

Mobil Adam kini telah berhenti di salah satu pintu gerbang rumah mewah sebelum gerbang itu dibuka oleh salah satu satpam yang menjaga rumah tersebut. Lalu barulah mobil Adam masuk ke dalam dan pintu gerbang itu kembali ditutup oleh satpam tadi. Dan hal tersebut membuat Yola berdecak sebal.


"Ck, kenapa pintu gerbang itu harus ditutup segala sih? Kan jadinya aku tidak bisa lihat dokter Adam ketemu sama siapa di rumah ini," gerutu Yola dengan mencoba mencari celah agar ia bisa mengintip kedalam rumah mewah itu tanpa ia harus masuk karena jika ia nanti masuk yang ada dirinya langsung ketahuan nanti. Tapi saat ia keluar dari mobil pun ia masih saja tak melihat celah sedikitpun di sana bahkan pagar yang dilewati oleh mobil Adam tadi sangat menjulang tinggi hingga menutupi area rumah tersebut. Dan hal tersebut lagi-lagi membuat Yola berdecak sebal. Masa iya, dia hari ini harus pulang dengan hasil yang nihil seperti biasanya. Padahal ini adalah kesempatan dirinya untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang Adam.


"Tidak. Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Kalau di sini tidak ada celah buat lihat area rumah ini, tidak ada salahnya kan kalau tanya satpam disana siapa tahu mereka bisa ngasih informasi mengenai dokter Adam kan lumayan," gumam Yola dengan senyuman yang terbit di bibirnya. Kemudian tanpa mengulur waktu lebih lama lagi, Yola ini bergerak mendekati pos satpam yang terletak di samping pagar tadi.


"Permisi Pak," ucap Yola saat dirinya sudah berada di depan pos satpam tadi. Dan tak berselang lama salah satu satpam yang tadi juga membukakan pintu gerbang untuk Adam keluar menemuinya.


"Iya ada apa ya Neng?" Tanya satpam tersebut.


"Hmmmm saya boleh numpang tanya tidak ya, Pak?"


"Boleh boleh Neng. Mau tanya apa?"


"Jadi begini Pak saya tadi tidak sengaja lewat disini dan lihat mobil kenalan saya masuk ke rumah ini. Dan setahu saya nih ya Pak, beliau itu tinggalnya di apartemen Paradise Palms. Apa bapak tahu beliau kemari ingin bertemu dengan siapa?" tanya Yola membuat satpam tadi mengerutkan keningnya.


"Maaf sebelumnya, kenalan Neng namanya siapa ya?"


"Adam. Ya, kenalan saya namanya Adam. Beliau adalah salah satu dokter di rumah sakit AWA Hospital." Satpam tadi tampak mengangguk-anggukkan kepalanya dengan ber-oh riya.


"Oh jadi Neng ini temannya tuan Adam?" Yola menganggukkan kepalanya tak lupa senyuman manisnya ia tampilkan.


"Jadi dia ke sini nyari siapa ya, Pak? Karena dia itu orangnya tertutup banget masalahnya, dan saya yang sebagai temannya jadi kepo deh hehehe." Yola meringis hingga memperlihatkan deretan gigi rapinya.


"Neng tidak tanya langsung sama tuan Adam saja gitu? Kan Neng temannya." Senyum lebar Yola dengan seketika luntur dan digantikan dengan lengkungan bibir yang ke bawah seakan-akan ia tengah bersedih.


"Nih si bapak satpam kenapa tidak langsung to the point saja jawab pertanyaanku tadi?! Kalau kayak gini kan aku harus putar otak lagi. Ck, menyebalkan," batin Yola.

__ADS_1


"Kan saya tadi sudah bilang Pak, dia itu tertutup banget. Kalau saya tanya dia, dan dia pasti akan jawab, saya sekarang tidak mungkin tanya sama bapak," ujar Yola dengan sebisa mungkin menahan emosinya.


"Hmmm iya juga sih. Tuan Adam itu emang anaknya tertutup banget," ucap satpam tadi.


"Lah bapak kan juga tau tuh. Jadi kasih tau saya dong, Pak. Adam kesini mau nyari siapa?" desak Yola.


"Baiklah saya akan kasih tahu Neng. Tapi Neng harus janji dulu, jangan kasih tau siapapun tentang rumah ini dan jangan kasih tahu tuan Adam kalau saya yang kasih tahu Neng tentang hal ini." Yola menghela nafas panjang sebelum dirinya menganggukkan kepalanya. Bahkan ia sempat berpikir seberapa rahasianya dan tertutupnya pemilik rumah ini hingga membuat siapapun tidak boleh ada yang tahu tentang rumah ini.


Satpam yang melihat anggukan kepala dari Yola pun ia semakin mengikis jarak antara dirinya dan Yola.


"Lho lho lho bapak mau ngapain? Jangan macam-macam ya Pak. Kalau bapak berani macam-macam sama saya, bapak siap-siap saja masuk ke rumah sakit atau mau langsung ke liang lahat? Pilih saja Pak, karena perlu bapak tau nih ya, saya ini ahli dalam bidang seni bela diri saat SD dulu. Jadi jangan macam-macam." Yola sudah memasang kuda-kuda siap menyerang satpam tadi yang tampak melongo dibuatnya, sebelum ia memutar bola matanya malas


"Si eneng ini gimana sih? Katanya tadi mau tanya tentang rumah ini. Tapi giliran saya mau kasih tahu ehhh si eneng malah mau menghajar saya. Jadinya ini mau gimana? Saya kasih tahu Neng atau tidak?" ucap satpam tersebut yang membuat Yola menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari menegakkan kembali tubuhnya.


"Ya salah bapak juga sih, kenapa tadi harus tiba-tiba mengikis jarak di antara kita. Kan saya jadi parno sendiri," ujar Yola tak mau disalahkan.


"Lho lho lho, bapak ini ceritanya lagi ngambek sama saya perkara saya mau menyerang bapak tadi?" tanya Yola saat melihat perubahan raut wajah satpam tadi.


"Saya tidak ngambek Neng hanya sebel saja. Saya kan tidak ada niat macam-macam sama Neng. Tapi si eneng malah nuduh saya yang tidak-tidak," ucap satpam tadi dengan mengerucutkan bibirnya. Sangat menggemaskan bahkan saking gemasnya Yola ingin sekali menampol wajah satpam itu. Tapi Yola tetap harus sabar karena informasi terbesar yang akan ia dapatkan kini kuncinya hanya ada di satpam itu.


"Baiklah baiklah, saya mohon maaf ya Pak. Saya tadi hanya khilaf saja dan jaga-jaga, melihat di luaran sana banyak kaum perempuan yang sering menerima pelecehan. Jadi sekali lagi maaf ya Pak, saya sebenarnya juga yakin kalau bapak tidak mungkin melakukan hal yang sama seperti di luar sana. Wajah bapak saja kelihatan kalau bapak itu orang baik," ujar Yola dengan terpaksa harus memuji satpam tadi supaya laki-laki paruh baya itu tak meneruskan aksi merajuknya.


"Saya tuh emang baik Neng. Nengnya saja yang tadi salah menilai saya," ujar satpam tersebut.


"Iya iya Pak, saya akui kalau saya salah tadi. Saya benar-benar minta maaf dan tolong maafkan kesalahan saya ya, Pak. Atau bapak mau saya traktir makanan supaya bapak tidak merajuk dengan saya lagi dan bisa memaafkan saya?" ucap Yola sekaligus melakukan penyogokan.


"Oke, saya akan maafkan neng kalau neng mau beliin saya es krim 5," ujar satpam tadi yang membuat wajah Yola menjadi cengo, tak percaya dengan permintaan laki-laki paruh baya itu.

__ADS_1


"Astaga kayak bocil aja nih si bapak," batin Yola.


"Baiklah saya akan belikan bapak es krim. Tapi setelah bapak kasih tau saya tentang pemilik rumah ini dan siapa yang Adam temui?"


"Tidak bisa gitu dong Neng. Harus ada es krimnya dulu," ujar satpam tadi yang membuat Yola lelah sendiri dan dengan cepat Yola mengeluarkan uang sebesar dua ratus ribu dari dalam dompetnya, kemudi ia sodorkan kedepan tubuh satpam tadi.


"Bapak beli aja sendiri ya. Karena saya sebenarnya tidak terlalu hafal dengan jalanan disini. Takutnya nanti bukannya saya belikan bapak es krim malah saya yang kesasar nanti," ujar Yola saat melihat kerutan di kening satpam tersebut.


"Oh begitu ya neng. Baiklah saya terima uang ini dan saya akan beli es krim sendiri nanti." Yola menganggukkan kepalanya dan uang yang ada di tangannya tadi kini telah berpindah ke tangan satpam tersebut.


"Jadi apa bapak bisa mulai ceritanya?" Satpam yang tadi tengah melihat uang pemberian Yola dengan senyum yang mengembang, kini dengan cepat ia memasukkan uang tadi kedalam sakunya sebelum ia akan mulai bercerita.


"Jadi tuan Adam kesini tuh untuk menemui---"


Tin tin tin!


Bunyi klakson dari dalam area rumah mewah itu menghentikan ucapan satpam tersebut.


"Bentar Neng ada yang mau keluar, saya bukain pintu gerbangnya dulu." Yola mengela nafas sebelum dirinya menganggukkan kepalanya. Dan sesaat setelahnya satpam tadi bergegas membukakan pintu gerbang tersebut yang membuat Yola langsung membelalakkan matanya dan dengan cepat ia mencari tempat persembunyiannya. Karena ternyata mobil yang ingin keluar dari rumah itu adalah mobil milik laki-laki yang ia ikuti.


Dan setelah mobil itu melewati gerbang, Yola dengan cepat keluar dari persembunyiannya dan bergegas menuju mobilnya untuk melanjutkan mengikuti mobil Adam.


"Lho Neng mau kemana? Saya belum mulai cerita lho ini!" teriak satpam tadi yang membuat Yola menolehkan kepalanya kearah satpam tersebut.


"Besok saja Pak. Saya besok kesini lagi," jawab Yola dengan teriakkan pula.


"Baiklah, saya tunggu besok ya Neng!" Yola mengacungkan jari jempolnya sebelum dirinya masuk kedalam mobil pribadinya. Dan sebelum dirinya meninggalkan tempat tersebut ia membunyikan klakson mobilnya untuk berpamitan dengan satpam tadi. Sebelum akhirnya ia menjalankan mobilnya mengikuti mobil Adam yang sudah lumayan jauh dari penglihatannya.

__ADS_1


__ADS_2