
Kenza mengetuk-ngetuk kakinya di atas lantai dengan sesekali matanya menatap kearah jam yang melingkar di tangannya.
"Kemana sih dia? Kenapa dia tidak kunjung kembali? Ini sudah jam 5 sore lho yang berarti aku sudah menunggu dia disini hampir 6 jam. Tapi selama itu juga aku tidak melihat batang hidung dia sama sekali. Dan bodohnya anak buahku tidak tau kemana perginya dia hari ini. Sialan," geram Kenza.
Sedangkan disisi lain, tepatnya di parkiran, Heila yang juga tengah menunggu Nona-nya pun ia tak kalah kesalnya dari Kenza.
"Apa yang sebenarnya mereka lakukan hingga sampai 6 jam ini nona Kenza tidak kunjung kesini? Apakah hanya untuk melepaskan kerinduan mereka harus selama ini? Sumpah demi apapun aku sangat jenuh disini. Apa aku intip mereka saja ya? Ahhhh tidak, tidak. Jika aku melakukan hal itu aku akan dicap sebagai manusia yang tidak memiliki sopan santun. Tapi aku juga tidak mau di sini terus. Atau aku keluar untuk lihat-lihat rumah sakit ini saja ya? Hmmmm sepetinya itu sangat menarik," ucap Heila yang mendapatkan ide untuk menghalau kebosanannya itu.
"Pak, bapak mau ikut saya jalan-jalan keliling di rumah sakit ini tidak? Karena saya tau bapak juga bosan kan?" tawar Heila.
"Iya Non. Saya memang sangat-sangat bosan sekarang. Tapi untuk jalan-jalan ke dalam rumah sakit itu mending saya tidak ikut Non. Saya tidak suka bau rumah sakit soalnya," ujar sopir itu yang diangguki oleh Heila.
"Ya sudah kalau gitu saya keluar buat jalan-jalan dulu ya pak. Dan ini, buat beli cemilan saja untuk menemani kejenuhan bapak di dalam mobil ini," ucap Heila sembari memberikan uang 100 ribu kepada sopir tersebut yang langsung di terima tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Waahhh terimakasih ya Non," ujar sopir tersebut yang dijawab anggukkan dan senyuman dari Heila sebelum perempuan itu kini keluar dari dalam mobil tersebut dan segera melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit itu.
Heila terus berjalan hingga tak sengaja saat langkahnya ia belokkan ke deretan ruangan para dokter, dari kejauhan ia melihat wajah murung seseorang yang sangat ia kenal itu. Dan hal itu membuat kening Heila mengkerut.
"Bukannya itu Nona Kenza? Kenapa dia terlihat murung seperti itu? Dan kenapa dia hanya duduk sendirian di sana?" gumam Heila dengan pertanyaan-pertanyaan yang kini tengah memutar di otaknya.
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa aku sangat penasaran sekali kenapa dia hanya disitu? Apa aku perlu menghampiri dia sekarang?" ucapnya dengan menimbang-nimbang akan mendekati Kenza atau tidak.
"Haishhhh udahlah aku tidak akan menghampiri dia. Mungkin dia disana karena tuan Adam tengah memeriksa pasiennya," ujarnya dengan diakhiri gedikkan di bahunya sebelum ia melanjutkan langkahnya ke arah lain.
Tak terasa sudah 1 jam lamanya Heila jalan-jalan di area rumah sakit itu walaupun sebenernya 30 menit ia habiskan untuk duduk-duduk saja di taman rumah sakit tersebut dengan sesekali mengecek ponselnya, takutnya Kenza menelepon atau mengirim dirinya sebuah pesan. Namun ternyata ia tak mendapat telepon ataupun pesan dari Kenza yang membuat dirinya kini mengerutkan keningnya.
"Ini sudah jam 6. Apakah dia tidak mau pulang dan ketemu kangennya dilanjutkan besok? Atau jangan-jangan dia sudah pulang duluan sama tuan Adam lagi. Dan karena saking senangnya dia sampai lupa kalau aku tengah menunggu dia? Haishhhhh kalau tahu begitu, aku tidak akan menunggu dia selama ini tadi," gumam Heila sembari bangkit dari duduknya.
Ia melangkahkan kakinya menuju parkiran rumah sakit itu untuk mengajak sopir yang mengantarnya tadi untuk pulang. Tapi ternyata saat dirinya ingin berbelok menuju kearah lobi, matanya tak sengaja menatap ke arah dimana ia tadi melihat Kenza 1 jam yang lalu di sana. Dan betapa terkejutnya dia jika ternyata Kenza masih di tempat yang sama yang berarti tebakannya tadi salah.
Dan karena itu, Heila kini mengurungkan niatnya untuk menuju ke parkiran melainkan ia justru tengah bergerak menuju ke arah Kenza yang masih sendirian di sana.
"Astaga kenapa dia tidur disini?" ucap Heila sebelum tangannya kini bergerak untuk membangunkan Kenza.
Kenza yang merasakan guncangan di lengannya itupun membuat dirinya kini terbangun dari tidurnya itu.
"Adam," gumam Kenza belum sadar sepenuhnya.
"Saya bukan tuan Adam, Nona. Tapi saya Heila," ujar Heila membenarkan. Dan hal tersebut membuat Kenza mengucek matanya agar penglihatannya tak memburam.
__ADS_1
Dan benar saja saat penglihatannya sudah normal, orang yang kini tengah berdiri didepannya itu bukanlah Adam melainkan Heila. Dan hal tersebut membuat dirinya kini berdecak sebal.
"Saya kira tadi Adam," ujar Kenza dengan menegakkan tubuhnya.
"Bukan Nona. Dan kenapa Nona tidur disini? Bukankah tuan Adam memiliki ruang kerja? Kenapa dia tidak menyuruh nona untuk istirahat di dalam ruangannya saja selagi dia memeriksa pasiennya. Bukan malah membiarkan Nona tidur di luar ruangan seperti ini," ucap Heila yang kini membuat Kenza menghela nafas, rasa kesal di hatinya pun tiba-tiba menyeruak kembali.
"Saya belum bertemu dengan Adam. Entah kemana dia sekarang. Saya sedari tadi nunggu dia disini tapi dia tidak kunjung menampakkan diri," ujar Kenza yang membuat Heila terkejut.
"Hah? Jadi nona dari tadi belum bertemu dengan tuan Adam?" tanya Heila untuk memastikan.
"Ck, belum Heila. Dan jika memang dia sekarang tengah memeriksa pasiennya kenapa dia tidak balik-balik ke ruangannya. Tidak mungkin kan dia memeriksa pasien sampai 6 jam lamanya seperti ini. Kalaupun pasien dia benar-benar banyak harusnya dia kembali dulu untuk istirahat sejenak baru kembali memeriksa pasiennya itu," ujar Kenza yang membuat Heila menjadi prihatin dengan Nona-nya itu.
"Kalau begitu bagaimana kalau nona telepon orang yang nona tugaskan untuk mengikuti tuan Adam. Kita tanya dia dimana posisi tuan Adam yang sebenarnya," ucap Heila memberikan sebuah solusi.
"Jika mereka tau dimana Adam sekarang berada, saya tidak mungkin terus menunggu dia disini. Orang yang saya tugaskan untuk mengawasi Adam, mereka semua tidak ada yang tau keberadaan dia sekarang dimana. mereka benar-benar tidak becus bekerja," kata Kenza kesal.
"Hmmm kalau begitu apa nona ingin terus menunggu tuan Adam disini. Tapi kalau boleh saya sarankan lebih baik kita sekarang pulang dulu dan kita akan kembali lagi besok," ujar Heila yang membuat Kenza menghela nafas kasar sebelum perempuan itu kini berdiri dari duduknya dan tanpa sepatah katapun ia berjalan meninggalkan tempat tersebut meninggalkan Heila yang kini tengah menggelengkan kepalanya sebelum ia berjalan mengikuti langkah Kenza tadi.
...****************...
__ADS_1
Kasihan banget sih si Kenza udah nungguin tapi ternyata zonk๐ Yeyyyyy Triple up lagi. Jangan lupa untuk kasih LIKE setelah baca ya. Jangan lupa juga kasih HADIAH, VOTE dan komen sebanyak-banyaknya. See you next eps bye ๐