
Lukas memincingkan matanya kala perempuan yang duduk disampingnya itu ternyata mengenal dirinya.
Namun sesaat setelahnya ia hanya menganggukkan kepalanya. Mau bertanya apa mereka berdua sebelumnya pernah saling kenal satu sama lain tapi situasi dan kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk Lukas bertanya seperti itu kepada perempuan yang tampaknya tengah down tersebut.
"Ambil ini, hapus air matamu dan segeralah kembali ke ruang wisuda karena sekarang acara itu pasti sudah dimulai," ucap Lukas.
Perempuan itu tampak menatap kearah sapu tangan Lukas itu sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah Lukas kembali.
"Apa? Ambil nih buruan," ucap Lukas. Dimana hal tersebut membuat tangan perempuan tersebut yang tak lain adalah Amel bergerak untuk mengambil sapu tangan dari Lukas tersebut.
Dan setelah sapu tangan itu berada di genggaman Amel, Lukas segara berdiri dari posisi duduknya tadi kemudian ia berjalan menjauh dari Amel sembari tangannya bergerak mengambil sesuatu yang berada di saku tuxedo yang tengah ia kenakan itu.
Lukas yang sudah benar-benar menjauh dari Amel, dengan memunggungi tubuh Amel yang terus menatap dirinya, Lukas menyalakan rokoknya guna untuk menenangkan hatinya yang tengah kacau itu.
"Kenapa masih diam saja disitu? Kembali ke ruang wisuda sana sebelum terlambat nanti karena aku yakin sebelum kamu ke ruang wisuda kamu harus mampir ke kamar mandi dulu untuk memperbaiki riasamu yang sudah hancur lebur itu dan terlihat sangat menakutkan," ujar Lukas yang membuat Amel mencebikkan bibirnya. Ia kira Lukas akan menenangkan dirinya. Tapi ia lupa jika seorang Lukas yang pernah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri berani melukai hati seorang perempuan. Dimana perempuan itu adalah Yola, jadi tidak ada hal yang perlu diharapkan dari seorang Lukas.
__ADS_1
"Kamu menyuruhku untuk kembali ke ruang wisuda berlangsung tapi kamu sendiri malah masih santai-santai disini," ucap Amel sembari berdiri setelah dirinya selesai menghapus air matanya. Lalu ia berjalan mendekati Lukas.
"Itu bukan urusanmu," ujar Lukas yang membuat Amel menghentikan langkahnya sebelum ia kini menghela nafas panjang.
"Iya aku tau ini bukan urusanku tapi setidaknya kalau kamu menyuruh seseorang setidaknya kamu juga harus melakukannya," balas Amel.
Lukas yang mendengar ucapan dari Amel tadi ia memutar tubuhnya untuk menghadap kearah Amel berada sembari menampilkan senyum mengerikan yang membuat Amel dengan susah payah menelan salivanya. Apalagi saat melihat Lukas kini tengah melangkahkan kakinya mendekati dirinya berada saat ini.
Amel yang tak mau dirinya di perlakukan hal yang sama seperti yang Yola dapatkan dulu. Saat Lukas semakin mendekatinya, ia memundurkan langkahnya dengan keringat dingin yang keluar dari dalam tubuhnya.
Ia terus melangkah mundur hingga tanpa ia sadari jika ia telah berada di pembatas roof top tersebut.
"Kita tidak saling mengenal satu sama lain. Mungkin kamu mengenalku tapi aku tidak pernah mengenalmu. Hubungan kita juga tidak sedekat nadi. Jadi apa hakmu mengatur hidupku," ucap Lukas tepat berada di samping telinga Amel yang membuat perempuan tersebut langsung membuka kembali matanya.
Bertepatan saat ia membuka matanya, Lukas sudah menjauhkan wajahnya dari samping wajah Amel.
__ADS_1
"Jadi jangan mengaturku lagi karena kita tidak memiliki hubungan apapun. Dan buruan balik ke ruang wisuda sana sebelum kamu menyesal nanti. Mengerti," sambung Lukas yang diangguki oleh Amel yang masih dalam mode ketakutan tersebut.
Dan hal itu justru membuat Lukas tersenyum kearahnya bahkan tangannya kini bergerak untuk menepuk-nepuk kepala Amel sebelum laki-laki itu kembali ke tempatnya semula untuk menikmati rokoknya yang sengaja ia taruh di atas pembatas roof top sebelum dirinya tadi mendekati Amel.
Amel yang sudah terbebas dari singa jangan itu pun dengan langkah tergesa-gesa ia meninggalkan roof top tersebut dan tujuannya kali ini bukan langsung ke ruang wisuda melainkan ke kamar mandi seperti yang di ucapkan oleh Lukas sebelumnya untuk membenarkan riasan di wajahnya itu. Agar orang-orang yang berada di dalam ruang wisuda tersebut terutama Yola tak menyadari jika dirinya baru selesai menangis.
Sesampainya dirinya berada di dalam kamar mandi, ia menatap penampilannya dari pantulan cermin didalam kamar mandi tersebut.
"Ya ampun, pantas saja Lukas tadi bilang kalau wajahku menakutkan karena ucapannya itu memang sebuah fakta. Make-upku benar-benar hancur. Ya Tuhan, sangat memalukan," gumam Amel dan dengan cepat ia mulai menghapus make-up yang sudah merusak wajah cantiknya itu. Kemudian ia segara merapikannya.
Namun ditengah-tengah ia merias dirinya kembali, ia teringat akan satu kalimat yang di ucapkan oleh Lukas tadi.
"Tunggu sebentar, Lukas tadi bilang kalau hanya aku saja yang kenal dia, otomatis ucapnya itu memberitahu kalau dia tidak kenal denganku yang berarti dia tidak tau jika aku adalah sahabat Yola. Padahal dulu aku sering banget nolong Yola dari bullying yang dia lakukan dulu yang otomatis dia tau aku dong. Tapi kenapa dia tadi bilang kalau dia tidak mengenalku? Apa dia lupa dengan wajahku ini?" ucap Amel bertanya-tanya sebelum tangannya kini memukul kepalanya sendiri.
"Ya ampun Amel. Memangnya kamu ini siapa sampai Lukas harus tau kamu? Kamu itu orang tidak penting Amel, jadi sudah sepantasnya kamu memang tidak diingat oleh Lukas karena kamu memang tidak penting. Dasar, perempuan mempunyai tingkat kepercayaan diri yang tinggi," dumel Amel yang merasa dirinya sangat bodoh kali ini.
__ADS_1
"Haishhhh sudah lah daripada memikirkan hal yang tidak jelas lebih baik aku segera ke ruang wisuda sekarang juga," sambung Amel dengan membereskan makeup yang ia bawa tadi. Dan kala dirinya melihat sapu tangan Lukas, ia menghela nafas panjang.
"Sudahlah, aku akan cuci sapu tangan ini dulu dan aku akan mengembalikan saputangan ini ke dia," ujar Amel sebelum dirinya melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi tersebut.