
Heila yang sudah mulai tenang pun ia melepaskan pelukan Tristan tadi.
"Terimakasih," ucap Heila kala tubuh mereka berdua sudah saling menjauh. Dan ucapnya itu dibalas dengan anggukan kepala oleh Tristan.
"Sudah, jangan nangis lagi," ucap Tristan dengan menghapus sisa air mata Heila.
Adam yang sudah tak betah melihat keromantisan mereka berdua yang membuat dirinya iri pun ia berdehem yang membuat kedua orang tadi langsung tersadar jika diruangan tersebut bukan hanya ada mereka berdua melainkan ada orang lain juga.
Heila sempat terkejut saat ia melihat orang yang berdehem tadi adalah Adam.
"Tuan Adam," ucap Heila.
Adam menampilkan senyumannya sebelum dirinya kini melangkahkan kakinya mendekati Heila.
"Selamat pagi Heila," sapa Adam sekedar untuk basa-basi saja.
"Selamat pagi juga tuan."
"Jangan memanggil saya dengan sebutan tuan, Heila. Panggil saya dengan nama saja," ucap Adam yang sudah benar-benar risih mendengar dirinya di sebut dengan panggilan tuan.
"Tapi---"
"Kita sudah kenal lama Heila. Saya juga bukan atasan kamu jadi tidak perlu kamu memanggil saya dengan sebutan tuan lagi. Kamu mengerti?!" ucap Adam yang terpaksa diangguki oleh Heila.
"Saya sudah tau apa yang tengah kamu alami tadi malam. Tapi saya hanya mau bertanya sama kamu boleh?" Heila menganggukkan kepalanya.
"Alasan apa yang mendasari Kenza melakukan penganiayaan ini kepadamu?" tanyanya.
Heila tampak mengigit bibir bawahnya, takut untuk menceritakan secara detail apa yang terjadi kepadanya itu.
"Jangan takut katakan saja. Kita disini ada di pihakmu," ujar Tristan dengan menggenggam tangan Heila. Heila menatap kearah Tristan sesaat sebelum dirinya kini menganggukkan kepalanya dengan helaan nafas panjang. Lalu setelahnya ia menceritakan sedetail-detailnya tentang kejadian tadi malam tanpa ia kurangi dan tambahkan.
"Berarti kepulangan kalian tanpa di ketahui oleh Om Harun?" Heila menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Adam tadi.
__ADS_1
"Astaga." Adam mengusap wajahnya dengan kasar. Ia yakin jika Papa dari Kenza itu tau jika anaknya dan Heila tidak ada di negara yang sama dengan negara yang ia tempati saat ini, dia pasti akan marah besar dan pastinya yang menjadi sasaran empuk dari kemarahannya itu adalah Heila.
"Kamu dalam masalah besar Heila," celetukan Adam.
Dan baru saja bibir Adam terkatup, suara dering ponsel milik Heila terdengar memenuhi ruangan tersebut yang membuat tiga orang yang ada disana menolehkan kepalanya ke sumber suara.
Tristan yang paham jika Heila tidak bisa mengambil ponselnya sendiri pun tangannya bergerak untuk mengambilkannya.
"Terimakasih," ucap Heila sembari menerima ponselnya dari tangan Tristan. Dan setelah mengucapkan hal tersebut, ia melihat siapa gerangan yang tengah menelepon dirinya.
Dan betapa terkejutnya dia saat di layar ponselnya itu tertera nama tuan besar Harun.
"Siapa?" tanya Adam penasaran karena ia melihat wajah Heila yang tampak pias setelah ia melihat penelepon tersebut.
"Tuan Harun." Adam yang mendengar nama itu pun juga ikut panik saat ini.
"Aku harus bagaimana? Aku takut terkena amukan dari tuan Harun," ujar Heila yang membuat Adam kini menghela nafasnya.
"Ha---halo tuan," ucap Heila dengan takut-takut.
📞 : "Apakah kamu sekarang sudah berpihak kepada Kenza, Heila sampai kamu berani menuruti perintah dia tanpa meminta persetujuan dari saya terlebih dahulu?" tutur Om Harun dari sebrang. Dari nada suara laki-laki itu terlihat jelas jika dia tengah menahan amarahnya.
"Maafkan saya tuan, saya tidak memiliki niatan untuk mengkhianati tuan," ujar Heila.
📞 : "Kata maaf tidak bisa menghilangkan rasa kecewa saya kepadamu, Heila. Jadi lebih baik kamu katakan dimana kalian sekarang berada?" Perkataan dari laki-laki itu membuat Heila kini mengigit bibir bawahnya.
📞 : "Katakan!" sentak laki-laki itu yang membuat Adam dan Tristan refleks mengepalkan tangan mereka.
"Heila dan anak anda sedang berada di Indonesia." Bukan Heila yang menjawab melainkan Adam lah yang berbicara.
Om Harun yang ada di sebrang mengerutkan keningnya kala ia mendengar suara seseorang yang sangat familiar di telinganya itu.
📞 : "Tunggu siapa tadi yang berbicara?" tanya Om Harun penasaran.
__ADS_1
"Saya Adam," jawab Adam dengan tegas yang membuat Om Harun terkejut.
📞 : "Adam. Kamu tengah bersama Heila sekarang, berarti kamu tengah bersama dengan Kenza bukan? Apa Kenza melakukan hal yang menyakitimu?" tanya Om Harun dengan nada suara yang benar-benar berubah. Sangat berbeda saat dirinya berbicara dengan Heila tadi.
"Tidak. Untuk apa saya bersama dengan putri anda. Saya memang tidak dilukai oleh putri anda tapi ada orang lain yang hampir dibuat kehilangan nyawanya atas perilaku putri anda," ucap Adam.
📞 : "Orang lain? Siapa dia?" tanya Om Harun.
"Orang itu adalah Heila."
📞 : "Heila? Jangan bercanda kamu, Adam!"
"Untuk apa saya bercanda. Buang-buang waktu saja," ucap Adam.
📞 : "Jika memang apa yang kamu katakan itu benar, dimana kalian sekarang berada?"
"AWA Hospital."
Setelah Adam mengatakan lokasi dimana mereka kini tengah berada, sambungan telepon itu langsung terputus begitu saja yang justru membuat Heila semakin khawatir akan nasibnya.
"Kenapa kamu bilang kalau aku sempat di sakiti oleh nona Kenza?" protes Heila.
"Ini semua untuk kebaikan kamu. Jika saya tidak mengatakan hal itu maka kamu yang akan menjadi sasaran atas kemarahan dia," ucap Adam yang membuat Heila hanya bisa pasrah saja dengan nasibnya nanti.
Sedangkan disisi lain, di sebuah rumah mewah, terlihat seorang laki-laki dengan setelan formal, berjalan terburu-buru keluar dari rumah tersebut.
"Antar saya ke AWA Hospital!" perintahnya kepada sopir pribadinya itu sebelum dirinya masuk kedalam mobil mewahnya diikuti sopir tadi.
Ya, laki-laki itu adalah Harun, ayah dari Kenza yang baru saja sampai di Indonesia setelah ia menerima laporan dari anak buahnya yang waktu itu ia utus untuk ke kantor Kenza tapi tidak mendapati putrinya itu disana. Dan setelah di telusuri ternyata ia mendapatkan informasi jika anaknya dan tangan kanannya pergi ke negara yang sangat-sangat ia larang putrinya itu datangi setelah kejadian 7 tahun yang lalu. Maka dari itu ia benar-benar murka dan langsung terbang ke Indonesia untuk membawa putrinya itu kembali sebelum putrinya itu melakukan sesuatu kepada anggota keluarga Abhivandya. Keluarga yang sudah membuat perjanjian kepadanya untuk tidak memperbolehkan Kenza kembali ke negara itu dan mendekati keluarga tersebut terutama Adam.
"Tolong tambah kecepatannya lagi. Kita harus segara sampai di sana," ucap Om Harun saat mobil yang ia tumpangi mulai berjalan.
"Baik tuan," ujar sopir tersebut dengan menambah laju kecepatan mobil itu.
__ADS_1