
Dipagi harinya, Yola mengerjabkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinanya, sebelum matanya itu kini terbuka lebar. Dan saat itu juga ia baru sadar jika dirinya bukan berada di rumah kedua orangtuanya atau disalah satu apartemennya.
"Lha aku ada dimana sekarang?" tanya Yola kepada dirinya sendiri sembari mengedarkan pandangannya kearah kamar serba putih itu hingga matanya kini berhenti di foto yang berada di atas nakas kamar tersebut. Dimana foto itu adalah foto Adam.
"Ehhh kalau disini ada foto Kak Adam berarti aku sedang berada di kamarnya. Tapi tunggu dulu, seingatku kamar apartemen milik Kak Adam tampilannya bukan seperti ini deh? Kalau begitu ini kamar kak Adam di apartemen lain atau jangan-jangan?" Mata Yola terbuka lebar dan dengan cepat ia turun dari ranjang kamar tersebut. Lalu dengan penampilannya yang masih acak-acakan ia bergegas untuk berniat keluar dari kamar itu. Tapi baru saja ia membuka pintu kamar itu, diambang pintu tersebut ternyata ada Adam yang ingin masuk kedalam kamar tersebut.
"Sayang, ada apa?" tanya Adam saat melihat raut panik dari Yola.
Yola menatap lekat wajah Adam, sebelum dirinya kini bersuara.
"Kak, sekarang kita ada dimana?" tanyanya.
"Ohhh kita sekarang lagi ada di rumah kedua orangtua Kakak." Jawaban dari Adam itu membuat Yola shock berat.
"Memangnya kenapa sih sayang?" tanya Adam penasaran.
"Gawat Kak." Adam mengerutkan keningnya.
"Gawat Kenapa?"
__ADS_1
"Yola tidak boleh disini sekarang. Yola harus segara pergi," ujar Yola dan saat dirinya ingin melewati Adam. Adam langsung melingkarkan tangannya di pinggang Yola.
"Sayang kamu kenapa sih? Mommy sama Daddy bahkan semua orang yang ada di rumah ini sudah mengizinkan kamu tadi malam menginap disini. Kamu juga tidak perlu khawatir, semalam kita tidak tidur satu kamar, Kakak tidurnya di kamar tamu. Jadi tenanglah. Dan apanya yang gawat?" Yola yang mendengar hal itu pun ia merasa sedikit lega tapi masih ada satu hal yang membuat dirinya tak tenang berada di rumah itu lama-lama.
"Pokoknya aku harus segara keluar dari rumah ini Kak," ujar Yola.
"Kenapa?" Tanya Adam yang benar-benar bingung dengan sikap kekasihnya itu.
"Karena Yola tidak mau membuat Kakak marah."
"Hah?" kejut Adam.
"Ishhhh Kakak gak ingat ucapan Kakak beberapa bulan yang lalu kalau Yola tidak boleh menginjakkan kaki Yola di rumah ini lagi. Karena kalau sampai Yola menginjakkan kaki Yola disini, Kakak akan marah dan berakhir menjauhi Yola lagi. Jadi lebih baik Yola sekarang pergi dari rumah ini sekarang juga. Dan maaf Yola tidak menepati ucapan Yola yang menyetujui perkataan Kakak waktu itu. Maaf Kak dan Yola mohon jangan marah sama Yola oke karena Yola akan segara keluar dari sini sekarang juga," ucap Yola sebelum dirinya kembali berniat untuk kabur dari rumah tersebut namun tak bisa karena Adam masih memeluk pinggangnya.
Sebelum akhirnya tangan Adam kini menyentil kening Yola.
"Dengar baik-baik ya sayang. Perkataanku dulu sudah tidak berlaku untukmu sejak kita dekat satu sama lain, sejak aku memutuskan untuk jatuh cinta denganmu, dan sejak aku kalah dalam permainanmu. Jadi aku tidak akan marah jika kamu berada di rumah ini toh tadi malam aku sendiri yang bawa kamu ke rumah ini," ujar Adam.
Yola yang tengah mengelus keningnya yang terkena sentilan dari kekasihnya itu ia menengadahkan kepalanya agar ia bisa menatap wajah Adam.
__ADS_1
"Begitu kah?" Adam menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Yola itu.
"Kakak beneran tidak marah sama Yola? Dan ucapan Kakak waktu itu sudah tidak berlaku lagi?" tanya Yola untuk memastikan.
"Iya sayang. Kakak tidak akan marah sama kamu dan semua ucapan Kakak beberapa bulan yang lalu itu Kakak tarik kembali. Jadi mulai sekarang lupakan perkataan Kakak itu oke." Yola tampak tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya yang otomatis membuat Adam ikut tersenyum dengan tangan yang tadi ia gunakan untuk mencegah kepergian Yola kini bergerak untuk mengacak rambut Yola yang sudah tampak acak-acakan itu.
"Dan lebih baik kamu segara mandi sana. Ini baju ganti kamu. Habis kamu mandi kita pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Heila," ujar Adam sembari menyerahkan paper bag yang ada di tangannya itu kearah Yola yang di tatap sesaat oleh gadis tersebut sebelum ia mengambil paper bag tersebut sembari menganggukkan kepalanya dengan patuh.
"Kalau begitu Kakak tunggu di bawah." Lagi-lagi Yola menganggukkan kepala yang dibalas elusan di kepalanya oleh Adam dengan senyuman manis dari laki-laki itu sebelum Adam berjalan menuju ke lantai satu. Dimana kepergiannya itu membuat Yola masuk kembali kedalam kamar tersebut dengan perasaan tenang dari sebelumnya. Dan seperti yang diperintahkan oleh Adam sebelumnya, ia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Dan hanya membutuhkan beberapa menit saja, Yola telah keluar dari kamar mandi itu dengan tubuh yang lebih fresh dari sebelumnya. Dan dengan menghela nafas panjang, ia keluar dari kamar itu dengan paper bag yang berisi pakaian kotornya itu.
"Huh, jangan gugup Yola. Ini bukan kali pertama buatmu untuk bertemu dengan Mommy Della," gumam Yola untuk menyemangati dirinya sendiri yang tiba-tiba gugup itu sebelum akhirnya kakinya itu kembali melangkah menuruni anak tangga di rumah tersebut.
Dan sesampainya dia di lantai satu, dirinya langsung disambut oleh Adam yang sedari tadi menunggu di ruang tamu.
"Kita sarapan dulu yuk," ajak Adam yang hanya diangguki oleh Yola.
Adam menggandeng tangan Yola dan sebelum mereka berdua melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan, Adam mengambil paper bag dari tangan Yola kemudian memberikannya kepada salah satu maid disana yang ia suruh menaruh paper bag tersebut kedalam mobilnya. Dan setelah Adam melihat maid tadi sudah menjauh darinya, ia baru mengajak Yola menuju ke ruang makan yang Yola anggap jika di ruang makan itu hanya akan ada dirinya juga Adam saja atau kalau tidak ada Mommy Della saja.
__ADS_1
Tapi tebakannya itu salah besar karena saat dirinya masuk kedalam ruang makan itu, ia terkejut dengan debaran jantung yang memacu begitu kencang kala melihat bukan hanya ada Mommy Della saja disana melainkan ada keluarga Adam yang lainnya. Dan mereka tengah menatapnya dengan senyuman di bibir mereka semua, yang dibalas senyuman malu-malu oleh Yola. Bahkan saking malunya ia sempat ingin menundukkan kepalanya, namun niatnya itu ia urungkan kala ia melihat satu orang yang tengah duduk diantara keluarga Adam yang lainnya. Dimana orang itu adalah orang yang sangat familiar untuknya. Dan saking tak percayanya dia dengan apa yang ia lihat itu, ia sempat mengerjabkan matanya berkali-kali namun yang ia lihat itu masih saja sama tidak berubah sama sekali yang berarti penglihatannya itu tak salah. Orang itu memang lah orang yang ia kenal.