Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 27


__ADS_3

Sedangkan disisi lain, Adam menggerutu saat anak buahnya tak pernah becus mencarikan seorang perempuan yang ingin ia jadikan sebagai kekasih bayaran.


"Apakah sebegitu sulitnya kah mencari seorang perempuan yang mau dengan uangku? Mereka yang mendaftarkan untuk menjadi kekasih bayaranku itu, kenapa harus meminta imbalan dengan tubuhku. Apa mereka pikir aku ini laki-laki murahan yang mau sembarangan mereka sentuhan? Ohh astaga. Jika seperti ini kapan aku bisa lepas dari perempuan gila itu. Sudah satu bulan ini dia terus membayangiku dan itu sangat memuakkan," gumam Adam yang frustasi sendiri karena tak kunjung mendapat perempuan yang mau bekerja sama dengannya dan frustasi karena Yola terus mengganggunya.


Hingga fokusnya kini berpindah kepada ponselnya yang tampak berbunyi itu.


Adam menghela nafas saat ia melihat ada sebuah pesan masuk kedalam ponselnya dan pesan itu tentunya dari Yola. Walaupun ia tak menyimpan nomor ponsel perempuan itu namun ia sudah sangat hafal dengan nomor yang sering mengirimnya pesan ataupun mencoba untuk meneleponnya walaupun tak pernah ia balas.


"Apakah aku harus ganti nomor telepon lagi untuk yang kesekian kalinya? Astaga!" geram Adam sembari menelungkupkan wajahnya dari balik lipatan kedua lengannya. Ia sudah tak tau lagi harus berbuat apa sekarang. Apakah dia harus membiarkan Yola melakukan apapun yang perempuan itu mau hingga masa perjanjian yang tak pernah Adam setujui itu usai tanpa ia memberikan respon apapun kepada perempuan itu sama seperti yang sering ia lakukan ke perempuan lain yang menginginkannya? Hmmmm sepertinya jika Adam sudah benar-benar frustasi mencari kekasih bayaran, ia akan melakukan cara yang selalu ia lakukan itu.


Sedangkan disisi lain, tepatnya di sebuah supermarket, Yola kini menghela nafas panjang kala pesannya tak mendapat balasan dari Adam. Padahal pesan itu berisi tentang dia yang bertanya Adam ingin dimasakkan apa olehnya untuk pertama kali. Tapi sayangnya otaknya harus ia ajak berpikir lagi untuk kali ini.


"Heyyy, kenapa diam di sini? Bukannya Kakak tadi sudah bilang ambil es krim apa saja yang kamu mau?" Yola menolehkan kepalanya kearah Erland yang sudah berdiri disampingnya.


"Iya Kakak. Tapi sepertinya selain es krim Yola juga mau beli bahan buat bikin steak deh," ucap Yola yang membuat alis Erland terangkat sebelah.


"Kamu mau buat steak? Buat kamu sendiri atau buat orang lain?" tanya Erland yang sepertinya mulai curiga.


"Hehehe bukan buat Yola sendiri sih Kak tapi buat dokter Adam," jawab Yola yang membuat Erland mendengus.


"Kamu yakin mau masakin dia? Kamu gak akan sakit hati kan kalau dia nolak makanan yang kamu masak sendiri?" Yola tampak terdiam, ia juga tidak yakin jika Adam akan menerima masakannya itu.


"Kamu tidak yakin kan? Kalau tidak yakin mending tidak usah," ujar Erland yang langsung mendapat gelengan kepala oleh Yola.


"Aku harus tetap masakin dokter Adam, Kak. Kan aku juga belum pernah nyoba buat kasih masakanku sendiri. Jadi aku gak tau dia bakal suka atau tidak. Dan sekarang aku akan mencobanya. Kalau di terima syukur kalau tidak besok coba lagi," ucap Yola yang membuat Erland menghela nafas.

__ADS_1


"Ya terserah kamu. Yang penting kalau di tolak nanti sama dia, kamu jangan nangis oke." Yola tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Sebelum dirinya kini melangkahkan kakinya mendekati daging yang akan ia jadikan steak nanti.


"Lihatlah bang. Perempuan yang tidak pernah kamu lihat ini, selalu ingat kamu dimanapun dia berada. Bahkan dia berinisiatif untuk memasak langsung makanan kesukaan kamu. Dan semoga saja kamu tidak mengecewakan dia untuk kali ini, bang," gumam Erland sembari menatap punggung Yola yang tengah asik memilih daging dalam lemari pendingin.


"Kak, sini," ucap Yola sembari melambaikan tangannya menyuruh Erland segera mendekatinya. Erland yang paham pun ia segera mendekati Yola.


"Kenapa?" tanyanya.


"Kakak mau Yola buatin steak juga?" tanya Yola tiba-tiba.


"Kamu mau buatin Kakak steak juga?" Yola menganggukkan kepalanya.


"Ya kalau Kakak mau sih."


"Perlu Kakak tau ya, gini-gini aku itu pintar masak lho," sombong Yola.


"Oh ya?"


"Iya dong. Makanya Yola mau masakin Kakak sama dokter Adam biar kalian berdua bisa merasakan masakan yang Yola buat," ucap Yola.


"Baiklah Kakak percaya sama kamu," ujar Erland sembari mengacak rambut Yola yang membuat Yola berdecak kemudian tangannya bergerak untuk menyingkirkan tangan Erland yang sangat senang sekali berada di kepalanya itu. Lalu dengan cepat ia memasukkan daging yang telah ia pilih tadi kedalam troli sebelum dirinya dengan cepat pergi untuk membeli bahan yang lainnya.


Sedangkan Erland, ia terkekeh melihat kerucutan di bibir Yola tadi. Kemudian ia segera menyusul Yola.


Hampir setengah jam mereka berbelanja bahan makanan yang akan Yola olah nanti. Dan kini keduanya sudah berada di dalam mobil Erland kembali.

__ADS_1


"Mau mampir kemana lagi setelah ini?" tanya Erland.


"Langsung pulang ke apartemenku aja Kak," ujar Yola yang memang memiliki apartemen lama yang memiliki lokasi tak jauh dari rumah sakit ataupun lokasi kampusnya. Dan apartemennya itu sangat di rahasiakan dan hanya keluarganya, Erland dan kedua sahabatnya saja yang tau tentang apartemennya itu. Dan ucapan dari Yola tadi diangguki oleh Erland, lalu setelahnya, Erland segera menjalankan mobilnya menuju ke apartemen Yola.


Sedangkan di negara lain, terlihat seorang perempuan tengah duduk di kursi kebesarannya dengan menatap pemandangan dari tembok kaca yang berada di dalam ruang kerjanya. Hingga ketukan pintu membuyarkan lamunan kosongnya itu.


Tok tok tok!


"Masuk!" perintah perempuan itu tanpa merubah posisinya.


Pintu ruangan tersebut terbuka dan menampilkan seorang perempuan lain yang kini tengah melangkahkan kakinya mendekati dirinya.


"Semuanya masih aman Nona. Dia belum menikah dan sedang tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Walaupun ada beberapa perempuan yang selama pengawasan kita tengah berusaha untuk mendekati dia. Tapi nona tenang saja menurut informasi yang simpang siur di sana, dia tidak ingin memiliki hubungan dengan siapapun karena masih memikirkan tentang masa lalunya," jelas perempuan yang sepertinya merupakan tangan kanan perempuan yang tengah duduk di kursi kebesarannya itu.


Perempuan yang duduk di kursi kebesarannya kini memutar kursinya hingga kini tubuhnya menghadap kearah tangan kanannya itu dengan senyuman yang terukir di bibirnya.


"Jika memang begitu, atur jadwal ku untuk kembali ke tanah kelahiran secepatnya kalau bisa minggu depan aku harus sudah berada di negara itu," perintah perempuan tersebut yang membuat tangan kanannya itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Sepertinya tidak bisa jika harus Minggu depan Nona. Karena---" belum sempat tangan kanannya itu menyelesaikan ucapannya, perempuan tersebut sudah lebih dulu memutusnya.


"Majukan semua jadwal yang memang harus aku tangani sendiri di Minggu ini. Dan sisanya serahkan ke Jennifer," ujar perempuan tersebut yang hanya bisa diangguki oleh tangan kanan itu.


"Baik kalau begitu saya permisi Nona." Perempuan itu menganggukkan kepalanya dan setelah tangan kanannya itu keluar, senyum perempuan itu semakin mengembang bahkan posisinya sekarang sudah menghadap ke luar tembok kaca itu.


"See you next week, sayang," gumam perempuan tersebut sembari melirik kearah bingkai foto yang terletak di atas meja kerjanya dimana foto itu menampilkan sepasang kekasih yang tengah berpose konyol dengan seragam putih abu-abu yang melekat di tubuh keduanya.

__ADS_1


__ADS_2