
"Tapi kamu tenang saja. Saya kesini tanpa sepengetahuan dia," ucap Heila dengan cepat agar Yola tak khawatir tentang tempat persembunyiannya itu terungkap.
Dan benar saja saat Heila mengucapkan hal tersebut terdengar helaan nafas dari Yola.
"Tapi saya kesini ada sesuatu yang perlu saya katakan ke kamu, Yola," sambung Heila.
"Tentang apa?" tanya Yola.
"Tentang nyawa kamu yang sekarang tengah terancam." Bukan, bukan Heila yang menjawab pertanyaan dari Yola tadi melainkan Tristan.
"Maksud Kakak apa? Kenapa sedari tadi Kakak bicara jika nyawaku tengah terancam? Sebenarnya apa yang terjadi? Katakan kepadaku Kak," ucap Yola yang was-was.
"Jadi begini Yola, saat kamu tadi di labrak oleh Nona Kenza tadi, sekitar dua jam setelahnya ternyata tuan Adam datang ke apartemen untuk melabrak kembali Nona Kenza dengan membawa bukti rekaman tentang keributan kalian tadi dan beliau mengancam Nona untuk mencebloskannya ke penjara yang membuat Nona Kenza murka. Dan setelah tuan Adam pergi, dia tergesa-gesa keluar dari apartemen untuk mencarimu. Saya yakin dia mencarimu bukan untuk melabrak kamu lagi tapi untuk mencelakaimu. Kamu tau sendiri bukan? Orang yang dia sayangi saja nyawanya hampir melayang gara-gara dirinya. Apalagi kamu, Yola yang secara tidak langsung sudah dianggap sebagai musuh dia. Makanya saya dan dokter Tristan berusaha mencari kamu sebelum nona Kenza menemukanmu. Dan syukurnya saat kita sampai disini kamu masih dalam keadaan baik-baik saja," jelas Heila yang kini bisa menghela nafas lega.
Setidaknya jika Kenza nanti memang menemukan Yola, ia bisa mencegah hal itu terjadi dan ada Tristan juga yang akan melindungi Yola nantinya.
Sedangkan Yola yang mendengar hal tersebut pun ia tampak shock setengah mati. Sebelum suara ketukan di pintu kamar hotelnya terdengar yang membuat jantung ketiga orang didalam ruangan tersebut berdebar.
"Kalian tenang, tetap diam disini dan biar aku yang lihat siapa orang yang mengetuk pintu itu," ujar Tristan yang mencoba untuk tetap tenang.
Tristan kini beranjak dari atas ranjang yang ia jadikan untuk tempat duduknya tadi menuju ke pintu hotel tersebut. Dan sebelum dirinya membuka pintu itu, ia mengintip seseorang itu dari lubang intip yang terpasang di pintu tersebut.
Tristan yang melihat seseorang itu bukan lah orang yang mencurigakan pun ia mengerutkan keningnya. Sebelum dirinya kini menolehkan kepalanya kearah Yola dan Heila berada.
"Siapa Kak?" tanya Yola karena di kamar hotel itu kedap suara.
__ADS_1
"Seorang wanita paruh baya. Kakak juga tidak tau siapa orang itu. Apa mungkin orang yang tengah salah kamar?" ucap Tristan.
"Wanita paruh baya?" tanya Yola yang diangguki oleh Tristan.
"Ya ampun Kak itu pasti Mama aku," ujar Yola yang hampir saja melupakan tentang Mamanya yang akan ke kamar hotelnya untuk mengantar barang-barangnya itu.
Yola berlari menuju ke arah pintu tersebut dan saat pintu itu terbuka, benar saja jika wanita paruh baya yang dimaksud oleh Tristan itu adalah Mamanya.
"Mama," ucap Yola yang langsung memeluk tubuh sang Ibunda.
"Bisakah kamu tidak langsung peluk-peluk Mama seperti ini. Kamu tau tidak jika Mama hampir jatuh kebelakang gara-gara pelukanmu tadi," ucap Mama Erika yang mencoba bersikap biasa saja walaupun terus terang saja hatinya sangat sakit setelah dirinya di beri tahu oleh sang suami tentang orang-orang yang mencemooh putri keduanya tadi.
Dan ucapan dari Mama Erika itu membuat Yola melepaskan pelukannya tadi dengan cengiran di bibirnya.
Tapi betapa terkejutnya dia saat dirinya baru saja masuk kedalam, matanya langsung memandang seorang laki-laki yang berdiri di samping pintu tersebut.
"Wahhhhh apa-apaan ini? Kamu menyewa kamar hotel untuk berduaan dengan seorang laki-laki Yola," ucap Mama Erika yang sudah ingin mengeluarkan tanduk amarahnya.
Dan hal tersebut justru membuat Yola memutar bola matanya malas.
"Bertiga Ma. Yola di kamar ini bertiga bukan berdua!" tegas Yola.
"Jangan bohong kamu. Kalau bertiga dimana orang satunya lagi?" ucap Mama Erika dengan berkacak pinggang.
"Saya Tante." Suara seseorang yang baru muncul dihadapannya itu membuat Mama Erika langsung menurunkan tangannya dari pinggangnya itu.
__ADS_1
"Ohhhh sama kamu. Baiklah," ujar Mama Erika. Lalu setelahnya wanita paruh baya itu kembali melangkahkan kakinya lebih dalam lagi ke kamar hotel tersebut dan berakhir ia duduk di atas ranjang dengan tangan yang langsung memegang ponselnya. Dan tingkah dari Mama Erika itu benar-benar terlihat seperti seorang remaja.
Yola yang melihat hal itu pun sudah tak asing baginya dan ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sedangkan Heila dan Tristan mereka sempat melongo tak percaya, namun sesaat setelahnya, Tristan hanya bisa menghela nafas dengan mata yang kini tertuju ke sebuah koper yang tengah Yola bawa masuk kedalam kamar hotel itu.
"Apa kamu mau disini cukup lama, Yola?" tanya Tristan yang benar-benar penasaran kenapa Yola sampai harus menyuruh Mamanya membawakan koper yang ia yakini berisi perlengkapan Yola itu ke hotel tersebut? Atau jangan-jangan justru koper itu berisi perlengkapan Mama Erika yang ingin ikut menginap di hotel itu juga lagi?
Namun semua pertanyaannya itu langsung terjawab kala Yola angkat suara.
"Tidak Kak, aku di hotel ini hanya sampai besok pagi saja. Dan setelahnya aku akan pergi dari negara ini untuk sementara waktu," ucap Yola yang membuat Heila dan Tristan terkejut.
"Apa? kamu mau pergi?" Yola menganggukkan kepalanya.
"Kenapa Yola? Kenapa kamu harus pergi? Bukannya Kakak tadi sudah menjelaskan tentang kesalahpahaman yang terjadi diantara kamu dan Adam? Apa kamu masih tidak percaya dengan apa yang Kakak katakan tadi?" Yola menggelengkan kepalanya.
"Awalnya Yola memang ragu untuk percaya dengan cerita Kakak tadi. Tapi untuk sekarang aku sudah percaya jika apa yang dikatakan oleh perempuan itu bohong semua. Tapi keputusanku sudah bulat untuk pergi dari negara ini untuk sementara waktu. Aku perlu menenangkan diriku sendiri Kak. Aku juga tidak bisa ada di lingkungan orang-orang yang membenciku padahal aku saja tidak melakukan apa yang ada di pikiran mereka. Dan aku akan kembali saat Kak Adam benar-benar menyelesaikan urusannya dengan perempuan itu. Dan disaat aku pergi, aku mohon ke kalian berdua untuk merahasiakan kepergianku ini dari siapapun termasuk Kakak Adam," ucap Yola dengan keputusannya yang sudah benar-benar bulat dan tak bisa di ganggu gugat lagi.
"Saya rasa keputusan dari Yola ini benar Dok. Karena kalau dia sampai terus berada di negara ini, aku tidak menjamin jika nyawa dia akan tetap di raganya. Karena Nona Kenza akan terus mencari Yola sampai ketemu. Dan jalan satu-satunya untuk menghindari Yola terjadi sesuatu yang berbahaya memang dengan dirinya pergi sejauh mungkin dari negara ini yang tidak mungkin bisa Nona Kenza jangkau dalam waktu dekat-dekat ini karena dia pikir jika Yola masih berada di negara ini," timpal Heila setuju dengan keputusan Yola itu.
Dan hal tersebut membuat Tristan hanya bisa menghela nafasnya.
"Apa yang di katakan oleh kamu tadi ada benarnya juga," ucap Tristan, mensetujui apa yang dikatakan oleh Heila tadi dan ia sekarang juga setuju dengan keputusan Yola itu.
"Jadi negara mana yang akan kamu pilih untuk kamu tempati sementara waktu?" tanya Tristan yang ia tujukan ke Yola.
"Negara yang Yola pilih adalah negara Skotlandia," jawab Yola.
__ADS_1