
Disisi lain Yola melangkahkan kakinya memasuki rumah yang selama ini menampung dirinya selama 20 tahun lamanya dengan langkah riang. Bahkan tak urung ia memberikan senyum lebar kepada para maid yang ia lewati. Walaupun sebelumnya ia memang memiliki sifat periang dan murah senyum tapi hari ini senyuman itu terlihat sangat berbeda di mata para maid di rumahnya.
Yola terus berjalan menuju ke lantai atas dimana dilantai itu adalah letak kamarnya berada. Namun saat dirinya ingin menginjakkan kakinya ke anak tangga yang pertama, matanya tak sengaja menatap seseorang yang tengah duduk di salah satu sofa di ruang keluarga. Senyuman Yola semakin lebar dan niatnya tadi untuk segera menuju ke kamarnya ia urungkan. Ia lebih memilih untuk menuju kearah ruang keluarga menemui seseorang yang duduk di sofa tersebut dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah Mama Erika.
"Sore Mamaku yang paling cantik," sapa Yola saat dirinya telah duduk disamping wanita paruh baya tersebut.
Mama Erika melirik ke arah Yola dengan kerutan di keningnya.
"Tumben sudah pulang jam segini?" ucap Mama Erika heran sendiri dengan fenomena yang baru ia lihat saat ini. Karena sangat jarang sekali Yola pulang di jam sore seperti saat ini karena biasanya anak keduanya itu pulang sekitar pukul 10 malam baru sampai rumah.
Yola yang mendapat pertanyaan dari sang mama pun ia mengerucutkan bibirnya tak lupa tangannya kini sudah ia lipat di depan dadanya.
"Ck, Mama gimana sih. Anaknya pulang malam dimarahin dan sekarang giliran udah pulang sore malah ditanya seperti itu. Maunya Mama itu apa sih sebenarnya?" sebal Yola yang langsung mendapat gedikkan bahu oleh Mama Erika dan hal tersebut membuat Yola semakin kesal saja. Tapi saat dirinya berniat untuk beranjak dari tempat tersebut, ia urungkan dan ia duduk kembali ke tempat semula.
Bahkan kerucutan di bibirnya sekarang sudah berganti dengan senyumannya kala memori otaknya memutar kembali kejadian yang hari ini ia alami.
"Ma, Mama mau tau gak?" tanya Yola dengan memiringkan tubuhnya agar ia bisa melihat langsung wajah sang Ibunda yang tengah fokus dengan acara televisi di depannya itu.
"Apaan?" tanya Mama Erika tanpa mengalihkan pandangannya dari layar elektronik didepannya.
__ADS_1
"Calon menantu Mama ternyata anak dari pembisnis terkenal lho," ucap Yola yang berhasil membuat Mama Erika mengalihkan pandangannya kearah Yola.
"Calon menantu mama? Pacar Joi, si Andre itu? Yang benar saja Yola. Si Andre itu bukan anak dari pembisnis tapi anak salah satu artis di negara para bule alias Amerika. Apa jangan-jangan kakakmu itu sudah ganti pacar baru lagi? Astaga anak itu apa tidak mau tobat jadi buaya betina? Tidak ingat umur atau gimana sih?!" ujar Mama Erika yang sudah siap dengan ponselnya, berniat untuk menghubungi Putri pertamanya dan siap mengomeli Joi. Tapi saat tangannya ingin menekan nomor Joi, Yola lebih cepat mencegahnya.
"Ma, Yola belum selesai ceritanya lho ini. Lagian yang aku bicarakan tadi bukan tentang calonnya Kakak melainkan calon Yola sendiri."
"Calon kamu? Siapa?" tanya Mama Erika dan saat Yola ingin menjawab pertanyaan dari Mamanya tadi, Mama Erika ternyata kembali angkat suara dan membuat dirinya kembali mengatupkan bibirnya. Namun saat mendengar ucapan sang Mama tak urung ia kembali tersenyum.
"Ahhh jangan bilang kamu nyeritain tentang dokter incaran kamu itu?" tebak Mama Erika tepat sasaran dan diangguki oleh Yola dengan antusias.
"Jadi kamu masih mau berjuang buat dapetin hati dokter itu?" tanya Mama Erika yang lagi-lagi mendapat anggukan dari anak bungsunya tersebut.
"Kamu yakin akan berhasil? Dan bukan malah bikin ilfil dokter Tampan itu?" kata Mama Erika memastikan. Sebenarnya ia sangat kasihan dengan anaknya itu yang sering sekali mengejar cinta seorang laki-laki namun sayangnya ia tak pernah berhasil. Tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia juga bersyukur dengan apa yang anaknya itu lakukan sekarang karena dengan hal tersebut Yola telah bangkit dari keterpurukan di masa lalunya itu.
"Ya sudah terserah kamu. Tapi saat kamu nanti gagal lagi, ingat kata Mama saat kamu di rumah sakit waktu itu. Jangan cari mama buat dengar curhatan tidak ada manfaatnya itu." Yola mencebikkan bibirnya namun tak urung ia menjawab, "Iya. Yola tidak akan cari Mama kalau Yola patah hati lagi," ucapnya.
Mama Erika yang mendengar hal tersebut ia mengacungkan jari jempolnya.
"Oh ya, nama dokter tampan itu siapa? Mama lupa soalnya?" tanya Mama Erika.
__ADS_1
"Adam."
"Ohh Adam. Terus kata kamu tadi dia anak salah satu pembisnis terkenal? Memangnya dia anaknya siapa?" tanya Mama Erika yang mulai kepo.
"Mama kalau tau nama orangtua dia pasti kaget, Yola jamin itu," ucap Yola yang sekarang sudah menaikkan kedua kakinya keatas sofa dengan tubuh yang sepenuhnya menghadap ke arah Mama Erika.
"Ya tergantung kalau emang nama orangtua dia---"
"Aiden William Abhivandya dan Fredella Genoveva. Itu nama kedua orangtua calon menantu Mama." Dan benar saja apa yang Yola katakan sebelumnya jika Mamanya saat ini tampak terkejut, dilihat dari ekspresi wajahnya, mata juga mulut yang terbuka lebar. Dan dengan gaya slow motion Mama Erika menolehkan kepalanya kearah Yola yang tengah terkekeh melihat wajah Mamanya yang terlihat lucu itu.
"Nah kan bener apa yang Yola katakan tadi kalau Mama akan kaget dengar nama orang tua dia. Mingkem Ma, nanti ada lalat yang masuk ke dalam, kasihan lalatnya nanti," ujar Yola dengan menggerakkan tangannya membantu sang Mama untuk menutup kembali mulutnya.
Mama Erika kini mengerjab-ngerjabkan matanya.
"Jangan asal bicara kamu," ucap Mama Erika yang sepertinya masih tak percaya.
"Yola tidak asal bicara Ma. Orang Yola dapat informasi dari salah satu penjaga rumahnya langsung kok. Jadi mana mungkin satpam itu berani bohong dan membawa nama dua orang ternama itu. Kalau mama masih tidak percaya, Yola besok foto langsung sama mereka deh kalau Yola bertamu ke rumah mereka." Lagi-lagi ucapan dari Yola tadi membuat Mama Erika shock.
"Sebentar, Mama tidak salah dengarkan kalau kamu punya niatan untuk bertamu ke rumah itu?" tanya Mama Erika yang mendapat gelengan kepala dari Yola.
__ADS_1
"Astaga kamu yang benar saja Yola."
"Yola emang benar berencana mau bertamu ke rumah itu sekalian pendekatan ke calon mertua. Udah dulu ya Ma ceritanya. Nanti kalau Yola sudah kesana, Yola bakal cerita lagi sama Mama. Dan sekarang Yola mau ke kamar dulu. Mau rebahan sambil stalking ayang beb Adam. Bye Ma," tutur Yola sembari meninggalkan sebuah kecupan di pipi sang Mama sebelum dirinya melenggang pergi tanpa menghiraukan teriakkan Mama Erika yang menyuruh dirinya untuk kembali dan melanjutkan ceritanya karena ia terlanjur kepo dengan aksi anaknya itu.