Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 12


__ADS_3

Adam keluar dari ruang CCTV dengan langkah tergesa-gesa dan tujuannya saat ini adalah pos satpam di depan rumah mewah tersebut. Tanpa memperdulikan kedua orangtuanya yang masih meributkan tentang usia, Adam melewati mereka dan setelah berlari kecil akhirnya ia telah sampai di pos satpam di depan rumah kedua orangtuanya setelah ia membuka pintu gerbang yang menghalangi jalannya itu.


Dan tanpa permisi terlebih dahulu Adam masuk kedalam pos satpam tersebut yang langsung membuat kedua satpam tadi berdiri dari posisi duduk mereka.


"Lho Tuan Adam kenapa ke sini? Mau ambil paket ya? tunggu sebentar," ujar salah satu satpam yang bernama Kirno yang merupakan satpam si pemberi informasi untuk Yola tadi. Dan tanpa menunggu jawaban dari Adam, satpam Kirno dengan cepat mengambil sebuah paket yang tertuliskan nama Adam di sana.


"Ini Tuan paketnya." Satpam Kirno tadi menyerahkan paket ke tangan Adam yang membuat laki-laki tersebut mengerutkan keningnya. Perasaan ia tak memesan apapun lewat toko online tapi kenapa ada paket atas nama dirinya. Dan dia pikir satpam Kirno hanya bercanda kepadanya.


"Dari siapa?" tanya Adam.


"Dari tukang paket," jawab satpam Kirno dengan polosnya dan hal tersebut membuat Adam mendengus sebal.


"Iya saya tau kalau ini dari tukang paket tapi apa Pak Kir tau pengirimnya siapa?" tanya Adam kembali.


"Lho disitu tidak tercantum siapa pengirimnya gitu kah tuan?" Adam memejamkan matanya agar ia tak kelepasan membentak laki-laki yang usianya jauh diatas dirinya karena jujur kesabaran Adam selalu saja di uji jika berhadapan dengan kedua satpam itu.


"Kalau disini ada nama pengirimnya, saya tidak akan tanya sama bapak. Lagian ini kertas alamat juga sudah sobek begini dan hanya menyisakan nama dan alamat rumah tujuan saja. Apa sobeknya kertas ini bukan gara-gara bapak?" Satpam Kirno dengan cepat menggelengkan kepalanya begitu juga satu satpam lainnya.

__ADS_1


"Bukan tuan. Saya juga tidak tau kalau paket itu ternyata sudah cacat begitu. Saya tadi hanya menerimanya gitu saja tanpa meneliti kondisi paket terlebih dahulu." Adam menghela nafas dan karena ia tak ingin memperpanjang pembahasannya tentang paket yang telah ia terima itu. Ia lebih baik kembali ke tujuan utamanya tadi yaitu bertanya kepada salah satu satpam di sana yang tadi sempat berkomunikasi dengan perempuan yang tak lain dan tak bukan adalah pasiennya dulu yang mempunyai nama Yola.


"Baiklah saya terima paket ini. Dan saya ke sini sebenarnya ingin bertanya ke kalian berdua. Apa bapak tadi lihat ada perempuan kalau tidak salah namanya Yola ke rumah ini?" tanya Adam yang membuat kedua satpam tadi saling pandang satu sama lain.


"Katakan saja Pak," ujar Adam.


"Benar tuan. Tadi ada neng Yola yang kesini," jawab satpam Kirno.


"Mau apa dia kesini?" tanya Adam yang sedang mengintrogasi kedua satpam tadi.


"Itu tuan anu hmmmm apa yang? Saya lupa. Dia tadi kesini ngapain Sol?" Satpam Kirno kini menyenggol lengan temannya yang tengah berdiri disampingnya.


Satpam Kirno kini membelalakkan matanya mendengar jawaban dari partner kerjanya itu.


"Sudahlah Pak Kir jawab saja. saya sebenarnya sudah tahu kalau Pak Kir yang meladeni Yola selama dia di sini tadi lewat rekaman CCTV. Tapi saya mau Dengar langsung dari Pak Kir sekarang," ujar Adam yang berhasil membuat satpam Kirno membeku di tempat. Bisa-bisanya ia lupa kalau rumah mewah tempatnya bekerja saat ini dilengkapi dengan CCTV.


"Anu itu tuan---"

__ADS_1


"Jelaskan saja Pak Kir. Saya tidak akan marah sama bapak jika bapak mau jujur dengan saya." Satpam Kirno kini tampak pasrah sebelum ia menganggukkan kepalanya dan menjelaskan tujuan Yola datang ke rumah mewah itu dan menemui dirinya secara lengkap tanpa ada yang ia tambahkan atau ia kurangi.


Adam yang mendengar cerita dari awal hingga selesai hanya bisa menganggukkan kepalanya. Walaupun didalam hati ia sudah murka setengah mati namun berhubung ia orang yang sangat pandai mengontrol emosinya, alhasil ia bisa menahannya.


"Sudah hanya itu saja tuan," ucap satpam Kirno menutup ceritanya yang lagi-lagi hanya mendapat anggukan oleh Adam.


"Ya sudah kalau cuma itu saja saya kembali ke dalam lagi. Dan terima kasih atas infonya Pak." Kedua satpam tadi menganggukkan kepalanya dengan takut-takut. Apalagi melihat Adam yang tadi sudah mulai melangkahkan kakinya keluar dari pos tersebut, ia justru menghentikan langkahnya dan memutar kembali tubuhnya menghadap ke arah 2 satpam yang masih berdiri di tempat semula.


"Ahhhh hampir saja saya lupa. Kalau dia ke sini lagi lain kali langsung usir saja karena saya tidak suka rumah keluarga saya didatangi oleh orang yang tidak mereka kenal. Dan saya yakin kalau Mommy sama Daddy lihat ini pasti mereka akan risih dan tidak nyaman untuk tinggal disini lagi," ujar Adam.


"Baik tuan akan saya lakukan perintah Tuan," ucap kedua satpam tadi.


Dan untuk sekedar informasi rumah keluarga Abhivandya memang dikelilingi oleh beberapa bodyguard namun mereka hanya menjaga di area dalam saja mengingat jika perumahan yang saat ini mereka tinggali tingkat keamanannya jauh lebih terjamin dari tempat tinggal mereka yang dulu.


Dan setelah mengatakan hal tersebut, Adam segara kembali memasuki rumah itu. Saat dia masuk ia sudah tak menemukan keberadaan kedua orang tuanya. Mungkin mereka meneruskan perdebatan unfaedah mereka di tempat lain, pikir Adam sembari menggedikkan bahunya. Lalu kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju ke kamar pribadinya yang berada di lantai atau rumah tersebut. Sesampainya dirinya di kamar pribadinya, Adam kini mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa di kamar tersebut sembari matanya menatap ke arah tangan yang sendiri tadi membawa sebuah paket.


Ia membolak-balikkan paket tersebut berharap ada titik terang ia menemukan nama pengirimnya. Namun sayang apa yang ia lakukan itu tak membuahkan hasil sedikitpun. Tapi karena rasa penasaran dan mungkin di dalamnya akan ada petunjuk dari si pengirim, akhirnya dengan malas Adam membuka paket tersebut.

__ADS_1


Saat bungkus pertama paket itu terbuka ia langsung bisa melihat sebuah kardus kecil disana. Adam menyingkirkan plastik yang digunakan untuk membungkus kardus tadi sebelum tangannya bergerak untuk membuka kardus tersebut. Ia menajamkan penglihatannya saat melihat isi di dalam kardus tersebut yang ternyata isinya adalah sebuah gantungan kunci berbentuk boneka teddy bear berwarna coklat di mana di bagian depan terukir huruf A disana. Tapi yang membuat Adam kini terdiam membisu bukan karena huruf tersebut melainkan dengan bentuk gantungan kunci yang berada di tangannya saat ini. Gantungan yang sama persis dengan gantungan yang ia memiliki dulu saat ia berada di bangku SMA. Dan gantungan itu juga gantungan yang sama seperti yang ia berikan kepada seseorang dimasa lalunya.


"Ini… Tidak ini tidak mungkin dia kan?" gumam Adam dengan menatap kosong kearah gantungan kunci tadi sebelum dirinya dengan cepat membongkar kembali bungkus paket tadi mencoba mencari petunjuk dan Adam sangat berharap ada surat yang tak ia lihat tadi. Namun sayang, ia masih tak menemukan pertunjukan ataupun sesuatu yang ia inginkan tadi sama sekali. Dan hal tersebut membuat Adam kini mengusap wajahnya frustasi.


__ADS_2