
Nana yang mendengar perkataan dari Adam tadi, ia tersenyum. Mungkin dengan ia berbohong tentang masakan Yola yang tidak enak maka dokter Adam tidak perlu makan masakan yang ia tambah garam banyak tadi.
"Baiklah saya akan coba masakan kamu ini. Tapi jika masakan ini tidak enak maka jangan paksa dokter Adam untuk memakannya," ujar Nana.
"Oke. Saya tidak akan memaksa dokter Adam untuk makan jika memang masakan saya tidak enak. Makanya buruan cobain masakan saya ini Sus," ucap Yola sembari menaruh satu piring makanan tadi kehadapan Nana.
Nana memutar bola matanya malas namun tak urung tangannya kini bergerak mengambil sendok serta garpu lalu ia mulai memotong ayam goreng mentega itu kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya.
Satu detik, dua detik hingga...
Huwekkkkk
Nana mengeluarkan makanan yang tadi berada di dalam mulutnya.
"Air mana air!" teriak Nana mencari keberadaan botol minumnya.
Yola yang tadi sempat bingung kenapa Nana memuntahkan makanannya pun kini tangannya bergerak cepat mengambil botol minum yang ada di atas meja perempuan tersebut saat Nana tengah kelabakan mencari botol tersebut.
"Minum sus, minum," ucap Yola sembari menyodorkan botol minuman tadi kehadapan Nana yang langsung disambar oleh perempuan tersebut.
__ADS_1
"Sumpah demi apapun, aku sedang tidak akting seperti yang terlintas didalam pikiranku tadi. Rasa masakan Yola benar-benar sangat asin sekali. Rasanya aku benar-benar seperti tengah makan garam tadi. Tapi tunggu, apa makanan ini adalah makanan yang aku beri tambahan garam sebelumnya?" batin Nana sembari menatap kearah makanan yang aromanya memang sangat menggoda itu tapi setelah dirasakan benar-benar hanya ada rasa asin saja.
Yola yang melihat keterdiaman dari Nana pun ia kini mulai angkat suara karena terus terang saja ia penasaran kenapa Nana tadi bersikap seperti itu?
"Suster kenapa? Apa ada yang salah dengan masakan saya?" tanya Yola yang membuyarkan lamunan Nana tadi.
Nana kini menatap kearah Yola dengan tatapan garang bahkan ia sekarang telah berdiri dari duduknya.
"Kamu ini bisa masak gak sih? Kenapa masakan kamu hanya ada rasa asin saja? Jika kamu benar-benar tidak bisa masak maka tidak usah berlagak untuk memasakkan dokter Adam makanan. Kamu mau dokter Adam terkena penyakit jantung atau ginjal gara-gara terlalu banyak makan garam?" Dengan polosnya Yola menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak mau dokter Adam terkena penyakit itu. Tapi saya tadi sudah mencicipi makanan ini dan rasanya juga sudah pas tidak kebanyakan garam seperti yang Suster katakan tadi," ucap Yola.
"Lidah saya tidak lagi sakit kok Sus. Lidah saya baik-baik saja. Dan apa yang saya katakan tadi benar jika masakan saya tidak kelebihan garam," kekeuh Yola yang membuat Nana sebal setengah mati. Kenapa Yola sangat yakin sekali jika masakannya itu enak? Padahal saat Nana merasakannya sendiri, makanan itu benar-benar sangat asin.
"Kamu tidak percaya dengan apa yang saya katakan?" Yola menggelengkan kepalanya. Dan hal tersebut membuat tangan Nana kini bergerak untuk mendorong piring makanan tersebut kehadapan Yola.
"Kamu makan dan rasakan baik-baik makanan itu," ujar Nana.
Yola yang merasa memang makanannya tak buruk seperti yang dikatakan oleh Nana tadi pun ia dengan percaya diri mengambil garpu yang tadi tak dimasukkan kedalam mulut Nana untuk ia gunakan memotong ayam goreng tersebut sebelum akhirnya ia memasukkan potongan tadi kedalam mulutnya.
__ADS_1
Yola memelototkan matanya dan dengan cepat ia mengambil tisu yang kebetulan berada tak jauh dari jangkauannya untuk mengeluarkan makanan yang ada di mulutnya.
"Astaga makanan apa ini," ucap Yola dengan bergidik saat rasa garam masih melekat didalam mulutnya.
"Kamu sudah percaya kan kalau masakan kamu ini rasanya hanya asin saja?" ujar Nana.
"Tapi saya tadi mencicipi masakan saya rasanya sudah pas. Beneran deh suwer. Rasanya tuh gak seperti ini. Apa jangan-jangan tadi ada orang jahil yang menambahkan garam ke makanan ini? Karena saya tadi saat kembali setelah berpamitan kepada koki di rumah sakit ini, saya sempat melihat seklibat bayangan seseorang di dapur tadi," celetuk Yola yang membuat tubuh Nana membeku di tempat.
"Apa? Yola sempat melihat seklibat bayangan di dapur? Apa bayangan yang di lihat oleh Yola tadi adalah bayanganku? Apa jangan-jangan Yola justru tau aksiku tadi? Kalau memang dia tau aksiku tadi berarti makanan ini adalah makanan yang aku tambah garam tadi? Sial! Jika memang begitu aku sekarang tengah mengalami yang namanya senjata makan tuan. Tapi tunggu dulu. Kalau Yola tau, kenapa dia juga mau mencicipi makanan ini. Harusnya kalau dia mau mengerjai saya, dia tidak akan mencicipi makanan ini. Atau kalau tidak saat dia tadi mencicipinya, dia harusnya berlagak kalau makanannya enak bukan malah mengeluarkannya seperti tadi. Dan dari sini bisa aku simpulkan kalau Yola sebenarnya tidak tau aksiku tadi. Hmmmm sepertinya memang begitu," batin Nana dengan mengalihkan pandangannya kearah Yola lalu setelahnya ia berdehem sebelum dirinya angkat suara.
"Halah alasan saja kamu. Kalau masakanmu menang tidak enak dan tidak layak dimakan ya akui saja. Jangan malah beralasan ini lah itu lah. Basi tau gak?!" galak Nana.
"Saya tidak sedang beralasan Sus. Apa yang saya katakan tadi memang benar adanya. Kalau masakan saya memang rasanya tadi tidak seperti ini dan saya juga sempat melihat bayangan seseorang yang masuk kedalam dapur tadi," ucap Yola mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada Nana. Walaupun dirinya sendiri sekarang di buat bingung, kenapa bisa masakannya yang tadi benar-benar sangat enak berubah rasa seperti yang ia rasakan tadi? Dan dia mulai curiga kalau memang ada seseorang yang jahil kepadanya.
"Alasan terus. Capek dengar alasan kamu yang hanya mengada-ada itu," kata Nana.
"Dan Dokter Adam. Sebaiknya anda tidak mencicipi ataupun memakan makanan in---" Mata Nana dibuat terbuka lebar dan perkataannya terhenti seketika saat dirinya tadi mengalihkan pandangannya kearah Adam yang ternyata sudah menghabiskan makanan yang di buat oleh Yola.
"Lho Dokter Adam. Kenapa anda memakannya? Makanan ini tidak baik untuk kesehatan jantung ataupun ginjal anda, Dok!" teriak Nana yang membuat Yola yang tadinya menundukkan kepalanya setelah Nana tadi ingin mengadu kepada Adam jika masakannya itu tidak enak kini kepalanya itu ia tegakkan saat mendengar teriakan dari Nana itu kemudian ia menolehkan kepalanya kearah Adam yang tengah menyandarkan kepalanya dengan pipi yang masih mengembung karena banyaknya makanan yang ia kunyah itu. Bahkan saking laki-laki itu menikmati kunyahannya itu matanya sampai terpejam, tanpa merasa terganggu dengan teriakan histeris dari Nana tadi.
__ADS_1