Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 42


__ADS_3

Yola dan Nana kini bergerak mendekati Adam yang masih asik mengunyah sembari menutup matanya.


Yola mengerjabkan matanya saat melihat piring yang ia bawa tadi sudah bersih tak tersisa lalu tatapannya kini beralih kearah Adam yang sepertinya masih tak sadar jika kedua perempuan itu kini tengah menatapnya.


"Dokter Adam," panggil Yola dengan suara lembut yang berhasil membuat Adam kini membuka matanya lalu ia menegakkan tubuhnya kembali dengan salah satu alis terangkat seakan-akan ia tengah bertanya kenapa?


"Hemmm itu anu."


"Ck, lama. Biar saya saja yang bicara dengan dokter Adam," ujar Nana yang tak sabar menunggu Yola menyelesaikan ucapannya itu.


"Begini dok. Kata dokter tadi, dokter tidak akan makan masakan dia ini, jika saat saya mencobanya dan saya yakin jika makanan itu tidak enak. Tapi kenapa malah dokter Adam sudah menghabiskan dulu makanan ini. Padahal makanan ini tidak enak rasanya Dok. Makanan ini kebanyakan garam yang tidak baik untuk kesehatan jantung dan ginjal. Saya tau dokter mungkin mau memakan ini untuk menghargai kerja keras dia. Tapi tidak dengan mempertaruhkan kesehatan dokter juga dong sampai harus menghabiskannya segala. Harusnya kalau memang benar-benar mau menghargai, cicipi saja sedikit. Jangan dihabiskan. Ingat kesehatan dok," ujar Nana panjang lebar yang membuat Adam menghela nafas panjang.


"Sudah? Sudah selesai bicaranya?" tanya Adam dengan wajah datarnya. Dan dijawab anggukkan kepala oleh Nana.


"Kalau begitu, biar saya kasih tau kamu. Kalau yang kamu ucapankan tadi sangat salah besar. Makanan ini rasanya sangat pas tidak asin seperti yang Suster katakan tadi. Walaupun memang tidak seenak masakan di restoran, tapi not bad lah masih bisa dimakan juga. Dan jika saya tadi menunggu kamu untuk memberitahu saya jika makanan Yola ini enak atau tidak yang ada saya nanti akan pingsan karena kelaparan. Karena harus menunggu kamu selesai cek cok dulu dengan Yola hanya perkara makanan yang ada di meja kamu itu. Dan jika kamu tidak percaya dengan rasa asli dari makanan ini, kamu boleh suruh Yola masak lagi untuk membuktikannya dengan takaran bumbu yang sama atau jika masih ada sisa makanan ini di dapur bisa kamu minta," ucap Adam yang memperkuat dugaan Nana tadi tentang ia tengah mengalami yang namanya senjata makan tuan itu.


"Yola, kamu tadi masak lebih kan?" Yola yang masih bingung tentang rasa asli masakannya pun ia hanya menjawab pertanyaan dari Adam itu dengan anggukan kepala saja.


"Ambil sisa masakanmu itu dan bawa kemari," perintah Adam. Dan lagi-lagi ucapannya itu hanya diangguki patuh oleh Yola. Tapi saat Yola ingin bergerak, pergerakannya terhenti saat Nana angkat suara.


"Tidak perlu. Saya tidak perlu merasakan lagi masakan dia. Saya tidak mau lidah saya hanya akan merasakan rasa asin lagi," tolak Nana mentah-mentah.

__ADS_1


"Apakah kamu menganggap jika apa yang saya ucapankan tentang masakan Yola tadi hanyalah sebuah kebohongan?" ucap Adam yang tiba-tiba tidak terima jika Nana berucap seperti tadi.


"Bukan. Bukan seperti itu. Saya tidak menuduh dokter Adam berbohong hanya saja apa yang saya katakan memang benar. Dan dia pun juga mengakui jika masakan dia memanglah asin," ujar Nana yang membuat Adam kini menolehkan kepalanya kearah Yola. Jangan lupakan dengan alisnya yang terangkat satu.


"Emmmm begini dok. Sebenarnya saya tadi juga tidak percaya saat suster Nana mengatakan jika masakan saya asin. Tapi setelah saya cicipi sendiri, rasanya memang asin dok," ucap Yola dengan menundukkan kepalanya.


Adam mengkerutkan keningnya. Sepertinya ada yang salah dengan makanan yang ada di piring Nana itu.


"Bawa piring itu kemari," perintah Adam.


Yola kini bergerak untuk mengambilkan piring berisi makanan yang masih tersisa banyak itu lalu menaruhnya ke meja kerja Adam.


"Ini Dok," ucap Yola.


Hingga saat dirinya sudah memotong sebagian daging ayam tersebut lalu memakannya, seketika ekspresinya berubah. Dan karena ia sudah tak bisa menahannya lagi, ia langsung mengambil beberapa lembar tisu lalu mengeluarkan makanan tadi dari mulutnya. Kemudian dengan cepat ia menenggak air putih hingga habis.


"Astaga kenapa rasanya seperti ini," ucap Adam tak percaya. Rasa makanan itu benar-benar berbeda dengan apa yang ia makan sebelumnya.


"Tuh kan. Apa yang saya katakan benar kan dok? Rasa makanan ini asin," timpal Nana.


"Iya. Saya akui jika makanan ini asin. Tapi makanan yang saya makan tadi sangat pas rasanya. Apa kamu tadi memasaknya secara terpisah?" tanya Adam yang dijawab gelengan kepala oleh Yola.

__ADS_1


"Saya memasak dalam wajan yang sama, Dok."


"Jika begitu, kenapa makanan ini dan makanan yang saya makan tadi berbeda rasanya?" tanya Adam.


"Saya---"


"Saya tau dok. Dia pasti mau mengerjai saya dengan menambahkan garam ke makanan ini," tuduh Nana yang memutus ucapan Yola sebelumnya.


Yola yang mendengar tuduhan itu pun ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Saya tidak mengerjai suster."


"Jika begitu coba jelaskan kenapa makanan ini rasanya berbeda dengan makanan yang di makan oleh dokter Adam tadi? Masa iya segerombolan garam masuk sendiri kedalam piring yang berisi makanan untuk saya, kan tidak mungkin. Dan kemungkinannya memang kamu mau mengerjai saya karena dari pertama kali kita bertemu tatapan mata kamu menunjukkan jika kamu tidak suka dengan saya. Dan mungkin karena rasa tidak suka kamu itu kamu hari ini mengerjai saya. Iya kan?" tuduh Nana.


"Apa benar yang dikatakan oleh suster Nana tadi Yola? Jawab jujur karena saya sangat tidak suka orang yang melakukan kebohongan," tanya Adam.


"Tidak dokter. Saya tidak melakukannya. Saya---"


"Halah alasan terus saja kamu itu!" bentak Nana yang membuat Adam memejamkan matanya. Apalagi setelah bentakan itu terjadi ia melihat air mata Yola yang menetes membasahi pipi perempuan tersebut.


"Saya sangat benci dibentak. Saya sangat benci orang yang membentak saya," gumam Yola sangat lirih dengan tangan yang terkepal kuat. Dan karena ia sudah tak kuat menerima tuduhan yang tak benar sama sekali itu, tanpa berpamitan ia berlari keluar dari ruang kerja Adam.

__ADS_1


Dan hal tersebut membuat Nana diam-diam mengukir sebuah senyumannya.


"Tidak buruk juga mengalami yang namanya senjata makan tuan. Karena rencanaku membuat Yola buruk di mata dokter Adam yang tadinya aku anggap gagal justru berjalan mulus. Dan untuk kamu, Yola. Selamat, mungkin sejak saat ini dokter Adam akan membencimu karena beliau adalah salah satu orang yang tidak suka dengan kelicikan dan kebohongan," batin Nana dengan kegembiraan dihatinya saat rencananya menggagalkan rencana Yola untuk mendapatkan hati seorang Adam berjalan seperti apa yang dia inginkan.


__ADS_2