
Satu jam lamanya Adam dan beberapa dokter lainnya berjuang untuk menyelamatkan seorang pasien yang mengalami pendarahan di otaknya itu. Dan kini keempat dokter itu bisa menghela nafas lega bahkan tak segan-segan mereka mengucapakan kata syukur karena mereka telah berhasil membuat pasien mereka melewati masa kritisnya setelah melakukan operasi dadakan tadi.
"Syukur Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Terimakasih untuk kalian semua yang sama-sama berusaha untuk menyelamatkan pasien ini," ujar Adam yang ia tujukan untuk tiga dokter lainnya serta beberapa suster yang membantu pekerjaan mereka.
"Good job guys. Terus tingkatkan keahlian kita ini," sambung Tristan yang membuat semua orang disana tersenyum termasuk Adam sekalipun. Hingga tatapan mata laki-laki itu kini berpindah ke jam dinding di ruang operasi tersebut. Dimana jam itu menunjukkan pukul setengah 10 yang berarti Yola sudah berangkat ke kampusnya. Dan untuk memastikannya Yola sampai dengan selamat, Adam memutuskan untuk undur diri karena tugasnya memang sudah tak ada lagi.
"Tugas saya disini sudah selesai dan dokter Fitria yang saya tunjuk untuk terus menangani pasien ini. Jika ada sesuatu yang membutuhkan bantuan segara cari bantuan entah dengan siapapun di rumah sakit ini. Kalau begitu saya pamit undur diri terlebih dahulu. Dan sekali lagi terimakasih atas kerjasama kalian semua," ujar Adam sebelum dirinya kini bergegas untuk keluar dari ruang operasi tersebut saat dia tadi sudah melihat anggukan kepala dari semua orang disana tadi. Dan sebelum dirinya keluar dari dalam ruangan tersebut ia sengaja langsung melepaskan atributnya dan segera mencari ponselnya.
Baru saja ponselnya itu ia buka, beberapa notifikasi pesan dari Yola tampil di layar ponselnya itu dan hal tersebut membuat dirinya tersenyum lalu segara membuka pesan Yola tadi.
📨 : Fayyola is mine ❤️
"Kak, aku berangkat dulu ke kampus."
^^^(08:15)^^^
"Kak, aku sudah sampai."
^^^(08:45)^^^
"Kakak lagi sibuk ya. Ya sudah kalau gitu semangat."
"Aku juga sudah mau masuk kelas dulu. Bye Kak sampai ketemu nanti ❤️"
^^^(09:05)^^^
Adam membaca pesan tersebut sembari berjalan keluar dari ruang operasi yang tampak sepi tak ada keluarga pasien yang baru saja ia tangani tadi di depan ruangan tersebut. Mungkin keluarganya tak ada yang tau atau belum sampai karena menurut informasi yang ia dapatkan tadi, alamat pasien sangat jauh dengan rumah sakit ini.
__ADS_1
Dan ternyata kepergiannya itu diikuti oleh Tristan di belakangnya.
"Adam, tunggu sebentar!" panggil Tristan yang membuat Adam kini mengentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Adam saat sahabatnya itu sudah berdiri disampingnya.
"Gak kenapa-napa aku hanya ingin bareng kamu pergi ke ruang kita masing-masing."
Adam yang mendengar hal tersebut pun ia kini menghela nafas sebelum dirinya kembali berjalan sembari memasukkan ponselnya kedalam saku jas dokternya itu setelah ia membalas pesan dari Yola tadi.
Tristan yang penasaran akan keberadaan Adam kemarin pun ia kini angkat suara.
"Dam, kamu kemarin kemana sih?" Adam menolehkan kepalanya kearah Tristan sesaat.
"Yang pasti tidak disini," jawab Adam yang membuat Tristan berdecak.
"Ck, iya kamu tidak disini tapi dimana? Sampai aku telepon dan ngirim pesan puluhan kali gak ada balasan sama sekali dari kamu? Dan kamu malah telepon aku pakai nomor Yola. Kamu sama Yola ya kemarin?" ucap Tristan.
"Iya juga sih. Tapi kenapa bisa kamu bersama Yola kemarin? Bukannya kamu sangat anti sama perempuan itu?"
Adam terdiam, ia akui jika dulu dirinya memang sangat anti dengan Yola tapi sekarang sejak dia cemburu dengan kebersamaan Yola dan Tristan, justru dia seperti permen karet untuk Yola yang selalu menempel kepada perempuan itu.
"Kenapa diam woyyy? Aku tanya lho tadi!" geram Tristan saat rasa penasarannya akan keberadaan Adam kemarin tak kunjung terjawab juga.
"Pertanyaanmu itu aku rasa tidak perlu aku jawab. Jadi daripada kamu berisik seperti ini lebih baik kamu sekarang masuk kedalam ruanganmu sana," ucap Adam dengan menghentikan langkahnya tepat di depan ruang kerja Tristan.
"Gak dulu deh. Aku mau dengar jawabanmu dulu baru aku nanti masuk kedalam," tolak Tristan.
__ADS_1
"Terserah," ucap Adam. Lalu setelahnya ia melanjutkan langkahnya ke ruangan kerjanya itu.
Tristan yang melihat pergerakan dari Adam pun ia tak tinggal diam, dirinya kini mengikuti langkah Adam hingga membuat Adam kini semakin mempercepat langkahnya itu sampai akhirnya ia telah masuk kedalam ruangannya. Dan tanpa menunggu Tristan untuk masuk, ia segera mengunci pintu ruangan tersebut dari dalam.
Sedangkan Tristan, ia melebarkan matanya saat pintu itu hampir saja mengenai wajahnya.
"Sialan. Untung saja hidungku tidak kena tadi. Kalau sampai kena bisa-bisa hidungku ini patah," gumam Tristan sembari memundurkan tubuhnya dari pintu tersebut sebelum tangannya kini bergerak untuk mengetuk pintu tersebut.
Tok tok tok!
"Buka Dam! Aku masih perlu jawaban kamu tentang kemana kamu kemarin dengan Yola!" teriak Tristan yang semakin mengencangkan gedorannya itu.
"Jangan kepo jadi orang Tristan. Mau aku kemanapun sama Yola, tidak ada urusannya denganmu. Jadi lebih baik diamlah sebelum aku menelepon satpam untuk membungkam mulutmu itu dengan lem alteco!" balas Adam.
Dan setelah Adam mengucapakan ancamannya itu, ia sudah tak mendengar teriakan serta gedoran yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Walaupun tanpa dia ketahui jika Tristan saat ini tengah mengumpati dirinya.
"Jika kamu tidak mau memberitahuku maka jangan salahkan aku kalau aku tanya Yola!" teriak Tristan sebelum dirinya kini memilih untuk segara pergi dari depan pintu ruangan Adam itu. Karena percuma saja walaupun ia menunggu di depan pintu itu sampai Adam keluar, tetap saja ia tak akan pernah mendapat jawaban atas kekepoannya tadi. Dan jalan satu-satunya adalah bertanya langsung kepada Yola.
Sedangkan disisi lain, tepatnya masih didalam ruangan Adam, Kenza yang sedari tadi mendengarkan perdebatan antara dua sahabat itu pun tangannya kini terkepal kuat saat nama Yola ikut masuk kedalam pembicaraan keduanya.
"Jadi kamu kemarin pergi dengan perempuan yang bernama Yola?" ucap Kenza secara tiba-tiba dan hal tersebut membuat Adam yang tadi masih menghadap kearah pintu pun kini menolehkan kepalanya ke sumber suara.
"Kenza," kaget Adam.
Ia mengerjabkan matanya berkali-kali untuk memastikan jika apa yang tengah ia lihat itu benar-benar nyata adanya bukan hanya sebuah khayalannya saja.
Namun setelah ia mengerjabkan dan mengucek matanya, orang yang ia lihat itu benar-benar nyata. Itu bukan hanya khayalan yang sering ia lakukan.
__ADS_1
Orang yang kini tengah duduk di meja kerajanya itu benar-benar Kenza, perempuan di masa lalunya.
Sedangkan Kenza yang melihat raut wajah terkejut dari Adam pun ia tersenyum sembari berdiri dari duduknya lalu merentangkan tangannya dengan berkata, "I'm back, sayang."