Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 63


__ADS_3

Setelah makan malam bersama yang Yola dan Adam lakukan tadi, Adam akhirnya pulang ke apartemennya sendiri yang hanya bersebalahan dengan apartemen milik Yola itu.


Ia merebahkan tubuhnya setelah selesai membersihkan tubuhnya tadi dengan senyum yang mengembang saat kilas bayangan kebersamaan dirinya dengan Yola kembali terlintas di memorinya itu.


"Sedang apa dia ya?" gumam Adam yang kini tangannya tengah membuka galari di ponselnya itu yang sekarang di penuhi oleh wajah Yola. Ia mendapatkan foto itu dengan mengambil di media sosial Yola dan kebanyakan ia potret sendiri secara diam-diam.


"Arkhhhh kenapa aku sekarang sangat-sangat merindukan dia? Apa aku harus ke apartemennya lagi?" ucap Adam. Tapi kala ia melihat jam yang berada di layar ponselnya ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Ini sudah pukul 11 malam. Dan bukannya aku baru keluar dari apartemen dia 1 jam yang lalu. Dan biarkan dia sekarang istirahat tanpa gangguan siapapun," kata Adam dengan matanya yang kini menatap kearah langit-langit di kamarnya itu.


"Tapi aku benar-benar rindu sama dia. Aku yakin aku nanti malam tidak akan bisa tidur karena belum menyalurkan kerinduanku itu. Ck, ya sudah lah ganggu dikit juga gak papa kan. Yola juga tidak akan marah cuma gara-gara aku telepon sebentar," tutur Adam yang sudah sangat-sangat bucin dengan Yola itu.


Dan setelahnya tangannya kini bergerak dengan lincah mencari nomor ponsel Yola lalu kemudian ia segera menelepon gadis tersebut.


Sedangkan Yola yang hampir saja menutup matanya, ia urungkan saat dering ponselnya terdengar. Dengan cepat Yola meraih ponselnya itu, dan saat dirinya melihat nama yang ada di layar ponselnya itu sebuah senyuman terbit. Kemudian ia segara mengangkat telepon tersebut.


"Halo," sapa Yola.


📞 : "Yola, aku sangat merindukanmu!" ucap Adam to the point.


Dan saat dua orang yang tengah di landa kasmaran itu saling bercengkrama lewat telepon dengan sesekali bercanda dan tertawa bersama, berbeda dengan seseorang yang berada di salah satu apartemen mewah namun di gedung yang berbeda dengan gedung apartemen Yola dan Adam.


Di apartemen itu terlihat seorang perempuan yang tengah membanting apapun yang ada di hadapannya. Sudah terhitung selama 4 jam lebih perempuan itu mengamuk menghancurkan segara barang-barang yang ada di dalam apartemennya itu setelah ia tak berhasil menemukan seseorang yang ia rindukan. Dan jangan tanya lagi siapa orang yang tengah menggila itu karena orangnya adalah Kenza.

__ADS_1


"Sialan sialan sialan! Kalian benar-benar tidak bisa diandalkan hanya untuk mengawasi satu orang saja kalian tidak becus!" teriak Kenza saat dua anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengawasi Adam menghadap kepadanya.


Dua orang laki-laki itu yang sudah dimarahin habis-habisan selama dua jam itu hanya bisa diam saja dengan kepala yang tertunduk. Mereka juga merasa tidak becus menjalankan tugas yang di berikan oleh bosnya itu. Jadi mereka hanya bisa pasrah saja menerima kemarahan itu.


Sedangkan Heila, perempuan itu sudah lebih dulu mengurung dirinya di dalam kamarnya. Ia tak ingin ikut kena amuk Nona-nya itu. Bahkan ia tak berniat untuk menenangkan Kenza. Karena ini bukan kali pertama Heila melihat Kenza mengamuk, sudah berulang kali ia melihatnya. Bahkan dia dulu pernah mencoba untuk menenangkan Kenza tapi berujung dirinya lah yang masuk rumah sakit karena kepalanya terkena lemparan vas bunga waktu itu. Dan dari situ, saat Kenza mengamuk ia memilih untuk menjauh daripada apa yang ia alami dulu ke ulang kembali.


Kembali lagi ke Kenza yang kini tengah menatap tajam kearah dua laki-laki itu.


"Apa kalian tau. Saya setengah hari nungguin dia di rumah sakit seperti orang bodoh dan itu semua gara-gara kalian yang mengirimkan informasi jika Adam di rumah sakit tadi! Yang ternyata informasi itu tidak benar sama sekali alias salah besar. Kalian puas sudah mengerjai saya hah!" ucap Kenza masih dengan suara yang meninggi.


"Ma---maafkan kita Nona. Kita tidak bermaksud untuk---"


Prangggg!


"Maaf maaf maaf terus yang kalian bisa. Dan kalian tau permintaan maaf kalian itu tidak bisa mengembalikan waktu yang sudah saya buang sia-sia itu. Sialan! Dan terlebih maaf kalian itu tidak akan bisa menghilangkan rasa rindu saya ke Adam! Arkhhhh!"


Prangggg!


Lagi dan lagi benda yang tak bersalah itu kini menjadi sasaran untuk menyalurkan emosi Kenza tadi.


"Jika kalian melakukan kesalahan yang sama seperti tadi untuk selanjutnya. Saya tidak akan segan-segan membunuh kalian! Camkan itu!" ucap Kenza dan setelah mengucapkan hal tersebut dengan langkah lebar, ia masuk kedalam kamarnya setelah dirasa sudah tak ada lagi benda yang akan ia hancurkan di luar ruangan itu.


Bahkan saat perempuan itu sudah masuk kedalam kamarnya, ia sempat menutup pintu kamarnya itu dengan sangat kasar hingga membuat dua laki-laki serta Heila yang ada di kamar sebelah terkejut.

__ADS_1


Dan tak berselang lama, mereka mendengar teriakan Kenza dari dalam kamar tersebut.


Heila yang mendengar itu pun ia hanya bisa menghela nafas sebelum dirinya memilih untuk keluar dari kamarnya untuk melihat kondisi di luar kamar tersebut.


Dan saat ia sudah keluar dari dalam kamar, ia lagi-lagi harus menghela nafas saat melihat semua perabot di apartemen tersebut yang terbuat dari bahan kaca dan keramik sudah berceceran tak berbentuk diatas lantai itu.


Dengan langkah yang sangat hati-hati, Heila mendekati kedua laki-laki tadi yang masih berdiri di tempatnya tadi.


Dan setelah sampai, ia menepuk pundak dua orang tersebut.


"Sudah tak apa. Jangan di pikirkan lagi tentang semua ucapan dia tadi. Dan tenang saja dia tidak mungkin melakukan ancamannya itu. Nyawa kalian akan tetap aman," ujar Heila menenangkan dua laki-laki tersebut yang sepertinya tengah ketakutan akan ancaman yang dilayangkan oleh Kenza tadi.


Dan ucapan dari Heila tadi diangguki oleh dua laki-laki tersebut.


"Good. Dan lebih baik kalian sekarang bantu saya untuk membersihkan apartemen ini," ucap Heila yang lagi-lagi diangguki oleh dua orang tersebut.


Dan saat mereka tengah membersihkan apartemen tersebut, terdengar keributan lagi dari dalam kamar Kenza yang membuat kedua laki-laki itu menghentikan pergerakan tangannya.


"Apa dia semarah itu dengan kita?" tanya salah satu laki-laki kepada temannya itu.


"Sepetinya memang begitu," balas satu laki-laki lainnya dengan raut wajah takut.


Sedangkan Heila yang tadi juga sempat menghentikan aktivitasnya itu, ia angkat suara setelah mendengar percakapan dari dua laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Sudah. Hiraukan saja apa yang kalian dengar. Dan segara lanjutkan beberesnya. Dan setelah selesai kalian bisa pulang," ujar Heila yang lagi-lagi hanya bisa diangguki oleh dua laki-laki tersebut.


__ADS_2