
Setelah sambungan telepon tadi terputus, Yola terdiam dengan tatapan lurus kedepan, memikirkan ucapan yang di berikan oleh Tristan tadi kepadanya.
"Apakah keputusanku untuk tetap disini benar-benar salah?" gumamnya.
"Tapi aku benar-benar belum siap untuk kembali ke sana lagi. Apalagi kembali kuliah di kampus. Kenza sih memang sudah di amankan oleh pihak kepolisian tapi efek yang dia berikan saat menuduhku yang tidak-tidak waktu itu pasti masih ada sampai sekarang. Aku takut mereka akan mencemoohku seperti sebelumnya," sambung Yola dengan menelusupkan wajahnya di balik lipatan kedua tangannya.
"Apakah karena keputusanku itu aku egois? Apakah aku lebih mementingkan diriku sendiri dibandingkan dengan Kak Adam yang lagi sedih di Indonesia sana dan kesedihan dia itu karenaku?" Tanya Yola pada dirinya sendiri sebelum ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak egois karena mentalku lebih penting daripada orang lain. Jadi maafkan aku Kak Adam, keputusanku sudah bulat dan semoga kamu bisa mengerti kepergianku saat ini. Dan jika memang kita bertemu lagi nanti dan kamu sudah menyerah, tidak apa-apa karena itu konsekuensi yang akan aku terima. Maafkan aku, Kak. Aku harus melakukan ini untuk kebaikan diriku sendiri," ujar Yola yang benar-benar sudah mantap dengan keputusannya untuk tetap di negara itu sampai dirinya benar-benar tenang.
Sedangkan disisi lain, lebih tepatnya di penjara, Kenza terus-menerus berteriak dari dalam jeruji besi itu. Ya, walaupun belum ada keputusan hakim, pihak kepolisian memilih untuk mengamankan Kenza di penjara disana setelah dirinya tadi di mintai keterangan oleh pihak berwajib yang dia jawab dengan umpatan saja.
"Keluarkan aku dari sini, sialan!" teriak Kenza dengan menggoyang-goyangkan jeruji besi itu.
"Aku akan pastikan jika Papa lihat kelakuan kalian yang sudah berani memasukkanku ke dalam ruangan busuk ini, Papa pasti akan membunuh kalian semua di sini!" teriak Kenza lagi yang membuat pihak kepolisian yang berada tidak jauh dari penjara yang di tempati oleh Kenza itu menutup telinganya.
"Apakah dia tidak lelah berteriak terus-menerus seperti ini? Aku yang mendengarnya saja sudah sangat lelah," ucap salah satu polisi disana.
"Entahlah aku juga tidak tau. Dan bukan hanya kamu saja yang lelah mendengar teriakan dia, tapi aku pun sama. Ingin rasanya aku menyumpal mulut dia dengan kaos kakiku ini. Tapi aku tidak mau dicap sebagai polisi yang tidak beretika dan berakhir aku yang akan menggantikan dia di penjara," timpal polisi wanita disana.
__ADS_1
"Aku curiga, kalau dia itu sebenarnya tengah sakit jiwa. Dia jelas-jelas ingin menghabisi nyawa temannya sendiri bahkan kita punya saksi dan juga punya bukti berupa CCTV didalam apartemennya tapi bukannya dia langsung mengaku karena sudah terpojok dengan bukti-bukti itu, dia justru mengumpat dan melakukan ancaman pembunuhan kepada kita semua," ucap polwan satunya lagi.
"Iya benar. Aku juga merasa jika dia memiliki gangguan pada kejiwaannya itu. Apa perlu kita melakukan tes kejiwaan untuk dia?" tanya polisi yang bertanya diawal tadi.
"Sepertinya kita harus melakukan tes itu. Takutnya jika dia benar-benar tengah sakit jiwa dan putusan hakim sudah di layangkan kepadanya, dia akan melukai penghuni lapas yang lain nanti," ujar polisi lainnya yang diangguki setuju oleh ketiga rekan kerjanya itu. Mereka benar-benar curiga jika Kenza memang tengah mengalami gangguan kejiwaan.
...****************...
Pagi harinya, Daddy Aiden sudah rapi dengan setelan kantornya pun kini berjalan tergesa-gesa mendekati ruang makan dimana disana sudah ada anggota keluarganya yang lain tak terkecuali Adam yang sudah benar-benar pulih sekarang.
"Adam," panggil Daddy Aiden kala dirinya baru memasuki ruang makan tersebut.
"Daddy baru saja mendapatkan kabar dari Uncle Husein kalau Kenza sudah di tangkap oleh pihak kepolisian tadi malam. Tapi dengan kasus berbeda yaitu dia menganiaya Heila, tangan kanannya sendiri," ujar Daddy Aiden yang membuat Erland tersedak air putih, sedangkan Mommy Della yang baru saja menurunkan lauk yang ia bawa tadi dan turut mendengar ucapan dari Daddy Aiden tadi, ia melongo, terkejut dengan kegilaan mantan pacar anaknya itu.
Sedangkan Adam, ia menganggukkan kepalanya.
"Adam sudah tau kabar itu sejak tadi malam, Dad. Dan Adam taunya dari Tristan. Makanya Adam hari ini mau ke rumah sakit, melihat kondisi Heila bagaimana karena tadi malam Tristan memberitahuku jika Heila tengah kritis. Tapi belum ada kabar lagi mengenai Heila sampai saat ini," ujar Adam.
"Ya ampun Heila sampai kritis?" tanya Mommy Della untuk memastikan kembali dan pertanyaan itu diangguki oleh Adam sebagai jawabannya.
__ADS_1
"Astaga anak itu sudah benar-benar gila. Berapa orang yang sudah dia bikin masuk ke rumah sakit karena ulahnya. Kalau sudah seperti ini dia benar-benar sudah sepantasnya masuk ke penjara!" ucap Mommy Della menggebu-gebu dengan tangan yang kini mencengkram kuat serbet yang berada ditangannya.
Daddy Aiden yang melihat kemurkaan dari sang istri pun tangannya kini bergerak untuk mengelus lengan Mommy Della.
"Tenang sayang. Dia pasti di penjara kok. Aku juga yakin dia akan mendapatkan hukuman yang pantas ia dapatkan atas perbuatannya itu," ujar Daddy Aiden untuk menenangkan Mommy Della.
"Iya Mom, wanita gila itu pasti akan mendapatkan hukum setimpal. Jadi Mommy tenang saja oke, jangan marah-marah ataupun meluapkan emosi Mommy ke kita semua yang ada disini. Ini masih pagi soalnya. Dan daripada Mommy marah-marah kepada wanita gila itu, lebih baik kita sarapan dulu yuk," timpal Erland yang sedang tidak mau mendengar kemarahan dari sang Mommy itu. Walaupun Mommy Della marah bukan karenanya, tapi tetap saja semua orang yang ada dirumah itu pasti akan mendapat imbasnya dan berakhir semuanya akan kena marah nanti. Jadi Erland sangat menghindari hal itu terjadi.
"Benar apa yang dikatakan oleh Erland, sayang. Lebih baik kita sarapan. Untuk urusan Kenza biar menjadi urusan pihak kepolisian karena mereka tau yang terbaik untuk kita semua," kata Daddy Aiden yang membuat Mommy Della kini menghela nafas panjang sebelum dirinya kini menganggukkan kepalanya lalu kemudian ia mulai duduk di kursinya sembari tangannya yang menaruh serbet yang ia bawa tadi diatas meja dengan tidak santai. Dan hal tersebut menimbulkan suara dobrakan yang membuat Erland dan Adam yang sudah mulai melahap makanan mereka, terkejut dan berakhir tersedak makanan.
Dan dengan panik, mereka berdua langsung meraih lalu meminum air putih yang ada di hadapan keduanya hingga tandas tak tersisa sebelum mereka berdua menatap kearah Mommy Della.
"Mommy!" teriak mereka berdua dengan sebal.
Mommy Della yang merasa bersalah pun, ia memberikan cengiran kuda kepada kedua anaknya itu.
"Peace, Mommy tidak sengaja," ujar Mommy Della dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V yang membuat Erland dan Adam mendengus kesal.
Sedangkan Daddy Aiden yang melihat drama pagi ini, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya sebelum ia memulai acara sarapannya itu.
__ADS_1