
Tak henti-hentinya Adam terus mengomel sendiri dengan sesekali ia melirik kearah ponselnya.
"Apa dia tidak ingin mengirimkan sebuah pesan lagi untuk memastikan jika aku sudah makan siang apa belum? Kenapa dia hari ini tidak secerewet biasanya? Apa karena dia sudah memiliki Tristan? Ck, sialan!" geram Adam dengan mengepalkan tangannya. Hingga...
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu membuat Adam ataupun Nana yang ada di ruangan tersebut menolehkan kepala mereka ke sumber suara.
Nana tak berani membukakan pintu untuk seseorang di balik pintu tersebut sebelum Adam yang memerintahkannya, takut kena omel Adam jika dirinya gegabah untuk membukakannya seperti sebelumnya.
Sedangkan Adam, ia berdecak sebal.
"Apa dia kembali lagi? Kalau begitu jangan harap aku yang membukakan pintu untuknya," gumam Adam lalu setelahnya ia menolehkan kepalanya kearah Nana yang tengah menundukkan kepalanya.
"Sus, bukain pintunya!" perintah Adam.
"Ahhhh baik Dok," ujar Nana kemudian ia bergegas berdiri dan saat dirinya sudah berjalan mendekati pintu dan hampir memutar kenop pintu tersebut, suara Adam menghentikan pergerakannya.
"Tunggu sebentar!" Nana menolehkan kepalanya kearah Adam.
"Kalau orang yang ada di depan itu adalah Yola, usir saja!" ucap Adam yang membuat Nana tersenyum sembari mengangguk. Ia kira dokter idamannya itu sudah menaruh hati kepada Yola tapi ternyata saat Adam menyuruh dirinya mengusir Yola jika memang dia yang saat ini datang berkunjung membuat hati Nana terasa begitu plong lagi.
Lalu setelahnya tangan Nana kini bergerak untuk membuka pintu tersebut. Dan saat pintu itu terbuka bukan wajah Yola lah yang Nana lihat melainkan wajah Dokter Tristan yang tengah tersenyum ramah kepadanya.
__ADS_1
"Dokter Tristan," ucap Nana yang membuat Adam langsung menolehkan kepalanya, mengintip dari kursi kerjanya itu dan saat melihat wajah Tristan, Adam berdecak sebal. Dan dirinya memutuskan untuk membelakangi arah pintu agar ia tak bisa melihat wajah Tristan.
"Hey Na. Adam ada didalam kan?" tanya Tristan yang membuat Nana melirik kearah Adam yang sepertinya tak ingin bertemu dengan siapapun saat ini.
"Hmmm ada dok. Tapi dokter Adam tengah sibuk saat ini jadi tidak bisa diganggu," ujar Nana.
"Oh begitu, ya sudah, saya ke sini hanya untuk menyadarkan dia agar segera memakan makanan dari Yola ini. Jika dia benar-benar tidak mau memakannya, biar saya yang makan," ucap Tristan dengan suara yang sengaja ia keraskan agar Adam yang ada di dalam mendengar ucapannya itu.
"Bawa lunch bag itu masuk Sus!" perintah Adam tiba-tiba yang membuat Nana mengerutkan keningnya lalu menatap kearah lunch bag yang sekarang sudah berada di tangan Tristan. Sedangkan Tristan, laki-laki itu tersenyum mendengar jawaban dari Adam tadi.
"Katakan kepada Adam, Na. Kalau dia hanya mengambil lunch bag-nya saja tanpa memakan isinya itu hanya akan percuma dan lebih baik saya saja yang membawa lunch bag ini. Karena saya pasti akan memakannya tidak hanya dipandang lalu di berikan kepada orang lain!" timpal Tristan yang membuat Adam di tempatnya menggeram kesal.
"Bawa masuk lunch bag-nya, Sus! Saya akan memakannya sekarang juga!" teriak Adam.
"Hemmmm dokter Tristan. Maaf atas kelancangan saya untuk hari ini. Tapi kalau tidak ada hal yang perlu di katakan lagi, saya akan menutup pintu ini karena---"
"Suster! Cepat bawa lunch bag itu kehadapan saya! Dan segera tutup pintunya!" teriakan Adam kembali menggema membuat Nana menghela nafas karena belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Adam sudah memutusnya begitu saja.
"Dokter Tristan. Sekali lagi saya minta maaf ya. Dan saya tutup dulu pintunya. Selamat siang dok, semangat beraktivitas," ujar Nana sebelum dirinya menutup pintu ruangan tersebut yang dimana Tristan masih ada di depan pintu itu. Tapi Tristan kali ini tak akan marah, justru laki-laki itu tengah tersenyum senang.
"Tenang saja Yola, saya akan membantu kamu mendapatkan hati Adam," gumam Tristan sebelum dirinya kini melangkahkan kakinya menuju kearah ruangannya sendiri.
Sedangkan Nana, ia dengan takut-takut menaruh lunch bag tadi keatas meja kerja Adam.
__ADS_1
"Dok, saya---"
"Kembali ke meja kerjamu!" perintah Adam tanpa mau mendengar perkataan Nana hingga akhir. Nana yang tidak bisa menolak pun ia hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah kemudian kakinya ia gerakan menuju ke meja kerjanya.
Sedangkan Adam, laki-laki itu menatap nanar lunch bag tersebut.
"Kenapa aku tadi menyuruh Nana untuk membawa lunch bag ini kesini? Biasanya aku juga tidak peduli dengan makanan yang di bawakan oleh Yola. Tapi kalau aku tadi tidak menyuruh Nana membawa ini kesini, yang ada Tristan jadi keenakan. Nanti dia akan makan siang dua kali. Dasar laki-laki itu benar-benar serakah," gumam Adam dengan tangan yang menarik lunch bag tadi agar lebih dekat dengannya, kemudian setelahnya tangan Adam bergerak membuka lunch bag itu lalu mengeluarkan satu box makanan dan botol minuman yang cukup menggemaskan dan Adam tebak jika itu adalah botol pribadi milik Yola.
"Apa dia pikir aku ini anak kecil? Sehingga di berikan botol minuman seperti ini?" Ujar Adam sembari memutar-mutar botol minuman dari Yola tadi.
"Haishhhhh sudahlah. Botol minuman ini tidak penting bagiku karena yang terpenting sekarang aku harus tau makanan apa yang katanya dia masak dengan tangannya sendiri itu," ucap Adam sembari membuka penutup box makanan tadi dan saat ia berhasil membukanya, semerbak wangi makanan masuk kedalam indra penciumannya yang berhasil membuat perut Adam semakin keroncongan saja.
Tapi setelah ia melihat isi dari box makanan itu, matanya terbelalak lebar.
"Apa dia pikir aku ini memiliki perut seperti karung beras sehingga dia kasih daging steak sampai 5 potong?" protes Adam saat melihat didalam box makanan itu ternyata penuh dengan daging steak. Tapi beberapa saat setelahnya, tangannya tetap bergerak juga untuk memotong salah satu daging tersebut.
"Semoga tidak ada racun ataupun jompi-jampi dukun dari dia," gumam Adam sebelum ia memasukkan daging tersebut kedalam mulutnya.
Ia memejamkan matanya saat makanan itu baru masuk kedalam mulutnya, tapi saat dia mulai mengunyahnya, matanya terbuka lebar dan tanpa sadar senyumannya kini tercetak di bibirnya.
"Apakah masakan dia seenak ini? Kenapa sangat mirip masakan Mommy? Atau jangan-jangan ini benar-benar masakan Mommy lagi? Tapi tunggu, Mommy kan sekarang lagi pergi ke rumah keluarga Alana untuk menjemput Alana ke penjara menemui Puri. Dan aku yakin Mommy tidak akan sempat membuatkan steak ini untukku sedangkan beliau sendiri sedang sibuk. Jadi kalau begitu, ini benar-benar masakan Yola sendiri?" gumam Adam dengan sekali lagi mencicip steak buatan Yola tersebut dan lagi-lagi saat steak itu masuk kedalam mulutnya membuat mata Adam berbinar seketika.
"Aku tidak menyangka jika dia bisa memasak makanan dengan rasa yang begitu memanjakan lidah seperti ini," gumamnya sebelum dirinya kembali memakan potongan steak tadi terus-menerus tanpa memperdulikan tatapan nanar Nana yang sepertinya tengah kesal karena makanan dari Yola berhasil di cicipi oleh Adam sedangkan makanan yang sering dia bawa tak sepucuk sendok Adam makan. Dan itu benar-benar membuatnya sakit hati.
__ADS_1