
"Oke, meeting hari ini sampai disini. Terimakasih atas waktu luang bapak-bapak sekalian," ucap seorang perempuan kala acara meeting penting dengan para pemegang saham di perusahaan yang tengah ia kendalikan itu selesai setelah melewati beberapa jam lamanya. Walaupun sebenarnya perempuan itu tengah kesal, sebal sekaligus lelah tapi tak membuat senyum manisnya itu luntur dari bibirnya kala satu persatu orang-orang yang tadi ikut meeting itu berpamitan dengannya dan saat semua orang itu telah keluar semua, ia menolehkan kepalanya kearah asisten pribadinya yang tengah membereskan berkas-berkas yang digunakan dalam meeting tadi.
"Heila," panggil perempuan tersebut yang membuat tangan kanannya kini menolehkan kepalanya kearahnya.
"Ya Nona?" tanya Heila dengan mendekati perempuan tersebut.
"Jam berapa saya akan berangkat?" tanyanya.
Heila tampak melihat jam tangannya sebelum dirinya kini menjawab pertanyaan dari sang atasan.
"Sekarang baru pukul 2 siang. Berarti masih ada waktu sekitar 3 jam lagi Nona," jawab Heila.
"Ck, kenapa masih lama sekali? Kenapa kamu pilih jam penerbangan di sore hari sih?" tanya perempuan itu sebal.
"Maaf Nona, jika saya membeli tiket dijam penerbangan pagi atau siang hari yang ada meeting hari ini tidak akan terlaksana dan berakhir nona ataupun saya akan terkena marah oleh tuan besar," jelas Heila yang membuat perempuan tersebut berdecak sebal.
"Ya sudah kalau gitu. Tapi Papa tidak tau kan kalau kita akan pulang ke Indonesia?" tanyanya. Ya, bukan hanya perempuan itu yang akan kembali ke negara Indonesia itu melainkan Heila pun juga harus ikut untuk tetap memastikan jika atasannya itu baik-baik saja.
"Tidak Nona. Tapi jika nanti tuan besar tau dengan sendirinya, saya tidak bertanggungjawab atas kemarahan yang akan tuan berikan kepada Nona nanti," ucap Heila.
"Ck, iya-iya. Kemarahan Papa biar menjadi urusan belakangan. Kamu tinggal menjalankan apa yang saya perintahkan saja. Dan ngomong-ngomong semua barang-barang kita sudah sampai sini kan?" Heila menganggukkan kepalanya.
"Semuanya sudah beres Nona. Pekerjaan Nona untuk satu Minggu kedepan juga sudah saya serahkan ke Jennifer," jelas Heila.
__ADS_1
"Bagus. Kalau begitu saya tunggu kamu di ruangan saya. Jika kamu sudah selesai mengemasi semua berkas-berkas itu kita akan langsung ke bandara."
"Baik Nona. Saya akan segera menyelesaikan pekerjaan saya ini," ujar Heila yang diangguki oleh perempuan tersebut sebelum perempuan itu kini berjalan keluar dari ruangan meeting menuju ke arah ruang kerjanya.
Disaat dirinya sudah berada didalam ruang kerja, kakinya ia gerakkan menuju kedalam ruang rahasia didalam ruang kerja. Dan saat ia membuka pintu ruang rahasia itu, seketika senyumannya terbit kala matanya melihat sebuah foto dengan ukuran yang cukup besar terpasang di tembok ruangan rahasia yang ternyata adalah tempat untuk beristirahat perempuan itu. Dan foto itu adalah foto sang mantan kekasih bersama dengan dirinya saat mereka masih remaja dulu.
Perempuan itu kini mendekati foto tersebut, memandangnya dengan tangan yang bergerak untuk menyentuh foto tersebut.
"Tunggu aku, kita akan segera bertemu," ucapnya dengan air mata kerinduan yang tiba-tiba saja membasahi pipinya. Namun dengan cepat ia segera menghapus air matanya itu kemudian ia mendudukkan tubuhnya di atas ranjang dan sebelum dirinya merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah didalam laci nakas.
Ia membuka kotak tersebut dimana kotak itu terdapat sebuah cincin yang bertulisan nama dirinya dan Adam dan hal tersebut membuat dirinya kembali tersenyum saat mengingat kenangan dimana Adam melamarnya beberapa tahun silam.
"Cincin ini adalah bukti cinta kita berdua, Dam. Dan aku pastikan saat aku kembali nanti, kisah kita akan kita mulai kembali," gumamnya sembari memakai cincin tersebut ke jari manisnya. Lalu setelahnya ia memilih merebahkan tubuhnya diatas ranjang, mungkin ia akan menunggu Heila dengan mengenang masa lalunya bersama dengan Adam yang masih membekas di otaknya hingga sekarang.
Sedangkan disisi lain, terlihat seorang perempuan tengah berlari tergesa-gesa memasuki lobi rumah sakit tersebut. Bahkan biasanya beberapa dokter ataupun suster yang ia lewati selalu ia sapa, kini ia tak melakukan hal tersebut dan karena itu membuat beberapa orang yang sudah mengenal Yola, heran sendiri jadinya.
"Hayyy dokter kesayangan," sapa Yola kala Adam sudah berdiri di hadapannya, tak lupa ia memberikan senyuman termanisnya kearah Adam. Tapi senyumannya itu luntur kala ia melihat wajah pucat Adam saat Adam menjauhkan tangannya yang sedari tadi laki-laki itu gunakan untuk memijit pangkal hidungnya itu.
"Ya ampun. Dokter Adam lagi sakit?" tanya Yola khawatir dengan berusaha menyentuh kening laki-laki dihadapannya itu. Tapi berhubung jarak tinggi keduanya lumayan jauh, alhasil Yola tak bisa menggapai kening Adam.
"Ishhhh tangan aku kenapa gak nyampai sih," gumam Yola yang sebal sendiri dengan postur tubuhnya itu.
Adam yang melihat tingkah Yola itu dan juga mendengar gerutuan dari Yola pun ia terkekeh dan hal tersebut membuat tubuh Yola mematung di tempat.
__ADS_1
"Makanya tumbuh itu ke atas bukan kesamping. Boncel sih" ucap Adam yang membuat Yola kini mengerjab-ngerjabkan matanya, tersadar dari tertegun karena melihat tawa Adam untuk yang pertama kalinya.
"Sebentar-sebentar. Dokter Adam tadi ketawa?" tanya Yola seperti orang bodoh saja padahal sudah jelas-jelas ia melihatnya sendiri tadi.
Adam yang mendengar pertanyaan dari Yola, ia dengan segara melunturkan senyumannya tadi. Ia lupa jika dirinya harus tetap stay cool didepan Yola. Dan karena hal itu Adam tanpa bersuara kembali, ia bergegas masuk kedalam ruang kerjanya yang diikuti oleh Yola di belakangnya.
"Ishhhh dokter Adam, kenapa gak jawab pertanyaan saya tadi? Dokter tadi ketawa kan ya? Yola gak sedang halu kan tadi? Yola juga tidak sedang mimpi kan kalau Yola akhirnya bisa melihat senyum dokter Adam?" Tanya Yola beruntun dengan mengikuti langkah Adam di belakang laki-laki tersebut hingga Adam sudah duduk di kursi kebesarannya pun Yola kini berdiri tepat disampingnya.
"Dokter jawab ihhh. Saya sekarang sedang tidak mimpi kan?" ulang Yola yang masih tak yakin dengan apa yang ia lihat barusan.
"Kamu sedang mimpi saat ini," jawab Adam dengan mencoba untuk menyibukkan dirinya dengan membuka sebuah map berisi dokumen tentang rumah sakit. Bukan untuk ia baca, namun hanya ia buka saja biar terlihat sibuk di mata Yola.
"Masa sih Yola sedang mimpi?" tanya Yola tak yakin dan untuk membuktikan jika apa yang ia lihat barusan itu adalah sebuah kenyataan, ia kini mencubit lengan Adam. Hingga membuat Adam terperanjat kaget tak lupa dengan ringisan saat merasakan sakit akibat cubitan dari Yola tadi.
"Kenapa kamu cubit saya?"
"Sakit gak dok?" bukannya menjawab, Yola justru bertanya kembali.
"Menurut kamu? Jika kulit di cubit rasanya sakit atau tidak?" tanya Adam mulai ngegas.
Dan hal tersebut membuat Yola menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hehehe sakit sih Dok. Ehhh tapi tunggu, jika dokter merasakan sakit akibat dari cubitan saya tadi. Berarti saya sedang tidak mimpi dong sekarang? Saya tadi benar-benar melihat tawa dokter Adam. Wahhhhh saya benar-benar tidak menyangka jika akan melihat hal langka seperti tadi. Kalau tau begitu, saya tadi rekam saja saat dokter Adam tertawa tadi." Adam mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Buat apa kamu mau merekam tawa saya?" tanya Adam.
"Buat saya pamerin ke Mama, ke Amel, ke Keni dan ke semua teman Yola yang lainnya. Kalau tenyata dokter kesayangan Yola ini bisa tersenyum sama seperti manusia pada umumnya," ucap Yola yang membuat Adam melongo saat mendengar kalimat terakhir yang Yola ucapkan tadi. Maksud Yola apa? Memangnya perempuan itu pikir Adam ini bukan manusia tapi alien? Kenapa berucap seperti seakan-akan Adam itu adalah manusia langka yang perlu di lestarikan saja. Ck, menyebalkan.