
Adam mengerjabkan matanya, menyesuaikan cahaya lampu yang masuk kedalam retinanya. Dan hal pertama yang ia rasakan saat dirinya terbangun dari tidurnya adalah suasana di sekitarnya yang begitu sepi hanya ada suara jam dan suara deru nafas seseorang. Tunggu, deru nafas seseorang?
Adam sedikit menolehkan kepalanya kearah samping. Mata Adam terbuka lebar saat ia mendapati tubuh Yola yang tengah tidur dengan beralaskan karpet bulu tepat di bawah sofa yang tengah ia gunakan untuk tidur saat ini.
"Astaga. Kenapa dia tidur disitu," ucap Adam tak habis pikir padahal Yola kan bisa tidur di sofa lainnya yang ada disana. Tapi entah mengapa perempuan itu justru memilih untuk tidur diatas lantai beralaskan karpet bulu. Untung saja karpet tersebut tebal jika tidak Adam pastikan jika Yola akan sakit setelahnya.
Adam yang tak tega melihat tubuh Yola meringkuk pun ia berinisiatif untuk memindahkan tubuh gadis tersebut ke kamarnya. Namun saat tubuhnya ia dudukkan, ada sebuah handuk kecil yang jatuh dari atas keningnya.
Adam menundukkan kepalanya untuk melihat anduk tersebut yang membuat ekspresi wajahnya langsung berubah seketika. Tangannya kini bergerak untuk mengambil handuk tersebut lalu ia remas kuat-kuat seakan-akan ia tengah menyalurkan emosinya ke benda mati tersebut. Ia tak peduli jika ada air yang menetes membasahi selimut yang tengah ia gunakan saat ini.
Sedangkan Yola yang tertidur di bawah pun ia merasa terganggu dengan suara grusak-grusuk diatasnya itu. Ia mengerjabkan matanya dan setelah matanya itu terbuka lebar, ia melihat Adam yang tengah menatap lurus kedepan dengan tangan yang terkepal erat hingga membuat urat-urat ditangan laki-laki tersebut terlihat. Dan hal tersebut membuat Yola kini mendudukkan tubuhnya.
"Kak Adam kok udah bangun. Ini masih tengah malam lho. Tidur lagi ya," ucap Yola yang membuat Adam kini menundukkan kepalanya dengan tatapan mata tajam yang langsung menghunus tepat di mata Yola.
"Ka---Kak Adam kenapa?" tanya Yola takut setelah mendapat tatapan tajam dari Adam tersebut.
Namun sayang, pertanyaannya itu tak dijawab oleh laki-laki itu. Adam hanya terus menatap Yola yang membuat Yola kini menjadi takut sebelum...
Takkkk!
Sebuah handuk kecil yang tadi berada di tangan Adam kini melayang hingga mengenai pintu kaca yang menghubungkan balkon apartemen tersebut. Handuk yang masih basah itu membuat suara yang cukup nyaring saat mengenai pintu kaca itu hingga membuat Yola sempat terkejut.
"Kak A---" belum sempat Yola menyelesaikan ucapannya, tubuhnya lebih dulu di terjang oleh Adam hingga membuat tubuhnya dan tubuh Adam ambruk diatas karpet bulu tersebut.
__ADS_1
Adam memeluk tubuh Yola begitu erat dengan menyembunyikan wajahnya di leher Yola. Dan hal tersebut membuat Yola kini bertanya-tanya, ada apa dengan Adam saat ini? Kenapa bangun tidur sudah terlihat seperti seseorang yang tengah marah? Apa dia tengah mimpi buruk tadi? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang memutar di kepala Yola mengenai kelakuan Adam yang baru saja ia lihat itu.
"Buang handuk itu!" Yola yang mendengar perintah dari Adam pun ia mengerutkan keningnya.
"Lho kenapa? Kak Adam tidak suka dikompres pakai handuk?" tanya Yola sembari mengusap kepala Adam, mencoba menenangkan laki-laki itu.
"Handuk itu bau Yola. Jadi buanglah. Dan ganti pakai handuk yang lain," ucap Adam tanpa mengubah posisinya sedikitpun. Karena ia merasa nyaman saat memeluk tubuh Yola dan menghirup wangi di tubuh gadis itu yang entah kenapa membuat dirinya kini menjadi tenang. Padahal ia ingin sekali marah kepada Yola tadi karena sudah berani mengambil handuk yang meningkatkan dia kepada seseorang. Tapi berkat ia memeluk dan mencium aroma badan Yola membuat niatnya tadi hilang seketika.
"Bau? saya rasa handuk itu wangi lho Kak. Gak bau sama sekali," ucap Yola yang berbicara apa adanya.
"Pokoknya handuk itu bau Yola. Gak wangi sama sekali dan lebih baik kamu buang sekarang!" ujar Adam yang membuat Yola kini menghela nafas panjang.
"Baiklah-baiklah, saya buang handuk itu sekarang juga. Tapi Kak Adam lepas dulu dong pelukannya. Kalau gak dilepas gimana saya bisa membuang handuk itu," ucap Yola.
Adam tampak berdecak tak suka saat harus melepaskan pelukannya itu. Tapi demi menyingkirkan hal yang mulai saat ini tak ingin ia lihat ataupun kenang, terpaksa Adam harus melepaskan pelukannya itu.
Dan setelahnya ia kembali ke tempatnya sebelumnya.
"Sudah kan?" Adam menganggukkan kepalanya.
"Tidak ada lagi yang perlu saya buang?" Adam menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah. Kalau begitu saya lihat dulu demamnya sudah turun atau belum," ucap Yola sembari mengambil termometer dari kotak P3K yang tadi ia dapatkan di sekitar ruang tamu tersebut. Lalu setelahnya ia meletakkan termometer tersebut ke ketiak Adam yang tentunya mengharuskan dirinya untuk membuka sedikit baju yang tengah Adam kenakan saat ini.
__ADS_1
Dan hanya butuh waktu sekitar 5 menit, Yola melepas termometer itu dari ketiak Adam. Ia tersenyum kala melihat angka suhu tubuh Adam yang sudah menurun dari sebelumnya.
"Syukurlah demamnya sudah menurun," ucap Yola sembari tangannya mengembalikan termometer itu ke tempat semula.
Sedangkan Adam, laki-laki itu mendudukkan tubuhnya dan kembali memeluk tubuh Yola dari samping.
"Saya mau tidur," ucap Adam yang membuat Yola kini menolehkan kepalanya kearah Adam.
"Ya sudah tidur saja. Tapi jangan tidur di sofa lagi tapi pindah ke kamar," ujar Yola.
"Baiklah, tapi sama kamu."
"Lho kok sama saya?" tanya Yola yang sempat terkejut. Ya kali dia akan satu kamar dengan seorang laki-laki yang belum tentu suaminya. Walaupun ia sangat menyukai Adam, tapi dia masih memiliki otak yang sangat-sangatlah normal.
"Iya sama kamu. Saya mau tidur sambil di elus-elus seperti tadi," ucap Adam yang membuat Yola kini menggigit bibir bawahnya.
"Gimana kamu mau kan elus-elus saya lagi. Saya mohon Yola. Karena saya tidak akan bisa tidur tanpa di elus-elus sama kamu. Mau ya," sambung Adam. Namun Yola tak kunjung menjawab iya atau tidak. Dan hal tersebut membuat Adam kini berdecak sembari melepaskan pelukannya tadi.
"Ck, ya sudah kalau kamu tidak mau," ucap Adam dengan suara ketusnya.
"Padahal saya hanya mau di elus-elus saja bukan mau yang lain. Tapi... haishhhh ya sudahlah," sambungnya yang terlihat begitu kecewa karena menganggap jika keterdiaman dari Yola itu adalah sebuah jawaban tidak atas permintaan yang ia minta tadi.
Dan dengan wajah tertekuk, Adam berdiri dari duduknya. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya itu. Tapi saat tangannya bergerak ingin memutar kenop pintu, suara Yola menghentikannya.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah saya akan menemani Kak Adam sampai tidur lagi," ucap Yola sembari berdiri dari duduknya dan mendekati Adam yang terlihat tengah tersenyum.
"Elus-elus juga ya." Yola hanya bisa menganggukkan kepalanya. Biarkan saja ia satu kamar dengan Adam toh hanya sampai laki-laki itu tidur saja nanti. Dan kalau Adam sudah benar-benar tidur ia juga akan keluar lagi. Daripada jika dirinya tidak menuruti kemauan Adam, laki-laki itu akan mendiami dirinya seperti sebelum-sebelumnya yang berarti Yola akan mulai meluluhkan hati Adam yang sekarang sudah lumayan mencair itu dari awal lagi.