Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 62


__ADS_3

Sedangkan orang yang Kenza tunggu kehadirannya sampai sore hari itu kini orang itu justru tengah lengket kepada Yola. Kemanapun perempuan itu pergi, Adam selalu mengikutinya. Bahkan saat Yola ke kamar mandi, Adam menunggu Yola di depan pintu kamar mandi tersebut hingga Yola keluar dari dalam sana. Dan kini saat Yola tengah memasak pun Adam enggan melepaskan pelukannya dari tubuh Yola. Dan hal itu membuat Yola kesusahan untuk bergerak.


"Kak, Kakak lebih baik duduk di meja makan aja deh ya," ujar Yola.


"Tidak. Aku mau menemani kamu masak Yola," ucap Adam.


"Iya aku tau tapi kan Kakak bisa menemani aku masak disana tidak harus disini dengan cara yang seperti ini," kata Yola.


"Memangnya kenapa kalau aku menemani kamu dengan cara yang seperti ini? Padahal kalau aku peluk kamu seperti ini kan kamu tidak akan kedinginan saat cuaca di luar sana tengah hujan. Apa jangan-jangan kamu tidak mau aku peluk?" ujar Adam.


"Bukan begitu Kak. Aku mau saja di peluk sama Kakak tapi jangan saat aku mau masak juga. Kalau Kakak peluk aku disaat aku masak yang ada makanannya tidak akan jadi-jadi. Ayolah Kak, Kakak lepas dulu ya pelukannya. Nanti kalau sudah selesai aku masak, Kakak mau peluk lagi silahkan. Dan bukannya Kakak belum mandi? Jadi mandi dulu ya," bujuk Yola yang langsung membuat Adam kini melepaskan pelukannya.


"Apakah aku sekarang bau?" tanya Adam sembari mengendus-endus pakaian yang tengah ia kenakan saat ini.


"Gak bau tuh. Jadi nanti saja aku mandinya," sambung Adam sembari memeluk kembali tubuh Yola.


Yola yang sudah tak bisa membujuk lagi pun akhirnya ia hanya bisa pasrah saja dengan pelukan Adam yang sebenarnya sangat menggangu aktivitasnya itu.


Yola menghela nafas saat pergerakannya terhambat sebelum sebuah ide kembali muncul di otaknya.


"Kak Adam mau bantu Yola masak gak?" tawar Yola berharap Adam meng-iya-kan tawarannya tadi.


"Aku tidak bisa masak Yola. Jadi kamu saja," ucap Adam, menolak secara halus tawaran dari Yola tadi.


"Yola tidak menyuruh Kakak masak satu menu sepenuhnya tapi Yola mau Kakak bantu Yola buat ngupas bawang merah sama bawang putih ini," ujar Yola sembari memperlihatkan beberapa siung bawang-bawangan itu kepada Adam.


"Kakak mau ya?" bujuk Yola yang membuat Adam tampak berpikir sesaat sebelum laki-laki itu mengangguk lalu setelahnya pelukan tersebut akhirnya terlepas juga dan membuat Yola kini bisa bernafas lega.


"Ini bawangnya. Silahkan di kupas. Aku mau motong sayuran dulu," ujar Yola sembari menyerahkan bawang-bawangan itu serta satu pisau ke Adam yang langsung di terima oleh laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Tunggu sebentar. Ini cara ngupasnya gimana?" tanya Adam.


Yola tersenyum sebelum tangannya kini mengambil pisau serta bawang yang ada di hadapan Adam tadi.


"Kakak lihat baik-baik ya, aku kasih contoh satu," ucap Yola sebelum dirinya mengupas satu buah bawang putih untuk dijadikan contoh.


"Nah udah selesai. Hanya seperti itu saja Kak. Kakak bisa kan?" tanya Yola untuk memastikan.


"Hmmmm akan aku coba," ucap Adam lalu segera mempraktekkan apa yang telah di contohkan Yola tadi.


Sedangkan Yola yang melihat Adam sudah mulai serius mengupas bawang tersebut pun lagi-lagi dirinya tersenyum sebelum dirinya segera memotong sayuran yang tadi sudah ia cuci bersih.


Kini 15 menit telah berlalu, semua sayur sudah Yola potong dan saat ia ingin menyiapkan bumbu-bumbu yang ia butuhkan, tiba-tiba ia mendengar isakan dari samping yang otomatis membuat Yola menolehkan kepalanya.


Dan saat dirinya sudah menolehkan kepalanya, betapa terkejutnya dia saat mendapati Adam tengah meneteskan air matanya.


Adam kini menolehkan kepalanya kearah Yola dimana matanya kini sudah memerah semua.


"Hiks, perih Yola. Mata aku perih. Aku tidak mau mengupas bawang lagi," ucap Adam sembari menaruh satu bawang dan pisau yang tadi ia pegang.


Dan saat tangan Adam bergerak untuk mengucek matanya, dengan cepat Yola mencegah tangan laki-laki itu.


"Stop. Jangan di kucek matanya. Kalau Kakak kucek nanti yang ada mata Kakak tambah perih karena tangan Kakak ini kan bekas buat nyentuh bawang tadi. Jadi jangan di kucek oke dan sini biar aku tiupin matanya," ujar Yola. Kemudian ia berjinjit agar tingginya setara dengan tinggi Adam. Namun sayangnya walaupun dirinya sudah berjinjit sekalipun ia masih saja tak bisa mensejajarkan tingginya dengan tinggi Adam.


Adam yang peka akan hal itu pun ia segara mengangkat tubuh Yola dan mendudukkan tubuh perempuan tersebut ke atas bar dapur. Lalu setelahnya ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Yola dengan sedikit membungkukkan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan wajah Yola.


Yola yang sempat terkejut pun ia kini mengerjabkan matanya dengan debaran di jantungnya.


"A---apa?" tanya Yola yang sepertinya sudah lupa dengan apa yang ingin ia lakukan tadi.

__ADS_1


"Katanya tadi mau niup mata aku yang perih ini?"


"Ehhhh lah iya aku lupa," ujar Yola yang membuat Adam gemas sendiri jadinya dan karena saking gemasnya tangannya bergerak untuk menyentil kening Yola yang membuat perempuan itu mengaduh dengan mengelus keningnya.


"Masih muda tapi sudah pikun," ucap Adam yang membuat Yola kini mencebikkan bibirnya.


"Aku gak pikun tapi cuma lupa saja. Maklum, aku kan juga manusia yang kerap lupa dan kerap membuat kesalahan," ujar Yola beralasan.


Adam yang mendengar penuturan dari Yola pun hanya bisa memutar bola matanya malas.


"Iyain saja biar cepat. Jadi gimana, kamu jadi tidak mau niupin mata aku?" tanya Adam.


"Memangnya masih perih?"


"Masih dong. Perih banget ini. Jadi buruan," ujar Adam.


"Iya-iya sabar," ucap Yola sebelum dirinya mendekatkan wajahnya ke wajah Adam untuk meniup mata laki-laki tersebut.


Dan pergerakan dari Yola tersebut membuat bibir Adam tersungging keatas.


Yola meniup mata Adam beberapa kali dan dirasa cukup, Yola memundurkan kepalanya dari depan wajah Adam.


"Udah. Gimana masih sakit?" tanya Yola yang dijawab gelengan kepala oleh Adam jangan lupakan laki-laki itu masih saja tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu. Dan sekarang segara lah cuci tangan. Biar aku saja yang menyelesaikan acara mengupas bawang ini," ujar Yola. Tapi saat dirinya ingin turun dari atas bar tersebut, Adam menahannya bahkan wajah laki-laki itu kini mendekati wajah Yola hingga membuat Yola refleks memundurkan wajahnya sampai hampir saja ia terjatuh ke belakang jika saja Adam tidak menariknya tadi.


Tapi tunggu, bukan permasalahan ingin jatuhnya yang membuat Yola kini berdebar, namun karena bibir Adam kini menyentuh keningnya dan berganti ke kedua pipinya sebelum laki-laki itu berkata.


"Terimakasih sayang," ucap Adam dengan mendaratkan satu kecupan lagi di kening Yola sebelum dirinya menurunkan tubuh Yola dari atas bar tadi kemudian ia segera berlalu pergi dari dapur itu untuk menenangkan jantungnya yang tengah berdetak tak karuan sama seperti yang Yola rasakan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2