
Dengan langkah riang dengan senyuman yang mengembang Yola berjalan menuju ke ruang kerja Adam. Hingga saat dirinya telah sampai di depan ruangan tersebut, Yola langsung menggerakkan tangannya untuk mengetuk pintu ruangan tersebut.
Dan dari kejauhan orang yang tadi mengikuti Yola kini tengah memperhatikan setiap pergerakan Yola dari kejauhan.
Yola terus mengetuk pintu ruangan tersebut yang tak kunjung dibukakan oleh Adam. Hingga tepukan di bahunya membuat Yola kini menolehkan kepalanya kearah belakang, dimana disana ada salah satu dokter yang sebenarnya tak kalah tampan dari Adam dan sebut saja dia dokter Tristan. Dokter yang cukup akrab dengan Yola.
"Ehhh dokter Tristan," sapa Yola dengan senyuman di bibirnya yang dibalas dengan senyuman pula dengan dokter tersebut.
"Lagi cari Adam ya?" ucap Tristan.
"Hehehe iya dok. Dokter tau gak dokter Adam sekarang ada dimana? Kenapa dia tidak kunjung membukakan pintu saat saya mengetuk tadi?" tanya Yola.
"Adam sekarang lagi menangani pasien yang sedang operasi," jawab Tristan.
"Ohhh begitu pantas saja ruangannya kelihatan sepi gini. Kalau gitu apa masih lama ya dok, dokter Adam menangani pasien itu?" Tristan tampak menyingkap lengan jas dokternya untuk melihat jam yang melingkar di tangan kirinya itu.
"Sepertinya masih lumayan lama dia selesai melakukan tindakan operasi itu. Memangnya kenapa?" tanya Tristan kepo.
"Hmmmm masih lama ya. Tidak kenapa-napa dok, saya hanya ingin mengantar makan siang untuk Dokter Adam saja, seperti biasa hehehe," ujar Yola dengan cengirannya dan hal tersebut membuat Tristan menggelengkan kepalanya.
"Adam mulu yang di kasih makan siang. Saya kapan, La dapat makanan gratis dari kamu?" ucap Tristan.
"Dokter Tristan juga mau saya antar makan siang untuk dokter?" tanya Yola.
"Ya siapa yang nolak sih, La kalau dapat makanan gratis mah, itung-itung untuk pengiritan. Maklum sekarang lagi tanggal tua soalnya, belum ada dana yang mengalir didalam rekening," ujar Tristan yang membuat Yola terkekeh.
__ADS_1
"Dokter bisa saja. Ya sudah deh kapan-kapan Yola traktir dokter Tristan makan siang. Tapi sekali aja ya, Yola kan juga harus menghemat uang. Maklum Yola kan belum kerja jadi tidak ada pasokan dana yang mengalir kedalam rekening Yola," balas Yola dengan menyalin kalimat terakhir yang terlontar dari bibir Tristan tadi. Dan hal tersebut membuat keduanya tertawa hanya karena hal kecil yang tidak lucu sama sekali itu.
"Baiklah-baiklah, akan saya tunggu traktiran dari kamu itu. Oh ya selagi menunggu Adam selesai melakukan operasi, kamu mau ikut saya ke kantin tidak?" tawar Tristan.
"Memangnya kira-kira dokter Adam selesainya berapa jam?"
"Saya tidak tau pastinya karena saya lihat Adam masuk kedalam ruang operasi tadi sekitar 30 menitan. Dan mungkin tiga puluh menit lagi proses operasi itu akan selesai," ucap Tristan yang membuat Yola menganggukkan kepalanya sembari menimang-nimang tawaran dari Tristan tadi.
"Jadi gimana mau ikut saya atau mau nunggu sendiri disini saja?" tanya Tristan kembali saat pertanyaannya tadi tak kunjung mendapat jawaban dari Yola.
"Hmmm sepertinya saya akan ikut dokter Tristan saja deh. Soalnya saya juga belum makan siang, hehehe," jawab Yola.
"Lah kamu belum makan siang tapi kamu sudah menyiapkan makan siang untuk Adam? Bagaimana ceritanya ini?" heran Tristan.
"Karena Dokter Adam lebih penting dari diri saya sendiri," jawab Yola dengan polosnya.
"Ck, iya-iya Dokter Tristan. Setelah ini saya tidak akan mengabaikan diri saya sendiri lagi. Dan daripada Dokter mengomel terus, lebih baik kita segera ke kantin saja. Saya sudah lapar ini," ucap Yola dengan mengelus perutnya yang sedari tadi sudah berbunyi itu namun selalu ia abaikan.
Tristan tampak menghela nafas panjang.
"Ya sudah ayo," ajaknya kemudian mereka berdua mulai melangkahkan kakinya beriringan.
Sedangkan dari kejauhan, Adam yang ternyata sudah selesai melakukan kegiatan operasinya itu menatap kearah Yola dan Tristan dengan kerutan di keningnya.
"Yola dengan Tristan? Mau kemana mereka?" gumamnya dengan mata yang masih tertuju kearah dua manusia tadi yang tampaknya tengah melemparkan candaan satu sama lain karena terlihat sesekali mereka tertawa bersama dan hal itu membuat Adam risih sendiri dibuatnya.
__ADS_1
Dan di luar kendalinya dan tanpa dia sadari jika kakinya kini telah melangkah mengikuti arah tujuan Yola dan Tristan tadi. Hingga kakinya berhenti saat sudah berada di dalam kantin rumah sakit tersebut yang dikhususkan untuk para pekerja di rumah sakit itu.
Adam mendudukkan tubuhnya tak jauh dari meja yang sekarang tengah di tempati oleh Yola dan Tristan dengan mata yang tak putus-putusnya menatap kearah Yola. Dan saking fokusnya ia melihat Yola, ia sampai mengabaikan setiap sapaan dari Dokter lain ataupun Suster yang berada di sekitarnya. Hingga tatapannya itu beralih kesebuah tas yang berada disamping Yola dan ia tau tas itu adalah tas khusus untuk membawa makanan.
"Apa makanan itu dia bawa untuk Tristan?" gumamnya dengan menatap nanar kearah lunch bag milik Yola.
Sedangkan disisi lain, Tristan maupun Yola tak menyadari jika Adam berada di sekitar mereka.
"Kamu duduk disini saja biar saya yang mengambilkan makanan untuk kamu," ujar Tristan.
"Siap bos. Menunya samakan dengan dokter Tristan saja, oke," ucap Yola yang membuat Tristan tersenyum.
"Baiklah Nona. Saya akan mengambilkan makanan sesuai pesanan Nona dan tolong tunggu sebentar," tutur Tristan sembari menepuk-nepuk pelan puncak kepala Yola sebelum dirinya kini melangkahkan kakinya menjauh dari Yola.
Dan apa yang di lakukan oleh Tristan tadi justru membuat Adam mengepalkan tangannya. Lalu setelahnya ia segera beranjak menuju kearah meja Yola.
"Setelah saya dan Tristan, siapa lagi yang akan kamu goda?" Suara yang tak asing di telinga Yola membuat perempuan itu menolehkan kepalanya kearah sumber suara, dimana disana ada Adam yang tengah menatap dingin kearahnya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
Tapi ucapan dari laki-laki itu tadi bukannya membuat hati Yola sakit, justru perempuan itu tersenyum lalu ia berdiri dari duduknya.
"Ehhh dokter Adam ada disini juga. Bukannya tadi kata dokter Tristan, dokter Adam lagi melakukan operasi ya?" ujar Yola dengan mengabaikan ucapan dari Adam tadi.
"Ahhhh tapi itu tidak penting yang terpenting sekarang saya sudah bertemu dengan dokter Adam, dan tunggu sebentar, saya punya sesuatu untuk dokter," sambung Yola. Lalu setelahnya ia memutar tubuhnya untuk mengambil lunch bag tadi kemudian menyodorkannya dihadapan Adam.
"Saya bawa makan siang untuk dokter Adam. Tapi kali ini makanan ini saya sendiri yang masak dan saya jamin makanan ini higenis dan sangat cocok dengan selera Dokter Adam," ujar Yola dengan senyumannya.
__ADS_1
"Saya tidak sudi menerima makanan yang sebenarnya bukan untuk saya melainkan untuk orang lain. Dan perlu kamu tau, saya bisa membeli makan siang untuk saya sendiri daripada menerima pemberian orang lain yang memang awalnya bukan untuk saya," ucap Adam yang sama sekali tak dimengerti oleh Yola.
Dan tanpa memperdulikan kebingungan diwajah Yola, Adam segara pergi dari hadapan perempuan tersebut menuju ke ruangannya dengan tangan yang terus terkepal. Ia benar-benar kesal, entah kesal karena apa Adam pun tak tau.